MOJOK.COBukan tidak mungkin guyon bapak-bapak Politisi Demokrat, Panca, ada maksud terselubung. Ada niat tulus di balik twit paha mulus.

Beberapa waktu lalu, politisi Partai Demokrat, Cipta Panca Laksana, membuat heboh lini masa Twitter dengan cuitan yang berbunyi, “Paha calon wakil walikota Tangsel itu mulus banget.”

Walau tak disebutkan paha milik siapa yang dimaksud, indra penciuman netizen Indonesia langsung serempak mengarah pada sosok Rahayu Saraswati. Calon wakil walikota Tangerang Selatan, yang kebetulan perempuan.

Ya mau siapa lagi? Hawong calon lain cowok semua. Masak iya, paha cowok banyak bulu bergelombang bakal dibilang mulus?

Cuitan ini menjadi semakin viral setelah diritwit oleh Said Didu, mantan Sekretaris Kementerian BUMN, dengan diimbuhi kata-kata, “Huzzz, no pict hoax”

Publik pun mencela tingkah polah Panca dan Said Didu. Bukan hanya rakyat biasa, para kader lintas partai pun mengecam cuitan mereka. Di antaranya adalah Ferdinan Hutahaean, sesama kolega dari Partai Demokrat, dan Tsamara Amany, pentolan PSI.

Belakangan, Panca meminta maaf pada publik, walau tak mengatakan siapa yang dimaksud dengan si paha mulus. Panca juga menghapus cuitan kontroversialnya.

“Sehubungan twit pribadi saya mengenai paha mulus Cawalkot Tangsel sudah terlanjur viral, dengan ini saya mendelete twit tersebut. Mohon maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersinggung dengan twit tersebut. Memang gaya saya di Twitter seperti itu. Sekali lagi mohon maaf,” kicau Panca.

Btw, Rahayu Saraswati ini adalah keponakan Prabowo lho. Jadi sebenarnya kalau memang benar dia yang dimaksud sebagai si paha mulus, itu artinya guyon bapak-bapak Om Panca ini lagi mancing gara-gara sama Pak Prabowo. Ngeri ih.

Respons netizen yang ngamuk-ngamuk terhadap twit guyon bapak-bapak semacam itu sebenarnya nggak perlu diperpanjang. Terlebih, kita sudah sering berjumpa dengan guyon seksis bapak-bapak di kehidupan sehari-hari.

Coba, tengok saja percakapan bapak-bapak di grup RT. Kalau bukan bahas masalah politik, ya palingan berbagi gambar-gambar “menyegarkan” untuk “cuci mata”.

Barangkali hal ini menunjukkan bahwa kelakuan nggatheli kayak gitu bisa lahir dari mana saja. Bisa muncul dari lapisan pejabat level atas, sampai lapisan pejabat level kerak bumi.

Baca juga:  Aldi Taher dalam Citra Politisi Religius Penggubah Lirik Lagu Orang

Nah, daripada ikut-ikutan membuli Panca, mari kita berpikir positif berlandaskan asas praduga tak bersalah. Bukan tidak mungkin Panca sedang punya maksud terselubung. Ada niat tulus di balik twit paha mulus.

Dalam situasi pandemi seperti sekarang ini, masyarakat sangat rentan kehilangan akal sehat. Nah, bisa jadi Politisi Demokrat itu ingin sekadar memberi ujian akal sehat bagi para netizen. Apakah logika netizen masih waras atau sudah ngawur? Kebetulan sampel uji yang dipakai adalah paha mulus perempuan.

Cara tes yang berisiko, dan karena berisiko mungkin jadi terasa keren menurut Panca. Ya maklum, apapun yang bisa meningkatkan adrenalin itu memang seru.

Nah, untungnya dengan masih banyak mengalirnya protes netizen ke Panca soal twit paha mulus ini, hal tersebut menandakan akal sehat netizen Indonesia masih baik-baik saja.

Banyaknya PHK di masa pandemi, bertambahnya jumlah korban yang terus berguguran akibat korona, ternyata tak membuat masyarakat abai terhadap masalah-masalah sensitif, apalagi kalau isunya tentang perempuan.

Selain itu, Panca bukan tidak mungkin juga ingin melakukan uji inteligensi bagi para politisi. Soalnya status Panca sebagai politisi sebenarnya menandakan tingkat inteligensi yang begitu tinggi.

Ya kan susah menjadi politisi di negeri ini. Kalau bukan karena pinter banget, ya harus kaya banget. Kalau nggak, ya harus punya jalur kekeluargaan yang pejabat banget.

Dus, dalam kasus twit paha mulus ini, Panca sebenarnya ingin menguji tingkat inteligensi para politisi lain.

Tujuannya apa? Kalau berbicara tentang paha mulus, tentu berhubungan dengan pelecehan seksual. Nah, kalau berhubungan dengan hal-hal berbau seksual, dapat ditebak, Panca ingin jadi trigger pengesahan RUU PKS.

Wow, cerdas sekali bukan?

Lha gimana, selama ini walau didesak oleh para aktivis, para korban, tokoh agama, dan masyarakat, para anggota DPR yang terhormat tetap saja bergeming untuk tidak memprioritaskan pembahasan RUU PKS.

Siapa yang dapat menekan agar RUU ini bisa dibahas lagi? Tentu saja seorang politisi.

Baca juga:  Politisi Mercon Isu PKI yang Mulai Mejan Gara-gara Pandemi

Politisi yang seperti apa? Politisi yang mampu memberi contoh nyata tentang pelecehan seksual, atau setidak-tidaknya ucapan seksis lah. Lantas siapa politisi yang rela menjadi kambing hitam untuk membuktikan itu?

Hayaaa… siapa lagi kalau bukan yang terhormat Om Panca. Beliau merupakan salah satu politisi yang terkenal dengan keberaniannya. Jangankan kicauan seksis, blio aja pernah berduel dengan Roysepta Abimanyu di GBK, lho. Hasilnya? Tentu saja menang.

Walau diprotes oleh Rahayu, para aktivis feminis, tokoh-tokoh publik, dan teman-temannya sendiri, Panca tetap melaksanakan perannya sebagai kambing hitam. Rela dikorbankan dan dibuli ramai-ramai, demi kepentingan yang lebih besar.

Jadi, ya kita tidak perlu heran bila nantinya isu tentang RUU PKS bergema kembali setelah cuitan paha mulus dari Panca. Duh, duh, Om Panca memang hebat. Kelak, jika RUU PKS jadi disahkan (kalau beneran jadi), maka nama Om Panca harus tetap dikenang.

“Lho, kok bisa disahkan ya, padahal dulu RUU itu dikeluarkan dari Prolegnas?”

“Ya itu kan gara-gara cuit paha mulus dari Mas Panca to, Kak.”

Syahdan, Panca juga hendak menampilkan muka politisi-politisi Indonesia apa adanya, tanpa kemunafikan, tidak ditutup-tutupi. Bahkan sampai terbukanya, kemunafikannya aja sampai nggak sempet ditutup-tutupi.

Seakan, blio ingin menunjukkan bahwa kebanyakan politisi Indonesia ya modelnya seperti itu. Hawong lihat video bokep sambil rapat saja ada, apalagi cuma terpesona dengan sepasang paha mulus?

Inilah yang dinamakan uji integritas. Apa yang dilakukan di saat sendiri tidak beda dengan apa yang dilakukan di depan umum.

Itu sebabnya, kita perlu mendukung tumbuh kembang politisi-politisi model macam ini demi kesehatan dan kewarasan bangsa. Politisi-politisi ini perlu diberi ruang sebebas-bebasnya untuk berkreasi dan berpendapat.

Tak perlu buru-buru membuli mereka. Semakin mereka bikin ulah, semakin kita diuji untuk menjadi rakyat yang lebih waras. Karena yang namanya wakil, memang kelakuannya belum tentu lebih baik dari yang diwakili.

BACA JUGA Laki-Laki Mendukung RUU PKS, Sebab Ia Memang Nggak Takut Dilaporin Istrinya ke Polisi atau tulisan Yesaya Sihombing lainnya.