Arsenal Menambal dengan Cantik, Manchester United Sibuk Membuat Lubang Baru

Arsenal Menambal dengan Cantik, Manchester United Sibuk Membuat Lubang Baru MOJOK.CO

Arsenal Menambal dengan Cantik, Manchester United Sibuk Membuat Lubang Baru MOJOK.COArsenal Menambal dengan Cantik, Manchester United Sibuk Membuat Lubang Baru MOJOK.CO

MOJOK.COManchester United punya waktu yang panjang dan uang melimpah untuk menikung Gabriel dari tangan Arsenal. Kini, lini belakang mereka tengah limbung.

Sejak awal September hingga awal Oktober, saya menunggu Manchester United melakukan kontak konkret dengan bek tengah baru. Namun, hingga jendela transfer ditutup, United malah abai dengan “lubang” di lini pertahanan jika dibandingkan dengan kerja Arsenal selama musim panas.

Kenapa harus dua klub ini yang dibandingkan? Karena Arsenal dan Manchester United pernah melakukan pendekatan ke pemain yang sama, yaitu Gabriel Magalhaes. Melihat sisi harga, sebetulnya United sama sekali tidak kesulitan jika harus membayar permintaan Lille untuk Gabriel senilai 27 juta paun.

Sebagai fans Arsenal, jujur saja, saya sempat khawatir Manchester United menikung. Melihat kekuatan finansial mereka, United bisa dengan mudah mengalahkan Arsenal dan Napoli yang sama-sama menginginkan Gabriel. Bek asal Brasil ini bakal menjadi duet ideal untuk Harry Maguire.

Performa lini belakang United di paruh akhir musim 2019/2020 sudah sangat baik. Bahkan secara keseluruhan terjadi peningkatan berkat performa Maguire.

Musim 2018/2019, ketika mengakhiri musim di peringkat enam, Manchester United kebobolan 54 gol. Manajemen United melakukan perbaikan dengan membeli Harry Maguire dari Leicester City dan Aaron Wan-Bissaka dari Crystal Palace. Hasilnya, di musim 2019/2020, selain berhasil duduk di peringkat tiga, jumlah kebobolan United menyusut menjadi 36 gol.

Tidak hanya itu, penguasaan bola Manchester United meningkat dua persen, dari 54,5 persen menjadi 56,4 persen berkat Maguire. Ketenangan dan kemampuan olah bola bek tengah asal Inggris ini memang cukup bagus. Memang, harus diakui, United membelinya terlalu mahal, 80 juta paun.

Tingginya harga dan ekspektasi dari seorang kapten menjadikan Maguire sebagai sasaran tembak yang empuk. Sekali membuat kesalahan, harga jualnya pasti dihajar ledekan. Ban kapten yang melingkar di lengannya dianggap tidak pantas. Sayangnya, Maguire tidak membantu dirinya sendiri. Performanya memang anjlok.

Bek termahal Manchester United ini dikenal punya kemampuan reading the game yang tidak buruk amat. Namun, di kompetisi Europa League dan paruh awal Liga Inggris musim ini, Maguire kehilangan kemampuan terbaiknya. Dia menjadi tidak tenang dan kehilangan kemampuan membaca pertandingan. Fatal sekali.

Puncaknya adalah ketika United dibantai Spurs dengan skor 1-6. Maguire kehilangan ketenangan, tidak menunjukkan “keberadaannya” sebagai seorang kapten, dan terlihat kesusahan mengawasi ruang di belakang Luke Shaw yang naik menyerang. Sebagai bek tengah, dia selalu terlambat melakukan aksi bertahan.

Oleh sebab itu, di deadline day jendela transfer musim panas yang baru saja berakhir, saya membayangkan United akan membeli bek tengah baru. Maguire butuh rekan kerja yang bisa “menampar” dirinya supaya lebih fokus. Atau, bisa jadi, pemain baru ini menggantikan Maguire.

Sebagai fans Arsenal, saya kini bersyukur manajemen Arsenal bekerja cepat untuk mengamankan tanda tangan Gabriel Magalhaes. Dari komposisi pemain, Arsenal juga sangat membutuhkan bek tengah berkualitas (dan konsisten). Harapan itu bahkan langsung dijawab oleh Gabriel. Dari dua pertandingan yang sudah dilalui, Gabriel tercatat dua kali menjadi pemain terbaik.

Keberadaan bek tengah modern di tengah perkembangan cara bermain memang krusial. Banyak tim besar selalu berusaha bermain dari bawah. Arsenal beruntung mendapatkan Gabriel. Lubang besar di lini belakang berhasil ditutup ketika kini Manchester United malah sibuk membuat lubang baru.

Tentu saja saya merujuk kepada ego United yang terlalu keras berusaha membeli Jadon Sancho. Padahal, UnIted punya waktu yang panjang dan uang melimpah untuk membeli bek tengah dengan profil yang sama seperti yang dilakukan Arsenal. Memang, United berhasil mendapatkan Alex Telles di deadline day. Pembelian yang baik. Kini kita menunggu apakah bek kiri ini bisa meringankan beban Maguire atau tidak.

Kenapa begitu?

Karena ketika bicara performa pemain kita tidak boleh lupa menyinggung kinerja pelatih. Secara objektif kita bisa melihat Ole Gunnar Solskjaer sudah melatih dengan cukup baik soal lini belakang. Namun, kenapa sekarang United begitu rapuh? Artinya ada aspek inkonsistensi dari Ole sendiri.

Misalnya dalam kondisi bermain dengan 10 pemain saat Manchester United dihajar Spurs. Yang terjadi adalah pertunjukkan ketidakdisiplinan United. Mereka ingin menyerang, mengejar ketertinggalan. Namun, United melupakan sisi paling penting ketika bermain 10 pemain, yaitu kompaksi. Kenapa Ole di sisi lapangan tidak melihat kenyataan ini dan membiarkan lini pertahanannya menderita?

Lini belakang Arsenal belum bisa dikatakan baik juga. Dari tiga pertandingan, Arsenal selalu kebobolan di dua laga. Namun, jika melihat secara objektif, ada perbaikan nyata. Kombinasi pelatih dan pemain membuahkan peningkatan.

Sederhananya begini. Lebih baik konsisten meningkat meski perlahan ketimbang naik secara signifikan untuk kemudian anlok secara menyedihkan. Perlahan itu enak, memaksa itu perih.

Untuk lini belakang, kinerja Arsenal lebih baik ketimbang Manchester United. Kini, Ole tidak bisa lagi menambah bek tengah baru untuk menggantikan Eric Bailly dan Victor Lindelof yang tidak konsisten. Ketika Arsenal menutup lubang dengan cantik, Manchester United membiarkan lubang lama tetap menganga sembari membuka lubang baru. Ambyar.

BACA JUGA Manchester United, Klub yang Bahagia Memelihara Para Medioker dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Exit mobile version