MOJOK.COLaga Jerman vs Meksiko menjadi gambaran bahwa persiapan yang matang adalah modal yang kuat untuk mengatasi sang unggulan pertama. Tumbang juara bertahan.

Mojok Institute sudah mewanti-wanti bahwa meski menjagokan Jerman, timnas Meksiko bisa sangat menyebalkan. Ketika membuat prediksi, kami menulis begini:

“Apakah laga Jerman vs Meksiko bisa berakhir anti-klimaks? Ya tentu saja bisa. Meksiko adalah sebuah tim yang tidak boleh diremehkan. Performa mereka di kompetisi resmi tidak main-main. Meski tetap saja kalah oleh lawan-lawannya, Los Tricolores sungguh sulit dikalahkan. Meksiko berbeda dengan tim-tim dari Amerika Tengah lainnya. Mereka lebih terkoordinasi dan punya serangan balik yang menyebalkan.”

Meksiko lebih punya koordinasi yang lebih meyakinkan ketimbang negara-negara Amerika Tengah lainnya. Mereka lebih modern dan Laga Jerman vs Meksiko ini menegaskan kelebihan itu. Apalagi, serangan balik Meksiko, benar-benar meledak, menjadi alat untuk menyakiti Jerman secara telak. Sebuah kealpaan yang sangat jarang terlihat dari timnas Jerman.

Begitu mulai laga, Jerman langsung menunjukkan intensi untuk mengasai lini tengah secepatnya. Duet Sami Khedira dan Toni Kroos punya jangkauan umpan yang luas, pun ditunjang dengan akurasi yang sangat baik. Sementara itu, pemosisian diri Mesut Ozil dan dua pemain di sisi lapangan, Thomas Muller dan Julian Draxler juga sangat tepat. Dengan bentuk ini, Jerman mudah mem-bypass lini tengah Meksiko menggunakan umpan pendek.

Baca juga:  Final Piala Dunia 2018: Modric-Rakitic, Model Dua Playmaker

Ketika lebih nyaman menguasai lapangan tengah, juara bertahan Piala Dunia ini lebih mudah mensirkulasikan bila ke dua sisi lapangan. Muller dan Draxler yang banyak bergerak ke dalam, didukung oleh dua bek sayap yang agresif membantu serangan, Joshua Kimmich di kanan dan Marvin Plattenhardt di sisi kiri.

Posisi Kimmich dan Plattenhardt tidak selalu satu garis, melainkan seperti posisi timba, satu lebih tinggi, satunya lebih rendah. Maksudnya untuk menjaga kedalaman ketika salah satu naik lebih tinggi. Kimmich sendiri menjadi bek sayap yang lebih agresif ketimbang Plattenhardt. Cara ini sebenarnya sudah sangat ideal untuk membongkar bentuk pertahanan Meksiko yang kompak dan rapat.

Namun, ketika tidak dieksekusi dengan sempurna dan konsisten, bentuk offensive ini menjadi senjata makan tuan. Meksiko sendiri nampaknya sudah menyiapkan jebakan untuk merespons cara bermain Jerman ini. ketika Kimmich naik, Hirving Lovano tidak selalu mengikutinya hingga ke wilayah sendiri. Lozano banyak menghentikan aksi mundur di sekitar garis tengah lapangan.

Dengan begitu, pemain sayap PSV tersebut bisa menjadi kanal serangan balik lantaran dirinya tidak terlalu “mepet” dengan Kimmich. Dan inilah yang memang terjadi dan diincar Meksiko. Satu serangan balik, Lozano melesat cepat mengkeksploitasi sisi kanan Jerman yang sangat lega. Seperti pemudik yang mendapati jalan tol yang lengang, Lozano menginjak pedal gas dalam-dalam.

Baca juga:  Indonesia Merdeka, Tapi Sepak Bolanya Masih Dijajah 5 Hal Ini

Kecepatan dan olah bola yang baik adalah kelebihan Lozano. Ia sangat dominan di situasi satu lawan satu. Gol Lozano menjadi penegasan bahwa laga Jerman vs Meksiko akan menjadi sangat berat bagi juara bertahan. Ketika sang juara bertahan lebih menyerang di babak kedua, laga Jerman vs Meksiko menjadi pameran serangan balik. Kelebihan Meksiko untuk menyakiti lawan-lawan mereka.

Jika melihat cara bermain dan performa di atas lapangan, jujur saja Jerman tidak kesulitan untuk masuk ke dalam kotak penalti Meksiko. Bahkan beberapa kali, baik Draxler maupun Marco Reus yang masuk di babak kedua bisa menerima bola chip dari Jerome Boateng dari lini kedua. Namun sayang, bola akhir tidak pernah benar-benar mengancam kiper Meksiko, Ochoa. Pun percobaan tembakan dari luar kotak penalti tidak mutlak menjadi ancaman.

Di tengah situasi Meksiko yang bertahan dengan blok yang rapat dan dengan kompaksi yang “cukup” terjaga, Jerman gagal memaksimalkan lebar lapangan, terutama dari sisi kiri. Baik Draxler maupun Timo Werner terlalu masuk ke dalam kotak penalti. Sementara itu, Plattenhardt lebih banyak menjaga kedalaman lantaran hampir semua pemain naik satu garis.

Masuknya Mario Gomez pun tiada berarti lantaran tidak ada bola matang yang masuk ke kotak penalti. Umpan silang Jerman lebih terasa sporadik, asal masuk ke kotak penalti saja. Alhasil, barisan pertahana Meksiko lebih mudah untuk melakan sapuan dan blok tembakan.

Baca juga:  Prediksi Tunisia vs Inggris: Ini Timnas Inggris yang Berbeda dari Sebelumnya

Laju Jerman di Piala Dunia 2018 memang terasa perlahan, bahkan tersendat. Kekalahan yang sangat pahit ketika tim Anda menjadi unggulan pertama. Pelajaran kehidupan yang terasa seperti pukulan jab tepat ke ulu hati.