Rubrik: Balbalan

Duka Leicester City: Perginya “Si Marry Poppins” Bernama Vichai Srivaddhanaprabha

MOJOK.COLeicester City kehilangan sosok Marry Poppins, pengasuh yang disilpin, baik hati, dan penuh keajaiban. Rest in peace Vichai Srivaddhanaprabha.

Sebuah situsweb bernama fandom.id punya slogan yang menarik hati. Ia berbunyi “Karena sepak bola tidak berhenti dalam 90 menit.” Maksudnya, sepak bola tidak terbatas kepada kejadian-kejadian di atas lapangan, di pertandingan itu sendiri. Sepak bola juga dihidupi oleh banyak kejadian di luar lapangan.

Banyak hal yang bisa kamu masukkan ke dalam “kejadian-kejadian di luar lapangan” ini. Mulai dari perjuangan pemain bintang di masa lalu untuk lepas dari kemiskinan, perjuangan seorang pemain melawan penyakit kanker untuk kemudian menjuarai Liga Champions, perjuangan seorang calon megabintang yang punya masalah hormon, hingga kisah di balik kesuksesan sebuah klub.

Untuk kategori terakhir ini, Leicester City hidup di dalamnya. Hampir bangkrut, atau mungkin kamu bisa menyebutnya sudah bangkrut, Leicester City “diselamatkan” oleh seorang pebisnis dari Thailand. Ia bernama Vichai Srivaddhanaprabha. Pebisnis ini membeli Leicester pada tahun 2010.

Menggunakan kaca mata bisnis, Vichai adalah salah satu pemilik klub yang perjudiannya berhasil. Salah satu pembelian klub paling sukses, kamu bisa bilang begitu. Mengapa? Karena Vichai mendapatkan keuntungan 11 kali lipat dari nilai yang ia keluarkan ketika membeli The Foxes atau Si Rubah.

Tahun 2010 yang lalu, Vichai merogoh koceknya hingga 39 juta paun untuk mengakuisisi Leicester. Nah, berdasarkan laporan yang dirilis oleh Guardian pada tahun 2016, nilai Leicester sendiri sudah meroket ke angka 436 juta paun. Naik 11 kali lipat dari nilai pembelian Vichai. Sebagai salah satu orang terkaya di Thailand, nilai tersebut pun masih terasa luar biasa.

Kekayaan Vichai sendiri berasal dari King Power, sebuah toko bebas pungutan yang dibangun pada tahun 1989 di Thailand serta hak monolopi penggunaan bandara. Kedekatannya dengan mantan Perdana Menteri dan pemilik Manchester City memudahkan Vichai mendapatkan hak eksklusif tersebut.

King Power sendiri menjadi sponsor utama di dada jersey Leicester. Menjadi penyokong utama, Vichai Srivaddhanaprabha beradaptasi dengan sangat cepat. Ia tidak lantas jor-joran membeli pemain-pemain karena saat itu Leicester masih hidup di kasta kedua Liga Inggris. Vichai membangun pondasi klub dengan pembelian yang cerdas.

Ia sepeti tokoh fiksi Disney bernama Marry Poppins. Diceritakan, Marry Poppins adalah seorang pengasuh yang mampu melakukan hal-hal ajaib. Asal-usulnya tidak diketahui yang tiba-tiba menjadi pengasuh di kaluarga Banks di Cherry Tree Lane. Marry Poppind mengajarkan banyak pelajaran berharga melalui cara-cara yang ajaib, seperti dirinya sendiri.

Marry Poppins adalah pengasuh yang baik hati, sekaligus disiplin mengiringi. Pada titik tertentu, Vichai Srivaddhanaprabha adalah Marry Poppins bagi Leicester City.

Ia datang dari sebuah tempat yang “tidak diduga”, dari Thailand, sebuah negara di Asia Tenggara. Pendahulunya, Thaksi, yang membeli Manchester City, gagal total. Vichai mendapatkan keistimewaan menyandang keraguan, diragukan gagal seperti Thaksin. Namun, Vichai punya ide dan cara kerja yang berbeda.

Di bawah asuhannya, Leicester City promosi ke divisi tertinggi Liga Inggris pada musim 2013/2014. Klub ini tidak lantas berprestasi, habitatnya ada di sekitar zona degradasi. Sebagai Marry Poppins yang sangat disiplin, bahkan keras, Vichai menurunkan kebijakan untuk memecat tiga pemain muda yang terlibat skandal seks. Salah satu pelakunya bernama James Pearson, putera dari sang pelatih, Nigel Pearson.

Nigel Pearson sendiri dipecat meski berhasil mengangkat Leicester ke Premier League dan sukses menghindari zona degradasi. Vichai mengambil keputusan yang besar. Ia ingin klubnya melaju lebih jauh. Maka, ditunjuklah Claudio Ranieri. Peruntungan Leicester mulai berubah ketika Ranieri menjabat.

Sebagai Marry Poppins yang baik hati, beberapa pemain yang didatangkan di bawah kebijakannya, sukses besar. Mulai dari Ryad Mahrez pada musim 2013/2014 yang dibeli dari Le Havre hanya dengan 450 ribu paun dan gerbong pemain muda dan murah seperti Danny Simpson, Marc Albrighton, hingga N’Golo Kante, dipadukan dengan pemain-pemain senior seperti Esteban Cambiasso dan Jamie Vardy, Leicester mencapai puncak kehidupannya.

Vichai seperti menjentikkan jari dan keajaiban terjadi. Leicester menjadi unit yang solid di bawah asuhan Ranieri. Mahrez dan Vardy menjadi dua pemain paling mengilap musim 2015/2016 itu. Perpaduan pemain muda dan late bloomer yang merajai Liga Inggris.

Dan keajaiban pun terjadi. Diiringi penurunan performa tim-tim tradisional penghuni empat besar, Leicester seperti kereta cepat yang menubruk semua klub dengan keras. Solidnya pertahanan, memukaunya N’Golo Kante, mematikannya serangan balik, dan ketajaman Mahrez–Vardy, Leicester membuat sejarah. Mereka menjadi juara Liga Inggris musim 2015/2016.

Meski terasa seperti keajaiban dari jentikan jari Marry Poppins, kerja keras dan pengorbanan yang menjadi bumbu paling terasa. Tanpa dua hal itu, skuat semenjana Ranieri tak mungkin memuncaki klasemen Liga Inggris. Keajaiban sebagai produk kerja keras itu diarsiteki oleh Vichai Srivaddhanaprabha.

Almarhum Vichai kembali menunjukkan ketegasannya sebagai pengasuh yang disiplin ketika ia memecat Ranieri. Anjloknya performa setelah juara membuat keputusan sulit harus diambil. Ia tidak bisa membiarkan anak asuhannya tenggelam dan menderita. Sebagai “bapak” yang baik, ia tidak mungkin membiarkan anak-anaknya sakit.

Bapak yang baik tidak hanya luwes memuji anak-anaknya. Bapak yang menjadi patron adalah ia yang bisa mengkritik dan meluruskan perilaku anaknya. Kasper Schmeichel, kiper Leicester, menggambarkan Vichai sebagai sosok “pemimpin, bapak, sekaligus orang yang baik”. Ia penuh dedikasi dan gairah yang begitu tinggi untuk Leicester.

Maka, ketika berita meninggalnya Vichai karena kecelakaan helikopter di luar Stadion King Power, Leicester City terhenyak. Sang Rubah tak hanya kehilangan induknya. Mereka kehilangan Marry Poppins, pengasuh yang disiplin dan penuh keajaiban.

Ia yang hadir dan menjentikkan jari untuk membawa Leicester ke tanah terjanji. Meski hanya sesaat, tetapi endorphin yang dilepaskan membuai jutaan pasang mata. Menunjukkan keajaiban bahwa seseorang yang kecil punya hak untuk bahagia jika punya daya dan upaya.

Istirahatlah dalam damai Marry Poppins Vichai. Terima kasih untuk keajaiban yang menginspirasi.

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Leave a Comment