Misteri di Balik Panggilan Papah-Mamah, Ayah-Bunda, dan Abi-Ummi yang Sebenarnya

MOJOK.COMemilih kata untuk panggilan untuk orang tua seperti papah-mamah, ayah-bunda, abi-ummi, ternyata tidak cukup ngasal. Ada hal yang perlu dipertimbangkan, sikap tahu diri misalnya.

Tiap ada artis yang habis melahirkan, saya selalu kepo. Kira-kira anak artis ini akan memanggil dia dengan sebutan apa, ya? Apakah panggilan umum yang sangat mainstream, yakni papa-mama? Ataukah panggilan yang dinilai sangat membumi dan belakangan kembali dipopulerkan oleh beberapa artis—sebut saja Andien dan Widi Mulia-Dwi Sasono—yakni bapak-ibu? Atau panggilan yang bersahaja dan terkesan bijaksana: ayah-bunda?

Sedikit meleset dari ayah-bunda, ada juga panda-bunda. Iya, beneran, panda. Mungkin, kata panda ini merupakan gabungan dari kata “papa” dan “ayahanda”. Yang kemudian mengesankan sebutan imut-imut manis, gitu, kan? Umpama anak pedagang es dawet, sungguh cocok dengan panggilan ini. Tapi kalau anaknya tukang ngaspal jalan, rasanya kok kurang gahar, ya?

Ada juga yanda dan bunda. Barangkali yanda adalah kependekan dari ayahanda. Yang saya ingat, anak artis yang memanggil ayahnya dengan sebutan yanda adalah Yulia Rahman. Dan kebetulan perawakan suami Yulia Rahman kok ya miyayeni gitu. Cocok lah. Mungkin jika panggilan ini dipakai oleh tukang pukul atau tukang tagih utang, jadi terasa kurang sangar.

Ada juga panggilan unik yang membuat panggilan itu sangat melekat pada sang pesohor. Seperti panggilan pepsye dan memsye yang hanya dimiliki oleh Raffi dan Nagita. Saking melekatnya, orang-orang biasa sepertinya nggak akan berani mengambil risiko besar, dengan mengizinkan anak mereka untuk memakai panggilan ini.

Selain karena panggilan ini sudah sangat khas dengan pasangan Raffi-Nagita, panggilan pepsye-memsye juga terkesan sweet, lucu, ceria, dan manjah. Rasa-rasanya kurang pas jika seorang bakul jenang di Pasar Bantul, meminta anaknya memanggil dia dengan sebutan ‘memsye’. Orang Jawa bilang, diguyu pitik.

Sebenarnya kalau dirunut, panggilan unik untuk anak artis ini dimulai dari era Krisdayanti dan Anang, yang kala itu masih jadi “sweetheart couple” nya tanah air. Alih-alih menyebut diri mereka sebagai papa-mama, mereka memilih untuk disebut pipi dan mimi. Lucu kan? Kesannya imut-imut, dan pas-pas saja dengan profil KD-Anang yang sama-sama menjaga penampilan dan terkenal.

Sekarang, panggilan pipi dan mimi ini mulai mewabah. Akan terasa pas jika seorang ibu yang dipanggil mimi, secara fisik memiliki perawakan kecil dan imut. Lha, kalau saya yang gagah perkasa kayak gini dipanggil mimi, peribahasa Jawa pun kembali bergema tanpa ampun: ora ngilo githoke dewe.

Lalu anak artis lain yang panggilannya tak kalah unik adalah Anji. Anak-anak Anji memanggilnya dengan sebutan Manji. Katanya, Manji adalah kependekan dari ‘Om Anji’, panggilan anak-anak Wina kepada Anji yang kala itu belum menikah dengan ibu mereka. Panggilan Manji, untuk Anji yang punya style keren dan nyeni, menjadi masuk-masuk saja.

Akan menjadi kurang pas jika anak dari Entis, Bibit, atau Untung, memanggil ayah mereka dengan perpaduan yang sama seperti Manji, menjadi  Mentis, Mbibit, dan Muntung. Dari rasa bahasa dan kepatutan, wes jan ora mashoook blas!!11!!

Sedikit bergeser dari sebutan untuk bapak dan ibu kandung, panggilan untuk kakek dan nenek pun ada yang unik. Sebut saja Harmoko, mantan menteri penerangan era Orba, yang meminta dipanggil bung agung oleh cucu-cucunya. Alasan Harmoko adalah, ia ingin selalu tampak muda dan hangat.

Lalu ada SBY dan Ibu Ani yang menyebut diri mereka sebagai pepo dan memo untuk cucu-cucu mereka. Ya patut-patut aja sih, jika seorang mantan presiden menyebut dirinya pepo di hadapan para cucu. Mau dipanggil apa saja tetap terasa patut, kok. Ya kan?

Lha sekarang, coba bayangkan jika simbah-simbah yang biasanya duduk nginang di emperan rumah, ngempit jarik, dan nggegem ember kecil tempat membuang dubang, ujug-ujug minta dipanggil memo. Yang ada, satu kelurahan bisa gempar dengan fenomena ini.

Ah, masak gitu aja gempar, sih? Itu kan hak asasi setiap orang tua? Mau dipanggil mak’e, simbok, mamah, bunda, hak masing-masing individu, kan?

Ya memang betul, itu hak asasi setiap orang tua. Sayangnya, sebuah fakta yang tidak bisa dihindari adalah, nyatanya setiap panggilan orang tua itu mewakili karakter, nilai, hingga status sosial tertentu. Yang mana jika sebuah panggilan orang tua keluar dari kepatutan, akan mengundang bahan grenengan.

Setidaknya ini yang pernah terjadi di kampung saya pada 17 tahun silam. Saat di kampung yang mayoritas kalangan bawah itu, hampir semua memanggil orang tua mereka dengan sebutan mak’e dan pak’e atau buk’e dan pak’e. Tiba-tiba ada seorang tukang becak yang meminta anaknya memanggil dirinya dengan sebutan papah.

“Mbok yo eling, tukang becak ki ora usah kakehan gaya. Diceluk bapak wae wes patut. Dadi wong mbok sing pokro!” Demikian gunjingan para ibu di warung sebelah rumah. Seisi kampung dibuat gempar dengan panggilan orang tua “kelas atas” yang tiba-tiba dipakai oleh orang dari “kelas bawah” ini.

Kini 17 tahun berlalu, dan orang kampung mulai banyak yang memakai sebutan papah-mamah. Anak tukang becak tadi menjadi tidak sendiri lagi. Warga pun sudah malas bergunjing lagi. Ia tetap memanggil bapaknya dengan sebutan papah dan ibunya yang buruh umbah-umbah dengan sebutan mamah.

Lalu di tahun 90-an, hadirlah tren panggilan orang tua baru, abi wa ummi. Yang dipanggil abi biasanya adalah papa-papa sholeh berjenggot tipis, dengan muka dingin kayak ubin mushola. Sedangkan ummi mewakili mama-mama berjilbab rapi yang taat menjalankan perintah agama.

Entah apa yang menyebabkan setiap panggilan orang tua mewakili karakter dan kelas tertentu. Barangkali ini soal rasa bahasa juga perasaan tahu diri yang menjadi pertimbangan sebelum menetapkan sebuah panggilan. Dan ndilalah-nya, semua rasa dan unsur kepatutan ini pada akhirnya menjadi sebuah kesepakatan begitu saja.

Bahwa yang pantas dipanggil mama adalah wanita yang berjiwa muda. Panggilan mami mewakili ibu-ibu muda kekinian yang fashionable. Bunda sebutan untuk ibu-ibu yang sederhana dan memiliki hubungan yang dekat dengan anak-anaknya. Lalu Ummi mewakili kalangan agamis, sholehah, teduh, penuh kebajikan, dan doa dalam setiap langkah kakinya.

Mungkin inilah alasan, kenapa saya belum pernah menjumpai ada ibu-ibu gaul yang suka clubbing, pakai tank-top dan jeans ketat, minta dipanggil ummi. Sama tidak masuk akalnya ketika masuk ke Starbucks, seorang ibu muda dengan baju modis, ngempit clutch, dan kacamata hitam merek Fendi bertengger di atas kepalanya. Lalu dari belakang seorang anak kecil menarik-narik ujung bajunya seraya bilang, “Maaaak… Mak’eee… aku juga pengen ngopi, Mak….”

Kandani og, panggilan anak kepada orang tuanya, bukan semata menunjukkan sebuah penghormatan. Melainkan juga mewakili kelas sosial, estitika, dan citra yang ingin ditunjukkan. Iya, kan?

Exit mobile version