MOJOKJustin Kluivert tak hanya tenar karena menyandang nama besar bapaknya, Patrick Kluivert. Ia adalah salah satu pemuda terbaik di Eropa, yang bergabung dengan madrasah ideal bernama Roma.

Menyandang nama besar sang ayah yang melegenda, banyak pesepak bola muda yang gagal bersinar. Jordi Cruyff, misalnya, yang tidak bisa dibilang sukses ketika menjadi pesepak bola aktif. Yang berhasil tentu juga ada, seperti misalnya Paolo yang menyandang nama keluarga Maldini. Ia meneruskan kebintangan sang ayah, Cesare, bersama AC Milan.

Musim panas ini, AS Roma bergerak cukup cepat untuk mengamankan tanda tangan tiga peman muda. Mereka adalah Ante Coric, Bryan Cristante, dan Justin Kluivert. Bergabungnya nama terakhir melahirkan kegairahan tersendiri. Selain karena usia muda dan potensinya, nama keluarga Kluivert menjadi perhatian.

Keluarga Kluivert sendiri memang “keluarga sepak bola”. Dua adik Justin sendiri saat ini tengah memperkuat klub Belanda di kelas usia, yaitu Quincy Kluivert di Vitesse Arnhem U-21 dan Ruben Kluivert di Ajax U-17. Sangat menarik apabila ada 3 Kluivert bisa bermain bersama di atas lapangan. Komentator pertandingan pasti dibikin mudah bekerja.

“Kluivert kepada Kluivert, umpan silang kepada Kluivert. Kluivert memantulkan bola ke belakang. Di sana ada Kluivert. Kluivert menendang!” Sungguh praktis.

Justin Kluivert sendiri masih berusia 19 tahun. Posisi dan cara bermainnya sangat berbeda jika dibandingkan dengan sang ayah. Bagi kalian orang-orang tua penggila Serie A pasti akrab dengan cara bermain Patrick Kluivert. Meski hanya satu musim memperkuat AC Milan pada musim 1997/1998 untuk kemudian hengkang ke Barcelona, Patrick Kluivert meninggalkan kesan yang mendalam.

Jika Patrick berposisi sebagai penyerang tengah dengan kemampuan fisik yang memesona, Justin sang anak bisa bermain di banyak posisi. Justin Kluivert terlahir dengan bakat besar dan keluwesan cara bermain. Ia mampu bermain, setidaknya di tiga posisi sama baiknya, yaitu gelandang serang tengah, kanan, maupun kiri.

Baca juga:  Fabinho dan Naby Keita: Liverpool Mengatasi Kelemahan

Melihat kelebihannya, semasa bermain untuk Ajax Aamsterdam, Justin banyak bermain di sisi kiri lapangan. Bukan sebagai pemain sayap murni. Ia lebih cocok dibilang seorang playmaker yang bermain dari sisi lapangan dan mengomandoi arah serangan timnya. Secara teknis disebut sebagai roaming playmaker.

Tinggi badan Justin hanya 171 sentimeter, cukup pendek untuk ukuran pesepak bola Eropa. Dengan tinggi badan itu, gaya bermainnya menjadi sangat spesifik. Ia sangat cepat, penuh trik, dan yang paling menarik adalah low center of gravity yang terlihat ketika ia bermain.

Mudahnya, pemain sepak bola dengan low center of gravity menjadikannya lebih mudah menurunkan kecepatan lari, bergeser untuk mengantisipasi perubahan posisi lawan, dan menaikkan kecepatannya dalam sekejap.

Justin tak hanya menggunakan kemampuan ini untuk menunjukkan kebolehannya menggiring bola melewati dua atau tiga pemain. Ketika bermain dengan punggung menghadap gawang lawan, ia tetap bisa menjadi pemantul bola yang baik. Kemampuan akselerasi ia gunakan dengan baik di momen ini. Ketika otot dan posturnya sudah berkembang maksimal, Justin bisa menjadi pesepak bola yang sulit untuk diredam lawan dalam situasi satu lawan satu.

Kekuatan utama Justin adalah sebuah teknik yang disebut close dribbling. Intinya, ketika menggiring dan dalam situasi berlari kencang, posisi bola tidak jauh dari kakinya. Jadi, Justin dapat dengan mudah mengubah arah lari bersama bola untuk menghindari lawan. Supaya mudah, silakan simak gaya menggiring Lionel Messi lewat kanal YouTube.

Dipadukan dengan atribut low center of gravity, Justin dapat dengan mudah berkelit dari lawan yang menerjang dari belakang. Ketika mendapatkan ruang setelah melewati pemain lawan yang menerjang, Justin sangat jago mengeksploitasi ruang tersebut. Usianya masih sangat muda namun berani melakukan penetrasi. Keyakinan ini membuatnya mampu menciptakan situasi berbahaya bagi lawan.

Baca juga:  Serie A di RCTI: Cinta dan Nostalgia Planet Football, AC Milan, Hingga Tabloid BOLA

Sebagai wonderkid, Justin Kluivert cukup komplet. Ia juga punya visi, dengan pandangan mata yang luas. Ketika menggiring bola, matanya tidak selalu fokus dengan bola, tetapi sangat awas dengan perubahan posisi kawan. Dengan akurasi umpan yang mencapai 82 persen, ditambah visi dan kejernihan pandangan, ia terlihat mudah untuk bermain kombinasi menggunakan umpan pendek cepat yang akurat.

Satu lagi kelebihan, mungkin paling menarik dari semua atribut Justin di atas, adalah kesadaran untuk membantu pertahanan. Bagi pesepak bola modern, kesadaran untuk naik dan turun untuk terlibat dalam berbagai proses sepak bola adalah keharusan. Usianya masih 19 tahun, namun Justin sudah paham yang namanya tanggung jawab.

Bermain di Serie A adalah pilihan yang dirasa tepat bagi Justin Kluivert. Ia bisa belajar dari pengalaman Marco van Basten. Musim-musim awal van Basten bersama Milan tidak terlalu lancar. Ia dianggap terlalu lemah dan sulit bersaing dengan bek-bek Serie A yang ganas. Angsa dari Utrecht tersebut belajar bahwa teknik tinggi tak akan berguna tanpa kekuatan fisik, pemahaman taktik tingkat lanjut, dan keberanian untuk bertarung.

Serie A adalah kolam pendidikan yang segar bagi semua pemain muda dan AS Roma bakal menjadi madrasah yang ideal bagi Justin Kluivert. Mengapa? Eusebio Di Francesco, pelatih Roma, adalah pelatih yang berpikiran terbuka. Ia tidak masalah memainkan pemain muda, asalkan paham dengan tanggung jawab dan mau belajar. Mau semuda apa pun, ketika mereka menunjukkan performa yang memuaskan, menit bermain selalu tersedia. Cengiz Under adalah contohnya.

Dengan dana 18 juta euro, AS Roma mendapatkan salah satu remaja paling potensial di Eropa saat ini. Dengan kepindahan ini, Justin Kluivert mendapatkan kesempatan menimba ilmu di madrasah yang bersahabat dengan orang baru, yang masih muda, dan mau belajar. Pertanda jodoh sudah terjalin.