Rubrik: Balbalan

Fabinho, Raksasa Liverpool dan Cinta Arsenal yang Hinggap di Lain Hati

MOJOK.COFabinho adalah reinkarnasi Patrick Vieira. Legenda dan cinta Arsenal yang kini justru hinggap dan menjadi lebih dewasa bersama Liverpool.

Penampilan Fabinho ketika Liverpool melawan Tottenham Hotspur adalah sajian kolosal. Dia mencatatkan 111 kali sentuhan, 78 umpan akurat, 5 bola jauh akurat, 8 kali memenangi duel darat, 4 kali menang duel udara, 3 intersep, 3 takel penting, dan membuat 2 peluang. Salah satu dari dua peluang yang dia buat menjadi asis untuk gol Jordan Henderson.

September 2019 yang lalu, saya sempat menulis kalau musim ini, Liverpool punya segala modal untuk menduplikasi rekor tak terkalahkan selama satu musim yang dipegang Arsenal. Salah satu unsur yang membuat The Reds bisa mengejar rekor Arsenal adalah determinasi dan kekuatan lini tengah. Sosok Fabinho adalah kunci di sana.

Arsenal era Invincible punya lini tengah yang komplet. Orang sekarang menyebutnya seimbang. Seimbang, mencakup kekuatan untuk bertahan, punya kapasitas untuk naik menyerang, dan seimbang dalam artinya komposisi pemain. Ketika satu pemain absen, ada pemain lain yang bisa menggantikan, tanpa mengurangi level tim secara keseluruhan.

Arsenal musim 2003/2004 punya duet Vieira dan Gilberto Silva. Di bangku cadangan ada Edu, Ray Parlour, dan Cesc Fabregas. Musim 2019/2020, Liverpool punya Fabinho, Gini Wijnaldum, Jordan Henderson, Naby Keita, Chamberlain, Xherdan Shaqiri, dan James Milner. Komposisi yang “komplet dan seimbang”.

Keberadaan Vieira bagi Arsenal sangat penting, terlepas dari jabatan kapten yang dia jabat. Mungkin, saat ini, tidak banyak gelandang sentral dengan kemampuan komplet seperti Vieira. Di mata saya, salah satu pemain yang mendekati kemampuan Vieira adalah Frankie De Jong, gelandang Barcelona. Cuma beda di postur dan tinggi badan saja.

Baik Vieira dan De Jong punya kemampuan membawa bola dari wilayah sendiri. Orang menyebutnya penetrasi. Jago mempertahankan penguasaan bola, andal mensirkulasikan bola ke sisi lapangan, dan mencetak gol ketika memungkinkan. Keduanya juga jeli ketika melakukan tekel, dengan Vieira lebih lugas, bahkan keras.

Meski tugas bertahan lebih banyak diemban Gilberto Silva, Vieira tetap menjadi filter pertama bagi serangan lawan. Kemampuan menjadi filter inilah yang membuat lini tengah Arsenal menjadi sangat tebal. Sosok Vieira dan Gilberto Silva menjadi begitu besar dibandingkan gelandang-gelandang Arsenal masa kini yang cengeng dan tidak menghargai ban kapten.

Perasaan tertekan ketika melihat duet Vieira dan Gilberto Silva itu yang saya rasakan di dalam diri Fabinho. Terutama ketika melihat rekaman pertandingan Liverpool vs Tottenham Hotspur. Kata “kolosal” mungkin terlalu sederhana untuk menggambarkan performa Fabinho malam itu. Lini tengah The Reds tidak hanya tebal, tetapi terasa lebih tenang dan menjanjikan.

Ketenangan lini tengah tidak datang begitu saja. Jika pemain yang bertanggung jawab di lini tengah tidak punya mental baja, sekali bikin kesalahan, dia akan sulit bangkit. Fabinho bukan gelandang seperti itu. Pertandingan belum genap satu menit ketika Mousa Sissoko mendobrak lini tengah Liverpool. Penetrasi di wilayah Fabinho itu berbuah menjadi gol bagi Spurs.

Menit-menit awal sebuah laga adalah periode krusial. Jika kebobolan di periode ini pilihannya hanya dua. Segera bangkit atau terpuruk secara otomatis. Selain keberadaan Fabinho yang kolosal, tim asuhan Jurgen Klopp ini memang sudah matang. Mereka sudah sangat dewasa menyikapi situasi yang tidak menguntungkan.

Liverpool tidak terburu-buru menyamakan kedudukan. Mereka tahu laga masih panjang. The Reds mengontrol tempo, menyesuaikan diri dengan kekurangan dan kelebihan Spurs. Kondisi ini membuat Fabinho semakin nyaman bermain.

Fabinho bermain lebih ke depan seiring garis pertahanan yang memang dinaikkan. Sebuah kecenderungan terjadi. Ketika melawan Spurs, pemain asal Brasil itu membuat lebih banyak umpan vertikal menuju sepertiga akhir (wilayah lawan) dibandingkan di tiga laga sebelumnya. Kecenderungan ini berbuah sangat manis. Kenapa bisa begitu?

Perbandingannya seperti ini. Ketika melawan Manchester United, Fabinho melepas 17 kali umpan sukses ke wilayah lawan. Melawan Leicester City, hanya 7 dari 12 percobaan yang sukses. Melawan Sheffield United, hanya 13 umpan sukses dari 16 percobaan. Melawan Spurs, dia membuat 25 umpan sukses dari 31 percobaan!

Fabinho bukan hanya jago merebut bola. Dia menjadi seperti jangkar dari pergeseran lini Liverpool. Umpan-umpan sukses dari lini kedua membantu Liverpool tidak hilang penguasaan ketika masuk sepertiga akhir. Pun, dengan begitu, lebih banyak opsi penciptaan peluang. Terbukti dengan gol cantik yang dibuat Henderson, hasil umpan lambung dari lini kedua.

Jika Liverpool mempertahankan gaya yang sama, Fabinho akan sangat terbantu mengembangkan sisi menyerang dalam dirinya. Jika Vieira jago melakukan penetrasi dengan giringan, Fabinho bisa melakukannya dengan umpan.

Selama ini, Liverpool punya dua bek sayap yang sangat kuat, agresif, kreatif, dan tajam. Keduanya menjadi sumber gol terbanyak The Reds saat ini. Jika Fabinho bisa berkembang menjadi gelandang dengan mata jeli dan kemampuan umpan lambung di atas rata-rata, variasi serangan akan bertambah.

Saat ini, Liverpool tidak hanya berbahaya di sisi lapangan. Fabinho akan menghadirkan dimensi berbeda. Seperti Vieira di Arsenal yang menjadi saka guru, Fabinho bakal menjelma menjadi raksasa di depan semua lawan. Jika saatnya tiba, rekor tidak terkalahkan Arsenal bukan tidak mungkin untuk dikejar.

BACA JUGA Dunia Sempurna Arsenal, yang Gagal Digapai City, Bisa Dikejar Liverpool atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Leave a Comment