MOJOK.CO Liverpool medioker, Manchester United maju satu langkah, Real Madrid bergejolak, dan titik awal revolusi Barcelona. Semuanya terjadi di malam yang sama.

Entah sudah berapa kali saya menulis bahwa sepak bola adalah soal sejarah yang berulang. Entah sudah berapa kali ujaran tersebut menjadi kenyataan. Dan tadi malam (07/03), sejarah klub medioker, rekor yang terhenti, dan angan revolusi terjadi bersamaan. Sebuah malam yang panjang.

Pelaku pertama adalah Liverpool yang untuk keenam kalinya kalah di Anfield. Rekor kekalahan terburuk sepanjang sejarah. Mengingatkan kita akan Liverpool circa satu dekade yang lalu. Ketika habitat mereka adalah papan tengah dan lamunan memutus puasa gelar Liga Inggris selama 30 tahun.

Pelaku kedua adalah Manchester United yang menghentikan rekor tak terkalahkan selama 19 pertandingan yang dicatatkan Manchester City. Selepas pertandingan, Peter Drury, komentator termasyhur itu menggambarkan patahnya rekor ini secara puitis: “All good things must come to an end.” Tidak ada yang abadi selain kekecewaan.

Dua pelaku lainnya adalah Real Madrid dan Barcelona. Real Madrid berhasil menahan imbang Atletico Madrid demi menjaga asa juara tetap membara. Sementara itu, Barcelona menyelesaikan salah satu momen terpenting dalam sejarah mereka selama satu dekade terakhir, yaitu kembalinya Joan Laporta ke kursi panas Presiden Barcelona.

Liverpool, Manchester United, Real Madrid, dan Barcelona seperti bersepakat memilih tanggal 7 Maret 2021 waktu Eropa sebagai titik perulangan sejarah. Liverpool kehilangan kemampuan untuk membuat peluang dan solidnya lini pertahanan. Sebuah kondisi yang membuat mereka cukup rajin berganti pelatih sebelum era Jurgen Klopp.

Manchester United, menjadi “antagonis” dari patahnya rekor City. Kamu tahu, di sepanjang sejarah sepak bola, catatan manis sering patah oleh mereka yang paling tidak diharapkan.

Musim lalu di Liga Champions, Barcelona tampil “hampir” sempurna. Mereka melewati putaran grup dan 16 besar tanpa terkalahkan. Lalu datang Bayern Munchen dan Philippe Coutinho di perempat final. Hasil akhirnya adalah 2-8 untuk kemenangan Bayern. Coutinho, yang bermain baik di laga tersebut, adalah pemain pinjaman dari Barcelona.

Di Inggris? Ada rekor tak terkalahkan Arsenal, yang patah berkat kepemimpinan jahat wasit Mike Riley dan peragaan akan kekerasan dari Manchester United. Sebuah malam perlawanan Arsene Wenger kepada wasit-wasit Inggris yang membenci Arsenal entah karena alasan apa.

Manchester United sendiri mematahkan rekor City sekaligus memperpanjang rekor lainnya. Tahukah kamu, tiga striker yang dipakai City (Sterling, Gabriel Jesus, dan Mahrez) tidak pernah bisa mencetak gol ke gawang United? Lucunya, ketiga striker itu, masing-masing mendapat kesempatan emas untuk membuat gol, tapi hanya mentok di kata “hampir”.

Sepak bola memang terkadang terasa seperti “panggung klenik”. Kalau memang belum saatnya, sebuah peristiwa tidak akan terjadi. Tahukah kamu, angka 19 tidak hanya menjadi jumlah laga tak terkalahkan City di Liga Inggris? Angka 19 juga berkaitan dengan Liverpool.

Ketika menjadi juara Liga Inggris pada musim 2019/2020, Liverpool jumlah gelar mereka menjadi 19. Sementara itu, jumlah gelar Liga Inggris Manchester United adalah 20. Puitis sekali, bukan?

Manchester United mencegah City melewati jumlah 19 laga tanpa terkalahkan, sementara Liverpool belum akan menyamai jumlah gelar Manchester United musim ini. Angka 19 muncul secara beruntun.

Ada yang berniat pasang togel dengan kombinasi angka 0, 1, dan 9 untuk Senin, 8 Maret 2021? Tadi malam (07/03), “syair” yang keluar adalah 2145, sementara kali terakhir angka 0 keluar terjadi pada Minggu, 28 Februari 2021. Oleh sebab itu, potensi keluar angka kunci (0,8,9) semakin besar. Terutama untuk angka 9 yang disarankan pasang colok bebas.

Nah, kalau ada yang berniat “membaca syair” lalu bersenang-senang bersama “hongkong”, saya siap ditraktir seporsi mie ayam. Kalau sejarah sepak bola berkelindan bersama sejarah judi, maka pasti sudah dua dunia ini tak akan pernah bisa dilepaskan. Judi dan sepak bola? Perpaduan yang sangat seksi. Hehehe….

Nah, di Spanyol, Real Madrid memang berhasil menahan imbang Atletico Madrid dengan skor 1-1. Namun, hasil laga tersebut tidak berhasil membuat fans Real Madrid bahagia. Kabar Zinedine Zidane akan dipertahankan manajemen membuat fans meradang. Menurut mereka, revolusi sudah harus dilakukan dan Zidane harus diganti.

Apalagi, sebetulnya Real Madrid punya potensi kalah yang begitu besar di derby Madrid. Jika Atletico lebih efektif memanfaatkan peluang, gaung #ZidaneOut pasti berkumandang pagi ini. Saya rasa, gejolak ini akan segera terjadi. Bisa jadi Atalanta yang akan menjadi trigger gejolak itu.

Satu-satunya pihak yang berbahagia atas hasil imbang tersebut adalah Barcelona. Atletico memang masih punya tabungan laga. Namun, selisih poin kedua tim ini semakin rapat. Dan “kebetulan”, di malam duo Madrid gagak merengkuh kemenangan, Barcelona sampai di titik mula revolusi.

Dini hari waktu Indonesia (8/3), Joan Laporta memenangi pemilu presiden mengalahkan Victor Font. Pagi harinya, sekitar pukul 06.00, akun Twitter resmi Barcelona menyatakan bahwa Laporta resmi menjadi presiden. Pukul 06.30, akun resmi Pep Guardiola mengucapkan selamat. Apakah ini pertanda “kebetulan” yang lain?

Kita tahu, sejarah juga bisa diawali dari aksi flirting antara beberapa pihak. Kejayaan Barcelona bersama Laporta terjadi setelah flirting Jose Mourinho gagal. Berkat “arogansi” Mourinho, Laporta menjatuhkan pilihan kepada Pep Guardiola, yang “menggoda” manajemen lewat kesuksesannya bersama Barca B dan filosofi yang akan ditanamkan.

Di masa kampanye yang lalu, Laporta sendiri tidak pernah tegas menjawab pertanyaan jurnalis perihal masa depan Ronald Koeman, pelatih Barcelona saat ini. Indikasi revolusi, dimulai dari kursi pelatih, mungkin akan terjadi dalam waktu dekat.

Well, bicara “kebetulan” di sepak bola memang selalu menyenangkan. Namun, sialnya, yang namanya kebetulan itu kita kenal sebagai “sejarah yang selalu berulang”. Liverpool menjadi medioker, Manchester United maju satu langkah, Real Madrid bergejolak, dan titik awal revolusi Barcelona. Kok ya “kebetulan” semuanya terjadi di malam yang sama.

Kebetulan saja?

BACA JUGA Liverpool Menyelam di Habitat Medioker? Sebuah Periode yang Tidak Bisa Dihindari dan tulisan Yamadipati Seno lainnya.

Baca juga:  Menghitung Penghasilan Pep Guardiola, Pelatih dengan Gaji Tertinggi di Liga Inggris