MOJOKSampai awal Agustus 2019, Juventus dan Arsenal berhasil “mengakali bursa transfer”. Untuk pencapaian yang tidak mudah ini, keduanya patut dapat pujian.

Seperti yang pernah saya bilang. Selain Atletico Madrid, juara bursa transfer kali ini adalah Juventus dan Arsenal. Bukan lantaran saya pengasuh akun @arsenalskitchen lantas memasukkan nama Arsenal di sana. Dua klub ini, Si Nyonya Tua dan The Gunners, sukses membuat fansnya berteriak kegirangan. Well, meski sebelumnya dibuat deg-degan dan makan hati.

Ada orang yang bilang. Kalau ingin mengecoh lawan, kamu harus bisa mengecoh teman sendiri. Teman dalam konteks tulisan ini adalah klub lain yang diajak kerja sama jual-beli pemain, baik oleh Juventus maupun Arsenal. Dan kedua klub ini memang bisa melakukannya dengan baik. Melantai di bursa transfer memang tak cukup berbekal uang saja.

Untuk membeli pemain, kamu harus mempertimbangkan banyak aspek, terutama soal finansial. Salah dua yang perlu dipikirkan adalah soal besarnya dana belanja itu sendiri dan porsi gaji yang tersedia. Terlalu frontal mengumbar niat memboyong pemain A, misalnya, akan melambungkan harga jual. Apalagi ketika yang ingin membeli adalah klub Inggris dan pemain incaran punya banyak peminat.

Arsenal, dengan manajemen barunya, pandai menipu bursa transfer. Lewat tangan dingin Raul Sabllehi, Vinai, Edu, dan Unai Emery, mereka menebar jebakan. Ketika media melansir sebuah kabar kalau dana belanja Arsenal cuma 45 juta paun, manajemen tidak membantahnya. Mereka diam, tak peduli dengan ledekan banyak fans rival yang. “Arsenal ternyata miskin.”

Sementara itu, Juventus pandai bergerak dalam senyap. Otak dari segala strategi transfer Juventus adalah Fabio Paratici. Paratici adalah laki-laki dengan gairah yang sangat tinggi kalau bicara soal pengetahuan. Sikap yang membuatnya punya segala modal untuk duduk di meja perundingan. Memancarkan percaya diri dan kepercayaan penuh, seperti citra Juventus selepas awan gelap Calciopoli mulai sirna.

Baca juga:  Virus Corona, Juventus, PS Sleman, dan Sepak bola dalam Keterasingan

Salah satu signature Paratici adalah keberhasilannya meyakinkan Presiden Juventus, Andrea Agnelli, untuk memboyong Cristiano Ronaldo. Agnelli, yang juga seorang pelukis, juga memberi izin bagi Paratici untuk mendekati Aaron Ramsey, mantan pemain Arsenal.

Saat itu, nama Ramsey tidak dikaitkan dengan Juventus. Tidak ada yang memperkirakan Si Nyonya Tua yang akan dipilih Ramsey. Pemain asal Wales itu dianggap lebih cocok bermain di klub semacam Barcelona, Manchester City, dan Liverpool. Senyap pada awalnya, lalu tiba-tiba Ramsey sudah tanda tangan kontrak dengan Juve.

Mendekati target secara diam-diam, seperti saya ungkapkan di atas, merupakan cara praktis menekan harga pemain. Pun secara tidak langsung, karena kompetitor tidak bergerak, si pemain tidak akan mengajukan gaji terlalu tinggi. Cara yang sama digunakan Juve untuk mendekati Adrien Rabiot. Meski akhirnya terbongkar ke publik, Juve sudah satu langkah lebih unggul ketimbang para peminat untuk mendapatkan servis Rabiot.

Sementara itu, kebalikan dari Juventus, manajemen Arsenal bekerja di bawah “sorotan lampu panggung”. Gerak Raul, Vinai, dan Edu sangat kentara. Gerak-gerik mereka, mungkin secara sengaja, dibuat mudah terlihat oleh media.

Misalnya ketika Arsenal menjalani tur pramusim ke Amerika Serikat. Tiga orang itu mengiringi pelatih Arsenal, Unai Emery pergi ke Amerika. Lantaran jarak antara Amerika dengan Brasil sangat dekat, media lantas membuat spekulasi kalau The Gunners memang serius ingin memboyong Everton Soares, pemain asal Brasil.

Apalagi Everton pernah mengunggah sebuah konten di IG Stories yang menunjukkan dirinya sedang belajar bahasa Inggris. Media bahagia betul karena dapat konten, sementara Gooners, fans Arsenal kegirangan karena akhirnya, klub kesayangan mereka akan dapat pemain baru berkualitas. Eits, tunggu dulu…

Baca juga:  Arsenal Aib Liga Inggris, Gooners: Manchester City Punya Fans, Tapi Gaib

Sudah sangat jelas kalau The Gunners siap memboyong Everton, tetapi “proses” negosiasi berjalan sangat lama. Media membuat analisis yang mendalam, tentang cara sebuah klub dengan dana terbatas hendak membeli pemain yang lumayan mahal. Harga Everton diperkirakan mencapai 35 juta euro, ditambah komisi untuk agen dan pihak ketiga, dana yang perlu disiapkan The Gunners bisa mencapai 50 juta euro.

Ketika Gooners semakin cemas karena proses nego berjalan terlalu lama, tiba-tiba Arsenal dihubungkan dengan Nicolas Pepe. Tak tanggung-tanggung, beberapa jurnalis dengan sumber terpercaya, ramai-ramai mengabarkan. Tidak sampai satu minggu, Arsenal resmi mendapatkan tanda tangan Nicolas Pepe. Mereka mengalahkan Napoli, Liverpool, dan Paris Saint-Germain.

Berapa harga Pepe? Betul, 85 juta euro. Ini rekor pembelian pemain termahal Arsenal. Dari mana uang sebanyak itu? Saya pun tidak tahu. Mungkin Arsenal pelihara tuyul atau kenal dukun pengganda uang yang andal.

Saat ini, Juventus sedang berusaha membujuk Paulo Dybala untuk pergi ke Manchester United demi Romelu Lukaku. Bahkan, manajemen juga siap menyertakan nama Mario Mandzukic di dalam kesepakatan. Meski Dybala mengaku enggan pergi ke United, bahkan tersiar kabar kalau dia marah sekaligus sedih, nampaknya Paratici tetap akan sukses mengejar targetnya.

Transfer ini sungguh aneh. Banyak yang mengira kalau Dybala punya potensi lebih besar ketimbang Lukaku. Namun, melihat strategi transfer sebelumnya, semua langkah Juventus pasti punya maksud. Dan bisa jadi, tabir maksud itu baru akan tersibak ketika proses pertukaran Dybala + Mandzukic dengan Lukaku selesai.

Sampai awal Agustus 2019, Juventus dan Arsenal sudah mendapatkan pemain yang mereka butuhkan. Keduanya berhasil “mengakali bursa transfer”. Untuk itu, keduanya patut mendapatkan pujian. Untuk sementara ini…