MOJOK.COArgentina resmi masuk kelompok negara-negara menyebalkan bersama Portugal, Spanyol, dan Prancis. Kelompok yang main jelek, tapi malah menang. Menyebalkan.

Satu kali bermain imbang, dan satu kali kalah dengan memalukan, Argentina mempertaruhkan semuanya di laga terakhir ketika melawan Nigeria. Bahkan sebetulnya skuat asuhan Jorge Sampaoli ini tidak bisa lolos begitu saja. Ada dua syarat yang perlu dipenuhi Argentina untuk lolos. Hebatnya, di laga paling paripurna, Albiceleste bisa memenuhinya. Ya meski masih jelek betul cara bermain mereka.

Kok bisa-bisanya, tim yang bermain naudzubilah jeleknya begitu bisa lolos ke babak 16 besar Piala Dunia? Tapi kalau dipikir kembali dengan jiwa yang tenang, Piala Dunia 2018 memang kompetisi untuk tim-tim menyebalkan seperti ini, tim yang bermain jelek sangat, tapi tetap menang atau lolos dari babak putaran grup.

Coba tengok cara bermain Portugal, Spanyol, dan Prancis. Kemenangan ketiga negara yang kok kebetulan negara besar semua ini didapat dengan cara: penalti dan situasi bola mati lainnya (Portugal), gol keberuntungan (Spanyol), dan bantuan teknologi (Prancis). Dan yang terakhir tentu Argentina, di mana ketika butuh kemenangan, pelatihnya memasukkan Meza dan Pavon alih-alih Dybala dan Aguero.

Mungkin untuk Piala Dunia edisi selanjutnya bisa dibuat aturan untuk hanya meloloskan tim-tim dengan rangking FIFA di bawah 20 saja kalau tim-tim besarnya justru menyebalkan begitu.

Nah, oleh sebab itu, untuk menjawab rasa penasaran pembaca, kami Mojok Institute, menggelar penelitian pendek melibatkan sedikit orang, yaitu saya sendiri. Inilah hasil yang bisa kami rangkum.

Baca juga:  Masa Depan Manchester United Ditentukan oleh Hubungan Mourinho-Pogba

1. Menang dari lawan.

Ini alasan yang luar biasa penting. Ya kalau tidak menang, sebuah tim tentu tak bisa lolos dari babak putaran grup. Misalnya Argentina mengalahkan Nigeria dengan skor 2-1. Atau Spanyol menang beruntung ketika melawan Iran, dan lain sebagainya. Jika gagal mengalahkan Nigeria, Albiceleste hanya akan mengumpulkan satu poin saja dan menjadi juru kunci bersama Islandia. Nah, kalau tidak pernah menang itu namanya Liverpool, bukan Argentina. Tolong dicatat dan diarsipkan baik-baik.

2. Argentina unggul poin dari lawan-lawan mereka.

Ini juga fakta yang membelalakkan mata. Ternyata Argentina mampu mengungguli lawan-lawannya di Grup D Piala Dunia 2018. Tim ini mengumpulkan nilai empat, menggungguli Nigeria dengan nilai tiga, dan Islandia dengan nilai satu. Albiceleste duduk di peringkat kedua, di bawah Kroasia yang mempermalukan mereka hingga para pundit di Argentina menggelar aksi mengheningkan cipta untuk berkabung.

Unggul poin ini juga masih berkaitan dengan “menang” di poin pertama. Jadi, menang juga bisa diartikan sebagai menang poin, bukan hanya menang mengalahkan lawan. Contohnya adalah Piala Eropa 2016 ketika Portugal lolos dari babak grup hanya dengan hasil tiga kali imbang. Mau sejelek apa cara main mereka, pada akhirnya tetap selamat. Seperti kecoa, sulit betul matinya. Menyebalkan.

3. Islandia dikalahkan Kroasia, Argentina menang.

Argentina harus tahu diri. Mereka lolos tidak dengan usaha sendiri. Setelah Piala Dunia ini berakhir, sebaiknya Argentina tahu adab dan mengirimi satu paket sembako untuk semua pemain Kroasia. Jika Kroasia kalah dari Islandia apalagi dengan skor besar, Argentina bakal pulang lebih pagi dari Piala Dunia. Kenapa? Ya karena poin Islandia akan menyamai Argentina namun punya selisih gol lebih baik.

Baca juga:  Perempat Final Liga Champions 2018: AS Roma Kalah dengan Cara Islami

4. Faktor keberuntungan saja.

Jangan meremehkan faktor keberuntungan ini. Ingat selalu kalimat bijak seorang filsuf dari perguruan silat Gurun Ghobi yang berbunyi, “Orang bejo (beruntung), lebih berbahaya ketimbang orang pintar.”

Argentina sendiri dinaungi keberuntungan itu. Bayangkan, tim ini sebetulnya dikelilingi orang-orang yang membawa petaka. Mulai dari Jorge Sampaoli dengan pemilihan pemain yang aneh, hingga Javier Mascherano yang banyak bikin kesalahan ketika melawan Nigeria. Tanpa keberuntungan, penyebab petaka tersebut bakal punya pengaruh lebih besar.

5. Didukung dan diramalkan juara oleh Kepala Suku Mojok.

Tempo hari, Kepala Suku Mojok, Puthut EA menulis bahwa Argentina akan menjadi juara Piala Dunia 2018. Kok ya ndilalah pas pertandingan terakhir, ketika diramal akan kalah, Albiceleste justru menang. Terbukti, ramalan Puthut EA jauh lebih berbahaya ketimbang ramalan banyak pengamat sepak bola.

Lho, bukannya Kepala Suku banyak meleset ketika tebak skor? Ah, kamu saja yang enggak paham. Seperti kata Agus Mulyadi, pemred Mojok yang baru, tebakan skor Puthut EA itu satir. Prediksi Kepala Suku: Kolombia 2-1 Jepang dan Polandia 2-1 Senegal. Kamu tahu yang terjadi: Kolombia 1-2 Jepang dan Polandia 1-2 Senegal. Ini tebakan mata batin, bukan mata kepala lagi. Satir tingkat tinggi.