fbpx

MOJOK.CODi tengah kombinasi antara kecerobohan, kelelahan, dan kesalahan pengambilan keputusan membuat laga seru Maroko vs Iran berakhir dengan kemenangan Iran.

The Guardian menggunakan istilah “fighting spirit” dan “real belief” untuk menggambarkan skuat Maroko di bawah asuhan Herve Renard. Sementara itu, skuat Iran di bawah asuhan Carlos Queiroz juga menunjukkan corak yang sama. Pertandingan Maroko vs Iran merupakan ajang kuat-kuatan determinasi. Pada titik tertentu, laga “medioker” Maroko vs Iran ini lebih seru ketimbang Mesir vs Uruguay.

Babak pertama adalah pameran pertandingan dengan intensitas yang tinggi. Hebatnya, pertandingan yang intens ini bisa bertahan hingga babak pertama selesai. Laju bola bahkan terasa terlalu cepat. Terasa perasaan terburu-buru, baik dari pemain Maroko maupun Iran. Perhatian utama ada kepada pemain-pemain Maroko.

Di atas kertas, Maroko punya pemain-pemain dengan teknik olah bola yang lebih baik dibandingkan Iran. Pemain-pemain seperti Younes Belhanda, Nordin Amrabat, Amine Harit, dan Hakim Ziyech merupakan tipe pemain yang luwes ketika mempertahankan bola. Keempat pemain tersebut juga punya satu atribut yang menyulitkan barisan pertahanan Iran.

Keempat pemain Maroko yang banyak merotasi posisi di babak pertama tersebut terlihat begitu percaya diri, baik ketika melepas umpan terobosan maupun melakukan penetrasi menusuk ke kotak penalti. Sayang sekali, kelebihan tersebut terkubur oleh kecerobohan masing-masing pemain ketika mendekati kotak penalti.

Baca juga:  Selamat Idulfitri Mohamed Salah, Sehat Lahir Batin

Pemain-pemain Maroko banyak membuat kesalahan sendiri ketika menguasai bola. Di sisi lain, skuat Iran yang lebih tidak diunggulkan banyak menunggu momen menyerang. Skuat asuhan Carlos Queiroz ini sangat sabar meladeni lini tengah Maroko yang agresif. Ketika mendapatkan kesempatan, Iran terbukti bisa sangat menyulitkan lini belakang Maroko. Alhasil, Maroko vs Iran menjadi laga saling serang, penuh determinasi, dengan teknik penyelesaian peluang yang medioker.

Babak kedua pun dimulai dengan nuansa yang sama: cepat dan penuh tenaga. Salah satu akibatnya adalah terjadinya beberapa pelanggaran yang tidak perlu, yang berbuah kartu kuning. Wasit Cuneyt Cakir dibuatnya sibuk.

Hingga akhir pertandingan, laga Maroko vs Iran adalah soal ketahanan fisik. Sebagai akibat dari tingginya intensitas sejak babak pertama, banyak pemain yang sudah mencapai batas kelelahan di ujung laga. Lelah, akurasi umpan menurun secara drastis. Selain itu, kelelahan yang terasa membuat daya konsentrasi pemain juga menurun. Akibatnya, banyak pemain yang kesulitan mengambil keputusan yang benar, terutama dalam transisi menyerang.

Kombinasi antara kecerobohan dan kelelahan membuat laga yang seru ini berakhir dengan kemenangan Iran. Lebih banyak ditekan, Iran memaksimalkan bola mati di penghujung laga setelah pelanggaran yang sangat tidak perlu oleh bek Maroko. Bola silang didorong oleh pemain Maroko ke dalam gawang sendiri. Gol bunuh diri. Pedih!

Begitulah sepak bola, deritanya bagi tim yang bermain lebih bagus memang tiada akhir.

Baca juga:  Siapa Bilang Negara Syariat Islam Menghukum Koruptor dengan Potong Tangan?


Tirto.ID
Loading...

No more articles