Ketika mahasiswa dan mahasiswi turun ke jalan meneriakkan “Selamatkan pribumi,” saya hanya bisa cekikikan sambil mengenang Beni Satryo. Bukan, dia bukan bagian dari barisan pendemo yang keblinger itu. Beni justru adalah antitesis mereka. Anda mungkin tidak kenal siapa dia. Tapi Bung dan Nona, percayalah, karena orang seperti Benilah A.A. Navis batal menulis Robohnya Kampus Kami, sekuel dari kumpulan cerpennya yang terkenal itu.

Beni tamat dari jurusan Filsafat UGM sekitar 2014 lalu, setelah berbulan-bulan nyaris patah arang menyelesaikan skripsinya, setelah bertahun-tahun mengalami cobaan moral yang tak terhingga: diombang-ambingkan oleh seorang gadis. Perawakannya ceking, wajahnya ditimpa kacamata besar. Dia hapal di luar kepala lagu-lagu Iwan Fals. Hal-hal ini—ditambah lagi seringnya ia menginap di kampus—membuat dia mirip mahasiswa 1980an.

Beni mungkin bukan aktivis kampus yang gemar teriak-teriak, bukan macan podium, bukan pula tipikal organiser yang turun ke buruh dan tani. Memang bukan itu ketertarikannya. Dia lebih suka menulis sajak. Seorang diri dia berusaha menghidupkan kembali Pijar, pers fakultas yang bereputasi gahar di zaman Soeharto namun sempat lama melempem. Seorang diri.

Di tengah kesulitan hidup, Beni juga sempat membuat puisi pesanan. Jika para penulis puisi-esai malu-malu kucing mengakui telah menerima bayaran dari Denny J.A, Beni justru tak segan-segan menerima pesanan haiku via twitter. Saya lupa berapa tarifnya, mungkin seharga beberapa batang rokok. Yang jelas, dia mengingatkan saya pada sesosok penyair di pinggir Sungai Seine yang menawari jasa penulisan puisi kepada Jesse dan Celine dalam film Before Sunrise demi beberapa sen.

Tapi bukannya Beni tak mengakar. Dia tahu benar siapa basis massanya: mahasiswa—wabil khusus, mahasiswi—yang ditinggalkan atau yang tidak puas dengan dosen-dosen yang konon tak maksimal kerjanya dan lebih suka mroyek.

Jangan salah, Beni paham satu hal: ia sadar betul bila generasinya, juga generasi saya, melakukan hal-hal yang boleh jadi politis namun paling benci dibilang politis. Di era Beni, hingga sekarang bahkan, aktivitas mahasiswa itu paling pol kalau bukan bikin proyek startup dan training enterpreneurship,  ya ujung-ujungnya memupuk modal politik buat masa depan, entah itu untuk masuk parpol besar atau jadi staf ahli di DPR. Pilihan lain: bikin acara-acara dengan tema “Membuktikan Kesesatan Syiah”. Makanya, orang yang masih mengatakan ‘kiri itu seksi’ layak dicambuk karena tidak menceburkan mukanya ke kubangan kenyataan. Di UGM dan di banyak kampus negeri hari ini, yang seksi itu adalah memaki Ahmadiyah dan menghujat ‘Syiah bukan Islam’—tentu selain ikut acara generik gagah-gagahan alakonferensi pemuda global dan sejenisnya.

BACA JUGA:  Betapa Enaknya Jadi Pribumi

Tapi bagi Beni, yang penting pertama-tama bukanlah bahwa mahasiswa harus berpolitik praktis, turun ke jalan, harus memenuhi panggilan moral sebagai “Agen Perubahan”, atau melakukan aksi apapun seturut panduan dan perintah alumni. Dalam hal protes, saya mungkin tak terlalu sepakat dengan cara bliyo. Tapi yang saya salut dari Beni: gerak-geriknya seolah menunjukkan bahwa kampus akan mati begitu saja apabila tidak diisi oleh kegiatan-kegiatan kultural yang menyenangkan dan murah-meriah buat mahasiswa kebanyakan. Yang penting bagi Beni, orang bisa berpartisipasi seluas-luasnya dalam kehidupan kolektif di kampus—istilah kerennya, aktivitas-aktivitas di luar ‘pasar dan negara’. Mau diisi obrolan politik, budaya, putus cinta, silakan—Beni akan akan berusaha menyediakan kesempatan untuk itu.

Demikianlah, Beni menginspirasi orang untuk menciptakan ruang-ruang alternatif: radio, terbitan berisi TTS, pemutaran film, dan yang tak kalah penting, pameran.

Suatu hari, awal Januari 2013, bliyo uring-uringan mengurusi Pameran Patah Hati. Ini kali keduanya bliyo menjadi kurator dari pameran yang diinisiasinya sendiri. Pameran pertama terbilang sukses. Tercatat ratusan orang mendaftarkan barang-barang memorabilia mantan. Namun untuk pameran kali ini Beni harus memutar otak. Pasalnya, sedikit sekali karya yang masuk sampai-sampai saya—yangwaktu itu tinggal di sebelah kamarnya—dimintainya tolong menyerahkan memorabilia mantan.

Karena satu dan lain hal, saya kesulitan mengakses barang-barang yang bisa dijadikan memorabilia. Walhasil, saya harus membuat replikanya. Akibatnya fatal. Saya mengerjakannya sambil baper sehingga usaha keras setahun move on tiba-tiba gagal seketika. Saat itu saya langsung kepikiran balikan. Replika saya waktu itu… ah sudahlah, lain kali saja saya ceritakan.

Tapi pameran itu lagi-lagi berhasil. Tidak hanya dalam jumlah karya yang terkumpul. Pameran Patah Hati  tidak hanya menunjukkan bahwa semua orang bisa jadi seniman (dan patah hati itu lintas iman), tapi juga yang lebih penting dari itu, Pameran Patah Hati membuktikan kebenaran sebaris kalimat Marx dan Engels dalam Manifesto Komunis: “All that is solid melts into air”, atau “segala yang utuh bisa jadi mantan.”

BACA JUGA:  Anies dan Kartu-Kartu Politik yang Hidup Kembali

Patah hati, demikian pameran itu berkisah, adalah bencana kemanusiaan sepanjang zaman dan lintas generasi yang patut diakui efek destruktifnya; korbannya harus sesegera mungkin diadvokasi, kalau perlu disuruh ikut trauma healing. Bung dan Nona, ini tidak main-main. Dalam pameran Beni, bahkan ada seorang gadis yang mengiriminya surat hutang. Si Gadis itu ternyata pacaran dengan seorang laki-laki yang sudah menikah dan beranak satu. Buruknya lagi, si laki-laki berhutang puluhan juta rupiah ke keluarga si gadis.

Jika mahasiswa-mahasiswa yang bertopeng Guy Fawkes pada 21 Mei 2015 itu mengidap inferiority complex sebagai “pribumi” lantas ingin menggebuk “asing dan aseng” dengan koar-koar “Selamatkan Pribumi atau revolusi”, Beni sebaliknya. Bliyo jenis mahasiswa yang tidak akan bersedia berjalan di depan atau di belakangmu. Dia ingin berjalan di sampingmu. Setara.

No more articles