Di dunia ini cuma segelintir dwitunggal yang layak diperhitungkan: Soekarno-Hatta, Bonny and Clyde, Marx dan Engels, Fidel dan Che, Lenin dan Trotsky, Raul Lemos dan Krisdayanti, Gigi dan Raffi Ahmad. Kang Emil dan Uni Fahira, insya Allah, akan segera menyusul daftar dynamic duo di atas!

Kang Emil dan Uni Fahira adalah wujud sempurna dari perpaduan Iptek dan Imtak. Sebagai arsitek sekolahan, kebijakan-kebijakan Kang Emil di Bandung selama ini berdiri di atas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi; sebagai promotor #AntiSmoking, #AntiMiras, dan #AntiWaras, dan #Anti2lainnya, Uni Fahira senantiasa berkiblat pada Iman danTakwa.

Jangan salah, Uni Fahira adalah seorang senator yang sangat media-savvy, melek teknologi, sampai-sampai masjid di Cipete yang terancam digusur saja tak luput dari pantauannya selama di Papua.

Kita pun ingat besarnya perhatian Kang Emil terhadap kemerosotan akhlak di kalangan pemuda-pemudi. Selain menerapkan jam malam di Bandung agar para remaja labil menjauhi zina, Kang Emil juga menutupi semua batang tubuh pohon dengan sarung. Sebab, selama masih bisa bernapas dan berkembang biak, sebuah pohon adalah mahluk hidup dan semua mahluk hidup ditakdirkan punya aurat!

Seandainya sudah bulat tekad kita untuk menghijrahkan Jakarta yang jahilliyyah menuju Jakarta Kota Madani, Kang emil dan Uni Fahira adalah pilihan yang paling logis. Krimimil-kriminil seperti begal, rampok, pemerkosa, pengedar narkoba, semuanya bisa ditumpas apabila Petrus diaktifkan lagi. Betapa bangganya saya jika besok-besok Kang Emil dan Uni Fahira kampanye keliling Jakarta dengan slogan “God, Guns, and Government.”

Begal merajalela? Tembak di tempat. Jualan miras di jalanan? Didor saja. Ada muda-mudi hehoh di taman kota? Tinggal dikasih pilihan, mau direkam atau ditembak!

BACA JUGA:  Harapan Besar untuk Pasangan Ridwan Kamil-Fahira Idris

Satpol PP juga harus dipersenjatai, dikasih bedil, dilatih menembak preman. Dan Uni Fahira bukan orang sembarangan untuk itu. Dia dikaruniai bakat alam yang luar biasa: berburu. Dia anggota Perbakin. Dia bisa memberikan suri tauladan yang baik bagi satpol PP untuk bertindak lebih tegas.

Dengan adanya jam malam di Jakarta, kemaksiatan pasti akan lenyap. Aktivis-aktivis liberal itu harus tahu bahwa akar dari segala kebatilan di Jakarta adalah keluyuran malam-malam. Laki-laki memperkosa karena sering keluar malam dan lihat yang nggak-nggak. Perempuan diperkosa karena sering keluar malam dan berpakaian yang iya-iya.

Maka sudah saatnya kehidupan seluruh warga Jakarta dikembalikan ke keluarga. Pengawasan keluarga menghindari anak-anak dari pornografi, paedofilia dan pelecehan seksual. Lha, kalau istri diperkosa suami atau anak diperkosa bapaknya gimana? Ah, itu kan sedang kalap khilaf saja.

Untuk Uni Fahira, tak usahlah malu-malu seandainya dipinang jadi pasangan Kang Emil saat pilkada nanti. Beliau ini sungguh-sungguh reinkarnasi Sukarno untuk abad 21. Hanya saja Sukarno tidak pernah menerapkan jam malam, dan itulah kekeliruan beliau. Coba PJM Sukarno dulu memberlakukan jam malam. Sudah pasti di tahun 1965 dulu pasukan Soeharto dan Nasution gampang dipukul mundur!

Djam Malam adalah Koentji!

Krisis politik ala Sukarno ini jelas patut diantisipasi Kang Emil dan Uni Fahira, karena ketiadaan miras, rokok, dan hal-hal yang maksiat pasti akan bikin populasi Jakarta stres dan gampang sekali memicu ketidakpuasan. Ini ancaman bagi popularitas Kang Emil dan Uni Fahira.

Tapi jangan kuatir. Pada masa-masa transisi, Kang Emil dan Uni Fahira bisa menggandeng Ary Ginanjar agar agresivitas warga Jakarta dapat tersalur lewat tangisan massal. Kalau tidak berhasil, you boleh kontak Arifin Ilham, supaya orang yang tadinya marah-marah mendadak berzikir sambil meraung-raung.

BACA JUGA:  Meminta Data Pengunjung dan Rekaman CCTV Hotel Alexis Dibuka

Kalaupun cara ini tidak juga mempan, Kang Emil dan Uni Fahira bisa mensponsori Sahur on the Road setiap harinya. Lho, kata siapa puasa cuma bulan Ramadan? Bulan lainnya kan tetap bisa, meskipun tidak wajib. Dengan demikian, SOTR bisa terselenggara setiap subuh dan tawuran antar alay pun akan menjadi ajang pelepas penat yang efektif.

Kalau preman-preman itu masih saja berkeliaran, ada baiknya juga Kang Emil dan Uni Fahira mengikuti jejak Pak Gamawan Fauzi yang di zaman SBY mengatakan bahwa FPI adalah mitra polisi. Gandenglah mereka, berilah mereka sorban dan seragam.

Karena pada hakikatnya, preman-preman Jakarta adalah FPI yang tertunda, cikal-bakal FBR, atau tunas masa depan Pemuda Pancasila.

No more articles