Arsenal Impikan James Maddison, Janggut Sergio Ramos, dan Kerugian AC Milan MOJOK.CO
Arsenal Impikan James Maddison, Janggut Sergio Ramos, dan Kerugian AC Milan MOJOK.CO

Arsenal Impikan James Maddison, Janggut Sergio Ramos, dan Kerugian AC Milan

MOJOK.COArsenal dan Maddison, janggut kedewasaan Sergio Ramos, dan AC Milan yang merugi dengan caranya sendiri. Mana yang akan menyita perhatian kita dalam satu bulan ke depan?

Sejak pertengahan musim lalu, hype sepak bola yang terbaca oleh sistem Google memang menurun secara gradual. Jika tidak ada perpaduan momen dan tokoh yang betul-betul kuat, gairah pembaca cukup rendah. Salah satu momen yang menonjol adalah perpaduan Chelsea juara Liga Champions dan betapa manisnya N’Golo Kante.

Gairah pembaca naik cukup signifikan ketika rumor transfer muncul. Hal ini bisa kamu pantau lewat kolom trending di Twitter. Ketika hanya ada berita soal Euro 2020, kolom trending “biasa saja”. Hanya satu atau dua kata kunci tentang Euro yang masuk. Berbeda ketika rumor transfer mulai panas.

Hanya dalam hitungan jam, sejak Kamis (17/6) dini hari sampai pagi pukul 05:00, kolom trending Twitter sudah diisi oleh kabar transfer. Kekutannya bahkan bisa bersaing dengan “kepahlawanan” Manuel Locatelli untuk Italia ketika mengalahkan Swiss. Apakah mungkin, gairah fans sepak bola untuk Euro 2020 tak setinggi Piala Dunia 2018 atau kompetisi lainnya? Bisa jadi.


Nah, tiga tema yang mendominasi adalah ketertarikan Arsenal kepada James Maddison, usianya pengabdian selama 16 tahun Sergio Ramos untuk Real Madrid, dan kerugian AC Milan ketika ditinggal Manuel Locatelli dan (segera pergi) Gianluigi Donnarumma.

Arsenal impikan Maddison

Kabar ini adalah jawaban dari misteri mundurnya Arsenal dari kejar-kejaran untuk mendapatkan tanda tangan Emi Buendia. Ketika selisih penawaran semakin merapat, Arsenal menarik diri dan enggan memenuhi tuntutan Norwich. Buendia, akhirnya menjadi milik Aston Villa yang mengalah begitu saja kepada Norwich untuk membayar lebih mahal.

Banyak yang merasa Arsenal tak punya uang. Namun, ketika kabar soal Maddison muncul, kabar sebelumnya terbantahkan. Harga Maddison diperkirakan tak akan di bawah 50 juta paun, bahkan bisa mencapai 60 juta. Jauh di atas Buendia. Kenapa Arsenal tertarik ke pemain yang lebih mahal?

Baca juga:  Daniele De Rossi Serupa Thierry Henry: Bukan Pergi, Mereka Abadi

Pertama, tentu punya uang. Saga seperti ini sudah 2 kali terjadi, yaitu untuk Nicolas Pepe dan Thomas Partey. Arsenal disebut tak punya uang, tapi meresmikan pemain di atas harga 40 juta paun. Kedua, Maddison memang cocok untuk skema idaman Mikel Arteta.

Maddison, bisa dibilang gelandang modern. Dia bisa bermain sebagai advance #8, yang tugas utamanya memberi dampak di sepertiga akhir lapangan. Pemain berusia 24 tahun ini juga fasih memerankan gelandang box-to-box, pemain yang memberikan keseimbangan antara bertahan dan menyerang.

Maddion punya tiga hal penting untuk skema idalam Arteta, yaitu stamina, kecepatan, dan kedisiplinan untuk menjaga shape tim ketika bertahan. Maddion cocok di segala situasi, apakah menguasai bola atau menambahkan banyak unsur serangan balik. Teknik melepas umpan vertikal didukung oleh visi dan kecerdasan. Intinya, untuk skema 4-3-3, Maddison akan sangat cocok. Dia pekerja keras, pandai, dan gelandang serba bisa. Harga mahal memang sesuai.

Janggut Sergio Ramos

Konon, kata orang, seiring usia, seseorang akan semakin matang. Ketika sudah benar-benar matang, dia akan menjadi “saka guru” bagi orang-orang di sekitarnya. Sergio Ramos menjadi wujud kalimat bijak di atas. Seiring tumbuhnya janggut, seiring usia, dia menjadi pilar besar Real Madrid.

Setelah 16 tahun, Sergio Ramos disebut tidak akan memperpanjang kontraknya bersama Madrid. Konon, pelabuhan karier selajutnya adalah Inggris. Dia akan datang secara gratis. Meski sudah berusia 35 tahun, kualitas Sergio Ramos masih sangat berharga.

Sangat bisa dimaklumi jika tim-tim besar Liga Inggris tertarik. Mereka bisa berkaca dari Chelsea yang berani mengikat Thiago Silva, yang kini sudah berusia 36 tahun. Senioritas, pengalaman, dan kualitas Thiago Silva menjadi gerbang tebal yang menjaga Chelsea.

Baca juga:  Andres Iniesta Itu Bukan Pesepakbola, Melainkan Penari Balet

Saya masih ingat masa-masa riuh ketika Real Madrid berhasil membujuk Sevilla untuk melepas Sergio Ramos. Dia datang sebagai remaja, 19 tahun saat itu. Mendapat kartu merah di laga perdana bersama Madrid dan perjalanan kariernya diwarnai kebrutalan, kontroversi, kematangan, dan tentu saja mandi gelar hingga saatnya usai nanti.

Sergio Ramos datang ke Real Madrid sebagai remaja harapan timnas Spanyol. Dia datang dengan wajah klimis dan rapi. Dia pergi dengan janggut menjuntai dan mengintimidasi. Dia yang diharapkan akan meneruskan kepahlawanan Fernando Hiero, saya kira malah berhasil melewati legenda hidup Madrid itu. Kini, Sergio Ramos, pergi sebagai laki-laki dewasa, sebagai legenda, dan sang juara.

Kerugian AC Milan

Ketika Locatelli menguasai kolom trending Twitter, nama AC Milan ikut terseret. Pasalnya apa lagi kalau bukan Locatelli adalah salah satu produk akademi AC Milan. Sebelumnya, pemain berusia 23 tahun itu pernah mengecap pelajaran bersama akademi Atalanta.

Sudah 3 tahun Locatelli angkat kaki dari AC Milan untuk menerima pinangan Sassuolo. Saya masih ingat, saat itu, kepindahannya sangat disayangkan oleh beberapa teman saya, fans AC Milan. Locatelli memang jauh dari kata konsisten atau terlihat bisa berkembang sesuai bakat besarnya. Namun, saat itu juga, dia masih berusia 20 tahun. Masih sangat muda dan posisi bermainnya sangat dibutuhkan AC Milan.

Coba tengok aktivitas transfer AC Milan ketika mereka memboyong Ismael Bennacer dan Sandro Tonali di 2 jendela transfer. AC Milan tak mengeluarkan uang sampai 53 juta euro. Rinciannya: harga Bennacer 16 juta euro, biaya pinjam Tonali 10 juta euro, dan biaya membeli Tonali secara permanen senilai 27 juta euro. Yah, keduanya memang pemain bagus. Namun, ternyata, Locatelli tak kalah bagus.

Baca juga:  Lima Alasan Mengapa Musim Ini Inter Milan Kembali Menjadi Pecundang

Oleh sebab itu, AC Milan disebut menderita kerugian. Apalagi, dalam waktu dekat, AC Milan juga akan ditinggal Donnarumma secara gratis. Proses nego kontrak baru tidak menemui jalan terang dan Milan tak mau diintimidasi.


Untuk Locatelli dan Donnarumma sendiri, Milan hanya mengantongi 13 juta euro sekian recehan. Satu hal lagi, di saat bersamaan, Milan meresmikan pembelian Fikayo Tomori dari Chelsea senilai 28,5 juta euro. Namun, benarkan Milan rugi?

Kalau dari sisi hitungan matematika saja, sudah jelas mereka merugi. Namun, transfer pemain adalah peristiwa yang rumit. Ambil contoh soal Donnarumma.

Saya setuju dengan sikap Milan yang hidungnya tak mau dicucuk oleh agen pemain yang menyebalkan itu. Toh Milan masih punya kiper muda potensial dalam diri Alessandro Plizzari (21 tahun). Kalau masih belum puas, ya tinggal beli saja. Jangan kayak orang susah, maksudnya Inter, yang habis juara, ternyata krisis keuangan dan mau jual pemain andalan.

Oleh sebab itu, ini kalau saya pribadi, tak bisa dibilang kerugian. Sama juga yang terjadi kepada Tomori, bek muda untuk masa depan. Begitu juga dengan Bennacer dan Tonali. Locatelli adalah kesalahan yang terbilang pahit. Namun, Milan sudah berinvestasi kepada kemudaan Bennacer dan Tonali. Ingat, masa depan itu memang mahal harganya.

Begitulah tiga tema transfer yang mendobrak muramnya gairah akan Euro 2020. Arsenal dan Maddison, janggut kedewasaan Sergio Ramos, dan AC Milan yang merugi dengan caranya sendiri. Mana yang akan menyita perhatian kita dalam satu bulan ke depan?

BACA JUGA AC Milan Adalah Puisi Paling Sedih di Sejarah Serie A dan tulisan Yamadipati Seno lainnya.