MOJOK.COIndonesia memang tak kekurangan orang ajaib. Setelah almarhum Lia Eden, Rangga Sasana, dan kini muncul “nabi palsu” Jozeph Paul Zhang.

Nama Joseph, eh Jozeph Paul Zhang mendadak viral pada hari Minggu kemarin. Bahkan tagar #TangkapJozephPaulZang sempat trending di Twitter.

Entah akibat kena sambet roh macam apa, pada hari yang dikhususkan oleh umat Kristen untuk beribadah itu, ucapan Jozeph Paul ini menjadi bahan pergunjingan, mulai dari rakyat biasa sampai Ketua MPR.

Dari namanya, Anda sudah dapat menebak, Jozeph bukan warga mayoritas di negeri ini.

Beberapa waktu lalu, saya merasa bahwa menjalani hidup sebagai orang beragama Kristen itu tidak mudah di negeri ini. Ada beragam stigma dan tantangan yang dihadapi.

Eh, lha kok kemudian malah ada orang yang mengaku Kristen tapi bicara tanpa mikir, tanpa filter, bahkan tanpa otak dulu. Apa iya, demi konten harus sampai segitunya menunjukkan kegoblokan?

Klaim Jozeph, bahwa dirinya adalah nabi ke-26, entah itu hanya guyonan atau beneran mengklaim secara serius, tentu itu jadi klaim yang super-ngawur dan provokatif.

Sependek pengetahuan saya, di dalam agama Kristen, nabi merujuk pada jabatan dan fungsi. Jabatan nabi adalah jabatan khusus yang dimiliki orang-orang tertentu sebagai “penyambung lidah Tuhan”. Contoh orang-orang itu adalah nabi Nuh, Elia, Yeremia, dsb.

Sedangkan fungsi nabi adalah fungsi untuk menjadi pengingat bagi sesama yang berbuat salah, atau menyimpang dari aturan, agar mereka kembali ke jalan yang benar. Fungsi semacam ini sih pada prinsipnya dapat dilakukan oleh siapa saja.

Baca juga:  Cerita Ibrahim al-Khawwas dan Seorang Rahib Kristen

Sedangkan kalimat Joseph, yang mendaku Nabi ke-26, jelas sekali dimaksudkan sebagai jabatan nabi, yang dalam konsep lain disebut saja nabi palsu.

Selepas era gereja mula-mula (first church), terlebih lagi setelah kanonisasi alkitab, manusia dapat belajar ‘mendengar’ suara Tuhan melalui pembacaan alkitab. Jabatan nabi pun otomatis sudah tidak diperlukan dan tidak ada lagi. Tiap orang bisa menjalankan fungsi kenabian tanpa terikat pada status jabatan nabi.

Jadi, klaim Jozeph Paul Zhang bahwa dirinya nabi ke-26 adalah klaim yang tidak berdasar dan ngawur bin halu. Setipe dengan klaim ABCD versi Sunda Empire, A itu Amerika, B itu British, C itu Canada, dan D itu Bandung.

Lebih parah lagi, Jozeph Paul Zhang justru menyenggol sekaligus menghina nabi agama Islam, dengan asumsi yang super ngawur bahwa dirinya nabi (palsu) pula.

Tentu saja, hal tersebut bisa memantik reaksi keras di mana-mana. Apalagi mengingat Ahok yang dulu kepleset ngomong di Kepulauan Seribu aja bisa memicu demo besar-besaran, apalagi ini.

Bahkan bukan hanya dari umat Islam, umat Kristen pun tidak rela jika agamanya ditampilkan dengan cara yang salah. Ibarat etalase di toko, mosok yang ditampilkan adalah barang rongsokan? Tentu tidak akan ada yang tertarik dengan toko tersebut, dan rongsokan itu harus segera disingkirkan.

Beberapa waktu lalu, di grup WhatsApp rekan-rekan alumni SMA, seorang rekan saya yang beragama Kristen, mencoba menggoda “ketahanan iman” rekan-rekan Muslim yang sedang berpuasa, dengan memposting gambar makanan yang terlihat sangat lezat.

Baca juga:  Pengalaman Saya Hadapi Aksi Teror di Prancis sebagai Minoritas dan di Indonesia sebagai Mayoritas

Tidak ada yang marah, rekan-rekan Muslim justru menambah seru suasana, dengan ikut memposting makanan enak versi masing-masing.

Di tempat lain, ada juga Pemerintah Daerah yang melarang warung-warung makan buka selama bulan puasa. Alasannya adalah untuk menghormati mereka yang sedang berpuasa.

Dari situ saya berkesimpulan, bahwa ternyata teman-teman saya imannya lebih kuat dibanding aparat Pemerintah Daerah. Ehm.

Wong tadinya saya pikir bahwa godaan melihat makanan sudah merupakan godaan yang cukup berat bagi orang yang sedang menjalankan puasa. Namun, siapa sangka, datang cobaan yang lebih berat lagi di bulan puasa ini, dalam wujud Jozeph Paul Zhang.

Menurut saya, kehadiran provokasi seorang Jozeph Paul Zhang ini adalah sebenar-benarnya cobaan menghadapi puasa bagi umat muslim di Indonesia. Bagaimana kita mampu menjaga hawa emosi untuk tidak terpancing dengan klaim-klaim bodohnya.

Kabarnya, Bareskrim bersama Interpol sedang memburu Jozeph. Ya, nabi abal-abal itu sedang mengalami apa yang disebut sebuah iklan, “mulut-mu harimau-mu”. Bahkan, bisa juga menjadi “mulut-mu jalan menuju pertapaan penjara-mu”.

Jadi tinggal nunggu waktu aja sih ‘nabi’ itu akan mendapat konsekuensi hukum dari ucapannya. Meski banyak yang menduga itu sulit karena Jozeph tidak hanya berada di luar jangkauan akal sehat, tapi juga sedang berada di luar negeri.

Untuk kamu yang tidak familiar dengan Kristen, saya bisa kasih ultimatum bahwa ajaran Kristen tidaklah seperti apa yang Jozeph Paul Zhang sampaikan selama ini. Kami tidak diajar untuk mendaku diri sebagai nabi, orang yang paling dekat dengan Tuhan, atau orang yang punya kenalan “orang dalem” di surga.

Baca juga:  Kuliah di Kampus Islam Padahal Agamamu Bukan Islam

Kami juga tidak diajar untuk menghina orang lain, terutama yang berbeda secara iman kepercayaan. Bahkan Yesus sendiri meminta para pengikut-Nya untuk mengasihi siapa saja, termasuk mereka yang menganggap orang Kristen sebagai musuh.

Oleh sebab itu, saya kira saudara-saudaraku umat Muslim, bakal paham bahwa apa yang dicelotehkan oleh Jozeph Paul Zhang ini tidak bakal memprovokasi kalian. Dan meski begitu, saya yakin puasa saudara-saudaraku bakal tetap membuat kepala seluruh umat muslim di Indonesia bisa berpikir dengan dingin.

Mungkin ini cobaan next level dari Tuhan. Cobaan menahan emosi ketawa, dari Lia Eden sudah, Rangga Sasana dari Sunda Empire sudah, dan sekarang saatnya Jozeph Paul Zhang si nabi palsu… pffft.

Tahun depan mau ada orang ajaib apalagi? Sekte penyembah ceret atau apa gimana nih?

BACA JUGA Kalau Saya Menyembah Pohon, Anda Mau Apa? dan tulisan Yesaya Sihombing lainnya.