[MOJOK.CO] Hattrick juara Liga Champions semakin masuk akal bagi Real Madrid dan Christiano Ronaldo setelah mendominasi Juventus di Turin.

Sekali lagi, Real Madrid menunjukkan cara terbaik untuk memenangi Liga Champions. Jujur saja, dan terutama di babak pertama, Madrid dan Juventus menyajikan pertandingan yang seimbang. Namun, detail-detail kecil yang menjadi pembeda. Detail kecil yang begitu efektif, mampu membawa Madrid dua kali menjuarai Liga Champions berturut-turut.

Saya sendiri tidak akan bosan untuk menegaskan bahwa selama cara sederhana Madrid tidak mampu dihentikan lawan, selama itu pula, hanya kemenangan yang akan dinikmati Madrid. Hal yang sama saya tegaskan ketika Madrid begitu cerdik mengatasi Paris Saint-Germain di babak 16 besar, terutama ketika mereka tidak bisa memainkan dua gelandang terbaik.

Di Turin, di babak 8 besar Liga Champions, Madrid menunjukkan bahwa Juve tidak belajar dari kekalahan di babak final Liga Champions musim lalu.

Madrid sadar betul bahwa Juve akan menekan sejak menit pertama, terutama mencegah bola sampai di kaki Ronaldo. Bagaimana caranya? Dua gelandang Juve banyak berdiri berdekatan dengan Toni Kroos dan Luka Modric. Sementara itu, dua bek sayap Juve mengawasi jalur umpan ke sisi lapangan. Di babak pertama, cara ini sedikit sukses.

Namun sayangnya, seperti ketika ditahan imbang Tottenham Hotspur di leg pertama babak 16 besar, Juve terlalu sering masuk ke dalam “mode tidur”. Tiada intensitas ketika menekan Madrid sejak lini pertama, terutama penjagaan kepada dua gelandang sentral Madrid. Hasilnya, anak asuh Zinedine Zidane hampir selalu bisa berporgres dari bawah menggunakan kanal di sisi kiri, yang diisi Kroos dan Isco Alarcon.

Cara sederhana ala Madrid

Gambarannya seperti ini: Kiper Madrid, Keylor Navas, biasanya punya dua opsi umpan, yaitu ke bek tengah atau bek sayap. Nah, dua opsi ini berhasil dibatasi Juve. Kroos waspada dengan situasi dan bergerak lebih dalam untuk meminta bola.

Beberapa kali, pergerakannya tidak diikuti gelandang Juve. Hasilnya, ketika Kroos mendapat bola, ia punya cukup waktu untuk berbalik badan dan mengirim umpan vertikal kepada Isco.

Isco bermain dengan intensi yang jelas. Pemain asal Spanyol ini selalu bergerak di antara ruang, di antara pemain Juve. Ulet dan punya olah bola yang baik membuat Madrid bisa berprogres dengan cara ini. Sangat sederhana, namun sekali lagi, sangat efektif. Ketika bola melewati lapangan tengah, Juve terlambat mengantisipasi.

Baca juga:  Pantat Besar Eden Hazard Bakal Jadi Kunci Sukses di Real Madrid

Ketika bola sampai di wilayah tengah, Madrid tidak terburu-buru untuk segera melakukan penetrasi. Terutama ketika gelandang Juventus cenderung menumpuk di tengah karena beberapa pemain Los Blancos di tengah, kecuali bek sayap, berdiri dalam jarak yang rapat. Para pemain “di tengah” ini adalah Kroos, Modric, Casemiro, Isco, Ronaldo, dan Benzema.

Intensi Real Madrid sejak awal hanya satu, yaitu memaksimalkan keunggulan kualitas bek sayap dan umpan silang. Bagaimana cara Madrid menciptakan situasi tersebut?

Ada dua proses yang dilakukan Real Madrid untuk mengeksploitasi sisi lapangan Juve. Pertama, menggunakan keunggulan kuantitatif (jumlah pemain) di satu sisi lapangan. Misalnya, Madrid berprogres dari sisi kiri di mana Kroos dan Isco menjadi poros. Pemain-pemain di sekitarnya, Marcelo, Ronaldo, dan Benzema, akan berdiri semakin rapat.

Juve merespons dengan mendekati “kumpulan” pemain Madrid tersebut. Ketika Juve terjebak ke dalam situasi tersebut, dengan cepat, gelandang Madrid memindahkan area permainan ke sisi kanan.

Oleh sebab itu, Dani Carvajal banyak mendapatkan ruang yang lega untuk menerima bola. Pun, Carvajal tidak berdiri terlalu lebar. Ia sedikit masuk ke tengah, ke ruang yang disebut halfspace, sehingga mudah digapai umpan dari sisi kiri.

Perpindahan area bermain dengan cepat dan eksploitasi sisi lapangan merupakan cara favorit Madrid sejak musim lalu. Dengan cara ini, Madrid hampir selalu bisa masuk ke kotak penalti Juve, terutama dengan metode umpan silang.

Mengapa umpan silang? Jawabannya, karena keberadaan Cristiano Ronaldo.

Spesifikasi sempurna Cristiano Ronaldo

Usianya sudah menginjak 33 tahun dan kemampuan Ronaldo sudah semakin terbatas. Perlu saya tegaskan di sini bahwa “kemampuan yang berkurang” tidak bicara soal kualitas. Cara bermain Ronaldo semakin sederhana, hanya mengandalkan dua atau tiga kemampuan saja. Namun, perubahan ini justru membangkitkan potensi terbesar dalam diri Ronaldo, yaitu kemampuannya menyelesaikan peluang.

Ronaldo tidak lagi banyak menggiring bola melewati tiga pemain, atau melakukan sprint jarak menengah sembari menggiring bola. Ronaldo semakin efektif ketika mendapatkan bola. Ia meletakan pondasi permainannya kepada performa dan proses membangun serangan timnya. Oleh sebab itu, pada titik tertentu, performa Ronaldo berjalan berbarengan dengan performa Madrid.

Dan di kandang Juve, baik Madrid dan Ronaldo menunjukkan dominasinya. Madrid mampu menciptakan situasi paling ideal bagi Ronaldo, yaitu umpan silang akurat. Dua gol Ronaldo berasal dari proses yang sama. Identik dengan dua golnya di babak final tahun lalu melawan tim yang sama.

Baca juga:  Luis Suarez Provokator! 5 Komentar Konyol Setelah Laga Barcelona vs Liverpool

Ronaldo memaksimalkan tiga kemampuan terbesarnya saat ini. Pertama, sprint jarak pendek untuk mendahului bek Juve, untuk menyambut umpan silang. Kedua, insting menyelesaikan peluang menggunakan berbagai bagian tubuh (kaki kanan, kiri, dan sundulan). Ketiga, kemampuan meloncat yang oleh banyak pundit disebut “aksi melawan gravitasi”.

Perlu Anda ketahui, bertahan melawan pemain seperti Ronaldo justru pekerjaan yang paling berat. Mengapa? Karena Ronaldo mengeksploitasi teknik dasar seorang bek tengah, yang mana sering terlupakan di tengah pertandingan dengan intensitas tinggi.

Apa saja teknik dasar seorang bek tengah?

Pertama, perhatian harus dua arah, yaitu pemain dan bola. Anda tidak boleh terpaku hanya kepada jalur bola. Ronaldo memaksimalkan sprint jarak pendek untuk muncul di titik buta bek tengah.

Kedua, jangan menerjang. Ketika Ronaldo mendapatkan bola di dalam kotak penalti, banyak bek tengah langsung menjatuhkan diri untuk melakukan sliding, baik untuk merebut bola atau menutup jalur tembakan. Sliding meniadakan aksi lanjutan karena bek akan terpatri di dua kondisi, yaitu terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Ronaldo bisa memaksimalkan gerak sliding di mana bek akan membuka (menjulurkan) kaki dengan mengarahkan bola di antara dua kaki. Jenis tembakan yang sulit diantisipasi kiper.

Ketiga, memasukkan tubuh di antara penyerang lawan dan jalur bola ketika hendak melakukan sundulan. Dengan berposisi lebih depan, bek akan lebih unggul posisi untuk menghalau bola sekaligus menekan tubuh lawan sehingga lawan akan sulit melomopat.

Teknik ketiga ini bisa dicapai ketika bek memenuhi hukum teknik pertama, yaitu waspada dengan posisi jalur bola dan pemain lawan. Jika gagal, bek akan kalah cepat oleh Ronaldo. Kalah posisi membuat bek tak akan bisa mengantisipasi sundulan atau tendangan salto Ronaldo.

Tiga teknik dasar bek tengah yang diserang secara telak oleh Ronaldo. Cara-cara sederhana yang membuatnya bisa mendominasi Liga Champions musim ini. Buktinya? Ronaldo adalah pencetak gol terbanyak di Liga Champions musim ini dengan selalu mencetak gol di setiap pertandingan dan Madrid punya 80 persen peluang lolos ke semifinal.

Dominasi, yang membuat hattrick juara Liga Champions semakin masuk akal bagi Los Merengues.



Tirto.ID
Loading...

No more articles