MOJOK.CO Ketika Habib Rizieq kembali ke Indonesia di Hari Pahlawan, semua orang akan mengingatnya sebagai aksi kepulangan dia yang diasingkan negara. Epic comeback seperti LIverpool vs AC Milan.

La remontada, istilah dalam Bahasa Spanyol yang cocok digunakan untuk menggambarkan sebuah perjuangan membalikkan keadaan. Jika digunakan sebagai kata benda, la remontada bermakna ‘the comeback’. Untuk sebuah peristiwa yang luar biasa, kita boleh menambahkan kata epic di depan comeback.

Kembalinya Imam Besar Habib Rizieq ke Indonesia, setelah beberapa kali batal, bisa dikatakan sebagai salah satu epic comeback. Salah satu buktinya adalah Pak Habib menginjakkan kakinya kembali ke kampung halaman tepat 10 November, pas dengan perayaan Hari Pahlawan!

Kembali di Hari Pahlawan, Imam Besar Habib Rizieq seperti dipotret sebagai pahlawan yang kembali dari “pengasingan”, dimusuhi negara, tetapi tetap dicintai umatnya. Sejak dini hari di Hari Pahlawan, para umat Pak Habib sudah memadati kawasan di sekitar Bandara Soekarno-Hatta. Ah, siapa, sih yang nggak mencintai Pak Habib satu ini? Bisa dipastikan, Indonesia akan kembali “berwarna”.

Di sepak bola, tidak banyak epic comeback yang pernah saya saksikan. Salah satu yang menjadi ikon la remontada adalah final Liga Champions 2005 di Istanbul, Turki. Liverpool melawan AC Milan dalam sebuah laga yang lebih cocok dibilang drama ketimbang sepak bola.

Sebagai fans Arsenal, saya lahir di tengah keluarga Milanisti, fans AC Milan. Bahkan jersi pertama yang saya kenakan adalah jersi nomor enam, milik legenda AC Milan, Franco Baresi. Kakak saya, dengan sedikit memaksa, memberikan jersi itu sebagai usaha “membaptis” saya menjadi fans Milan, sesuai identitas keluarga.

Otomatis, masa kanak saya diwarnai dengan mengumpulan poster dan guntingan koran olahraga. Wajah-wajah Baresi, Paolo Maldini, Marco van Basten, hingga Manuel Rui Costa mewarnai dinding kamar saya. Namun, bulan madu saya bersama Milan tidak berlangsung lama. Ketika Arsene Wenger mulai saya kenal, perlahan, nama Arsenal yang ada di dalam hati.

Malam itu, 25 Mei 2005, selama beberapa jam, saya kembali mendukung Milan. Apalagi, lawan mereka adalah Liverpool, salah satu rival Arsenal di Liga Inggris. Kakak dan saudara-saudara saya sudah mulai berpesta di jeda babak. Saat itu, Milan sudah unggul 0-3. Final Liga Champions malam itu bakal ditulis sebagai salah satu final yang menjadi antiklimaks.

Namun, Liverpool masuk ke lapangan di babak kedua dengan suasana hati yang berbeda. Malam itu, fans AC Milan dua kali patah hati. Pertama, dalam waktu singkat, skor menjadi sama kuat 3-3. Kedua, fans Milan sangat optimis ketika juara harus ditentukan dengan adu tendangan penalti.

Milan sudah punya pengalaman menjadi juara lewat drama adu penalti. Final Liga Champions 2003, Milan mengalahkan Juventus. Namun, di Istanbul, keyakinan itu dipatahkan oleh aksi epic comeback Jerzy Dudek, kiper Liverpool, yang di babak pertama dua kali salah mengambil keputusan.

Miracle of Istanbul tercipta. Salah satu laga la remontada terbaik di dunia. Keajaiban tercipta untuk mereka yang mau bekerja keras dan ikhlas. Kembalinya Imam Besar Habib Rizieq ke Indonesia, tepat di Hari Pahlawan, juga sebuah keajaiban.

Sebuah titi mangsa yang menjadi penanda sekaligus menjadikan Habib Rizieq bak pahlawan. Yah, terlepas dari sengaja atau tidak, pemilihan Hari Pahlawan sebagai tanggal kepulangan memang ciamik.

Kabar baik juga terdengar di Hari Pahlawan ini. Berbagai kasus yang menjerat Imam Besar Habib Rizieq konon sudah SP3.

Pak Habib hengkang dari Indonesia ketika tersandung kasus chat dan ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya. Pada November 2015, Habib Rizieq dilaporkan Angkatan Muda Siliwangi ke Polda Jawa Barat setelah memplesetkan sapaan khas Sunda, sampurasun. Habib Rizieq juga tersangkut kasus penodaan Pancasila. Hmm… banyak ya, diborong semua.

Konon, semua kasus Habib Rizieq itu sudah berstatus SP3. Namun, kelak ketika ditemukan bukti baru, kasus tersebut bisa dibuka lagi. Sementara itu, Habib Rizieq bisa mengajukan permohonan praperadilan jika tidak terima kasusnya dibuka lagi, apalagi ketika tidak ada transparansi.

Salah satu makna kata “pahlawan” adalah dia yang menonjol karena keberaniannya. Kembalinya Habib Rizieq tepat di Hari Pahlawan ini, sekali lagi, menjadi strategi yang tepat karena simbol selalu mudah diingat orang. Oleh sebab itu, istilah la remontada, epic comeback, dan miracle of Istanbul dibuat.

Sebagai pengingat akan sebuah simbol. Sebuah penanda yang membantu manusia mengingat. Ketika Habib Rizieq kembali ke Indonesia di Hari Pahlawan, semua orang akan mengingatnya sebagai aksi kepulangan dia yang diasingkan negara.

BACA JUGA Mempertimbangkan Kondisi Politik Saat ini, Bukan Tak Mungkin Habib Rizieq Ditunjuk Menjadi Menteri atau tulisan-tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  LiveScore Diblokir, Coach Justin Memblokir: Terkadang, Sepak Bola Memang Susah Dimengerti