Puasa lancar, Uni?

Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat, twit berantai Uni Fahira Idris—merespons penutupan jalan masuk ke sebuah masjid di Cipete—dengan tagar #GazaInJakarta jadi hits. Hebatnya lagi, twit-twit Uni di-share ratusan kali, meskipun waktu itu Uni tidak sedang berada di Cipete, tapi di Papua.

Memang bangsat itu Pemprov kafir. Orang mau beribadah kok dihalangi. Itu lihat, bocah-bocah sudah kebelet ngaji, tapi kok masih dihalangi kawat berduri.

Banyak anak dan ibu-ibu yang harus loncat tembok demi beribadah ke mesjid. Mereka “dihalangi oleh kawat berduri” yang dipasang oleh PT. FIM Jasa Ekatama, di sekitar masjid tersebut. Tidak ada jalan menuju masjid, demikian sari dari twit Uni, sehingga kondisi masjid tersebut sama dengan wilayah Gaza di Palestina yang dikepung dinding bikinan Israel.

“Banyak bocah sering jatuh dari tembok tinggi dan berlapis duri hanya karena ingin mengaji … Penutupan yang biadab dan pihak pemerintah hanya netral,” begitu twit Uni, disertai foto-foto heroik anak-anak kecil di samping pagar beling dan gawat berduri.

Beberapa lama kemudian, muncul sanggahan dari Relawan Ahok. Ternyata ada jalan kecil menuju masjid. Ternyata Pemprov juga sudah memediasi masalah ini. Dan ternyata pula, foto-foto heroik yang mulus itu memang cuma pose polesan belaka. Bahkan dikabarkan langsung oleh pengurus masjid, bahwa Ahok—yang berada di Jakarta, bukan jauh di Papua—sudah turun langsung ke lapangan jauh-jauh hari.

Karena sudah menyebarkan informasi palsu, Uni baiknya minta maaf secara terbuka ke Ahok. Kecuali Uni berpendapat bahwa berlaku tidak adil terhadap orang kafir itu diperbolehkan. Tapi saya berprasangka baik kok sama Uni. Selain suka berburu, Uni kan rajin tabayyun—mungkin kali ini Uni sedang lelah saja.

BACA JUGA:  Fanatik Buta atau Mendukung dengan Waras

Uni Fahira pasti paham, ini masalah sengketa lahan antara warga kampung dengan pebisnis. Kebetulan saja ada masjid di situ.

Tapi Uni tetap bisa menyelamatkan kampanye #GazaInJakarta, kok. Pasalnya, terlepas dari sengketa di Cipete, masalah yang mirip juga terjadi di mana-mana, bahkan lebih gawat, lebih ruwet. Pelakunya korporasi, atau keluarga pejabat, keraton, tentara, atau semuanya sekaligus.

Dari zaman Kedung Ombo sampai Rembang, dari era Talangsari sampai sampai Alastlogo, orang benar-benar mati untuk mempertahankan tanahnya supaya tidak dicaplok. Karena itu ada baiknya Uni membuat hashtag #GazaInRembang atau #GazaInUrutSewu.

Lho, kata siapa Palestina itu cuma urusan orang Islam? Uni ingat Gereja Yasmin yang sekian tahun dikerjain sehingga tak pernah buka? Di Ramallah, Gereja Katolik bersolidaritas untuk Jemaat GKI Yasmin. Itu gereja asal Palestina lho, tanah yang selalu dibela mati-matian oleh Bro Hafidz Ary dan Uni sendiri. Makanya, Uni, jangan asal ngomong. Penganalogian sebuah masjid di Cipete dengan Gaza juga menuntut konsistensi moral yang lebih jauh.

Mungkin Uni ada benarnya juga: Jakarta adalah Gaza. Makanya saya tidak pernah sepakat dengan tagar #unipu. Wong sampeyan memang nggak tipu-tipu kok. Tapi saya ulangi, jika Uni yakin Jakarta adalah Gaza, maka itu tidak hanya berlaku untuk mesjid di Cipete.

Untuk perkara perbaikan birokrasi dan transportasi publik, saya bersimpati dan mendukung Ahok, tapi tidak untuk kebijakannya yang gusur-sana-gusur-sini. Dalam hal ini, dia bisa saja sama dengan gubernur-gubernur Jakarta sebelumnya: memakmurkan yang kaya dan menginjak yang sudah miskin.

Nah, sebagai anggota DPD asal Jakarta, apakah Uni pernah menolak penggusuran?

Mungkin orang seperti Uni hanya peduli menggusur bir dari rak-rak supermarket, tapi tidak peduli penggusuran pemukiman kumuh—apalagi menjelang Lebaran. Uni barangkali peduli dengan kegiatan Sahur on the Road, tapi tidak dengan buruh-buruh kota yang 11 bulan di luar Ramadan secara harfiah ‘sahur’ di jalan menuju tempat kerja—bahkan kadang mereka tidak sahur sama sekali. Mungkin Uni peduli dengan para karyawan Ace Hardware yang (lagi-lagi) menurut sepengetahuan Uni ‘dipaksa’ membersihkan gereja, tapi tidak peduli ketika para buruh kontrak digusur dari pabrik-pabrik supaya para bos tak usah repot bayar THR.

BACA JUGA:  Tommy Soeharto, Reklamasi, dan Koran Tempo

Dear Uni Fahira,

Orang kere Jakarta—kayak  saya ini—jelas lebih peduli makan terjamin, rumah tidak digusur, dan THR turun tepat waktu, ketimbang mikirin besok bisa minum bir atau tidak. Wajar toh, orang seperti saya kan tidak lahir dengan sendok perak, nggak pernah jadi anak menteri.

Jakarta adalah Gaza, dan Uni hanya peduli masjid yang menurut Uni akan disingkirkan. Cerdas betul.

Nah, setelah Uni tahu ada banyak warga ibukota yang saban tahun tergusur seperti warga Arab—yang tidak semuanya Muslim—di Palestina, ada baiknya Uni juga mengabarkan bahwa ada pula ‘Israel-Israel’ kecil yang giat melakukan penggusuran di Jakarta menjelang Lebaran—dan mereka bukan Yahudi.

Ya kalau besok-besok masih ngetwit yang gitu-gitu aja sih, itu artinya Uni sungguh-sungguh tahan banting dan konsisten. Konsisten untuk nggak mutu.

No more articles