Rubrik: Balbalan

Liverpool yang Malang: Tentang Kegagalan Paling Puitis Abad Ini

MOJOK.COKarena pandemi virus corona, Liga Inggris terancam null and void atau dibatalkan. Liverpool yang malang. Perjuangan mereka bisa menjadi sia-sia belaka.

Sejak paruh awal musim 2019/2020, saya sudah yakin betul kalau Liverpool akan juara Liga Inggris. Akhirnya, setelah ratusan tahun. Pun saya yakin The Reds punya segala modal untuk menyusul rekor tidak terkalahkan dalam satu musim yang masih dipegang Arsenal. Namun, awan kegagalan nampaknya masih memayungi skuat asuhan Jurgen Klopp itu.

Saya fans Arsenal. Saya ikut sedih dengan kabar terbaru yang baru saja diutarakan oleh Presiden UEFA, Aleksander Ceferin. Beliau membantah “kabar palsu” yang mengatakan bahwa Liverpool akan “dihadiahi” gelar juara Liga Inggris jika liga resmi dibatalkan. Ceferin menegaskan kalau The Reds tidak akan mendapatkan “kemewahan” itu di tengah pandemi virus corona.

“Saya bisa tegaskan kalau kabar itu tidak benar (tentang Liverpool yang diberi gelar juara jika liga dihentikan). Tujuan kami tetap menyelesaikan liga dan kami tidak merekomendasikan keputusan seperti itu untuk semua asosiasi atau liga,” kata Ceferin.

Seperti kita ketahui, karena pandemi virus corona, Liga Inggris dihentikan sampai setidaknya 3 April 2020. Namun, saat ini, beredar keraguan kalau Liga Inggris, dan liga-liga lainnya di Eropa, tidak akan menyelesaikan kompetisi. Pandemi virus corona belum bisa dikontrol secara pasti dan taruhan nyawa terlalu tinggi harganya.

Beberapa klub besar pun nampaknya sudah yakin kalau kompetisi tidak bisa diselesaikan sebelum 30 Juni 2020. Oleh sebab itu, lahir kabar kalau UEFA menyarankan liga-liga di Eropa menyerahkan gelar juara untuk semua klub yang sedang memimpin klasemen. Sebuah kabar yang sudah ditangkis oleh Ceferin.

Namun, UEFA sendiri sedang mencari jalan supaya kompetisi bisa diselesaikan. Salah satunya memundurkan gelaran Euro ke tahun 2021. Artinya, Liverpool tetap punya kesempatan menjadi juara. Toh The Reds cuma butuh dua kemenangan lagi untuk mengunci gelar juara. Dua kemenangan di tengah selisih 25 poin dari peringkat kedua. Seharusnya, sih, mudah dilakukan.

Sayangnya, kita tahu pandemi virus corona belum bisa dikontrol. Jika liga diputuskan null and void atau “tidak berlaku”, Liverpool menjadi seperti sebuah klub yang “dikutuk” di Liga Inggris. Sebuah klub yang bermain lebih baik ketimbang semua kontestan. Sebuah klub yang hampir sempurna, tetapi gagal juga pada akhirnya.

Saya rasa, fans Liverpool sudah bisa menemukan “kedamaiannya” lewat pernyataan Jurgen Klopp beberapa hari yang lalu. Klopp sudah menegaskan kalau sepak bola bukan hal paling penting, melainkan kesehatan dan keselamatan.

“Yang pertama dan paling utama, kita semua harus melakukan yang terbaik untuk saling melindungi. Di dalam konteks sosial, maksud saya. Saling melindungi sudah sepantasnya menjadi hal penting dalam hidup ini, dan saat ini menjadi hal paling utama,” kata Klopp lewat situsweb resmi Liverpool.

“Saya pernah bilang kalau sepak bola adalah hal paling penting dari semua hal penting lainnya. Hari ini, sepak bola dan pertandingan bukan lagi hal penting. Tentu saja, kami tidak mau bermain di stadion yang kosong. Kami juga tidak mau pertandingan atau kompetisi dihentikan. Namun, jika hal itu bisa menolong satu orang, satu saja, kami akan melakukannya tanpa berpikir dua kali,” tegasnya.

Di antara kalimat emosional Klopp ini, saya bisa menemukan keikhlasan. Tidak ada hal lain yang lebih berharga selain nyawa satu orang. Termasuk sepak bola.

“Ya, saya adalah manajer Liverpool. Maka, saya punya tanggung jawab sebagai pemimpin terkait masa depan kami di atas lapangan. Namun saat ini, mempertimbangkan begitu banyak orang di kota kami, di wilayah ini, di negara ini, dan dunia sedang mengalami kecemasan dan ketidakpastian, akan sangat salah ketika membahas hal lain selain menganjurkan warga untuk mengikut saran ahli dan saling menjaga satu sama lain.”

Klopp menutup surat cinta dengan kalimat:

“Pesan kami untuk suporter adalah jaga kesehatan kalian. Letakkan kesehatan di atas segala hal. Jangan ambil risiko. Pikirkan kerentanan masyarakat dan bertindaklah dengan kasih sayang untuk sesama. Tolong, jaga diri kalian dan terutama sesama.”

Memang, kalimat-kalimat di dalam surat Klopp adalah pesan untuk suporter Liverpool terkait pandemi virus corona. Namun, di dalam kalimat itu, kita juga bisa menemukan kedewasaan, terutama kerelaan.

Ketika Liga Inggris dinyatakan null and void karena virus corona, kalimat Klopp bisa menjadi jimat fans Liverpool. Beliau, the old man, sudah menegaskan kalau kemanusiaan adalah yang utama. Jika kembali gagal menjadi juara, saya mengajak fans Liverpool untuk tetap bisa “mengangkat dagu”. Diamkan saja para pendengki. Di atas lapangan, tidak ada yang bisa membantah The Reds layak juara.

Ledekan akan mengalir deras. Saya bisa menjamin. Para pendengki akan lupa dengan pandemi virus corona dan menyia-nyiakan waktunya untuk meledek Liverpool. Saya bisa memahami. Rivalitas buta akan selalu menjadi penyakit di dunia ini.

Kegagalan Liverpool memang begitu “puitis”, untuk tidak menyebutnya “miris”. Mulai dari sang legenda yang terpeleset di laga penting, disusul satu tim yang ambruk di Selhurst Park. Lalu menyusul “tragedi satu sentimeter” di Etihad Stadium. Musim ini, sebuah masalah global, pandemi virus corona, menjegal Liverpool dengan dua kaki dari belakang.

Tidak ada kata paling tepat selain “malang” untuk menggambarkan kegagalan demi kegagalan yang menghantui Liverpool. Apa mau dikata? The Reds berencana, tragedi yang menentukan. Bersabar saja, Reds, semua awan hitam ada masanya tersapu. Mungkin esok, lusa, atau ribuan tahun lagi.

BACA JUGA Takdir Liverpool adalah Terpeleset di Akhir Musim atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Leave a Comment