Rubrik: Balbalan

Arsenal dan Oli Pembangunan: Dari Thierry Henry, Robert Pires, Sampai William Saliba

MOJOK.COAura yang dipancarkan oleh Saliba mirip dengan yang melingkupi Henry dan Pires. Mereka adalah oli pembangunan yang menggerakkan roda zaman Arsenal pada masanya. Dari Arsene Wenger ke Mikel Arteta.

Karena keberadaan Arsene Wenger, Arsenal menjadi sebuah tim dengan aura Prancis terasa kental. Pengetahuannya akan Ligue 1 atau Liga Prancis, mengizinkan Arsenal mendatangkan pemain-pemain berdarah Les Blues. Mereka yang muda, mereka yang potensia. Mereka yang menjadi oli pembangunan dengan rasa spesifik.

Apa yang dimaksud dengan rasa spesifik?

Begini. Tidak semua pemain Prancis sukses bersama Arsenal. Dulu, fans The Gunners mengena Pascal Cygan. Bek tengah kelahiran Lens, yang performa bagusnya bisa dihitung dengan dua tangan. Cygan bukan bek yang buruk amat. Kita mengenal pemain jenis ini dengan istilah inkonsisten. Pemain yang tidak bisa selalu dipasrahi tanggung jawab.

Bagi mereka yang sukses, fans Arsenal pasti hafal di luar kepala. Sylvain Wiltord, Patrick Vieira. Lalu ada mereka yang betul-betul ikonik. Mulai dari Thierry Henry, hingga Robert Pires. Ada satu kesamaan di antara mereka. Pemain Prancis sukses di Arsenal adalah mereka yang “menderita” di awal-awal kariernya.

Penderitaan yang dulu dialami Henry dan Pires, saya rasa, bakal dialami juga oleh Wiliam Saliba. Pemain-pemain ini punya semacam aura untuk sukses. Namun, mereka harus melewati “gerbang pembaptisan” bernama ledekan dan cercaan.

Henry datang di usia 22 tahun. Ia menyandang status juara dunia, tetapi gagal bersama Juventus. Titi, nama panggilannya, dianggap bukan striker yang cocok untuk cara bermain Wenger. Henry adalah pemain sayap. Anggapan ini berbekas betul di benak si pemain sendiri. Sebuah anggapan yang sempat membuat proses adaptasinya berjalan begitu berat.

Penderitaan Henry dan Pires

Suatu pagi sebelum berangkat ke London Colney, Henry sudah punya satu keputusan bulat. Perubahan harus dia inisiasi. Ia tak mau bermain lagi sebagai striker. Ia akan meminta Arsene Wenger memainkannya sebagai pemain sayap.

Ia merasa tak akan ada yang protes dengan keputusannya. Bukan juga para suporter yang terlanjur kecewa kepadanya. Henry pun sudah tak peduli, lantaran kepercayaan dirinya yang sudah lebih dahulu runtuh. Vieira sering membuat lelucon dari kebiasaan Henry membuang peluang. Lucu dan menyegarkan. Namun sebenarnya, lelucon itu menyakiti hatinya.

Lagipula, Henry sukses ketika bermain sebagai pemain sayap yang sukses bersama AS Monaco dan timnas Prancis ketika bermain sebagai sayap. Ia sudah telanjur dikenal sebagai seorang pemain sayap. Ketika tiba di tempat latihan, Henry malah berubah pikiran. Mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan Wenger tentang keputusannya untuk tak mau lagi bermain sebagai striker, ia memutuskan akan mencobanya, setidaknya, sekali lagi.

Dua minggu sebelum ulang tahunnya yang ke-22, Henry tiba di Arsenal. Ia datang dengan sebuah tantangan. Saat itu, The Gunners tengah dalam suasana tak menyenangkan setelah kepergian Nicholas Anelka ke Real Madrid dengan dana 23 juta paun. Arsenal sedang berusaha mengisi posisi striker ikonik itu.

Sebelum kedatangan Henry, sebenarnya Arsenal sudah membeli satu striker. Ia adalah pahlawan Kroasia di Piala Dunia 1998, Davor Suker. Namun, Henry yang pasti akan memikul beban itu. Beban dibanding-bandingkan dan harus menggantikan Anelka, yang sama-sama berdarah Prancis.

Henry dan Anelka sebenarnya berteman baik. Namun hubungan keduanya sedikit unik. Sejak di Clairefontaine, Anelka dipandang lebih berbakat ketimbang Henry. Berkat Anelka pula, Henry didemosi ke skuat Prancis U-21. Jadi, menggantikan posisi juniornya yang berbakat di Arsenal tentu sebuah situasi yang bisa membuat perut mulas.

Henry menunjukkannya ketika meladeni sesi wawancara di awal-awal minggu bersama Arsenal. ia gelisah dan tak nyaman dengan sikap jurnalis yang membandingkan dirinya dengan Anelka. Wenger menangani situasi itu dengan caranya sendiri. Ia ingin Henry bangkit dengan caranya sendiri. Alih-alih menenangkan, Wenger justru “ngamuk”.

“Jika tak ingin dibanding-bandingkan, sebaiknya kamu di rumah saja! Jika ingin menjadi pemain besar, kamu harus menunjukkannya di lapangan. Henry punya kualitas untuk menjadi sebagus Nicholas (Anelka). Henry lebih mudah membaur dengan kawan-kawannya ketimbang Nicholas. Ia adalah pemain yang akan selalu bekerja keras untuk tim!”

Ragu. Adalah kata yang pantas untuk masa-masa berat itu. “Meski berstatus juara dunia, saya bukan siapa-siapa. Dan itu sebuah kebenaran. Saya belum membuktikan diri bersama Arsenal. Jadi, siapa saya berani jemawa?” ungkapnya. Persis dengan yang dirasakan Pires di tahun perdana bersama Arsenal.

Posisi ideal Pires tidak bisa diterjemahkan. Dia bisa bermain bagus hampir di semua sisi lapangan, atau di belakang striker. Untuk menyederhanakan masalah ini, media Inggris memberikan label “playmaker”. Saya tidak tahu apakah Wenger “terinspirasi” oleh label media ini. Namun, fans The Gunners kelak mengenalnya sebagai salah satu wide playmaker terbaik di dunia.

Kamu tahu, laga perdana Pires berakhir sangat buruk. Arsenal kalah dari Sunderland dengan skor 0-1. Sama seperti Henry, Pires juga jadi korban “dibandingkan” oleh media. Saat itu, media gencar membandingkan Pires dengan Marc Overmars. Padahal, dari cara bermain, kedua pemain ini sangat berbeda. Namun, kita tahu bagaimana kejamnya media Inggris.

Jurnalis memberikan label: “bottler”, atau ‘orang yang suka bikin kesalahan besar’, “lightweight”, atau ‘orang remeh dan tidak cocok bertarung di kompetisi yang berat’, “coward”, atau ‘pengecut yang tidak punya nyali di lapangan’, dan masih banyak lagi. Bahkan media menulis bahwa Pires terlalu lemah untuk bermain di Inggris, baik secara fisik, maupun di dalam pikiran.

Ketika berusia 15 tahun, ketika berada di akademi Stade de Reims, Pires pernah hampir menyerah. Stade de Reims punya tiga ketegori untuk tim akademi, yaitu tim A, tim B, dan C. Selama dua bulan penuh, Pires berada di tim C. Hampir putus asa, Pires justru diceramahi oleh ibunya. “Kamu itu belum hanya belum tahu caranya.”

Sejak kecil, Pires dikenal dengan sebuah istilah “persistence” atau gigih. Dia anak yang pintar. Dia hanya butuh dorongan. Tidak ingin membuat ibunya kecewa, Pires memutuskan menerima tawaran Metz. Remaja berusia 15 tahun mengambil keputusan sendiri. Dan bersama Metz, bersama tim reserve, masa depan Pires dibentuk.

Adalah Philippe Hinschberger, pelatih reserve Metz, yang menempatkan Pires di sisi kiri. sebelumnya, dia bermain di pos #10. “Sebelum bermain di kiri, saya adalah seorang playmaker, pemain #10. Hinschberger memperhatikan cara saya bermain dan berkata, “Robert, saya tahu kamu pemain dengan kaki kanan dominan, tapi saya ingin kamu bermain di kiri.” Saat itu, saya pikir keputusannya sangat aneh. Dulu, sangat jarang ada pemain dengan kaki kanan dominan dan bermain di kiri,” kata Pires.

Masa-masanya di Metz membuat Pires belajar menjadi winger. Dan bersama Wenger, Pires diingatkan kembali caranya menjadi playmaker, tetapi tetap bermain di kiri. Dan, sisanya adalah sejarah manis….

Selain penderitaan di awal karier, persamaan Henry dan Pires adalah keduanya didukung penuh oleh Wenger. Opa Wenger memang selalu pasang badan untuk anak asuhnya. Di depan media, sangat jarang Wenger mengkritik pemainnya sendiri. Dia menjadi Bapak yang rela menggunting jubah dan menjadikannya selimut supaya anak-anaknya tidak kedinginan.

Arsenal pasang badan untuk Saliba

Jika dulu ada Wenger yang menopang Henry dan Pires, sekarang Mikel Arteta yang menjadi saka guru itu. Saliba sudah resmi menjadi pemain Arsenal sejak musim panas yang lalu. Dia dipinjamkan selama satu musim ke Saint Etienne. Saat ini, Saliba masih berusia 18 tahun. Ketika bergabung, dia akan menginjak 19 tahun. Usia yang rawan, ketika datang dengan ekspektasi tinggi.

Mikel Arteta mirip seperti Wenger. Dia akan pasang badan. Namun, bedanya, Arteta tidak segan untuk mengkritik pemainnya. Untungnya, kritikan yang Arteta lempar bernada positif, berisi saran yang membangun. Saliba, sejak kecil, adalah pemain dengan mental kokoh. Dia berkembang lebih cepat ketimbang pemain lain di usianya.

Saliba akan melewati masa-masa kelam, masa sulit bersama Arsenal. Sejak sekarang pun, narasi yang terbentuk mengganggap Saliba sebagai “juru selamat” lini belakang The Gunners yang reyot dan tidak stabil itu. Situasi yang sama terasa ketika Henry dan Pires bergabung.

Saliba, saya yakin, pasti akan melewati periode berat. Bisa cukup lama, bisa saja singkat. Jika dulu Wenger sudah cukup untuk melindungi pemain, kini Arteta butuh bantuan suporter. Kita tahu betapa bermasalahnya suporter The Gunners saat ini. Semakin ringan melepaskan hujatan, alih-alih menawarkan kesabaran.

Ketika pemain berkembang dan mentalnya menjadi lebih kokoh, mereka menjadi bagian penting dari zamannya masing-masing. Henry menjadi legenda, Pires menjadi kesayangan. Mereka adalah oli pembangunan Arsenal. Menjadi pemain yang membantu roda-roda kejayaan itu untuk terus bergerak.

Saliba akan butuh waktu. Dia akan jatuh dan bangkit dengan caranya sendiri. Aura yang terpancar itu, keyakinan yang ditularkan adalah sebuah keyakinan akan zaman baru. Ketika Saliba menjadi penerus, menjadi oli pembangunan bersama Mikel Arteta sebagai saka guru.

BACA JUGA 3 Alasan Arsenal Meminjamkan Kembali Saliba ke Saint-Etienne atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Leave a Comment