[MOJOK.CO]Lima hal yang perlu dipahami ketika Thomas Tuchel menggantikan Arsene Wenger sebagai pelatih Arsenal.

Spekulasi soal masa depan Wenger sendiri nampaknya masih jauh dari kejelasan. Meskipun berhasil mengembalikan performa Arsenal sebelum jeda pertandingan antar-negara, kelanjutan masa bakti Wenger tidak bisa dipastikan.

Prestasi minimal yang bisa diraih Arsenal musim ini adalah menjuarai Liga Europa. Capaian yang menjadi sangat penting lantaran hanya dengan menjadi juara Liga Europa, The Gunners bisa masuk ke Liga Champions. Gagal, artinya tekanan untuk mundur akan semakin terasa berat di pundak Wenger.

Manajemen Arsenal, pada dasarnya, sudah menyiapkan berbagai langkah mengantisipasi mundurnya Wenger. Salah satunya dengan melakukan perbaikan besar-besaran, terutama komposisi staf di balik layar. Diharapkan, siapa pun yang kelak menggantikan Wenger akan mendapatkan “bantuan terbaik” dari balik layar.

Tidak hanya komposisi skuat, nampaknya manajemen juga sudah berusaha menyaring beberapa nama pelatih potensial. Media terpercaya dari Jerman, Kicker, merilis sebuah berita yang menyebutkan bahwa Thomas Tuchel berpotensi mengganti Wenger di bulan Juli mendatang.

Apakah Tuchel merupakan sosok yang tepat untuk menggantikan Wenger? Berikut panduan lengkap yang disusun oleh Mojok Institute untuk memahami potensi Tuchel menggatikan Wenger.

1. Menyelesaikan masalah pribadi antara Thomas Tuchel dan Sven Mislintat

Sebelum jendela transfer Januari yang lalu dibuka, manajemen Arsenal merekrut salah satu pencari bakat tersohor di Eropa. Ia bernama Sven Mislintat, yang diboyong dari Borussia Dortmund.

Ketika masih terikat kontrak dengan Dortmund, Mislintat pernah bekerja di bawah kendali Tuchel. Keduanya dipandang sebagai duet yang ideal. Mislintat dengan kejelian matanya untuk menemukan pemain-pemain muda potensial berharga murah dan Tuchel dengan kualitasnya untuk mengembangkan pemain-pemain hasil bidikan Mislintat.

Namun sayang, seiring waktu, Mislintat dan Tuchel menjadi tidak akur. Hingga pada akhirnya, Tuchel melarang Mislintat datang ke tempat latihan, menjauhi para pemain, dan staf pelatih. Sikap Tuchel ini menyakiti hati Mislintat, yang sudah bekerja cukup lama untuk Dortmund dan punya kedekatan dengan para pemain.

Kicker sendiri mengungkapkan bahwa demi Arsenal, Mislintat bersedia melupakan rasa sakit hatinya dan menyambut potensi kolaborasi bersama Thomas Tuchel sekali lagi. Poin ini menjadi poin perdebatan paling panas di media sosial.

Rasa sakit hati tentu tak bisa ditebak karena berhubungan dengan kedalaman hati manusia yang siapa bisa menebak. Banyak yang mengingatkan bahwa situasi ini berpotensi merepotkan Arsenal di masa depan. Apalagi selama ini, kehidupan di balik layar Arsenal berjalan dengan baik ketika Wenger menjabat sebagai pelatih.

Posisi dan kualitas Mislintat terlalu penting untuk Arsenal. Di tangan Mislintat, manajemen Arsenal berharap bisa menemukan pemain-pemain potensial dengan harga terjangkau. Semuanya demi bersaing dengan klub-klub kaya yang menyambut harga transfer pemain yang semakin tidak masuk akal.

Baca juga:  Dari Mohamed Salah Hingga Cristiano Ronaldo: Para Pencetak 4 Gol di Akhir Pekan

Oleh sebab itu, menyelesaikan masalah pribadi antara Mislintat dan Tuchel harus menjadi prioritas. Tentunya jika memang Tuchel yang akan menjadi pelatih selanjutnya bagi Arsenal.

2. Thomas Tuchel yang biasa bersuara lantang

Thomas Tuchel adalah sosok pelatih yang luwes berbicara tanpa tedeng aling-aling. Ia sangat vokal, bahkan meskipun menyakiti hati lawan bicaranya. Dari pemain, jurnalis, pemilik klub, hingga presiden UEFA, pernah menjadi sasaran kemarahannya.

Salah satu sikap panas Tuchel yang paling tersohor adalah ketika ia menyerang Managing Director Dortmund, Hans-Joachim Watzke, dan Sport Director, Michael Zorc, lantaran para pemain harus harus langsung bermain dalam waktu 24 jam ketika baru saja bus tim Dortmund diserang teroris menggunakan bom.

Tuchel meradang. Pelatih asal Jerman tersebut memandang bahwa Watzke, Zorc, dan UEFA tidak melindungi para pemain Dortmund. Alhasil, Dortmund kalah dari Monaco di ajang Liga Champions. Padahal sebelumnya, Dortmund tengah berada dalam periode performa terbaik.

Manajemen Arsenal sendiri jarang mendapatkan serangan terbuka dari pelatihnya. Wenger lebih konservatif, melindungi pemain dan manajemen. Bahkan, Wenger sendiri lebih banyak berteka-teki di depan awak media. Maklum, Wenger memang pandai merangkai kalimat ketika menyindir pihak tertentu. Sudah cocok menjadi pengisi rubrik Mojok.

Apakah kuping manajemen Arsenal tahan dengan serangan-serangan frontal dari Tuchel nantinya? Kuat berapa lama manajemen Arsenal bisa bersabar? Ingat, moto Arsenal berbunyi “Victoria Concordia Crescit” atau “Kemenangan Berawal dari Keharmonisan”. Manajemen Arsena terbiasa dengan “keharmonisan” seperti rona jenaka seorang Wenger, bukan “pemberontak” seperti Tuchel.

3. Thomas Tuchel terbiasa dengan kebebasan

Kebiasaan yang dimaksud di sini adalah kebebasan menentukan pemain, mulai pilihan skema tim hingga pembelian atau penjualan pemain.

Salah satu sumber perusak hubungan Tuchel dan Watzke adalah urusan transfer pemain. Manajemen Dortmund bukan tipe manajemen yang akan mempertahankan pemain andalannya mati-matian. Jika harga cocok, manajemen tidak akan keberatan menjual. Sikap yang tak disukai Tuchel.

Tuchel merasa tim utamanya “dirusak” ketika tiga pemain andalannya tidak dipertahankan sekuat tenaga oleh manajemen. Mereka adalah Robert Lewandowski, Mats Hummels, dan Henrikh Mkhitaryan.

Yang memprihatinkan adalah, Lewandowski dan Hummels dilepas ke Bayern Munchen. Dan yang lebih menyedihkan, Mkhitaryan dibiarkan berjalan ke jalan yang salah. Jalan Setan. Merah. Sebelum diselamatkan Arsenal di bulan Januari yang lalu.

Masalah menjadi lebih parah ketika manajemen memutuskan merekrut pemain-pemain muda seperti Ousmane Dembele dan Emre Mor. Keduanya jauh dari kata matang untuk menjadi pengganti pemain-pemain di atas. Pun, manajemen membeli Aleksander Isak tanpa restu dari Tuchel. Bahkan, kepulangan Mario Gotze ke Dortmund bukan keinginan Tuchel.

Baca juga:  Arsenal vs Liverpool Itu Cuma Laga Friendly Dua Kesebelasan Gagal Juara

Kebebasan dalam menentukan kebijakan transfer akan menjadi kunci ketika Tuchel bergabung dengan Arsenal. Terutama, ketika Arsenal perlu membeli banyak pemain untuk merestorasi skuat tim utama nanti. Tanpa kebebasan, Tuchel tak akan bisa bekerja maksimal.

Beruntungnya, selama ini, Wenger diberi kebebasan yang lapang untuk bermanuver di jendela transfer. Masalahnya adalah, kebebasan yang dirasakan Wenger berasal dari pengorbanan selama bertahun-tahun ketika Arsenal tengah dibelit utang pembangunan Stadion Emirates. Apakah manajemen Arsenal bisa memberika kebebasan yang sama kepada Tuchel?

4. Dukungan penuh dari pemain untuk Thomas Tuchel

Menjelang final DFB Pokal pada musim 2016/2017, Tuchel tidak memasukkan nama Nuri Sahin ke dalam tim. Padahal, Sahin dipandang sebagai pemain yang tepat untuk menggantikan Julian Weigl yang cedera. Namun, Tuchel tak bergeming dan keputusannya terbukti benar. Dortmund berhasil menjadi juara.

Sayangnya, di tengah euforia menjadi juara DFB Pokal, beberapa pemain Dortmund mengungkapkan rasa herannya kepada jurnalis ketika Tuchel tidak memainkan Nuri Sahin. Sikap pemain ini dianggap Tuchel sebagai konfrontasi langsung. Dan di akhir musim, ditambah permusuhannya dengan Watzke, Tuchel memutuskan untuk mundur.

Sangat penting bagi para pemain Arsenal untuk sepenuhnya percaya dengan Tuchel. Akan cukup sulit karena Tuchel akan menjadi “orang asing” di ruang ganti Arsenal. Namun inilah kunci potensi Tuchel bersama Arsenal.

5. Jangan mengharapkan hasil instan di bawah asuhan Thomas Tuchel

Boleh dikata, Thomas Tuchel sukses berat bersama Dortmund. Ia mewarisi skuat Dortmund dengan kondisi mental yang buruk setelah tampil mengecewakan di akhir masa kepelatihan Jürgen Klopp.

Tahun pertama, Tuchel berhasil mengembalikan Dortmund ke zona Liga Champions. Tahun kedua, membawa Dortmund mencapai poin tertinggi dalam sejarah meskipun gagal menjadi juara, menjuarai DFB Pokal dan hanya tersingkir dari Liga Champions karena pengaruh teror bom, ditambah manajemen pertandingan yang buruk dari Watzke dan UEFA.

Melatih Arsenal, ekspektasi utama yang menjadi tanggung jawab Tuchel adalah juara Liga Primer Inggris. Ini sangat berat. Mengapa? Pertama, level kompetisi Liga Primer Inggris yang semakin berat dari tahun ke tahun. Kedua, semakin banyak tim dengan kualitas empat besar (ada tujuh tim). Ketiga, tekanan fans yang sudah puasa gelar liga sejak tahun 2003/2004.

Oleh sebab itu, meski Tuchel akan membawa modernitas ke dalam cara bermain Arsenal, langsung menjadi juara harus dibuang jauh-jauh. Biarkan Tuchel bekerja, membangun dinastinya sendiri. Dan proses ini tentu akan memakan waktu. Jika bisa bersabar dengan Wenger, seharusnya Gooners bisa bersabar dengan Tuchel.

Nah, lima poin di atas harus dipertimbangkan masak-masak ketika menunjuk Tuchel sebagai pelatih.