MOJOK.COLaga Denmark vs Australia berakhir imbang dengan skor 1-1. Selain gol indah Christian Eriksen, primadona laga ini adalah VAR yang kembali “menentukan”.

Laga Denmark vs Australia dimulai dengan go indah dari Christian Eriksen. Menerima umpan “servis” dari Jorgensen, gelandang serang milik Tottenham Hotspur tersebut menghajar bola dengan kaki kiri. Tendangan setengah voli itu menghujam dengan deras ke gawang Australia yang dikawal oleh Mathew Ryan. Unggul cepat, Denmark menatap potensi lolos ke babak 16 besar.

Setelah gol Eriksen, pertandingan tidak meredup. Intensitas tetap tinggi. Australia butuh kemenangan untuk menjaga asa lolos dari Grup C. kekalahan dari Prancis di pertandingan pertama membuat tim asuhan Bert van Marwijk tak punya pilihan lain selain memetik kemenangan. Determinasi inilah yang memicu drama setelah gol cepat dari Denmark.

Dari sebuah situasi bola mati, Australia mendapatkan peluang. Sundulan pemain Australia menyenggol tangan Yussuf Poulsen di dalam kotak penalti. Pertandingan sempat terus berjalan beberapa saat ketika wasit tiba-tiba meniup peluitnya. Wasit Antonio Mateu berjalan ke sisi lapangan. Wasit asal Spanyol itu menghentikan pertandingan untuk “berkonsultasi” dengan simbah VAR!

VAR beraksi kembali! Dari tayangan ulang, bola memang menyentuh tangan Poulsen di dalam kotak penalti ketika terjadi duel udara. Wasit menghadiahkan tendangan penalti untuk Australia lantaran tangan Poulsen berada terlalu jauh dari tubuhnya. Sebuah situasi yang memaksa Denmark menelan pil pahit bernama teknologi Video Assistant Referee (VAR).

Baca juga:  Siap-Siap Nggak Bisa Nonton Barcelona Lagi di La Liga

Hadiah penalti dieksekusi dengan mulus oleh Mile Jedinak. Pemain ini sudah mencetak dua gol di Piala Dunia 2018. Keduanya lewat titik penalti. Satu gol lagi dicetak ke gawang Prancis ketika Australia kalah dengan skor 1-2. Titik berat narasi ini bukan pada keberhasilan Australia menyamakan kedukan, namun kepada VAR yang dirasa merusak nuansa drama pertandingan.

Mereka yang jengah menganggap teknologi ini membunuh sisi humanis sepak bola. Manusia, terutama wasit, memang tak lepas dari kesalahan. Namun, berbagai “kesalahan” itulah yang membuat sepak bola menjadi olahraga yang digemari. Drama yang tersaji adalah asupan adrenalin yang diburu banyak orang.

Sementara itu, mereka yang mendukung berpandangan bahwa VAR sudah harus diterapkan di semua kompetisi sepak bola. VAR memang tidak membuat wasit menjadi lebih adil. VAR ada untuk membantu wasit supaya “lebih benar”.

Bayangkan saja, misalnya, sebuah tim seharusnya mendapatkan penalti. Jika penalti diberikan dan terjadi gol, tim tersebut akan menjadi juara sebuah kompetisi. Namun, lantaran tiada teknologi VAR dan wasit tidak melihat “pelanggaran” tersebut, penalti tidak diberikan. Tentu akan sangat merugikan, sedikit banyak tidak menghargai kerja keras tim tersebut. Bayangkan tim tersebut adalah Rusia, yang bermain di final Piala Dunia menghadapi Uruguay.

Tim pendukung Rusia akan berpandangan bahwa VAR adalah sebuah keadilan ketika penalti diberikan. Sementara itu, pendukung Uruguay akan berpandangan bahwa VAR merusak drama dan kemungkinan menang tim yang mereka bela. Namun, bukankah di sepak bola akan selalu ada dua sisi yang saling bertentangan?

Baca juga:  Hasil Pertandingan Liga 1 Pekan Ke-2 : Persija dan Sriwijaya FC Raih Kemenangan

VAR adalah teknologi yang harus disambut dengan suka cita. Tidak berbeda dengan aturan back pass yang lahir tahun 1992, pergantian pemain hingga tiga pemain di tahun 1995, dan teknologi garis gawang untuk indikasi sebuah gol baru-baru ini. Semuanya adalah bagian dari perkembangan sepak bola. Berilah waktu untuk VAR. Mengapa? Karena cinta ada karena terbiasa.

Selain karena bagian teknologi yang akan selalu berkembang, VAR juga memungkinkan tim kecil untuk memenangi sebuah pertandingan. Kombinasi situasi bola mati dan VAR terbukti ampuh di Piala Dunia 2018. Sekitar 68 persen, mungkin sudah lebih karena itu hitungan lama, gol di Piala Dunia 2018 berasal dari situasi bola mati. Potensi terjadi kemelut dan handball sangat besar.

Ya itulah yang terjadi di laga Denmark vs Australia. Situasi bola mati menjadi keuntungan bagi tim yang “lebih kecil”. Toh, jika keadaannya dibalik, suatu saat nanti VAR akan menguntungkan tim besar. Misalnya Jerman yang kesulitan membongkar deep block lawan mereka. Lalu terjadi kemelut dari sepak pojok di mana bola menyentuh tangan lawan. Penalti diberikan, terjadi gol, dan Jerman menang.

Semua senang, semua bahagia, bukan? VAR ada memang untuk kita semua. Sudahi mengeluh, karena yang namanya teknologi, dan sepak bola itu sendiri, pasti akan berkembang. Ngomong-ngomong, laga Denmark vs Australia berakhir imbang dengan skor 1-1.