MOJOK.COKalau lawannya cuma Tottenham Hotspur, memang sudah paling benar Ancelotti menyeruput kopi saja. Ntar Spurs pasti kalah sendiri.

“Carlo Ancelotti tampaknya lebih mengkhawatirkan suhu kopinya (ketimbang situasi pertandingan),” kata komentator setelah Everton mencetak gol kemenangan atas Tottenham Hotspur. Everton menang dengan skor 5-4 dan berhak melaju ke babak perempat final FA Cup.

Skor 5-4 bukan skor biasa terjadi untuk sebuah pertandingan sepak bola di dunia nyata. Skor yang bisa membuat jantung berdetak lebih kencang. Skor yang bisa membuat pelatih kehilangan kewarasannya, terutama ketika tim yang dia latih mencetak gol kemenangan di akhir pertandingan.

Perayaan gol dramatis itu pasti heboh banget. Jose Mourinho pernah “dibenci” publik Manchester United ketika merayakan gol kemenangan FC Porto. Mourinho berlari dari tribun bangku cadangan menuju sudut lapangan. Dia ikut merayakan gol itu bersama pemainnya. Saling peluk, lompat ke atas pemain lain. Heboh banget.

Mourinho juga pernah sliding on his knees ketika merayakan gol. Salah satu perayaan ikonik yang pernah terlihat adalah perayaan Diego Maradona ketika melatih timnas Argentina. Dengan rosario di tangan kanannya, dia berteriak histeris ketika Argentina mencetak gol kemenangan.

Bagaimana dengan Don Carlo Ancelotti ketika Everton mengalahkan Tottenham Hotspur dengan skor 5-4? Kamu bisa melihatnya sendiri dan tidak akan kehabisan rasa heran. Ketika Bernard mencetak gol kemenangan, dia malah sibuk meniup kopinya biar agak dingin, lalu menyeruputnya dengan santai.

Almarhum Didi Kempot pernah bilang. Kalau patah hati, mending dijogeti saja. Nah, Ancelotti nampaknya menemukan momen “namaste” ketika berada dalam tekanan. Bukan jogetin pertandingan, tapi tinggal ngopi saja, ntar Tottenham Hotspur pasti kalah sendiri.

Bagi Tottenham Hotspur, sejarah mereka dikenal dengan istilah spursy. Sejarah klub medioker yang tak pernah tahan menghadapi derasnya ekspektasi.

Sejarah menjadi pecundang itu berulang setiap tahun. Terutama ketika Spurs merasa dirinya bakal menjadi “kandidat juara”. Ya, mereka bahkan tidak kuat untuk memikul beban “kandidat”, belum lagi jika peluang menjadi juara itu terbuka. Oleh sebab itu, istilah spursy menjadi begitu lekat.

Urban Dictionary bahkan sudah memasukkan kata “spursy” sebagai entri mereka. Kata tersebut diberi makna ‘secara konsisten dan pasti gagal memenuhi ekspektasi’. Namanya saja pecundang kebablasan, ditinggal ngopi saja, nanti kalah sendiri.

Tottenham Hotspur memang seperti “kalah sendiri”. Lima gol Everton dicetak dengan sangat cantik. Namun, jika dilihat lagi prosesnya, semuanya berawal dari blunder para pemainnya. Bisa dibayangkan Mourinho pasti ngamuk-ngamuk di ruang ganti.

Mari lupakan sejenak sejarah pecundang Tottenham Hotspur. Mari kita mengagumi cara Ancelotti menghadapi tekanan.

Berapa banyak dari kalian yang mudah panik ketika kehidupan menjadi begitu berat? Berapa banyak dari kalian yang malah lari dari masalah alih-alih menghadapinya? Masalah akan selalu ada. Ketika kamu berlari ke ujung dunia pun, di sana sudah tersaji masalah untuk kamu nikmati.

Masalahnya ada di “cara menghadapi”, bukan lari untuk menghindar. Bagi saya, Carlo Ancelotti adalah segelintir pelatih di dunia ini dengan ketenangan melebihi pendeta zen paling tekun. Pengalaman heroik ketika masih menjadi pemain, hingga mental juara ketika melatih memupuk kekuatan Ancelotti.

Bukan, bukan menjadi “sosok super” yang selalu bisa menang melawan kehidupan. Ancelotti justru menghadapi semua masalah dengan menjadi manusia. Misalnya ketika awal menukangi Everton dan Don Carlo harus beradaptasi secepatnya dengan lingkungan baru.

Pendekatan personal dilakukan Ancelotti. Dia tidak hanya mengubah sistem di atas lapangan, tetapi merombak ulang “hubungan manusia” di antara pelatih dan pemain. Sebuah cara yang sangat sederhana, tetapi punya andil besar.

Rory Smith, lewat artikelnya yang tayang di New York Times menjelaskan bahwa cara Ancelotti mengambil hati pemain merupakan cara yang bijak. Ancelotti adalah pelatih yang berdedikasi kepada pekerjaannya. Dia sangat intens ketika melatih. Namun, hatinya sangat hangat ketika melakukan pendekatan kepada pemain.

Di tengah sesi latihan, misalnya, Ancelotti bisa tiba-tiba memanggil seorang pemain Everton untuk ngobrol di sisi lapangan. Tidak membicarakan sepak bola, tetapi Ancelotti bertanya soal rekomendasi acara televisi. Topik yang mereka obrolkan dari seri dokumentasi di Netflix berjudul The Cuba Libre Story sampai Game of Thrones.

Tema yang diobrolkan tidak ada kaitannya sama sekali dengan pertandingan. Namun, pelatih pemenang tiga piala Liga Champions dan seorang serial winners bersama AC Milan, Chelsea, Real Madrid, dan PSG itu mampu membuat pemain nyaman. Ketika pemain nyaman dan keberadaannya dianggap penting, proses yang agung itu bisa dijalani dengan hati riang.

Saya rasa fans Real Madrid akan selalu punya tabungan rasa terima kasih untuk Ancelotti. Bukan hanya soal legenda La Decima yang berhasil digapai, Ancelotti adalah sosok pelatih yang berjasa “mengajari” Cristiano Ronaldo menjadi sosok poacher paling efisien memanfaat peluang pada masanya.

Ronaldo sudah punya bekal menjadi striker hebat ketika dilatih Sir Alex Ferguson ketika bermain untuk Manchester United. Ancelotti membantu Ronaldo memaksimalkan potensinya menjadi penyelesai peluang yang efisien.

Salah satu yang diperlukan seorang poacher adalah ketenangan menempatkan bola di sudut yang paling sulit digapai kiper. Ancelotti menularkan ketenangan itu secara paripurna. Ketika Ronaldo sudah mekar sebagai poacher, Zinedine Zidane tinggal menikmati buahnya.

Mungkin, di mata Ancelotti, sepak bola tidak pernah menjadi beban hidup. Dia menikmati pertandingan dengan caranya sendiri. Mau pertandingan yang mudah, sampai drama dengan skor akhir 5-4. Di mata sesepuh pelatih Italia ini, semua tekanan itu sama saja.

Kuncinya ada di cara menghadapi tekanan, bukan lari menghindar. Kalau lawannya cuma Tottenham Hotspur, memang sudah paling benar ditinggal ngopi saja. Ntar Spurs pasti kalah sendiri.

BACA JUGA Spurs yang Spursy: Arsenal dan Manchester United Boleh Jadi Badut, tapi Status Pecundang Tetap Milik Tottenham Hotspur dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Inter Milan vs Juventus, Usaha Merebut Sebuah Era Serie A