MOJOK.COTerlalu banyak wacana dan kontroversi yang terjadi. Hingga kita sama-sama sepakat bahwa hawa harmoni tak lagi terasa dari dalam Arsenal.

Terancam gagal mendapatkan tanda tangan Emi Buendia, manajemen Arsenal menjadi sasaran kritik lagi dan lagi. Beberapa fans Arsenal merasa klub ini kehilangan “stature” atau reputasi yang dibangun dari berbagai pencapaian ketika kini rival berebut pemain adalah Aston Villa.

Sebuah anggapan yang saya rasa agak aneh. Pertama, apakah fans penggerutu ini tidak melihat performa Aston Villa musim lalu? Sangat berdosa jika mengatakan Arsenal lebih baik dari Villa. Kedua, Aston Villa bukan klub sembarangan. Mereka pernah juara Liga Champions pada 1982 mengalahkan Bayern Munchen.

Saya fans Arsenal luar dan dalam. Namun, jujur saja, saya mulai lelah mengingatkan fans bebal seperti ini untuk mendukung dengan akal sehat, bukan kebodohan. Pikirkan dulu masak-masak sebelum mulutmu menyemburkan pendapat yang malah bikin dirimu malu.

Yah, pada titik tertentu, kemunculan fans seperti ini tak bisa dihindari. Terutama ketika klub yang mereka dukung tak punya ketegasan dan kesadaran bahwa klub ini tengah mengalami dekadensi di banyak hal. Arsenal sendiri yang membuat fans mereka menjadi entitas penuh kecurigaan.

Josh Kroenke boleh bilang, “Be excited,” tapi Arsenal terancam gagal membeli Buendia. Nilai tawaran The Gunners hanya berselisih 3 juta paun saja dari proposal Aston Villa. Bagaimana mau antusias kalau membeli pemain saja gagal bersaing dengan Aston Villa?

Baca juga:  Masa Depan David Luiz dan Ketertarikan Arsenal kepada Gabriel Magalhaes

Anggapan seperti memang terdengar menyebalkan. Padahal jika melihat ke belakang, Arsenal berani menebus duit transfer Thomas Partey. Bagi saya pribadi, membandingkan situasi Buendia dan Partey, ada sebuah perbedaan yang jelas. Buendia bukan target utama, sedangkan Partey memang sangat dibutuhkan.

Namun, bagi fans yang kadung curiga, Arsenal tak punya modal atau cara untuk membeli pemain bagus. Apalagi sebelumnya, klub baru saja mengumumkan bahwa kontrak beberapa pemain tak diperpanjang. Termasuk di dalamnya Martin Odegaard dan Matt Ryan. Kedua pemain ini dianggap sangat pantas untuk terus ada di dalam skuat.

Saya agak heran. Apakah mereka tak tahu kalau Odegaard dan Ryan hanya pemain pinjaman? Kondisi kontrak kedua pemain tak bisa ditentukan Arsenal saja. Kalau yang punya minta mereka balik, ya balik sudah itu kedua pemain. Kalau mau permanen ya tebus biaya transfer.

Namun, tentu saja, dunia transfer pemain tak sesederhana itu. Untuk kasus Arsenal, mereka harus menjual pemain dulu. Saya kira fans The Gunners yang agak waras sudah paham masalah ini. Untuk membeli pemain, di tengah goncangan ekonomi, tak bisa begitu saja bayar tunai. Klub harus bersiasat ketika menyusun proposal.

Kerumitan seperti ini memang agak sulit dipahami fans dengan lingkar otak terbatas. Maunya klub gas terus. Kalau ada pemain bagus ya langsung beli. Memang, rasanya Arsenal memang terlalu sering membuat fans kecewa. Dan ketika kekecewaan itu menumpuk, nggak cuma soal transfer tapi juga performa di atas lapangan, lahir kecurigaan.

Baca juga:  Idul Adha, Mesut Ozil, dan Berkurban Sesuai Kemampuan

Semua fans Arsenal pasti lebih suka mendapat kepastian di semua aspek, terutama transfer. Semua ingin melihat Arsenal seperti Manchester United ketika berminat kepada Jadon Sancho. Antara United dan Sancho sudah ada kesepakatan pribadi, tinggal urusan biaya transfer sekitar 80 juta euro.

Fans Arsenal mungkin juga merasa manajemen terlalu lamban ketika bekerja. Mereka ingin melihat kerja cepat seperti manajemen Chelsea ketika membeli pemain. Tak perlu pakai janji-janji “Be excited” wasweswos fafifu datang Kai Havertz dan Thiago Silva. Hasilnya? Juara Liga Champions.

Saya merasa, kesabaran fans bisa tetap terjaga meski klub tengah terpuruk. Syaratnya, manajemen menunjukkan kesadaran untuk memperbaiki dan melakukannya dengan cepat.

Sekarang saya malah setuju sama fans-fans penggerutu dan nggak sabaran itu. Arsenal memang kehilangan “stature” yang dibangun sejak lama. Di tengah “proses penyelamatan klub”, terlalu banyak wacana dan kontroversi yang terjadi. Hingga kita sama-sama sepakat bahwa hawa harmoni tak lagi terasa dari dalam Arsenal.

Kecurigaan yang lahir dan makin kuat itu, pada titik tertentu, tak bisa disalahkan. Ini adalah buah kegagalan kerja manajemen dan bangunan skuat yang jauh dari kata seimbang.

BACA JUGA Mendukung Arsenal dengan Tangan Terkepal, Menggugat Stan Kroenke dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.