MOJOK.COOlivier Giroud ini memang aneh. Tapi sialan, gol-golnya selalu cantik. Bukan pendulang gol, tapi pekerja keras untuk lini depan Chelsea.

Beberapa hari selepas Piala Dunia 2018, dunia tak berhenti mengirim puja dan puji untuk Kylian Mbappe. Seorang remaja yang bermain tanpa rasa takut dan menjadi bagian penting bagi timnas Prancis, terutama setelah masuk sistem gugur.

Sebaliknya, cacian dialamatkan kepada Olivier Giroud. Striker berusia 34 tahun ini dianggap tidak layak menjadi bagian dari timnas Prancis yang menjadi juara Piala Dunia. Sepanjang gelaran Rusia 2018, Giroud memang tidak mencetak gol satu pun.

Striker Chelsea itu dipandang tidak memberi kontribusi. Bahkan, Karim Benzema sempat “iri” ketika menyebut dirinya seperti mobil F1 sementara Giroud hanya sebatas gokart. Namun, kenyataannya, Giroud selalu bermain di sistem gugur Piala Dunia, sedangkan Benzema menonton saja dari rumah.

Kontribusi Giroud sebagai striker, terkadang, memang menyedihkan. Fans Arsenal yang paling mengenal sisi ini. Kalau tidak salah catat, pemain bertinggi badan 193 sentimeter ini pernah melewati 10 pertandingan tanpa membuat gol. Padahal, suplai bola matang selalu mengalir.

Namun, ketika kaki dan kepalanya “waras”, Giroud terbilang jago membuat gol-gol indah. Sontekan cantik di tiang dekat adalah trademark dirinya. Meskipun bertinggi badan 193 sentimeter, Giroud memang terlihat luwes menyontek bola dengan ujung kakinya. Mirip penari balet.

Ketika momen ajaib datang, tidak jarang dia membuat gol-gol indah. Salah satunya tendangan kalajengking ketika Arsenal melawan Crystal Palace. Saking jengkelnya, fans Arsenal pernah menyebutnya sebagai striker yang punya pandangan kalau bisa dibikin susah, kenapa harus dipermudah.

Bersama Chelsea, terkadang, kebiasaan ini terjadi juga. Situasi mudah yang seharusnya berbuah gol, terbuang percuma. Namun, ketika harus mencetak gol dari situasi sulit, Giroud malah dengan mudah melakukannya. Bahkan ketika jumlah peluang sangat kering. Instingnya memang aneh.

Terakhir, Giroud melakukannya ketika Chelsea mengalahkan Atletico Madrid di babak 16 besar Liga Champions. Sepanjang pertandingan, dia hampir tidak mendapat satu bola matang yang mampir di kakinya. Umpan tarik dari kedua sisi selalu berhasil dihalau bek-bek Atletico.

Dan satu momen itu, ketika bek Atletico melakukan kesalahan, Giroud memanfaatkanya dengan cara yang tidak terbayangkan… oleh banyak orang, tetapi tidak mengagetkan.

Bola sapuan pemain Atletico yang justru mengarah ke gawang sendiri disambut Giroud dengan salto. Kaki kirinya yang panjang dan kekar itu mencambuk bola masuk ke sisi kanan Jan Oblak. Saya yakin, Oblak, salah satu kiper terbaik di Eropa itu kebobolan hanya karena kaget saja.

“Oh, cuma Giroud, yang biasanya gagal kalau dapat bola enak. Lololo, kok salto. Lho, malah gol. Jangkrik!” Mungkin begitu batin Oblak.

Profesionalitas Giroud yang pernah “hampir” dibuang Chelsea

Frank Lampard, mantan pelatih Chelsea konon memberi lampu hijau bagi Giroud jika ingin hengkang. Baik ketika musim panas, maupun di Januari 2021 yang lalu, Lampard tidak pernah benar-benar menahan pemain aneh satu ini. Tammy Abraham dan Timo Werner dirasa sudah cukup.

Seiring kabar yang terdengar, peminat Giroud memang sudah tidak banyak. Hingga akhirnya dia bertahan bersama Chelsea. Dia mengambil keputusan ini dan “melupakan” kesulitannya mendapatkan menit bermain. Dia tidak pernah mengeluh secara terbuka. Profesional.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa saat ini, Giroud adalah pencetak gol tersubur ketiga bagi Chelsea di kompetisi Eropa (18 gol). Dia hanya kalah dari Didier Drogba (36 gol) dan Frank Lampard (25).

Saya merasa kalau jumlah gol di Eropa ini akan bertambah, tetapi dengan sangat lambat. Giroud bukan striker yang bisa mencetak 30 gol dalam satu musim. Dia adalah target man jenis baru yang justru lebih dibutuhkan tim.

Sebagai team player, dia tidak selalu mengejar gol. Kerjanya di kotak penalti lebih kompleks ketimbang target man tradisional. Tubuh bagian atas yang kokoh membantunya mendesak bek lawan supaya kesalahan terjadi. Kemampuan olah bola membantunya bisa bermain satu-dua sentuhan layaknya second striker.

Oleh sebab itu, timnas Prancis sangat menghargai keberadaan Giroud meski tidak mencetak gol barang satu saja di Piala Dunia. Kemampuannya melengkapi kelebihan Mbappe dan Antoine Griezmann.

Terkadang, kesempurnaan tidak selalu berkaitan dengan prestasi. Kesempurnaan bisa dicapai dengan membantu terciptanya kebahagiaan di lingkungan kamu bisa mekar sepenuhnya. Giroud tak selalu bikin gol. Tapi ketika dia melakukannya, gol indah yang terwujud.

Satu hal lagi. Enam tahun yang lalu, tepatnya 14 Desember 2015, sebuah doa jahat dilontarkan salah satu fans Arsenal. Fans Arsenal yang jahat ini mendoakan Giroud cedera supaya tidak dimainkan lagi oleh Arsene Wenger.

Maju beberapa tahun kemudian, di final Europa League, Giroud dan Chelsea membantai Arsenal dengan skor 4-1. Lagi-lagi, Giroud membuat gol indah dengan diving header. Asis yang dia bikin untuk Eden Hazard juga tak kalah cantik. Menarik bek Arsenal ke sisi kotak penalti, dia men-chip bola ke tengah untuk dihajar Hazard ke pojok kiri gawang.

Sebuah profesionalitas dan pembalasan yang manis untuk doa jahat dari fans Arsenal….

Yah, di satu sisi, Giroud memang aneh, bahkan menyebalkan karena terlalu sering membuang peluang. Namun, kerja kerasnya dikonversikan ke wujud lain: kepada kerja tim dan profesionalitas, baik di dalam maupun di luar lapangan. Dia ini memang aneh, tapi sialan, gol-golnya selalu cantik.

BACA JUGA Benzema Menganggap Dirinya Mobil F1, tapi Giroud yang Gokart Menang Piala Dunia dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Kalau Arsenal, Liverpool, dan Klub Liga Inggris Dukung LGBT, Kamu Mau Apa?