Barang siapa angkat jempol untuk anjuran Menteri Agama Lukman Saifuddin, maka mereka adalah orang-orang yang kebablasan menggunakan alasan-alasan seperti “HAM, kesetaraan, kebebasan, dan omong kosong lainnya…” Dan karena tidak punya argumen substantif, “senjata mereka memang hanya itu: kebebasan.” Demikian kata Tere Liye, penulis novel itu, yang argumennya berputar-putar antara agama vs logika dan tradisi vs kebebasan.

Yang luar biasa, bagi Tere, kebebasan dan hak untuk hidup adalah “omong kosong.” Nggak usah cengeng, ulangi kata-kata tadi: Omong Kosong. Lebih lengkap, Anda bisa baca sanggahan bliyo atas pernyataan Pak Lukman—bahwa yang tidak wajib puasa juga harus dihormati—di sini.

Tere Liye alias Darwis ini mungkin surplus kebebasan, sudah bosan dengan kebebasan, sehingga menurut bliyo, kebebasan itu turah-turah, kebablasen.  Tiba-tiba saja saya ingin menganjurkan remaja-remaja tanggung yang masih dilarang orangtuanya pulang malam agar meminta kebebasan ke Om Darwis. Dan ingin sekali saya menampar satu per satu pengungsi Syiah agar jangan terus-terusan protes, karena sebetulnya mereka bisa meminta kebebasan beribadah ke Pak Darwis.

Darwis lupa bahwa bagi banyak minoritas di Indonesia, kebebasan adalah barang mewah. Bahkan orang bisa mati atau dipenjara demi kebebasan berkeyakinan dan berekspresi. Selama Ahmadiyyah dilarang beribadah dan masih saja dianggap warga negara kelas kambing, maka tidak ada kebebasan yang kebablasan. Selama menjadi Syiah di Indonesia tidak aman, maka kebebasan itu cuma milik akun Twitter @hafidz_ary, yang saya saja tidak tahu apakah akun itu dikendalikan manusia, cyborg pribumi, atau alien perawan—yang jelas bukan ‘asing dan aseng.’

Sebenarnya sih, Tere ada benarnya: ada lho kebebasan yang kebablasan dan tidak bertanggungjawab itu. Para makelar kebencian bebas menggeruduk masjid-masjid Ahmadiyyah dan ‘gereja-gereja liar.’ FPI bebas menggeruduk acara-acara yang diselenggarakan bekas tapol 65, kendati acaranya cuma arisan dan besuk orang sakit. Pemilik perusahaan bebas memecat pekerjanya sebelum lebaran agar tak usah boros membayar THR. Dan akhirnya, tentara bebas menembak orang Papua dan menjebloskan mereka ke bui setiap harinya.

Saya jelas heran, mereka yang mengklaim bahwa kebebasan di negeri ini sudah kebablasan justru memonopoli kebebasan itu sendiri. Barangkali, kalau kita ingin ‘bebas tapi bertanggungjawab’, ‘bebas tapi sopan,’ dan ‘bebas tapi tidak kebablasan,’ kita harus menyerahkan kebebasan kita pada Hafidz Ary, FPI, dan tentara. Apa sebabnya? Karena cuma mereka yang paham cara mengatur kebebasan agar tidak meluber ke sana-sini. Minimal, kita angkat saja mereka jadi ‘konsultan kebebasan,’ karena selama ini praktis itulah yang mereka lakukan.

Tapi saya yakin Tere Liye tidak begitu. Saya percaya, Darwis adalah pribadi yang baik dan mengkilap. Buktinya, hingga hari ini kita masih bisa bebas untuk tidak membaca novel-novel bliyo.

Lalu Tere berbicara tentang tradisi vs logika. Luar biasa, 125.000 tahun sejak manusia menemukan api, 900 tahun setelah nama Ibnu Sina harum dengan karya-karyanya di bidang logika, filsafat, astronomi, dan kedokteran, dan 638 tahun setelah Ibnu Khaldun merampungkan Muqadimmah yang memetakan sejarah dunia, Tere masih meributkan ‘rasionalitas yang kebablasan’. Khas yang dilakukan orang Eropa Abad Pertengahan di saat para ilmuwan Muslim sibuk menerjemahkan Aristoteles dan menyelamatkan karya-karya para pemikir kafir Yunani!

Alam pikir Tere sungguh-sungguh retro. Saya kenal beberapa anak yang menggemari musik, film, dan pakaian retro, misalnya anak-anak Ruangrupa yang absurdnya tingkat dewa itu. Tapi biar begitu, retro-nya mereka pun maksimal balik ke tahun 1950-an. Retro-nya Bung Tere sangat orisinil karena kembali ke Abad Pertengahan. Beliau benar-benar antik nan otentik—haru saya.

(Oh iya, Bung Tere, bulan ini sedang ada pameran OKVIDEO Ruangrupa di Galeri Nasional. Datanglah ke sana. Siapa tahu tahun depan Anda tertarik ikut berpameran.)

Oke, kembali ke laptop: tradisi.

Puasa adalah tradisi yang sudah lama berlangsung sehingga patut dihormati, sementara logika ada batasnya.  Usia tradisi sudah sangat panjang, tidak sebanding dengan logika manusia zaman sekarang yang berumur rata-rata 60 tahun. Demikian menurut Tere. Perintah agama dan tradisi tidak usah dinalar. Itu kan kebenaran absolut. Jangan dipertanyakan. Bisa kualat kamu.

Tapi Tere lupa bahwa semua tradisi yang buruk juga bisa berusia lanjut, lebih tua dari manusia manapun. Usia tradisi poligami, menikahi gadis di bawah umur, menyunat perempuan, juga jauh lebih tua, misalnya, daripada usia Jeralean Talley, mbah-mbah berusia 115 tahun asal Michigan, manusia tertua yang masih hidup. Usia tradisi jual-beli manusia juga lebih tua daripada prinsip-prinsip dasar Hak Asasi Manusia yang mengkriminalisasi perbudakan. Usia tradisi mengubur hidup-hidup bayi perempuan pun lebih tua dari Islam—bahkan disucikan oleh masyarakat tertentu.  Pertanyaannya adalah, manusia macam apa yang masih mengikuti tradisi-tradisi keblinger macam itu? Ada, tapi bukan saya—tentu juga bukan Kak Darwis.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa puasa itu tradisi yang buruk. Jauh dari itu; ia tradisi yang baik lagi mulia. Saya hanya mengatakan, ada tradisi yang baik, ada tradisi yang buruk. Tapi sebelum jauh-jauh ngomong tradisi keblinger mana yang perlu ditinggalkan, mungkin Tere bisa menunjukkan kepada kita semua yang keblinger ini, bukti-bukti historis dan antropologis bahwa tradisi ‘minta dihormati karena puasa’ di Indonesia itu lebih tua dari peradaban yang paling kuno di dunia.

Saya pangling, bulan Ramadan yang disucikan dan dimuliakan oleh jutaan orang ini, dalam praktiknya di Indonesia cuma jadi terapi tahunan saja, jadi program anger management belaka.

Seperti yang sudah-sudah, ketika Anda dilarang marah saat puasa, silakan kemarahan Anda dicurahkan terhadap Ahmadiyyah dan Lia Eden. Anda murka luar biasa karena kemacetan Jakarta akan bikin Anda terlambat buka puasa di rumah? Serobotlah troroar—pejalan kaki itu bangsat bener sih, sungguh tidak menghormati puasa Anda! Anda tidak sabar menahan hasrat belanja? Sabar, karena pesta diskon gede-gedean rutin digelar menjelang Lebaran. Anda dilarang pamer selama puasa? Nanti pas mudik ke kampung halaman, Anda boleh pamer kesuksesan (dan jodoh) kok.

  • Ahmad Farid

    Babi. Benar juga ya… 🙂

  • Bonitha Merlina

    Saya yang berpuasa sangat menghormati Ibu saya yang harus membatalkan puasanya karena sakit, harus punya asupan makanan yang banyak untuk mempertahankan daya tahan tubuh nya.

    Saya menghormati beliau dengan cara mengantarnya ke rumah makan, membantunya memesan makanan, dan tersenyum sambil melihatnya makan.

    Rasa-rasanya ini penghormatan yang kebablasen ya 🙂

  • smurfin

    dgn pemikiran abad pertengahannya beliyaw mmg VINTAGE

  • Puasa adalah tradisi?

  • PW

    Bener juga ya. Bener banget ini. Dari kemaren baca tulisan bliyo Tere Liye ni emang rasanya ada yg salah gitu. Janggal. Bikin gatel pengen napuki tp ga bisa.
    Terimakasih sudah bikin tulisan ini.

  • Chandra Agusta

    Seandainya saya WNI yang beragama Kristen, atau Konghucu, atau Majusi, atau apapunlah yang minoritas yang tidak menjalankan puasa, saya akan menghormati puasanya orang orang Muslim.

    Namun karena saya Muslim, maka saya berpuasa, tentunya tidak untuk minta dihormati siapapun.

    Salam

  • anonymus

    Artikelnya terlalu argumentatif.

    • sirotobi

      Dalam berargumentasi, kita boleh mempertahankan pendapat, tetapi juga harus mempertimbangkan pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapat kita.

  • Komisariat Urusan Jodoh

    Ciee, masih aja curcol soal jodoh, Ndu.

  • Hasan Hasan

    Hoaaemmm… ngantuk bacanya. Monoton. Muter2. Nggak jelas. Ngomongin apa sih ini?

  • abubakrsaleh ba’syir

    semakin besar kita menghormati seseorang, semakin besar pahala kita. tidak ada pahala untuk orang yang dihormati. mau pilih mna??

  • avivalyla

    tulisan yang sekedar mbulet …

  • Fandy Al-Qassam

    .

    Terkadang ada saja seseorang atau kelompok yang merasa jauh lebih tau tentang agama daripada ulama.

    #miris

  • lala

    jaman sekarang, ada pihak yang keblabasen dalam menggunakan kebebasan. dan sering kali mereka tidak sadar atau tidak mau disadarkan. inilah indikasi orang mulai keracunan neoliberalisme.

  • Bambang Tedja

    Bung windu ini sok tahu soal puasa..semuanya bersifat opini subjektif, berprasangka belaka. klo pun puasa bisa jd anger management bukankah itu bagus?..lebaran? Lah wong namanya hari raya. Hari dimana org merayakan, bergembira ria, setahun sekali jg berbelanja kadang bukan utk diri sendiri tp utk sanak saudara. Mosok ya g boleh. Mosok ya pelit terus sepanjang tahun.. Mosok mudik buat pamer kesedihan dan kesusahan…Utk urusan nyerobot trotoar, sy bilang itu kegagalan sistim pendidikan kita. Gagal mencerdaskan bangsa. Lah wong siapa saja bisa jd guru. Kok jd urusan puasa?

  • Haris Hamdani

    saran : Untuk tipikal artikel yang counter-argument, bisa minta link artikel yg dicounter? Ga nemu artikel Darwis yang dibahas..

  • Eto

    Selalu nyenengke membaca tulisan mas Windu..

  • @pawjipaw

    Bisa-bisanya nyinyir sama Tere Liye karena ‘cuma’ nulis masalah hormat-menghormati di bulan puasa, sampe2 dibandingin sama Ibnu Sina yang jadi ilmuwan hebat. Buat penulis: gak ngaca?

  • Saman Semaun

    wedewww… julukan retronya dalem dan makjleb

  • Puti

    Ngebahas apa sih?
    Hehehehe ini guanya yg geblek atau penulisnya yg kebablasan ber opini eh kebBlasan nulisnya
    Jadi lari kesana kemari.
    Dear penulis yg baik dan semoga jauh dari kekhilafan, mungkin penulis mulai lapar, buka gih! ^_^

No more articles