Sebuah masjid di Papua terbakar di hari Idul Fitri. Versi ceritanya lebih dari satu. Ada yang bilang, masjid itu dibakar oleh sebuah jemaat Kristen yang intoleran. Yang lain bilang, api berasal dari pasar, lalu merembet ke masjid. Wapres bilang, ini gara-gara speaker. Ada juga yang bilang, ini gara-gara tentara. Yang jelas kasus ini butuh diselidiki lebih lanjut.

Kita boleh waspada tapi jangan gegabah. Apalagi kita tidak sedang di Tolikara, daerah terpencil yang sulit ditempuh dari kota-kota utama.

Lalu seorang Hafidz Ary berkicau di linimasa: “Jika muslim di jakarta atau jawa minoritas, pembakaran masjid ya terjadi juga di sini,” dan “Umat Islam sudah begitu tolerannya, Indonesia jd negara dg gereja terbanyak di dunia, yg didapat? masjid dibakar.”

Sisanya adalah cuitan-cuitan lain yang kepingin membimbing umat ke “jalan surgawi”, “jalan syuhada.”

Pernyataan-pernyataan Akhi Hafidz jelas kacau. Di Jawa, Muslim bolehlah mayoritas. Di Timur belum tentu—dan tentu itu bukan alasan untuk merusak masjid.

Jika benar masjid itu sengaja dibakar, pastilah para perusak masjid itu memiliki alur berpikir yang sama dengan Hafidz: “Kami di Timur sudah kasih toleransi yang besar terhadap Muslim, tapi …. bla bla bla bla.” Dua cara pandang ini adalah dua sisi dari koin yang sama. Sama-sama bermasalah. Sama-sama memperkeruh suasana.

Begini ya, Dik Hafidz. Rajin-rajinlahlah bergaul dan jalan-jalan. Antum akan temukan bahwa Muslim minoritas yang antum bela itu sebelas-duabelas nasibnya dengan Ahmadiyyah—yang penutupan masjid-masjidnya antum dukung. Antum juga akan berjumpa dengan Hafidz Ary versi Kristen, Hafidz Ary versi Hindu, versi Buddha, versi Yahudi, dan buanyak lagi.

Antum tahu Ashin Wirathu kan, biksu Myanmar yang meneror Muslim Rohingya itu? Nah, andaikata antum pindah ke agama Buddha, dan transmigrasi ke Myanmar, mungkin antum bakal gabung sama beliau.

Makanya antum nggak usah GR, deh. Spesies kayak antum itu nggak unik. Ada di hampir semua agama. Sama-sama nyebahi, sama-sama belum lurus kencingnya.

Daripada ngompor-ngomporin orang sambil mensyen-mensyen Pak Lukman Saifuddin, dan nyuruh beliau action, Dik Hafidz baiknya refleksi diri: yang terjadi pada masjid di Papua itu persis seperti yang menimpa banyak tempat ibadah lain di Jawa, entah itu gereja atau masjid orang Islam yang beda aliran, dari Ahmadiyyah sampai Syiah.

BACA JUGA:  Berubah itu Gak Segampang Teriakan Kotaro Minami, Mblo

“Lho tapi kan mereka melecehkan agama Islam, agama mayoritas!” gugat antum.

Akhi Hafidz ini gimana sih. Antum kira yang dilecehkan cuma Islam? Terus, selama ini antum ngapain kalau nggak melecehkan agama orang? Memangnya cuma agama yang bisa dilecehkan? Coba main-main ke Kendeng, lihat bagaimana aparat melecehkan ibu-ibu yang memprotes perampasan tanah.

Lagian juga, apa Dik Hafidz ini tiap hari nggak melecehkan pekerjaan mertua, yang di Lebanon jadi pelayan Jokowi—presiden yang antum bilang thaghut itu?

Ya ane nggak suka-suka banget sih sama Jokowi, juga nggak benci-benci amat. Biasa aja. Tapi minimal ane kan nggak punya mertua pejabat, atau jenderal, apalagi dubes di Lebanon. Boro-boro punya mertua, laku aja kagak.

Oh iya, Dik Hafidz pernah angkat senjata di daerah konflik? Di Ambon, orang-orang yang lelah berperang malah sibuk meretas jalan damai. Mending antum samperin orang-orang MUI cabang Ambon yang turut merajut rekonsiliasi. Mereka paham, dari pihak Muslim maupun Kristen, ribuan nyawa terbuang sia-sia, anak-anak tidak bisa sekolah, para pemuda menganggur. Mereka paham bahwa kedua kubu dipanas-panasi, dipasok duit dan senjata oleh orang-orang kaya di Jakarta.

Nah, antum kira perang itu cuma soal kehormatan. Antum pikir perang cuma urusan melindungi “Muslim yang tertindas”? Hih.

Memang gampang membelokkan isu politik di Papua menjadi isu agama. Begitu muncul kabar masjid terbakar, antum langsung ngetwit, “Teroris kristen harus ditindak tegas , apalagi jika ada kaitan dg separatisme. “…harus diwaspadai, ulah gereja di Papua dalam agenda separatisme. Muslim harus jaga NKRI, kalo bukan kita siapa lagi?”

Dik Hafidz, gerakan kemerdekaan Papua tidak ada hubungannya dengan agama. Orang di sana menuntut merdeka karena berpuluh-puluh tahun tanahnya dirampas korporasi-korporasi bajingan dan ditindas tentara—iya, tentara yang dulu juga membantai muslim di Tanjung Priok dan Talangsari.

BACA JUGA:  Di Hari Raya Ini, Maukah Kamu Jadi Anakku?

Coba Dik Hafidz tanya kenapa aparat keamanan di sana terus bertambah, dan orang-orang Papua—mau Eslam atau Kresten—tetap saja terbunuh sia-sia. Coba telisik kenapa militer ngotot kodam-kodam baru didirikan, sementara orang Papua makin habis diberantas. Jarang ada yang angkat bicara di isu ini, lho. Dari orang-orang beriman yang rindu surga macam antum sampe yang cinta duniawi, rata-rata adem-ayem aja tuh.

Pernah dengar kasus tentara tembak mati beberapa remaja di Paniai? Apa? nggak pernah?

Di Medsos itu, Dik Hafidz, banyak informasi bertebaran. Sebagian besar noise. Tapi tidak sedikit juga yang betul-betul berguna, meskipun tertutupi oleh noise seperti cuitan-cuitan antum. Apa Dik Hafidz mau, disangka teroris gara-gara twit-twit nggak mutu? Saya sih berharap tidak, karena saya pun paling anti mencap orang lain teroris. Plus, Dik Hafidz ini kan konon lulusan cemerlang ITB. Sebagai lulusan ITB dan kebanggaan mertua,  carilah pekerjaan yang benar, Akhi.

Mosok alumni ITB cuma jago ngetwit nggak mutu. Kalo ditanya sumber faktanya dari mana, trus Antum akan jawab dari capture-capture berita Arrahmah, VOA-Islam,  PKSpiyungan, Nahimunkar, Pribuminews, gitu?

Dik Hafidz, seandainya ane dulu dosen antum, jawaban-jawaban seperti itu bukan hanya bisa bikin antum dapat nilai F. Ane bahkan akan merekomendasikan supaya antum diospek lagi.

Dik Hafidz, tingkah lakumu yang pecicilan itu, alih-alih membantu minoritas muslim Papua, justru hanya membangun kesan bahwa antum itu telat bandel dan masa remajamu tidak bahagia. Sejauh ini, antum cuma mengesankan diri sekadar sebagai remaja alay yang baru bisa naik motor dan pengen kebut-kebutan biar dibilang jantan.

Mungkin Dik Hafidz perlu gabung klub bela diri. Selain bisa menyalurkan masa puber yang belum tuntas, antum juga bisa jauh lebih sehat jasmani rohani.

Ya sudah, Dik Hafidz. Nggak usah mewek gitu lah. Saya mau bobo dulu. Antum juga istirahat ya. Rehatlah sejenak dari twitter. Besok mertua antum menghadap presiden. Halal Bi Halal. Temani beliau. Jangan lupa pakai batik lagi, dan senyumlah selebar ketika mertua antum ketiban rejeki.

No more articles