Pak Deding Ishak yang baik, terimakasih Bapak telah menyuarakan kegelisahan saya. Pak Deding ngomong di media, PKI ada di belakang penyerangan rumah ibadah di Tolikara. Subhanallah…

Pagi ini saya telat masuk kantor gara-gara bus yang saya tumpangi bannya kempes. Awalnya saya pikir ini kecelakaan biasa. Namun ternyata, teman-teman saya di PKSPiyungan, Pribuminews, dan Intelijen.co.id punya informasi yang luar biasa akurat: kempesnya ban itu disebabkan oleh aksi sabotase antek-antek Musso yang baru pulang dari Rusia membawa politik “Djalan Baru.”

Tentu Bapak sudah paham bahwa PKI adalah tukang onar kambuhan. Kalau Bapak rajin baca buku-buku sejarah PKI yang serius, sejak lahir sampai disembelih di tahun 1965, PKI ini selalu saja bikin resah majikan dan tuan tanah.

Di era ketika nama-nama partai  dan ormas masih bawa embel-embel keningrat-ningratan, kedaerahan, dan keagamaan, PKI sudah lancang mencatut kata ‘Indonesia’ sebelum ‘Indonesia’ itu cool. Bahkan pada tahun 1926, sembilan belas tahun sebelum Indonesia merdeka, mereka sudah berani menggalang pemberontakan buruh melawan pemerintah. Pemerintah siapa? Ya pemerintah Belanda.

Tapi Bapak nggak usah percaya sama sejarawan kampus ecek-ecek macam Cornell yang sempat rajin mengkaji komunisme di Indonesia. Anak-anak Cornell macam Ruth McVey, Rex Mortimer dan Ben Anderson itu siapa sih? Nggak ada apa-apanya dibanding Taufik Ismail yang sudah menulis mahakarya best-sellerKatastrofi Mendunia: Marxisma, Leninisma, Stalinisma, Maoisma, dan Narkoba.” Ben dkk mah cuma sejarawan kelas bulu, apalagi kalau dibandingkan dengan Hafidz Ary, Mahaguru Sejarawan Senior asal Institut Teknologi Bandung, yang hanya bermodal capture-capture berita ala PKS Piyungan, sudah mampu membuktikan bahwa yang berjuang melawan penjajah itu ya cuma gerakan Eslam. Bukan Kresten, bukan Cina, apalagi PKI, yang cocoknya ditulis sebagai antek penjajah dan separatis aja—kira-kira gitulah yang biasanya diomongin mas-mas sejarawan senior ITB itu.

Balik lagi ke bahaya laten PKI, Pak.

Bapak harus mewaspadai manuver PKI yang militan menolak imperialisme di Asia dan Afrika, termasuk pendudukan Israel di Palestina sejak 1948. Kok bisa-bisanya mereka mendahului PKS? Kurang ajar betul! Selama ini, cuma PKS yang konsisten membela nasib saudara-saudara Muslim di Palestina. Kok PKI lancang main klaim? PKI itu kan antek RRC, jadi sudah seharusnya mereka bela asing dan aseng. Lho, tapi kan Palestina di Timur Tengah sana, kurang asing apa coba? PKS juga bela asing dong? Ah, gimana sih. Asing-Aseng itu memang sebutan untuk siapapun yang kafir non-pribumi. Tapi selama mayoritas orang Palestina adalah Muslim, mereka masih saudara. Aseng pun kalau bersedia jadi muallaf, pasti langsung raib keasengannya.

Trus juga, Pak Deding, soal cewek, Bapak harus hati-hati betul dengan PKI. Gara-gara Gerwani, ormas yang dekat dengan PKI, perempuan diusir dari dapur, sumur, dan kasur, diprovokasi untuk mengkhianati fitrah mereka sebagai istri, dipancing untuk berani melawan suami-suami yang tukang kawin.

Tolong cepat-cepat Bapak kasih tahu Felix Siauw yang benci perempuan mandiri itu. Akan jadi bencana finansial buat Akhi Felix jika PKI berdiri lagi, karena buku-buku beliau terancam nggak laku. Bisa-bisa dia terpaksa antri ngiklan bersama saudagar-saudagar sprei di fanpage Jonru.

Saya bilangin ya, Pak. PKI ini sungguh biadab sampai ke jembut-jembutnya. Kok ya mereka tega-teganya memecat kader yang mau kawin lagi? Hati-hati lho, Pak. Kalau Jokowi jadi minta maaf ke orang-orang eks-PKI, lantas PKI berdiri lagi dan ikut pemilu, teman-teman bapak di DPR yang poligami bisa terancam hobinya kedudukannya. Mau ngadu ke OC Kaligis? Nggak usah ngarep deh, Pak, aset-asetnya tentu sudah habis disita, dan orangnya sendiri pasti bakal kelimpungan gara-gara ditinggal 10 bininya.

Oh iya, Pak, kalau PKI bangkit, ini akan jadi pertanda buruk buat DPR. Mereka pasti lebih ngelunjak daripada  KPK. Jauh-jauh hari, Aidit sudah bilang bakal mengganyang Tiga Setan Kota, yang salah duanya adalah kapitalis birokrat dan pejabat korup. Sialan dia. Belagu nggak mempan sogok.

Apabila partainya Aidit berkuasa, sampeyan pasti nggak bakal bisa minta kenaikan tunjangan dana aspirasi. Mosok anggota DPR musti hidup miskin seperti M.H.Lukman?—iya, Lukman anggota DPR asal PKI yang nggak bisa dansa-dansi itu, yang seumur hidup rumahnya ngontrak dan tiap pagi keluarganya cuma dikasih makan telor dibagi tujuh.

Maka benar kesimpulan bahwa PKI adalah ancaman bagi kaum tajir-tujuh-turunan rakyat, dan karena itu membahayakan ketahanan nasional. Ini partai intoleran, Wahabi-nya Soviet, Pak! Mana kenal mereka istilah ‘Komunis Nusantara’? Kalau saja dulu mereka menang, tuan tanah brengsek, perangkat desa korup, tengkulak jahat, tukang peras petani, bandit desa, tukang ijon dan lintah darat pasti disikat.

Bapak ingat kan, sebelum 65, PKI, buruh dan tani nyaris sukses menasionalisasi perkebunan-perkebunan milik londo. Bayangkan, mau jadi apa negara seandainya semua perkara diserahkan ke orang kere yang cuma tau nuntut naik gaji saban satu Mei?

Alhamdulillah ya, Pak, tentara-tentara kita waktu itu sangat waras-cerdik-cendekia-berhiber sehingga sukses besar menikung kebon dan pabrik, lalu membantai menyelamatkan jutaan rakyat.

Asal Bapak tahu saja, saya sendiri punya dendam pribadi ke bangsat-bangsat kuminis ini. Tau nggak sih, Pak, empat tahun lalu saya diputusin pacar saya gara-gara PKI. Saya tidak tahu apa sebab-musabab saya kena talak tiga, tapi saya hakul yakin aktor intelektual di baliknya adalah PKI. Diam-diam mereka membentuk Angkatan Ke-5 untuk mengkudeta hubungan yang susah payah dibangun saya dan pacar—sorry, maksudnya mantan.

Bayangkan, Pak, kalau PKI tidak ada, barangkali anak saya sudah tiga.

Kalau pembantaian 65 tidak terjadi, PKI tidak diberangus, dan Soeharto batal jadi presiden, mungkin kehidupan 241 juta orang Indonesia, termasuk saya dan Bapak, tidak akan seblangsak ini tingkat kecerdasannya.

Yah, untuk mengecam PKI—sebagai dalang semua bencana—memang tidak butuh kecerdasan sih, Pak.

  • Eto

    Sudah kuduga… tulisan hari ini bakal ambyar dan menggelora. keran, eh keren!

  • lala

    siapa menabur angin , maka ia akan menuaii badai, itulah yang diterima PKI,
    terlepas dari adanya konspirasi pihak tertentu untuk membuka sistem ekonomi liberal di Indonesia pasca orde lama.

    • Jonru

      Ancen pki garis keras. Kurang cocok ambek kejawen, ning sopo sing nyono Suharto tibane turunan asing. Eh ‘e’ yo? Dadi sak iki Sing penting sak iki melek ae, gak asing gak arasing utawa araso, SEMUA SKR BISA DAN MAMPU MENJAJAH secara modern. Sing sek gomik sopo? Ayolah

      • lala

        boso jowone ra mudeng aku….

  • Agung Herdiansyah

    Cuma bisa Istighfar baca tulisan ini, semoga PKI gak bikin miskin rakyat (orang kaya 7 turunan) di Negeri ini… Dan semoga nih penulis artikel kembali ke jalan yang diridhoi PKS Piyungan… Amiinn….

    • Jonru

      Woo peyan gak paham rupanya. Baca lagi mas haha, maaf kalau saya salah, saya cuma gak mau krismon 1990 terjadi lagi. Emank enak mas?

  • Semleho

    ulasan seperti ini yang selalu ditunggu-tunggu penuh greget…

  • ngepot

    Tabik saya buat windu jusuf

  • obang warouw

    wakakakkakakaka asuu!!!pasti karena matrealist dialektis dan historis malem minggu ini aku dirumah aja nda punya pacar ! konspirasi zionis – pks – trotsky !!!!

  • kuamfret! hahaha!

  • Kompasianis

    Paragraf ke-2 -> Ngibul

    PKI sudah lancang
    mencatut kata ‘Indonesia’ sebelum ‘Indonesia’ itu cool -> Yang duluan Muhammad Hatta, om (Indonesische Vereeniging)

    mereka sudah berani menggalang pemberontakan buruh melawan pemerintah. Pemerintah siapa? Ya pemerintah Belanda -> Next, pemerintah Indonesia

    Bapak harus mewaspadai manuver PKI yang militan menolak imperialisme di
    Asia dan Afrika, termasuk pendudukan Israel di Palestina sejak 1948. -> Keluarga bos mafia Taiwan Lee Chao-hsiung menyumbang Rp 17,5 miliar
    kepada kelompok penyandang cacat dan keluarga tak mampu serta beberapa
    organisasi keagamaan

    Lho, tapi kan Palestina di Timur Tengah sana, kurang asing apa coba? PKS juga bela asing dong? -> Bela rakyat lain di negara mereka sendiri kok dibilang bela asing, ya bela pribumi sanalah

    perempuan diusir dari dapur, sumur, dan kasur, diprovokasi untuk mengkhianati fitrah mereka sebagai istri -> setuju beginian mau dibilang pinter?

    Saya bilangin ya, Pak. PKI ini sungguh biadab sampai ke jembut-jembutnya. -> ngoceh kayak begini kok mau merasa tafsiran agamanya paling bener

    Kok ya mereka tega-teganya memecat kader yang mau kawin lagi? – >Cerai dengan Istri, Presiden Putin Digosipkan Selingkuh dengan Pesenam

    Jauh-jauh hari, Aidit sudah bilang bakal mengganyang Tiga Setan Kota, yang salah duanya adalah kapitalis birokrat dan pejabat korup. Sialan dia. Belagu nggak mempan sogok. -> Tapi ringan untuk membunuh

    Kalau saja dulu mereka menang, tuan tanah brengsek, perangkat desa
    korup, tengkulak jahat, tukang peras petani, bandit desa, tukang ijon
    dan lintah darat pasti disikat -> PASTI? Kkkkk…

    Asal Bapak tahu saja, saya sendiri punya dendam pribadi ke
    bangsat-bangsat kuminis ini. Tau nggak sih, Pak, empat tahun lalu saya
    diputusin pacar saya gara-gara PKI? Saya tidak tahu apa sebab-musabab
    saya kena talak tiga, tapi saya hakul yakin aktor intelektual di
    baliknya adalah PKI. Diam-diam mereka membentuk Angkatan Ke-5 untuk
    mengkudeta hubungan yang susah payah dibangun saya dan pacar—sorry,
    maksudnya mantan. -> Ngibul bin lebay

    Kalau pembantaian 65 tidak terjadi, PKI tidak diberangus, dan Soeharto
    batal jadi presiden, mungkin kehidupan 241 juta orang Indonesia,
    termasuk saya dan Bapak, tidak akan seblangsak ini tingkat
    kecerdasannya. -> menjudge bahwa saat ini 241 juta orang Indonesia blangsak

    Masih ngerasa pinter, nyong?

    • pepsicola

      1. maksud penulis, ‘mencatut’ indonesia sebagai partai politik. jadi partai politik pertama yang menggunakan embel2 indonesia.
      2. Putin bukan anggota PKI kan? bahkan apakah Putin masih kuminis?
      3. Aidit ringan untuk membunuh? serius antum fitnah kalau bilang dia ringan untuk membunuh
      4. Ngapain ana mbalas komen beginian

      • Kompasianis

        Gak liat ada tulisan ORMAS, om?

        Btw, fanatik kok sama penulis artikel beginian.

        • Andi

          Sudahlah kawan2 PKI, terima saja kenyataan yang sdh menjadi nasib dan takdir, kalau akibat perbuatan orang tua, leluhur kalian, sehingga sejarah harus membuat anda tidak punya tempat di negeri ini, sebagai mana menjadikan para jendral pejuang revolusi tidak bisa tinggal di dunia ini yang dibunuh secara keji oleh pendahulu kalian.

      • Jonru

        Wedus iku ga iso di rasio ambek pikiran nogo. Cman bisa liat rumput didepan mata, ga kroso dikandangi utawa nang jobo. Bela wong asing nang negoro asing kok diomong bela pribumi sono. Lha subject e iki lo sing ndi? Btw omah dewe gung genah kok. Sing penting sakikimu kepriben ancet longor utowo tangi soko mimpi urip penak cowo penak.?? Ngerti pora hayooo

    • Wah, mas kompasianis ini keren sekali, niat banget matahin semua paragraf demi paragraf dari tulisan mas Windu… sayang, beraninya cuma pake nama anonim…

      • Kompasianis

        Elo fanatikus Gus Dur, kan? Dewa ente itu antisimbol lho.

    • Tangguh Chairil

      Bapak Kompasianis yang terhormat, Taiwan itu bukan negara komunis, melainkan republik demokratis. Ia dibentuk oleh pemerintahan Republik China yang nasionalis setelah digusur oleh Partai Komunis China yang berhasil menguasai China pasca-berakhirnya perang sipil pada 1949. Jadi saya nggak paham kenapa mafia Taiwan diungkit-ungkit dalam artikel tentang komunis. Apalagi, dikaitkan dengan hal penolakan PKI terhadap imperialisme di Asia dan Afrika.

      Selain itu, Presiden Rusia Vladimir Putin bukan komunis. Ia memang bergabung dengan Partai Komunis Soviet semasa di universitas karena pada era Soviet, satu-satunya partai di Soviet adalah Partai Komunis. Namun, ia bukan seorang ideolog komunis, bahkan pada 1999 ia menyebut komunisme sebagai hal yang “buntu, jauh dari arus utama peradaban” (lihat di http://www.newyorker.com/magazine/2014/08/11/watching-eclipse). Filsuf favorit Putin adalah Ivan Ilyin yang anti-komunis (lihat di http://russia-insider.com/en/2015/01/10/2308). Putin bahkan menyebut Vladimir Lenin, bapaknya komunis Rusia yang memimpin Revolusi Bolshevik, sebagai pengkhianat (lihat di http://www.newyorker.com/news/news-desk/putin-disses-lenin). Partai politik Putin sekarang, United Russia, berhaluan konservatisme Rusia dan di pemilu Rusia berlawanan dengan Partai Komunis Rusia. Jadi kalau Putin suka selingkuh, saya pikir tidak ada kaitannya sama komunis, apalagi PKI.

      Mohon maaf jika ada kesalahan dalam komentar saya yang blangsak ini. Terima kasih.

    • Binawan Utama

      you have an ego-problem brother, ketika bahasa satire bisa menembus pucuk emosi anda, disitu sebenernya anda merasa tersindir, grow up

      • Kompasianis

        Tau drmn gw tersindir gara2 gaya bahasanya. Meminjam tuduhan org2 sipilis: “Anda playing God ya?”. Gaya bahasa bgituan mah pernah gw pake, cuy. Makanya gw blg ngebosenin. Apa bedanya sama politisi yg suka muter2, naik hrg dibilang penyesuaian lah.

        Oiy, klo mnurut Anda gw tersindir gara2 1 artikel ini, coba tujukan “grow up” itu pada si empunya artikel yg mungkin panik kebakaran jenggot hanya krn 1 istilah:
        BAHAYA LATEN KOMUNIS!

        • hde226868

          Bahayanya seperti yang ditulis di artikel atas itu ya mase?

  • Uzumaky

    Artikel ngaco….
    tulisan terlalu fulgar
    sekolah lagi mamen jangan main corat coret…
    artikel kagak berguna.

    • Kompasianis

      Artikel sampah dibalut gaya bahasa ngebosenin

      • Layoeng

        Kalau yg ini komen sampah wkwk
        Kalau memang pinter dan bnyak referensi bacaannya bikin artikel balasan..,
        Buang sampah pada tempatnya mas ?

        • ray

          Setuju. Buatlah artikel yang mengkritik artikel ini.
          Kalau anda tidak setuju akan artikel ini, buat artikel balasan dengan sumber2 mumpuni.
          Begitulah cara cek and ricek dalam dunia pengetahuan berjalan.
          Identitas tidak jelas, mengkomen sebuah artikel sampah dgn komentar sampah.
          Ambil sebuah kalimat dari artikel ini, lalu dikomen semaunya.
          Enak bener hidup lu!
          Lanjutkan mas windu.
          Saya hanya kurang mengerti maksud mas ketika membandingkan ‘sejarawan cornel’ dgn ‘taufik ismail’
          Dan mungkin karena saya juga belum membaca buku t.ismail yang dimaksud

          • Kompasianis

            Sblm komen, baca dulu om komen gw yg laen sebelumnya. Oiya kalo artikel cara bgabung dgn teroris & cara mudah bikin bom, perlu dibikin tandingannya gak? Eh, langsung disensor & diblock aja ya. Kkk…

          • Tangguh Chairil

            Sepertinya Bung Ray ini sudah baca komentar Bapak Kompasianis yang lain, soalnya Bung Ray menulis: “Identitas tidak jelas, mengkomen sebuah artikel sampah dgn komentar sampah. Ambil sebuah kalimat dari artikel ini, lalu dikomen semaunya.” Itu kan yang Bapak Kompasianis tulis di komentar yang lain itu?

      • yohan arie

        Kalau terguncang, pegangan mas e.

    • Aunurrahman Wibisono

      Sekolah lagi biar tahu kalau yang bener itu “vulgar”, bukan “fulgar”.

  • pengamat cuaca

    Shulololo

  • PW

    Ngakaak puooooool!!!!!
    Afu tenan tulisanne iki!
    Pedes menggelitik bikin ketagihan!
    Wajib dishare! Biar semua orang tau apa PKI!

    • Kompasianis

      Biar semua orang jadi bego, maksud loe?

      • PW

        iya mas

  • pepsicola

    kaum kominis internasionalis lah yang penyebab agnes monica gagal go internasional.

  • Andreas Bagus Wijaya

    Duh, mas windu .. Ternyata artikel-mu bisa dijadiin tes kesehatan jiwa mas(kecerdasan mungkin), yang “galak(jiwanya terganggu)” dan yang isi kepalanya sebesar “biji” tupai, paling cuma bakal sewot dan ngumpat. Mungkin beliyo lupa, kalo nggak sepakat.. Bikin dong artikel/tulisan “tandingan”..
    (Oopss terlalu vulgar..tjerdas!! )

  • Jono joni

    Belajar lagi yg pinter mas bro tanya pakar 2 sejarah kompeten …baru
    loe buat ocehan ..kasihan rakyat yg ga tau sejarah malah kmu bikin bodoh
    …(maksudku biar kamu tambah sedikit pinter dari sekarang)..

    • Jonru

      Wooo koplak. Pikiran ojo cekak. Jelas 2 org itu salah 2 nya saja. Lan ojo males mas. Diselidiki sendiri. Rakyat sampai dibodohi ya krn musuh2 pki itu yg membodohi melalui buku2 pelajaran yg sudah di setting dan larangan ini itu. Rakyat sampai ga tau sejarah, salah sopo jajal? Emank digae ngono. Ben gunung2 emas e ga ono Sing eruh. Mikir seng dowo kang, anda bisa lebih Makmur bila tidak ada krisis ekonomi 1990an. Jajali goro2 sopo iku? Mikir

    • no body

      ngerasa ngerti sejarah? belajar dari siapa, masbro?
      coba baca http://www.kaskus.co.id/show_post/555482ef9e740413118b456a/86/- dan semoga logika cemerlang anda mampu mencerna nya.
      dan coba anda lihat fakta ‘fitnah’ PKI tentang DEWAN JENDRAL yang akan mengkudeta Soekarno, pada akhirnya terjadi ato tidak?
      apa ngga liat keadaan Indonesia, dengan cadangan tembaga & emasnya, di taun 1965 itu sama dengan keadaan Iraq, dengan cadangan minyaknya, di taun 2003?

  • Indra Jhr

    Ijin share mas biar pada melek otaknya

  • Dion Saputro

    wuasuuuuu nusuk =))

  • lala

    hari gini masih ngomongin pki, kayak kembali mundur ke setengah abad lalu, jaman perang dingin, komunis VS kapitalis,
    padahal musuh bangsa Indonesia bukan lagi ide komunis pki yang sudah usang, tetapi kapitalis USA, kapitalis China, Kapitalis Rusia dan sejenisnya. kalau mau bikin satire, saran saya yang sedikit up to date lah, biar gak kudet!

    • hde226868

      Itu rangorang yg pada ngomongin agomo juga kebanyakan tentang hal-hal di masa silam, kudet gitu, tapi tetep ok

      • lala

        men sana in corporisano, ane ngomong ke sana , ente ngomong kesono, gak nyambung

        • hde226868

          Nek gak nyambung yo rasah ditanggepi, gitu aja kok repot ☕️

          • lala

            hahaha, woles mas brooo

          • hde226868

            Wes rausum woles, sak iki sing lg usum ‘xenofobia reaksioner sosial media’ ?

          • lala

            opo kui?

          • ami udin

            lala lili lulu lele lolo… persidenmu itu pernah ngomong jasmerah, lah ya kalo gak pake jas merah lala lili lulu lele lolo gak bakal jadi zigot terus brojol ke dunya toh?? weleh weleh weleh…

          • lala

            weleh weleh,komene ora nyambung babar blas, alias ngoyoworo

  • Blinger

    PKI bukan faham komunis RUSIA,. Melainkan komunis ala cang ato sm USA

  • Anonymous

    Ini satir buat carut marut pemerintahan kita, atau poses provokasi masyarakat (tanam kembali mindset”bejat PKI)?

  • Agus Candra Triyadi

    Apa urusannya aset OCK disita?

  • Adnan Putra

    ngehoy wakakkakakaka

  • ami udin

    kemenis itu ibarat gorengan siang bolong, tetep renyah kalo ada keledai bawa minyak jelantah!

  • akim

    pateng greges mocone.ambbyarrr,hahaha,raakeh wong cerdas njlimet koy

    o maswindu

  • Pengen ketawa aja hehehehe seru-seru baca disini …

  • Gara-gara PKI… Muncullah problema bikini-lingerie-gstring Puteri Indonesia di jagat Miss Universe….
    Hahahaha

  • Doni Ahmadi

    hahaha, tulisan ngawur. banyak2 baca sejarah mas, jangan gampang terprovokasi. ciri-ciri orang bodoh itu yang berpikir lewat satu kacamata. macam mas ini. main-main ke perpustakaan nasional mas, ke gedung arsip nasional juga, ke perpustakaan UI atau UNJ juga. banyak-banyak diskusi sejarah. hahaha. saya sedih kenapa tulisan ini dimuat.

  • imron

    PKI adalah masalalu, masa yang penuh dengan tragedi, biasanya tragedi yang berlangsung di negeri Komunis pasti membawa korban ribuan, puluhan ribu bahkan jutaan seperti revolusi Oktober di Russia, kemenangan Mao di China, Viet Nam, Kambodja, Cuba dan Korut serta seluruh satelit satelit Russia, sayang gagal di Indonesia, mulai tahun 1926, 1945 -1948 seterusnya terakhir 1965 melalui korban yang cukup banyak di kalangan rakyat anti Komunis, …… gagal atau kalah perang risikonya jelas…. namanya saja perang. Sekarang ke depan, penggalian masa lalu oleh simpatisan komunis termasuk mereka yang tidak tahu, boleh boleh saja sebagai pelajaran baik lawan mau kawan, agar tak begitu lagi, yang menang jadi arang yang kalah jadi abu alias rakyat Indonesia juga yang menderita, yang salah siapa….. setan kali.

No more articles