Fiesta Liga Inggris Lewat Kesegaran Strategi Transfer Manchester United, Chelsea, dan Kebijakan Baru Arsenal MOJOK.CO
Fiesta Liga Inggris Lewat Kesegaran Strategi Transfer Manchester United, Chelsea, dan Kebijakan Baru Arsenal MOJOK.CO

Fiesta Liga Inggris Lewat Kesegaran Strategi Transfer Manchester United, Chelsea, dan Kebijakan Baru Arsenal

MOJOK.COPerbaikan skuat dari Arsenal, Manchester United, dan Chelsea menawarkan kesegaran yang menjanjikan. Liga Inggris jadi fiesta musim depan?

Sejauh ini baru 3 klub Inggris yang geliatnya sangat terasa untuk “menyegarkan” skuat masing-masing. Arsenal, Manchester United, dan Chelsea. Iya, saya menggunakan kata “kesegaran” untuk menggambarkan perubahan ketiga klub ini.

Arsenal mengubah kebijakan transfer yang membuat mereka terperosok ke papan tengah. Beberapa musim ke belakang, Arsenal mendatangkan setidaknya 1 pemain senior untuk menghemat pengeluaran. Strategi yang terbukti berbuah pahit untuk jangka panjang. Secara skuat, The Gunners tertinggal dari rival-rivalnya.

Musim panas kali ini, Arsenal sudah mendatakangkan 2 pemain muda untuk posisi krusial, yaitu bek kiri dan gelandang. Mereka yang datang adalah Nuno Tavares dan Albert Sambi Lokongan. Keduanya masih muda, 21 tahun. Nama ketiga yang segera menyusul adalah Ben White (23 tahun). Posisinya bek tengah.


Dari sisi usia, ketiganya memang masih muda. Namun, seiring pola yang terlihat di proses perekrutan pemain, mereka yang diminati adalah pemain muda dengan pengalaman cukup. Jadi, secara pengalaman, mereka tak kalah. Skuat menjadi lebih segar, tapi tidak kehilangan kematangan.

Kesegaran berbeda terasa dari skuat Manchester United. Secara skuat, mereka tak butuh banyak perombakan. Pembelian Jadon Sancho melengkapi keragaman lini depan mereka. Trio Jadon Sancho, Cavani, Mason Greenwood menghadirkan banyak kemungkinan.

Sancho, mungkin sedikit dari stok winger kelas dunia dengan kemampuan playmaking. Satu aspek yang secara signifikan menambah kreativitas lini depan. Sementara itu, Mason Greenwood adalah salah satu striker muda dengan kemampuan menembak di atas rata-rata.

Baca juga:  5 Kemiripan Bursa Capres dan Cawapres Jokowi Prabowo dengan Deadline Day Liga Inggris

Selain mereka bertiga, Manchester United masih punya Marcus Rashford dan Anthony Martial. Saat ini, Rashford tengah dalam proses penyembuhan cedera bahu yang membuat performanya musim lalu menjadi tak konsisten. Kesembuhan Rashford dan potensi Martial ketika berada di performa terbaik membuat Manchester United punya 5 striker paling berbahaya di Liga Inggris.

Menariknya, potensi lini depan itu cuma bisa dikejar oleh Chelsea. Namun, syaratnya, striker baru bisa dibeli secepat mungkin. Target utama Chelsea adalah Erling Haaland. Jika kepindahan ini terwujud, Haaland akan menjadi salah 1 striker termahal di dunia.

Dana yang dibutuhkan, konon, mencapai 175 juta euro. Demi menutup tingginya biaya pembelian Haaland, Chelsea akan melepas 4 pemain. Salah 1 pemain yang termasuk dalam “daftar tumbal” Haaland adalah Timo Werner. Bagi Chelsea, melepas Werner bukan kebijakan yang mengejutkan. Mau bertaruh antara inkonsistensi Werner dan potensi Haaland? Jangan bercanda.

Chelsea sendiri, ini hebatnya, punya rencana cadangan yang nggak kalah “gila”. Striker alternatif mereka adalah Robert Lewandowski yang menyandang release clause 50 juta euro. Mau A atau B yang kena jaring, lini depan Chelsea bakal menyeramkan musim depan.

Potensi ini yang membuat skuat mereka tetap segar, terutama lini depan. Ketika konsistensi sudah terbangun dari lini belakang dan tengah, Chelsea belum bisa memproduksi aura ketenangan di lini depan. Mau Haaland atau Lewandowski, The Blues bakal sangat berbahaya.

Baca juga:  Valentine Gundogan Hingga Drama Inter di Serie A: Sebuah Narasi Kebangkitan

Dari penjelasan di atas, kita sudah bisa merasakan serunya laga Manchester United vs Chelsea. Lini depan siapa yang paling berbahaya? Atau malah laga keduanya berakhir anti-klimaks ketika usai dengan skor 0-0. Liga Inggris tak pernah bisa memberimu kepastian.

Soal “kesegaran tim” ini perlu saya bahas sebelum musim sepak mula karena beberapa alasan….

Pertama, Arsenal, misalnya, sadar bahwa untuk memperbaiki skuat dibutuhkan dana besar. Sebuah kesadaran yang terbilang terlambat. Namun, setidaknya, perbaikan dilakukan. Pemain yang dibeli juga disesuaikan dengan keseimbangan skuat, bukan semata keseimbangan neraca keuangan semata.

Sambi Lokonga memang masih 21 tahun. Satu angkatan dengan beberapa pemain muda lainnya. Namun, Sambi punya pengalaman, kecerdasan, dan kedewasaan yang membuatnya menjadi kapten tim di usia 21 tahun. Unsur kedewasaan dari pemain muda ini yang hilang dari Arsenal. Mereka terlalu bergantung kepada keajaiban Bukayo Saka dan Emile Smith Rowe.

Tim yang memperbaiki skuatnya secara benar akan meningkatkan kualitas. Setidaknya, teorinya berbunyi seperti itu. Sebuah langkah yang bakal meningkatkan kerasnya persaingan papan atas Liga Inggris sampai derajat tertentu.

Kedua, kreativitas lini depan Manchester United ini menyimpan potensi. Musim lalu, Manchester United hanya kalah dari Manchester City untuk urusan membuat gol. Jika lini belakang sudah semakin stabil, satu-satunya langkah selanjutnya adalah memastikan kemenangan lewat jumlah gol.

Mirip dengan strategi Chelsea untuk mengejar striker baru. Setelas melepas Olivier Giroud, dan kemungkinan disusul Tammy Abraham, Chelsea butuh kepastian. Butuh asupan gol. Sebanyak mungkin. Mereka tak bakal mau bertaruh dengan membeli “striker kelas 2”. Oleh sebab itu, perbaikan lini depan ini akan mengubah Chelsea jadi penantang paling paten untuk musim depan.


Baca juga:  Bonek Writer Forum Menularkan Keberanian dan Foo Fighters Bernyanyi di Belakangnya

Liga Inggris musim lalu tidak menghasilkan jumlah gol yang bisa dibanggakan. Manchester City, yang menjadi juara, “cuma” bikin 83 gol. Atalanta, nomor 3 di Serie A, bikin 90 gol.

Apakah kamu memperhatikan pola rekrutan Manchester United dan Chelsea, lalu membandingkannya dengan kebutuhan Manchester City? Ya, ketiga klub ini sadar bahwa lini depannya “menyedihkan”. Termasuk juga Arsenal yang merindukan “wujud asli” Aubameyang di depan gawang.

Inilah alasan ketiga, potensi pesta gol setiap minggunya di Liga Inggris. Bagi peminat netral, tak ada yang lebih memuaskan hasrat nonton bola selain gol yang banyak. Musim depan, kesegaran yang dikejar Arsenal, Manchester United, dan Chelsea menyimpan potensi itu. Belum lagi ketika memasukkan Liverpool, yang musim lalu cuma bikin 68 gol.

Kesimpulannya, kesegaran dari kebijakan baru dan strategi rekrutan pemain berpotensi membuat Liga Inggris musim depan menjadi semacam fiesta. Seperti sebuah pesta di mana semua terpuaskan. Terutama jutaan pasang mata yang hanya berburu kesenangan semata.

BACA JUGA Serie A Liga Aki-aki? Sesat Pikir Followers Akun Para Penghasut dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.