MOJOK.CO – Laga Liverpool vs AS Roma menjanjikan tontonan yang lebih menarik ketimbang Munchen vs Madrid. Berikut analisis prapertandingan dan prediksi skornya.

Jujur saja, laga semifinal untuk jadwal Liga Champions antara Liverpool melawan AS Roma adalah pertandingan yang justru paling dinantikan, ketimbang laga Bayern Munchen melawan Real Madrid. Bumbu-bumbu yang dibutuhkan sudah tersedia. Keduanya lolos dari babak perempat final dengan gegap gempita. Liverpool dan Roma bermain penuh vitalitas untuk melaju ke semifinal.

Liverpool menyingkirkan Manchester City, salah satu favorit juara Liga Champions musim ini. Perombakan skuat, ditambah ide Pep Guardiola yang semakin terlihat nyata di atas lapangan membuat City sulit dibendung. Namun itu hanya terjadi di Liga Primer Inggris. Di panggung Eropa, City lemas di depan kaki-kaki tangguh pemain The Reds.

Sementara itu, Roma menunjukkan dua aspek yang perlu dimiliki tim bukan unggulan untuk melaju jauh di Liga Champions, yaitu gairah dan disiplin. Terutama Roma menunjukkannya di leg kedua, di rumah mereka sendiri. Kalah agregat 1-4 dari Barcelona, Roma bermain hampir sempurna. Kemenangan dengan skor 3-0  di leg kedua menghantarkan Roma mengukir comeback terbaik musim ini.

Jika kedua tim mampu menunjukkan level permainan seperti di babak perempat final, untuk Roma khususnya seperti di leg kedua, semifinal malam nanti akan menjadi pertarungan gegap gempita. Lantas, melihat potensi tersebut, bagaimana cara masing-masing tim memandang kekuatan lawan? Mojok Institute membuat dua reka kondisi.

AS Roma di mata Liverpool

Sebagai tim tuan rumah, Liverpool punya segala atribut untuk mengalahkan Roma. Liverpool punya dua acara mengatasi situasi besar di atas lapangan. Situasi yang dimaksud adalah ketika Liverpool harus bertahan karena ditekan lawan dan ketika skuat asuhan Jürgen Klopp harus lebih banyak menyerang karena Roma yang lebih bertahan.

Baca juga:  Aubameyang dan Arsenal Memang Sakti, Sementara Liverpool dan Van Dijk Kembali ke Khitah: Mengecewakan

Serangan balik Liverpool adalah salah satu atribut yang selalu merepotkan lawan mana saja. Tak hanya soal kecepatan, Liverpool betul-betul memadukan kreativitas, stamina, kekuatan fisik, dan sungguh efektif ketika mendapatkan peluang. Semua pemain di lini serang, dari Sadio Mane, Roberto Firmino, dan Mohamed Salah bisa menjadi penyedia peluang, sekaligus eksekutor. Lawan Liverpool tentu akan kesulitan menerapkan zonal marking atau man-to-man marking.

Namun pantang bagi Liverpool untuk meremehkan Roma. Mengapa? Ketika kalah dari Barcelona dengan skor 1-4, Roma tak sepenuhnya tampil buruk. Tim asal Italia tersebut menunjukkan cara bertahan yang baik, dengan bentuk pertahanan yang sebetulnya rapi dan terorganisir. Baik skema 4-2-3-1/4-3-3 maupun 3-5-2 yang diperagakan Roma bisa menjadi jebakan.

Eusebio di Francesco berhasil membangun lini tengah yang terkoneksi yang dengan baik dengan lini pertahanan. Pergantian posisi dan kewaspadaan dengan ruang kosong berhasil mematikan Barcelona di leg kedua babak perempat final. Memang, dibutuhkan konsentrasi penuh selama 90 menit untuk mengeksekusi situasi yang sama. Celah inilah yang akan diincar Liverpool.

Ruang antar-pemain adalah daerah-daerah yang bakal dimanfaatkan. Ketika Mane, Firmino, dan Salah tak bisa melakukan akselerasi karena menumpuknya pemain Roma, maka umpan kombinasi yang cepat adalah pilihan logis. Penetrasi langsung dari tengah adalah solusi. Dan kebetulan Liverpool punya amunisi yang tepat untuk situasi tersebut.

Liverpool di mata AS Roma

Boleh dikata, dua kali jadwal Liga Champions melawan Liverpool adalah ujian kepatutan dari AS Roma. Apakah Roma memang patut lolos ke semifinal setelah mengalahkan Barcelona? Apakah pertandingan yang gemilang tersebut hanya kebetulan semata?

Baca juga:  Zidane Mundur dari Real Madrid: Potensi Bibit Badai?

Roma akan mengimplementasikan cara yang sama ketika melawan Barcelona. Tentu kali ini dengan konsentrasi penuh selama dua pertandingan. Pada titik tertentu, Liverpool bisa jauh lebih berbahaya ketimbang cara menyerang Barcelona yang terpusat pada poros Marc-Andre ter Stegen – Sergio Busquets – Lionel Messi. Liverpool lebih cair, dan ini sangat berbahaya untuk kedisiplinan Roma.

Ketika konsentrasi itu pecah, Roma akan berada dalam bahaya. Fokus utama Roma tentu menjaga koneksi lini tengah dengan lini pertahanan mereka. Bentuk segitiga yang dibangun oleh dua bek tengah dan satu gelandang adalah poros pertahanan. Ketika skema bermain berubah, poros ini tepat dipertahankan oleh Roma.

Selebihnya, tentu saja, Roma punya kekuatan untuk melukai Liverpool. Ada tiga rute menyerang yang bisa dipilih oleh Roma, yaitu eksploitasi dua rute lewat dua bek sayap Liverpool yang akan rajin naik menyerang. Sementara itu, satu rute lagi lewat umpan-umpan vertikal ke arah Edin Dzeko. Rute terakhir ini punya dua potensi. Pertama, memaksimalkan bola kedua (second ball) dan membiarkan Dzeko berduel dengan dua bek Liverpool yang menjadi kelemahan selama ini.

Terlepas dari hasilnya nanti, laga jadwal Liga Champions babak semifinal leg pertama ini menjamin pertandingan yang berwarna. Adu taktik untuk mencari jalan mengincar kelemahan lawan. Satu langkah salah, mati terbunuh sudah.

Kami memprediksi, Liverpool akan menang 3-1 dari AS Roma.



Tirto.ID
Loading...

No more articles