MOJOK.CO – Laga semifinal Liga Champions Bayern Munchen vs Madrid akan lebih “tertutup” ketimbang Liverpool vs Roma. Sebuah laga yang bakal penuh perhitungan.

Kelas berat, laga antara Bayern Munchen melawan Real Madrid menyajikan pertandingan yang bisa dibilang lebih “tertutup” ketimbang Liverpool vs AS Roma. Kedua tim adalah semifinalis Liga Champions musim lalu, dengan Madrid yang lolos ke final. Jika musim lalu Madrid bisa mendominasi, musim ini, situasi bisa sangat berbeda.

Skuat dan cara bermain Madrid, kurang lebih, masih sama seperti musim lalu. Zinedine Zidane mempertahankan cara bermain yang mengantarkan Los Blancos meraih gelar juara Liga Champions dua kali berturut-turut. Penambahan pemain memang dilakukan di musim panas yang lalu. Namun, beberapa pemain muda yang dating tidak mengubah pendekatan Madrid.

Situasi berbeda terjadi di skuat Bayern. Pergantian pelatih mengubah banyak hal, mulai dari komposisi pemain, cara bermain, dan respons tim terhadap situasi. Jupp Heynckes, masuk menggantikan Carlo Ancelotti di awal musim 2017/2018. Masuknya pelatih berusia 72 tahun tersebut mengubah wayah Bayern.

Die Rotten menjadi lebih efisien memanfaatkan penguasaan bola. Fokus Heynckes tidak untuk bermain indah semata. Bayern bersalin rupa, justru menyerupai sifat Madrid musim lalu, yaitu bermain semakin sederhana, namun efektif memanfaat dan memaksimalkan kelebihan pemain-pemainnya.

Cara bermain Bayern semakin “tertata”, seperti mesin panser, istilah yang melekat kepada timnas Jerman. Satu keuntungan yang dipetik lewat perubahan cara bermain adalah Bayern menjadi lebih sulit dikalahkan. Bisa dibayangkan, tim besar, dengan pemain-pemain yang unggul secara kualitas, punya kekuatan untuk sulit dikalahkan. Meski tak indah, cara bermain seperti ini menjamin Bayern bisa melaju jauh di kompetisi jangka pendek seperti Liga Champions.

Baca juga:  Awkarin dan Pesona Remontada: Dari Barcelona, AS Roma, Hingga Liverpool

Melihat perubahan cara bermain Bayern, setidaknya ada dua skenario yang kemungkinan akan terlihat di leg pertama semifinal Liga Champions Kamis (26/4) dini hari.

Umpan silang sebagai opsi paling mudah bagi Bayern Munchen

ketika direpotkan oleh Juventus di leg kedua babak perempat final, Real Madrid sangat kesulitan ketika menghadapi umpan silang. Tentunya umpan silang yang spesifik, yaitu dilepaskan dari sisi kiri, dan diarahkan ke tiang jauh. Juventus, memaksimalkan kemampuan duel udara dari Mario Mandzukic untuk mengeksploitasi Dani Carvajal.

Secara fisik, Carvajal jelas kalah dibandingkan Mandzukic. Pun, yang membuat situasi ini semakin berbahaya bagi Madrid adalah ketika dua bek tengah tertarik oleh pergerakan satu penyerang lain. Koordinasi yang tidak stabil inilah yang diincar Juventus. Namun perlu juga ditambah sebuah catatan bahwa di leg kedua perempat final yang lalu, Sergio Ramos tidak bermain.

Absennya Ramos sangat terasa ketika dibuat repot oleh Juventus. Dan di kendang Bayern Munchen nanti, pemain asal Spanyol tersebut sudah bisa bermain. Kembalinya Ramos tentu harus diperhitungkan. Meski postur tubuhnya tidak terasa dominan, teknik dasar bertahan Ramos termasuk bintang lima. Teknik dasar yang dimaksud adalah ketika berhadapan dengan umpan silang.

Di sini menariknya. Bayern Munchen punya dua pemain depan yang punya kemampuan untuk merusak koordinasi lini pertahanan Madrid ketika menghadapi umpan silang.

Thomas muller, adalah salah satu penyerang yang begitu sensitif dengan ruang di dalam kotak penalti. Pergerakannya yang tajam dan penuh perhitungan, akan sulit dikawal. Sementara itu, untuk urusan menyambut umpan silang di tiang jauh, Robert lewandowski bisa menjadi tumpuan. Kombinasi pergerakan muller dan Lewandowski bisa menentukan arah pertandingan nanti.

Perlu diingat, Bayern Munchen punya pemain-pemain dengan kemampuan umpan silang yang bisa diandalkan, terutama dua bek sayap dalam dalam diri David Alaba dan Joshua Kimmich. Di bawah asuhan Heynckes, dua bek sayap ini menjadi lebih stabil. Sebuah kondisi yang ideal untuk Bayern: dua penyerang dengan kombinasi pergerakan yang tajam dan dua bek sayap yang jago melepas umpan silang.

Baca juga:  Ketimbang Mengkloning Lionel Messi, Lebih Baik Kloning Monyet Ekor Panjang

Skenario pertama ini bisa berpotensi mengganggu usaha Madrid masuk ke babak final nanti.

Bunuh diri karena kekuatannya sendiri

Bayern tentu sudah paham bahwa kekuatan Madrid adalah umpan silang untuk memaksimalkan kemampuan finishing Cristiano Ronaldo (dan Karim Benzema). Dua leg musim lalu harusnya mengajarkan Bayern bahwa mereka tak bisa meremehkan umpan silang Madrid.

Ketika dua bek sayap Bayern naik, Madrid akan mendapatkan banyak ruang untuk situasi serangan balik via sisi lapangan. Namun, situasi ini bisa dicapai Madrid jika lini tengah mereka bisa menguasai keadaan, seperti ketika Madrid mengalahkan Paris-saint Germain. Meski situasi berbahaya ada di sisi lapangan, kunci pertandingan nanti akan ada di lini tengah.

Bayern di bawah asuhan Heynckes, bermain dengan skema dasar 4-2-3-1. Artinya, akan ada minimal 3 gelandang di tengah, cocok untuk meladeni dinamo Madrid, trio gelandang terbaik di dunia saat ini: Casemiro – Toni Kroos – Luka Modric. Kuncinya di sini. Jika Bayern terlalu focus untuk mengeksploitasi umpan silang, Madrid akan menghukum dengan seketika.

Apakah Bayern Munchen vs Madrid akan menjadi pertandingan yang “tertutup”? Bisa jadi. Namun jika kedua tim sudah mencium cara membuat peluang dengan mudah, gol akan datang dengan deras. Laga ini mungkin tidak akan seseru Liverpool vs Roma. Pertandingan yang penuh perhitungan berpeluang tersaji.