Di antara purnawirawan jenderal yang masih hidup hari ini, barangkali Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu adalah satu dari segelintir perwira militer yang paling filosofis.

“Ideologi Pancasila ini merupakan satu-satunya Ideologi dunia yang berbasiskan Filsafat Idealisme,” kata Pak Menhan di acara KAMABA UI 2017. Menurut Pak Ryamizard, ideologi Pancasila sedang terancam oleh ideologi berbasis materialisme, misalnya “ideologi liberalisme, komunisme, sosialisme dan radikalime agama.”

Tidak ada keterangan detail soal materialisme belio maksud. Boleh jadi yang maksudnya adalah materialisme dalam arti yang sering dikampanyekan secara negatif oleh para moralis: suka duit, foya-foya, tanah bejibun, tidak peduli orang miskin, dan seterusnya. Atau mungkin juga materialisme filosofis ala abad 18 yang mengajarkan bahwa di balik materi dan cerapan inderawi, tidak ada apa-apa—tidak ada Tuhan, ruh, jin, setan, demit, dan implikasinya juga tidak ada (((hantu komunis))).

Tapi karena dia mempertentangkan “materialisme” dengan “idealisme”, kita asumsikan saja dia sedang bicara filsafat.

Sayangnya, itu pun masih samar. Saya meraba-raba materialisme mana yang dia maksud: materialisme klasik abad 18, materialisme dialektis, ataukah materialisme-di-Alexis?

Saya tidak ingin membahas lebih jauh soal materialisme ini. Jika sang jenderal bermaksud merujuk pada “komunisme dan sosialisme” belaka, ada baiknya dia membaca uraian Ustadz Dede Mulyanto yang sangat terang menjelaskan apa itu materialisme dalam “Materialisme dan Kepak Sayap Malaikat”.

Kalau setelah itu belio tetap bersikeras memasukkan radikalisme agama segerbong dengan komunisme, nah, saya angkat tangan.

Sependek ingatan saya, filsuf yang paling sering dikutip tentara Indonesia adalah “filsuf perang” dan ahli strategi militer Carl von Clausewitz, itu pun hanya satu kalimat: “Perang adalah kelanjutan dari politik dengan cara lain” yang terus dipakai untuk membenarkan Dwifungsi ABRI, sehingga seolah-olah politik menjadi “kelanjutan dari perang dengan cara lain”.

BACA JUGA:  Agar Umat Islam Tak Lagi Galak dengan Kuminis

Itu saja sudah ganjil, karena Clausewitz mendudukkan militer sebagai instrumen politik nasional alih-alih sebaliknya yang dipraktikkan dalam Dwifungsi ABRI.

Ketika Clausewitz menulis On War (1832), contoh yang ada di kepalanya adalah balatentara model baru yang tunduk di bawah otoritas negara dan kini diterima sebagai praktik yang sangat konvensional (nyaris tiap negara pasti punya tentara, kan?). Pada masa Napoleon, model ini bertolak belakang dengan tradisi militer para raja yang mengandalkan pasukan raja-raja kecil atau tentara bayaran.

Filsuf lain yang juga dikutip tentara adalah Aristoteles.

Dalam konferensi pers acara “Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI”, seorang wartawan bertanya kepada Kiki Syahnakrie apa bedanya komunisme, Marxisme, Leninisme, dan kenapa mereka jadi ateis.

Letjen Kiki Syahnakri menjawab: “Kalau Anda benar-benar baca Marxis, jelas-jelas kok itu ateis … Sekarang Marxis dari mana? Dia dapat materialisme dialektika dari mana? Itu kan dari Aristoteles. Jadi Marxis itu Aristoteles … dia [Aristoteles] percaya bahwa alam semesta jadi dengan sendirinya, baru kemudian berdialektika, menimbulkan ide-ide. Jadi jelas dong itu ateisme, tidak percaya dengan adanya Tuhan.”

Simposium yang dihadiri Kiki Syahnakri juga mengundang ormas-ormas Islamis seperti FPI, Forum Umat Islam, dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang (((semestinya))) bisa membisikkan ke Pak Jenderal bahwa kemajuan peradaban Islam dalam sains berabad-abad lalu dimulai dari penerjemahan Aristoteles dari bahasa Yunani ke bahasa Arab oleh para pemikir muslim.

Tapi kelihatannya harapan saya terlalu jauh.

Ketika diadili pada 2014, Abu Bakar Baasyir mengecam demokrasi dengan alasan bahwa demokrasi “lahir semata-mata dari akal orang-orang kafir, sama sekali tidak berlandaskan wahyu dari Allah Ta’ala.” Salah satu orang kafir yang disebutkan Baasyir adalah Aristoteles. Orang-orang Yunani itu, kata Baasyir, tidak memeluk Islam dan tidak menyembah Allah SWT.

BACA JUGA:  Horor Bela Negara

Dahsyat, kan?

Di Eropa, tiap zaman selalu melahirkan sosok “Master-Philosopher” yang menjadi titik tolak para filsuf hingga beberapa generasi setelahnya. Tradisi filsafat kontinental abad 19 terbentuk melalui komentar-komentar atas Kant. Filsafat kontinental pasca-Perang Dunia II adalah dialog panjang dengan karya-karya Heidegger, yang isinya persetujuan, pengembangan gagasan, atau malah sanggahan—tapi ya itu, pijakannya tetap Heidegger, eksplisit maupun implisit.

Syahnakri-Baasyir School of Anti-Aristotelian Philosophy menggali ilham dari bukan dari filsuf masa kini atau satu dasawarsa lalu, tapi dari zaman yang jauh lebih kuno. Mereka menobatkan Aristoteles sebagai sosok sentral dalam filsafat kontemporer, yang akan terus mereka sanggah minimal 1-2 dekade ke depan.

Bukan berarti mahzab Anti-Aristotelian Aristotelian Club itu ketinggalan zaman atau mereka malas memperbaharui bacaan. Lazimnya anak-anak zaman sekarang, mungkin saja mereka sekadar suka hal-hal berbau vintage.

Berita baiknya: militer kita ternyata menyimpan segudang bakat. Kita punya jenderal-penyair (Pak Gatot, misalnya) atau jenderal-musisi (Pak Susilo) atau lebih klasik lagi, prajurit-sejarawan (Nugroho Notosusanto).

Kita boleh nantikan lahirnya kopral-pelukis, sersan-ekonom, letnan-biolog hingga jenderal-ginekolog. Profes terakhir ini nyaris ada pada era kepemimpinan Jenderal Moeldoko, yang bersikeras memberlakukan tes keperawanan bagi perempuan yang ingin jadi prajurit TNI.

Ini peringatan keras untuk pemerintah: rencana sertifikasi profesi seperti sejarawan dan seniman mohon dibatalkan saja. Karena di masa depan, militerisasi profesi adalah koentji.

Komentar
Add Friend
No more articles