MOJOK.COSelamat untuk Arsenal Women yang baru saja menjadi juara Women’s Super League. Selamat juga, karena musim depan akan menggantikan tim laki-laki di Liga Inggris.

Sudah. Bukan kejutan di akhir musim ini apabila Arsenal kalah di semua laga. Terutama ketika berbicara laga tandang, di mana mereka kehilangan banyak poin musim ini. Kalah ada hal biasa. Itu salah satu dinamika dalam sebuah kompetisi. Apalagi buat tim dari London Utara ini, di mana kalahan dan menjadi pecundang adalah sebuah budaya yang harus terus dilestarikan.

Makanya, kalau Arsenal ini menang dari sebuah tim yang bernama Crystal Palace, Wolves, dan Leicester City, kamu baru boleh bilang aneh. Toh apa sih yang bisa diharapkan dari sebuah tim yang kalah dari dream team kebun binatang yang dihuni elang, serigala, dan rubah? Melawan tim pegawai kebun binatang saja kalah kok mau berbicara kompetisi Liga Champions musim depan.

Begini, lho. Kalah itu bukan masalah. Namun, kalau mau kalah, setidaknya tunjukkan niat untuk bermain sepak bola. Bukan hanya setor muka ketika kumpul tim, latihan tiap hari, pakai sepatu bagus, pakai deodoran super wangi sebelum pertandingan, dan sibuk mengoleskan minyak rambut banyak-banyak supaya rambutmu tetap rapi jali.

Kamu dibayar dengan standar gaji yang begitu tinggi, mengenakan sebuah seragam dengan emblem meriam yang bersejarah. Masih ditambah segala kemudahan yang bisa kamu dapatkan sebagai pemain sepak bola profesional. Paling tidak, pelihara mentalmu sebagai laki-laki mumpuni, konon terpilih, yang bisa bertanding di liga paling mahal sedunia itu.

Masih belum cukup? Mengenakan seragam sebuah klub itu bukan tentang nama di punggung, tetapi tentang lambang meriam di dada. Itu kalimat yang sangat bagus dari salah satu legendamu sendiri. Tentunya, sebelum bergabung bersama Arsenal, kamu sudah sempat mempelajari sejarah klub ini, termasuk nonton cuplikan gol dan skill dari para pemain legenda.

Baca juga:  7 Alasan Mengapa Arsene Wenger Tidak Dipecat Arsenal

Namun sayang, yang disajikan Arsenal ketika menjalani takdir mereka ketika melawan Palace, Wolves, dan Leicester bukan cerminan laki-laki unggul. Kalah dengan tidak terhormat. Ngapain membahas taktik sampai berbusa, ketika yang paling dasar saja kamu lupa; mental untuk terus berjuang sampai akhir, berlari sejauh mungkin, bergerak secepat mungkin.

Mental bukan sebuah porsi yang dipengaruhi oleh pelatih. Setidaknya tidak paling dominan. Mental adalah 70 persen usaha sendiri dan 30 persen dari usaha pelatih merawat dirimu. Kalau pelatih sudah melakukan yang ia bisa, tapi kamu enggak mau berjuang ya sama saja. Kalau mental saja nggak ada, kok mau berbicara kompetisi antar-klub paling berat di dunia.

Yang sesuai dengan mentalmu cuma Liga 17an yang pakai sarung itu dan bola plastik itu. Bahkan pemain-pemain Arsenal ini bakal ciut nyalinya ketika bermain tarkam di Indonesia. Sekali tulang kering kena gaprak, langsung guling-guling minta pelanggaran. Setelah itu takut menggiring bola.

Laki-laki kok begitu. Nah, oleh sebab itu, demi nama baik klub ini, mulai musim depan, Arsenal man akan digantikan oleh Arsenal women. Karena sudah terbukti, para ladies The Gunners lebih punya balls ketimbang sebuah skuat yang dihuni laki-laki.

Arsenal women ini nggak bakal membiarkan dirinya kalah secara memalukan, tiga kali beruntun, pada fase paling penting sebuah liga. Pelatih ladies The Gunners, Joe Montemurro, mengungkapkan rahasia timnya yang baru saja menjadi juara Women’s Super League (WSL).

“Menjadi juara sangat berarti bagi kami. Kami melewati musim yang luar biasa. Para pemain bisa bersatu sebagai sebuah tim. Kami melewati banyak kesulitan, mulai dari cedera dan banyak hal lainnya. Sebuah sebuah tim, rasa cinta dan respect yang mereka tunjukkan satu sama lain mencapai puncaknya ketika kami juara lama ini,” ungkap Joe Montemurro.

Baca juga:  Jokowi Tak Pernah Kalah, Mirip Arsenal dan Juventus Zaman Invincible

“Saya sangat bangga dengan para pemain yang bisa mengontrol dan menentukan nasib sendiri. Kami tidak harus bergantung kepada tim lain yang kehilangan poin. Kami yang menentukan nasib sendiri dan pujian setinggi-tingginya untuk para pemain yang bekerja keras setiap minggu untuk bisa memahami filosofi dan metodologi klub ini. Mereka mampu menggambarkan filosofi Arsenal dengan cara paling baik,” tambahnya.

Badai cedera, mampu bersatu sebagai sebuah tim, saling mengasihi, respect, dan mau bekerja keras setiap minggu supaya bisa memahami filosofi tim. Bukankah hal-hal indah itu juga wajib ditunjukkan Arsenal man setiap minggunya?

Yang terjadi adalah kebalikannya. Cederanya Rob Holding, Hector Bellerin, dan Aaron Ramsey langsung menggangu stabilitas tim tanpa pernah ketemu solusinya. Hampir setiap minggu, para pemain tidak menunjukkan niat bekerja keras untuk memahami filosofi tim ini.

Sungguh sangat tepat, ketika Joe Montemurro menegaskan kalau Arsenal women bisa menggambarkan filosofi klub ini dengan cara paling benar. Para ladies justru mewakili filosofi klub ini, ketika para lelaki, yang disebut “para pionir”, justru tidak bisa memberikan kebahagiaan ketika tampil bermain.

Fans itu tidak pernah menuntut timnya untuk selalu menang. Fans yang isi kepalanya sehat paham kalau kekalahan itu bagian dari kehidupannya. Namun, fans akan tetap bahagia, tetap “menghargai kekalahan” ketika tim yang ia dukung menunjukkan niat untuk tidak menyerah sampai akhir.

Malam ketika Arsenal man dibantai Leicester dengan skor 0-3, Arsenal women mengkukuhkan dirinya sebagai juara. Sudah sangat betul, apabila musim depan para laki-laki tak punya BALLS ini digantikan saja oleh para ladies yang justru punya nyali untuk berjuang dan bekerja keras.

 



Loading...



No more articles