MOJOK.CO Jika ingin menjadi juara Liga Eropa, Arsenal harus mempelajari tiga catatan di bawah ini!

Arsenal masuk ke lapangan untuk menghadapi CSKA Moskow di babak 8 besar Liga Eropa dengan sikap yang tepat. Tak ceroboh ketika bertahan dan berusaha seefektif mungkin ketika mendapatkan peluang. Dua sikap yang selalu menghantui Arsenal ketika tidak tampil dengan performa terbaik.

Urgensi dan intensitas, adalah dua kata yang tidak bisa diwujudkan di babak pertama ketika mengalahkan Stoke City di Liga Primer Inggris minggu lalu. Arsene Wenger dan anak asuhnya sadar bahwa dua hal di atas perlu segera diwujudkan. Bagi The Gunners, Liga Eropa adalah pertaruhan terbesar mereka musim ini.

Piala Liga Eropa memang punya dua makna bagi Arsenal. Pertama, gengsi memenangi piala, tentu saja. Kedua, berhasil menjuarai Liga Eropa artinya Arsenal mendapatkan satu tiket untuk berlaga di Liga Champions musim depan. Maklum, peluang Arsenal lolos ke Liga Champions via empat besar di liga lokal sudah sangat berat, bahkan praktis sudah tertutup.

Oleh sebab itu, tampil sebaik mungkin, sekonsisten mungkin di tiap laga Liga Eropa adalah harga mati. Pun, dengan tampil konsisten, Arsenal punya modal untuk menghadapi lawan yang lebih berat di babak semifinal nanti. Tentu apabila Arsenal mampu menyingkirkan CSKA Moskow di babak 8 besar.

Bicara CSKA, Arsenal sendiri memang butuh kemenangan. Tak hanya menang saja, namun menang dengan meyakinkan. CSKA adalah salah satu tim yang sulit dikalahkan ketika bermain di kandang. Tim-tim dari Rusia dan Eropa Timur memang rajin merepotkan tim-tim dari Eropa Barat dan Eropa daratan. Arsenal menyelesaikan misinya dengan baik. Skor kemenangan 4-1 adalah modal manis untuk leg kedua nanti.

Seiring kemenangan besar ini, ada beberapa catatan yang perlu dicermati oleh Arsenal. Tiga catatan untuk mengakhiri Liga Eropa dengan kebahagiaan.

1. Momentum ketajaman Alensandre Lacazette

kembali dari cedera, Lacazette langsung mencetak gol ketika melawan Stoke City. Pemain asal Prancis tersebut menunjukkan emosinya ketika merayakan golnya. Meski hanya lewat titik penalti, namun gol tersebut dipercaya akan menjadi pemantik kepercayaan diri Lacazette. Dan kepercayaan itu memang terbukti ketika melawan CSKA.

Tak bisa memainkan Pierre-Emerick Aubameyang, Lacazette menjadi titik vokal serangan Arsenal. Yang menarik, Lacazette langsung menunjukkan bahwa dirinya sudah hampir berada pada kondisi fisik paling ideal. Jejak cedera seperti tidak nampak ketika ia bermain dengan begitu dinamis. Ia rajin bergerak, menyediakan diri sebagai pertahanan pertama ketika Arsenal kehilangan bola.

Baca juga:  Naif Arsenal di Tengah Festival Umpan Silang Liverpool

Lacazette juga seperti sudah berada pada tingkat kewaspadaan tertinggi. Ia sangat jeli membaca ruang di wilayah lawan, baik untuk dieskploitasi maupun untuk “disediakan” kepada pemain Arsenal lainnya. Inilah salah satu kunci, yang pasti tak terlihat, yang membuat Aaron Ramsey bisa mencetak dua gol.

Lacazette sendiri mencetak dua gol, lewat eksekusi penalti dan satu tembakan akurat yang dilepaskan di tengah kerumunan pemain-pemain CSKA, di dalam kotak penalti. Arsenal harus terus mempertahankan momentum ketajaman Lacazette ini. Teknik penyelesaian peluang Lacazette sebenarnya sudah masuk kategori kelas elite. Sangat dibutuhkan untuk meladeni lawan-lawan berat seperti Atletico Madrid adalah Marseille di babak semifinal nanti.

2. Perubahan cara bermain ketika pergantian pemain terjadi

Ada detail-detail kecil yang nampak, terutama setelah pergantian pemain terjadi. Henrikh Mkhitaryan diganti karena cedera, Jack Wilshere dan Lacazette diganti karena kelelahan. Dua pergantian terakhir bertujuan untuk menjauhkan cedera dari dua pemain penting Arsenal.

Mkhitaryan digantikan oleh Alex Iwobi, Wilshere oleh Mohamed Elneny, dan Lacazette diganti Danny Welbeck. Begitu pergantian terjadi, cara bermain Arsenal juga sedikit berubah. Penting untuk diingat bahwa perubahan cara bermain bukan berarti sesuatu yang buruk. Fleksibilitas cara bermain juga dibutuhkan.

Mengapa dibutuhkan? Tentu karena lawan-lawan Arsenal punya cara bermain yang juga berbeda satu dengan yang lain. Dahulu, Arsene Wenger hanya punya tiga ide besar untuk semua lawan. Pertama, kuasai bola ketika unggul secara kualitas. Kedua, serangan balik ketika bertemu lawan tangguh. Ketiga, masukkan lebih banyak striker ketika tertinggal. Tiga cara yang kaku, yang kini sudah berubah.

Perubahan tersebut dipicu oleh keragaman komposisi pemain, yang mengizinkan Wenger untuk menerapkan banyak ide ketika pertandingan berjalan. Namun ingat, kedalaman tim bukan berarti punya banyak pemain saja. Idealnya, kedalaman tim juga berhubungan dengan kualitas yang ditawarkan dari pemain-pemain yang duduk di bangku cadangan.

Inilah tantangan bagi Arsenal dan Wenger. Para pemain pengganti tidak selalu berada dalam kondisi yang bisa diandalkan. Contohnya terlihat kepada bagaimana Welbeck merespons tanggung jawab ketika menggantika Lacazette di laga melawan CSKA. Pemain dengan nama tengah “inkonsistensi” tersebut tidak menunjukkan urgensi yang sama ketika melawan AC Milan.

Baca juga:  Arsene Wenger vs Sir Alex Ferguson: Warisan yang Kikis, Guru Semua Persaingan

Sementara itu, Iwobi dibutuhkan untuk selalu prima ketika salah satu dari Mkhitaryan, Ozil, atau Ramsey tidak bisa bermain karena cedera, misalnya. Iwobi hampir selalu bisa bermain dengan intensi yang jelas ketika berlaga untuk Nigeria. Kenapa hal itu tidak bisa ia bawa ketika berseragam Arsenal? Toh saat ini, Wenger sudah tidak sekaku dulu lagi.

Untuk menjadi juara, pemain-pemain di bangku cadangan harus sadar bahwa mereka harus bisa bermain maksimal kapan saja. Tidak percaya? Coba tengok perjalanan Real Madrid ketika menjadi juara Liga Champions musim lalu. Apa yang ditawarkan pemain-pemain cadangan Madrid seperti Marco Asensio dan Isco ketika pemain dari tim utama tidak bisa bermain? Betul, penampilan kelas elite!

3. Pentingnya cara bertahan

Catatan nomor tiga ini sudah seperti “catatan sepanjang hayat” bagi Wenger. Cara bertahan tidak selalu meyakinkan, bahkan berpotensi menaikkan tensi para penonton.

Meski bisa mencetak empat gol, penonton yang waras pasti akan sadar bahwa sepanjang pertandingan, pemain-pemain CSKA bisa masuk ke dalam kotak penalti Arsenal dengan mudah.

Tak hanya sangat mudah masuk ke dalam kotak penalti, namun juga sangat mudah melepaskan tembakan. Soal akurasi bukan masalah di sini. Namun proses kenapa CSKA bisa dengan mudah menembus berikade pemain bertahan.

Kenapa proses yang paling penting? Karena ketika bertemu lawan berat, dengan pemain-pemain yang lebih berkualitas, Arsenal akan sangat menderita. Silakan saja Arsenal bisa mencetak empat gol di kandang. Namun ketika nanti kebobolan empat gol di kandang, ya jangan mengeluh jika cap medioker itu masih terlihat samar-samar.

Memperbaiki cara bertahan bukan perkara mudah. Namun setidaknya, para Gooners tahu bahwa Arsenal punya pengalaman bermain disiplin. Sayangnya, kedisiplinan itu hanya nampak ketika melawan tim besar. Boleh saja bermain menyerang sepanjang laga, namun jangan pernah melupakan bahwa bertahan itu sama pentingnya.

Bahkan, untuk menjadi juara, pertahanan kokoh dan stabil jauh lebih penting ketimbang bisa mencetak empat gol di satu laga.