0   +   1   =  

MOJOK.COLiverpool dan pesan unity is strength terdengar munafik karena serangan rasis Luis Suarez kepada Patrice Evra. Apakah kebencian itu memang harus terus dipelihara?

“Jangan menggigit kalau tidak mau digigit,” adalah sebuah pesan bijak dari zaman lampau. Sebuah pesan yang maknanya dirasakan oleh Luis Suarez secara begitu nyata. Perlakuan rasis Luis Suarez kepada Patrice Evra ketika Liverpool menjamu Manchester United berbuntut panjang. Saking panjangnya, hingga saat ini, The Reds seperti terkungkung oleh perbuatan brengsek itu.

Luis Suarez dihukum denda 40 ribu paun plus larangan bermain di delapan pertandingan. Ringan? Kalau saya, sih, menganggap hukuman itu sangat ringan untuk sebuah tindakan brengsek. Well, setidaknya, pemain asal Uruguay itu sudah dihukum oleh publik. Dan pada titik tertentu, mungkin terasa sangat berat untuk Suarez.

Setelah denda uang yang terlampau kecil dan delapan pertandingan berlalu, peristiwa itu tidak lagi menjadi pusat pemberitaan. Namun, dendam dan kemarahan itu masih ada. Tersimpan menjadi kebencian yang siap tumpah kapan saja ketika ketemu pemicu. Dan, Liverpool, baru saja “menyiram bensin” ke nyala kecil sebuah api bernama kebencian.

Sebagai sebuah klub yang “merasa” mewakili banyak orang, bisa kamu bilang fans yang heterogen, Liverpool mengunggah sebuah foto yang cantik sekali. Pemain dan staf berdiri melingkar di lapangan tengah sambil berlutut. Sebuah bentuk dukungan untuk tagar Black Lives Matters. The Reds membubuhkan sebuah wording di media sosialnya. Bunyinya: “Unity is strength.”

Ingatan orang itu awet sekali, apalagi kalau komunal. Ingatan akan perbuatan Luis Suarez kepada Patrice Evra justru terpanggil ketika Liverpool mengunggah sebuah foto dukungan itu. Apalagi beberapa pemain mengunggah foto yang sama. Para pemain yang, ironisnya, kelakuannya mendukung Suarez. Tapi entah kebenaran yang mereka rasakan di dalam hati.

Baca juga:  Arsenal, Chelsea, dan Jorginho dalam Narasi Khayalan Media

Satu hal yang pasti, Liverpool dirisak berkat sebuah foto. Saya, sebagai kritikus foto amatir, memandang foto itu sebagai hasil karya yang cantik. Apalagi pesannya sangat relate dengan situasi di dunia. Bahwa persatuan adalah sebuah kekuatan. Tidak ada yang salah dari pesan itu. Namun, sebuah kesalahan di masa lalu tidak akan bisa dihapus, apalagi dimaafkan.

Ironisnya, dukungan para pemain Liverpool kepada Suarez itu bertolak belakang dengan sikap mereka saat ini. Kamu bisa melacak kata-kata makian dari foto tersebut. Mulai dari “munafik” hingga “palsu”, terselip di antara pujian.

Pada titik tertentu, makian-makian itu tidak bisa kita salahkan. Dosa masa lalu sulit sekali dimaafkan. Apalagi oleh manusia yang sedang mengenakan identitas klub. Dendamnya awet, kayak diformalin saja. Inilah salah satu alasannya kecencian di dunia sepak bola bisa sangat langgeng, sulit dihilangkan. Karena seperti kasih sayang, kebencian juga diwariskan ke generasi selanjutnya. Kenyataannya seperti itu.

Namun, apakah kebencian itu memang harus terus dilestarikan? Sebuah pertanyaan yang jawabannya bisa memicu perdebatan baru.

Satu hal yang pasti, manusia pasti akan berubah. Tidak terkecuali Liverpool, yang kini menyuarakan bahwa persatuan itu sebuah kekuatan. Seorang fans Liverpool menyuarakan pendapatnya dan saya rasa pendapat ini sangat bijak. Dia bilang begini:

“Kepada siapa saja yang mengunggah foto Evra/Suarez sebagai sebuah bentuk pernyataan, terima kasih sudah mengingatkan kami tentang sebuah respons tidak berperikemanusiaan di sebuah insiden yang terjadi belum lama ini dan saya bangga bahwa nilai kemanusiaan klub ini sudah lebih matang semenjak insiden tersebut. #YNWA.”

Baca juga:  Sudah Betul Manchester United Kalah dari Manchester City, Biar Liga Inggris Tetap Damai

Pernyataan yang dikemukakan oleh @BrewSwillaz tersebut perlu kita baca pelan-pelan dan pikirkan dengan hati yang bersih. Tindakan rasis Luis Suarez atas Evra memang menjijikkan. Itu satu hal. Namun, di sisi lain, kita perlu secara dewasa memberi tempat kepada perubahan ke arah yang lebih baik.

Soal tulus atau tidaknya Liverpool mendukung persatuan, biarkan Tuhan yang tahu. Satu hal yang bisa kita pelajari adalah proses perbaikan diri itu. Tidak banyak orang yang secara dewasa mengakui kesalahan dan mau berubah. Lebih banyak yang pengecut dan memilih menghapus akun sebagai usaha untuk lari dari kesalahan.

Saya tidak melarang atau menghalangi risakan yang dialamatkan ke Liverpool. Makian itu sudah jadi bagian dari rasa sakit hati di masa lalu. Namun, sembari mengungkapkan rasa sengit kepada kemunafikan dan ke-ironis-an yang terjadi, setidaknya kita memberi tempat untuk perubahan positif.

Setidaknya kita bisa belajar bahwa perbaikan, mungkin sama awetnya seperti kebencian, akan selalu terjadi. Kedewasaan kita ditakar dari kemampuan untuk memberi maaf dan memberi tempat untuk kebaikan.

BACA JUGA Liverpool yang Malang: Tentang Kegagalan Paling Puitis Abad Ini atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.