MOJOK.CO Setelah membaca 7 alasan ini, Anda bayangkan sendiri, berapa beratnya beban utang budi Arsenal kepada Wenger. Itu membuat mereka nggak bisa semena-mena pada The Professor.

Saya akan memulai tulisan ini dengan kesimpulan yang sekarang boleh dikata prematur, tetapi nanti akan kita uji kembali di akhir tulisan. Kesimpulannya begini: sosok Arsene Wenger sudah seperti raksasa di balik layar Arsenal. Oleh sebab itu, untuk menggesernya, akan dibutuhkan banyak pertimbangan. Itulah yang membuat manajemen The Gunners tak bisa sembarangan mengakhiri kontrak manajer asal Prancis tersebut.

Apakah kesimpulan itu masuk akal? Mari kita periksa indikasinya satu per satu.

1. Wenger datang membawa revolusi

Kedatangan Arsene Wenger ke Inggris seperti kisah-kisah pahlawan yang diceritakan dari mulut ke mulut. Ia diremehkan karena perawakannya yang tinggi, ceking, berkacamata, dan beraksen lucu. Dan perlu dicatat, Wenger datang dari “antah-berantah”, liga yang saat itu belum dikenal: Liga Jepang.

Namun, ia bekerja dalam detail yang mengerikan dan sangat efisien. Revolusinya dimulai dari dalam tubuh skuat Arsenal sendiri. Ia mengubah menu makan keseharian para penggawa Arsenal, termasuk melarang konsumsi penganan yang celakanya paling populer di Inggris, fish and chips. Intinya, untuk urusan diet, gaya Wenger sudah seperti rezim militer.

Tony Adams, bek legendaris yang kecanduan alkohol, adalah pemain yang harus berterima kasih kepada Wenger. Tanpa diet ala militer dari Arsene Wenger, mungkin Adams akan pensiun sebagai pesepak bola liga amatir yang bangkrut karena duitnya habis untuk mabuk.

Wenger juga memperkenalkan cara bermain yang baru untuk Arsenal. Dengan sangat sempurna, Arsene Wenger menghapus citra “Boring, boring Arsenal!” dan menjadikan laga-laga Arsenal berbalik menjadi tontonan menyenangkan. Misalnya, kombinasi umpan pendek cepat dari lini pertahanan, ini mengagetkan khalayak Inggris yang terbiasa dengan kick and rush. Berkat Wenger, Arsenal bisa memainkan sepak bola menyerang yang rancak, tajam, menghibur, sekaligus tangguh.

Dengan cara bermain yang baru, tak butuh waktu lama bagi Arsenal untuk mengganggu duo Liverpool dan Manchester United. Revolusi cara bermain inilah yang mengilhami banyak pelatih dan klub untuk meninggalkan kick and rush yang sudah berdebu itu.

Hasilnya? Satu musim setelah kedatangannya yang disambut dengan cibiran, Arsene Wenger membawa Arsenal di musim 1997/1998 memenangi dua gelar, Liga Primer Inggris dan Piala FA.

2. Ia manajer Arsenal yang paling sukses

Periode 1997/1998 hingga 2003/2004 adalah masa keemasan Wenger bersama Arsenal. Lewat sepak bola menyerangnya, Arsenal hampir selalu memenangi satu kompetisi di setiap musim.

Jika kesuksesan diukur dari jumlah piala, Wenger sudah mengumpulkan lebih banyak dibanding manajer-manajer pendahulunya. Di tangannya ada tiga gelar Liga Inggris, tujuh Piala FA, dan tujuh gelar Community Shield. Tapi, jangan tanya soal Liga Champions, bikin pedih.

Saat ini Wenger adalah manajer Arsenal dengan masa bakti paling lama. Ia mulai menjabat di tahun 1996 dan masih bertahan hingga saat ini. Boleh jadi, tak mendapat restu dari orangtua dan cinta beda agama pun tak bisa memisahkan Wenger dari (manajemen) Arsenal. Hanya kesadaran tingkat pertapa yang bisa menjadi pedang pemisah. Namaste….

3. Wenger adalah bapak pembangunan Arsenal

Jika Indonesia punya Soeharto sebagai Bapak Pembangunan, di predikat yang sama Arsenal punya Arsene Wenger. Tak hanya Bapak Pembangunan, Wenger juga pantas digelari Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Pekerjaan Umum.

Buktinya adalah peran blio dalam kesuksesan Arsenal membangun Emirates Stadium, stadion bintang lima di dunia. Jika Arsenal tak dilatih Wenger, bisa-bisa stadion megah tersebut selesai lebih lama. Kemampuan berhemat adalah faktor penting dalam pembangunan stadion tersebut, dan itu belum tentu bisa dilakukan oleh Jose Maurinho atau Pep Guardiola.

Baca juga:  Jokowi Tak Pernah Kalah, Mirip Arsenal dan Juventus Zaman Invincible

Soalnya, Emirates Stadium dibangun dengan utang yang besar. Situasi ini memaksa Wenger untuk secara rutin melego pemain penting demi mencicil utang stadion itu.

Dan ini yang paling epik.

Berbekal skuat berisikan pemain-pemain seperti Denilson, Alex Song, Mathieu Flamini, Bacary Sagna, Johan Djourou, Fran Merida, Henri Lansbury, dan yang paling ikonik, Nicklas “the true lord” Bendtner, Wenger selalu bisa membawa Arsenal lolos ke Liga Champions meskipun lalu lahir legenda “peringkat 4” itu. Coba, dari nama-nama itu, ada berapa pemain yang pembaca kenali?

Arsenal butuh pemasukan yang besar dari Liga Champions untuk menutup utang. Dan dengan kejelian Wenger, pemain-pemain muda tak dikenal itu disulap menjadi pemain matang dan berharga mahal. Yakinlah, Mourinho dan Guardiola sekalipun akan menangis darah jika harus menjalani musim dengan “pemain-pemain badut” seperti Andre Santos dan Emmanuel Frimpong.

Kebijakan mendatangkan pemain muda lalu menjualnya dengan harga tinggi berhasil menstabilkan neraca keuangan Arsenal. Ketegasan dan kejelian Wenger di bidang keuangan mungkin hanya bisa disaingi oleh Ibu Sri Mulyani, Menteri Keuangan kita.

4. Cakap soal ekonomi

Arsene Wenger punya julukan yang sundul langit: Sang Profesor.

Ia menyelesaikan strata satunya di fakultas teknik, lalu mendapat gelar master ekonomi dari Universitas Strasbourg. Halo, apa kabar skripsimu, wahai para penghujat Wenger?

Mantan Presiden Arsenal, Peter Hill-Wood, pernah berkata bahwa dalam satu musim, Wenger hanya membutuhkan maksimal 5 juta paun saja untuk membeli pemain. Bahkah pernah suatu kali, Arsenal membeli Nicolas Anelka dengan biaya transfer 500 ribu paun saja. Kemudian Wenger melego Anelka ke Real Madrid dengan nilai transfer sebesar 22 juta paun. Ada lagi Robin van Persie yang kedatangannya hanya memakan biaya 4 juta paun dan dijual ke Setan, Merah, dengan biaya transfer 24 juta paun.

Ketahanan menderita di bawah dana transfer yang kecil, kesabarannya menunggu pemain untuk mekar sempurna sebelum dilego, hingga kesuksesan Wenger membantu Arsenal menuntaskan utang pembangunan stadion membuat manajemen menaruh respek tinggi kepada Wenger.

5. Menjadi magnet pemain berkaliber besar

Berbekal keberhasilannya mengembangkan karier pemain, menyuguhkan sepak bola menyerang, dan totalitasnya untuk selalu membela pemain, Arsene Wenger menjadi alasan tersendiri bagi para pemain untuk datang ke Arsenal.

Banyak pemain berkaliber besar yang mau bergabung dengan Arsenal karena ingin diasuh Wenger. Mulai dari Mesut Oezil, Alexis Sanchez, Granit Xhaka, Henrikh Mkhitaryan, hingga Pierre-Emerick Aubameyang.

Para pemain yang namanya sudah disegani sebelum bergabung dengan The Gunners ini berkaca dari perkembangan kualitas yang ditunjukkan Thierry Henry, Robert Pires, Anelka, Patrick Vieira, Gilberto Silva, Jose Antonio Reyes, Cesc Fabregas, van Persie, Samir Nasri, Bacary Sagna, Laurent Koscileny, hingga Olivier Giroud.

Pemain-pemain yang datang dengan banderol murah dan diremehkan berharap mereka akan mekar sepenuhnya dan menjadi pemain berkaliber besar. Ini masuk akal. Bagi pesepak bola profesional, merengkuh trofi memang penting, namun proses juga sama pentingnya dengan hasil akhir. Berkembang menjadi pesepak bola dan pribadi yang lebih baik juga sebuah keharusan.

Dan (dulu) Wenger berhasil memberikan dua hal esensial ini sekaligus.

6. Butuh persiapan panjang untuk mencari penggantinya

Masa transisi pelatih adalah saat yang berbahaya, terutama ketika sebuah klub hendak mengganti pelatih yang ikonik. Ini terjadi pada Manchester United yang telah membuktikan bahwa mencari pengganti Sir Alex Ferguson adalah pekerjaan berat seumur hidup. Bahkan hingga saat ini Mourinho belum bisa dibilang sukses meneruskan tongkat estafet dari Sir Alex.

Baca juga:  Liverpool Merapal Mantra 'Squeaky Bum Time' Manchester United yang Hilang

Berkaca dari hal itu, banyak persiapan yang harus dilakukan manajemen Arsenal untuk mencari suksesor Wenger. Persiapan ini sudah dilakukan sejak lebih dari dua tahun yang lalu. Persiapan apa yang dimaksud?

Arsenal mulai dengan memperkuat departemen-departemen di balik layar. Mulai dari bekerja sama dengan penyedia jasa statistik kelas dunia, merekrut orang-orang yang berkompeten di bidang kesehatan dan kebugaran pemain, memperkuat divisi pencarian bakat, merekrut juru runding untuk keperluan transfer pemain, dan ini yang cukup berisiko namun sudah dilakukan: membatasi peran Wenger di balik layar.

Di awal dan pertengahan musim ini, Arsenal merekrut dua staf penting, yaitu Raul Sanllehi dan Sven Mislintat. Sanllehi akan memegang jabatan sebagai Head of Football Relation, nama lain dari jabatan Director of Football (DoF) yang dibenci Wenger.

Menurut Wenger, keberadaan DoF akan membatasi geraknya dalam urusan rekrutmen dan penjualan pemain. Sempat terjadi ketegangan di level manajerial karena keputusan ini walau pada akhirnya, setelah menentang secara halus, Wenger terpaksa menerima keputusan manajemen.

Sementara itu, Mislintat memegang jabatan Head of Recruitment. Mislintat adalah sosok di balik keberhasilan Borussia Dortmund merekrut pemain-pemain muda dengan potensi besar seperti Robert Lewandowski, Nuri Sahin, Mario Gotze, hingga Aubameyang.

Salah satu alasan mengapa United merasakan kolaps ketika ditinggal pensiun Sir Alex adalah perekrutan pemain yang tak akurat. Pemain-pemain yang didatangkan tak bisa memenuhi ekspektasi. Berkaca dari derita United, manajemen Arsenal ingin pemain-pemain yang datang tetap sesuai dengan filosofi dasar, yaitu sepak bola menyerang.

Siapa yang meletakkan landasan filosofi itu? Arsene Wenger!

Musim ini, Arsenal tegas tak mau memenuhi permintaan Alexis Sanchez dan melepasnya ke United. Arsenal juga mendatangkan Alexandre Lacazette dan Aubameyang. Dua pemain yang konon bukan permintaan Wenger pribadi. Selain itu, manajemen juga tegas menjual para “kesayangan” Wenger, mulai dari Theo Walcott, Kieran Gibbs, hingga Alex Oxlade-Chamberlain.

Perombakan skuat dan persiapan untuk kehidupan tanpa Wenger sudah dilakukan. Memang butuh waktu lama, dan inilah alasan manajemen tak bisa dengan leluasa melepas Wenger begitu saja. Masa transisi harus berjalan mulus.

7. Arsene Wenger adalah Arsene Wenger

Ada sebuah pendapat yang sebetulnya memiriskan, yakni “Arsene Wenger tak boleh dipecat. Ia adalah legenda dan hanya akan lengser jika ia menghendakinya.” Ini pendapat yang sebetulnya menafikan kalimat terkenal legenda Arsenal Tony Adams, “Bermainlah untuk nama di depan (lambang Arsenal), maka mereka akan mengingat nama yang tertera di belakang (nama pemain).”

Kalimat Adams tersebut sebetulnya ideal untuk memetakan posisi pelatih. Tak akan ada pelatih yang namanya lebih besar ketimbang klub yang ia latih. Namun, tampaknya untuk kasus Wenger, banyak yang bersikap permisif. Sejarah, kontribusi, dan pengorbanan Wenger sejak 1996 menjadi alasan. Dan meski pahit, alasan itu masuk akal.

Wenger adalah Wenger dengan segala kontribusinya untuk Arsenal. Itu membuat dirinya seperti kebal dari kata “pemecatan”.

***

Begitulah tujuh alasan mengapa manajemen Arsenal tak bisa memecat Wenger. Apakah kesimpulan prematur di awal tulisan menemui kebenarannya setelah Anda membaca tujuh alasan di atas?

Satu hal yang pasti, Anda boleh membenci Wenger karena dekadensi yang ia tunjukkan. Namun, melihat ke belakang, Wenger adalah manajer paling sukses untuk Arsenal. Ini fakta. Jadi, mendukunglah dengan akal sehat. Kritiklah sekeras mungkin ketika Arsenal bermain seperti tim semi-amatir, berilah pujian sepantasnya ketika Arsenal berprestasi.

Dan soal Wenger? Que sera sera….