Barcelona dan Arsenal Kesulitan Mengukur Beban Xhaka dan Messi

Barcelona dan Arsenal Kesulitan Mengukur Beban Xhaka dan Messi MOJOK.CO

MOJOK.COBarcelona dan Arsenal harus segera mencari jawaban paling sahih atas masalah yang berpusar kepada kapten masing-masing: Lionel Messi dan Granit Xhaka.

Pada titik tertentu saya yakin Arsene Wenger bakal jadi penulis buku best seller. Diksi dan caranya menyampaikan ide sangat menarik. Tidak jarang ada muatan satire di dalam ucapan yang Wenger sampaikan sambil tersenyum. Warna suara dan aksen Prancis itu menjadi terdengar sangat tajam ketika menyampaikan kebenaran soal Barcelona dan Lionel Messi.

Di mata Wenger, Barcelona terlalu bergantung kepada Messi. Juara bertahan La Liga itu baru saja melewati dua pertandingan yang bisa dibilang sangat mengecewakan. Mereka kalah 3-1 dari Levante dan ditahan imbang Slavia Prague beberapa hari kemudian. Dari dua laga itu, Blaugrana terlihat tidak punya solusi selain Messi, sang kapten.

“Hari ini mereka bermain seperti hanya berusaha menunggu Messi melakukan sesuatu. Kekuatan utama dari tim ini sendiri sudah hilang. Mereka seperti ‘Kapan Messi akan melakukan sesuatu?’ padahal sebelumnya mereka punya basic music yaitu team play yang fantastis, membuat lawan sangat sulit merebut bola, lalu diakhiri dengan sentuhan Messi,” terang Wenger seperti dikutip Goal.

Wenger menggunakan istilah basic music untuk menggambarkan keharmonisan, sekaligus yang menjadi kekuatan Barcelona, yaitu team play. Jujur, saya tidak bisa menerjemahkan istilah itu menjadi “musik dasar” karena akan menghilangkan nuansa dan makna sebenarnya dari istilah Wenger.

Namun satu hal yang pasti, keharmonisan dan team play yang membuat Barca memenangi banyak piala itu sudah hilang dan Wenger menggambarkannya secara tepat. Mereka menjadi bergantung kepada sang kapten. Padahal, Messi juga manusia. Dia juga sempat alpa tidak memberikan umpan terobosan kepada Antoine Griezmann. Padahal, Griezmann berada dalam posisi tidak terjaga.

Apakah ini murni salah Ernesto Valverde? Wenger kembali memberi penjelasan yang menohok. “Pada akhirnya akan selalu menjadi salah pelatih, padahal dia tidak selalu bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Ada perbedaan antara merasa bersalah dengan menjadi orang yang bersalah.” Wenger sudah layak mengisi kelas-kelas filsafat.

Barcelona punya masalah dengan kaptennya, yaitu terlalu bergantung. Ketergantungan kepada Messi justru menihilkan kekuatan utama dari sebuah kesebelasan, yaitu team play.

Masalah dengan kapten juga sedang dialami Arsenal. Narasinya tidak sama seperti yang tengah terjadi di Barcelona. Masalah kapten di Arsenal adalah tentang ontran-ontran Granit Xhaka yang justru semakin rumit.

Kabar terakhir menyebutkan kalau ban kapten Xhaka dicopot dan dipindahkan ke Aubameyang. Ada dua hal yang perlu kita pikirkan dengan hati yang tenang.

Pertama, saya rasa, pencopotan ban kapten ini memang sudah menjadi keinginan Xhaka sendiri. Penerimaan masing-masing orang akan sebuah perundungan itu berbeda. Ada yang santai saja dan tidak mengacuhkan. Ada pula yang akan terus memikirkan dan memasukannya ke dalam hati. Saya rasa, Xhaka adalah tipe kedua.

Apalagi ketika serangan fans sudah sangat tidak sehat. Ada yang mendoakan anaknya kena kanker. Ada yang mengancam istrinya. Saya setuju dengan Bambang Pamungkas bahwa pemain akan berkorban demi timnya. Namun, ada pemain akan “berani mati” hanya demi keluarganya. Jika pencopotan ban kapten ini justru akan mengurangi beban mental, yang dilakukan Arsenal sudah betul.

Kedua, Arsenal sudah salah langkah apabila pencopotan ban kapten bukan inisiatif Xhaka sendiri. Kesalahan sudah terjadi sejak Emery memilih Xhaka sebagai kapten karena si pemain adalah sosok populer di ruang ganti. Populer tidak selalu sama dengan respect. Roy Keane dan Patrick Vieira mungkin bukan yang paling populer. Namun, tidak ada pemain yang tidak respect kepada mereka berdua. Respect melahirkan kepercayaan dan kemauan untuk mendengar.

Kesalahan ini diiringi oleh ego Unai Emery. Dia tidak bisa melihat kalau kaptennya sedang menjadi target perundungan fans. Sudah sangat terlambat kalau sekarang Xhaka “diisitirahatkan”. Sebuah keputusan yang seharusnya sudah dilakukan sejak Arsenal membuang keunggulan dua gol dan akhirnya ditahan imbang Watford 2-2.

Saya sendiri melihat karier Xhaka dengan Arsenal akan sulit diselamatkan. Fans tidak akan memaafkan sikap Xhaka yang membuang ban kapten dan tidak segera meninggalkan lapangan ketika diganti. Perlu kamu akui dengan jujur, sikap Xhaka bukan sikap seorang kapten. Maka masuk akal kalau lahir rumor pemain asal Swiss itu akan dijual di Januari 2020 nanti. Karier yang pendek juga tengah membayangi Emery.

Baik Barcelona dan Arsenal perlu segera mencari jawaban. Posisi kapten sangat krusial bagi sebuah tim. Jika kapten tidak berfungsi sebagaimana mestinya, bangunan tim menjadi tidak kokoh.

Untuk masalah Messi, kapten juga manusia. Ketika dia membuat kesalahan, apakah fans Barcelona bisa bersabar dan tidak menyalahkan pelatih atau pemain lain? Apakah Messi akan imun dengan segala kritik?

Bagi Arsenal, mengganti kapten tidak menyelesaikan masalah selama mereka tidak punya ide di tengah pertandingan. Ingat, perundungan yang terjadi kepada Xhaka diawali oleh performa yang sangat buruk di atas lapangan.

BACA JUGA BAYERN PECAT PELATIH, MANA YANG NYUSUL KEMUDIAN: ARSENAL, BARCELONA, MU? atau tulisan YAMADIPATI SENO lainnya.

Exit mobile version