Homoseksualitas dilarang agama  

Pertanyaannya: tafsiran agama menurut siapa?

Lha itu, muslim di Perancis pada dukung hak-hak LGBT kok—dan mayoritas mereka adalah straight. Ini muslim di Perancis, lho, yang sering diberitakan media-media ahlul fitnah di sini sebagai korban sekularisme gara-gara nggak boleh pake jilbab di muka publik.

Selain itu, sebetulnya yang dikecam di zaman Nabi Luth itu apanya? Perilaku seksualnya atau orientasi seksualnya? Sodominya atau homoseksualitasnya?

Begini. Di abad-abad lalu, yang dimaksud sodomi tidak saja meliputi seks anal. Sodomi, menurut Undang-Undang di banyak negara Eropa, meliputi aktivitas-aktivitas seksual yang tidak pro-kreasi, alias tidak menghasilkan keturunan. Artinya, seks oral pun masuk kategori sodomi. Penekanannya ada pada “pro-kreasi”. Kalau definisi itu berlaku, maka seluruh aktivitas seks yang tidak bertujuan bikin anak—baik yang dilakukan berpasangan maupun sendirian—adalah haram.

Ya memang susah sih ngomong sama generasi didikan Felix Siauw. Diajak berpikir historis dikit, langsung buka kitab suci. Ditanya imajinasi masa depan, malah ngomongin tanda-tanda kiamat.

Argumen saintifik bahwa “Tidak ada spesies yang gay” atau sebaliknya, “Gay itu genetis”

Sejak 1990, Bung dan Nona, status homoseksualitas sebagai gangguan jiwa sudah dihapus dari daftar Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi II tahun 1983 (PPDGJ II) dan PPDGJ III (1993) yang dirilis oleh Departemen Kesehatan.

Kalau Anda butuh fakta saintifik, cukup itu saja dulu patokannya. Perdebatan genetis itu tidak lagi relevan di sini, khususnya jika perkembangan teknologi sudah sedemikian maju sampai-sampai gen seluruh spesies bisa diutak-atik.

Persoalannya, apa hak untuk hidup itu harus didukung pengetahuan genetis? Orang straight juga bisa punya cacat fisik maupun mental karena faktor gen, tapi siapa yang menghalangi hak mereka untuk hidup? Ada sih. Namanya Hitler.

Dan kalaupun seseorang jadi gay lantaran faktor genetis, seorang yang homofobik tetap saja demen koar-koar: “Sini gue obrak-abrik gen janin lo, biar kagak jadi gay!”

Perkawinan sesama jenis mempertinggi risiko HIV/AIDS

HIV/AIDS tidak ada hubungannya dengan urusan orientasi seksual dan moral. HIV/AIDS itu ditularkan lewat cairan tubuh, khususnya darah dan sperma.

Di Kabupaten Batang baru-baru ini, 564 perempuan terindikasi HIV/AIDS dan 90 persen berjilbab. Ini ibu-ibu rumah tangga baik-baik yang ketularan suaminya yang nggak pake kondom ketika jajan.  Penekanannya adalah “tidak pakai kondom.”

Nah, Bung dan Nona, tolong kasih tahu anggota DPRD Bengkulu yang idiot itu—yang mau mencegah peredaran AIDS dengan melarang penjualan kondom kecuali untuk pasutri: Itu sama saja dengan melarang penjualan helm supaya orang nggak kebut-kebutan.

Gay selalu menggoda anak saya

Urusan goda-menggoda ini sebetulnya perkara yang gampang dijadikan praduga.

Mungkin karena kebanyakan orang menyamakan identitas luaran gay dengan bencong pengamen—yang memang suka menggoda penonton yang mereka hibur di tenda-tenda pecel lele. Well, dalam praktiknya, semua pengamen/penghibur, laki-perempuan, bencong-nggak-bencong, homo-hetero, semua suka godain pentonton, toh?

Tapi begini. Jumlah pemaksaan seksual yang dilakukan oleh om-om terhadap gadis-gadis di bawah umur itu jauh lebih besar, lebih umum diketahui publik ketimbang pemaksaan sesama jenis. Kalau mau lihat pemaksaan yang sesama jenis, nggak usah jauh-jauh. Baiknya Anda cek lembaga-lembaga keagamaan, mulai dari pesantren hingga gereja, yang mengatur pemisahan ruang-ruang hidup berdasarkan jenis kelamin.

Pun, seandainya banyak kasus seperti itu, yang bermasalah adalah perilaku seksual yang memaksa, bukan orientasi seksualnya. Kalau mau memaksa aja sih, nggak usah bersusah payah jadi Dede Oetomo yang berani coming out sejak ’80-an itu; jadi Sitok pun beres.

Lagipula, apakah menjadi gay sama dengan menggoda kaum hetero untuk jadi homo? Yang lebih sering terjadi justru sebaliknya: LGBT bukan cuma digoda, bahkan dipaksa untuk jadi hetero.

Amerika melegalkan pernikahan sesama jenis, maka gay di Indonesia adalah antek Amerika.

Argumen ini baru sahih kalau Anda berguru pada Ratna Sarumpaet yang skill penalarannya luar biasa absurd.

Mungkin Anda akan terkejut ketika mengetahui bahwa Lenin mencabut undang-undang yang mengkriminalisasi hubungan sejenis di Rusia. Nah lho, gay juga antek komunis?

Jadi gay di zaman Perang Dingin juga susah. Di tahun 1950-an, pegawai negeri Amerika yang ketahuan gay bisa dipecat, bahkan dituduh komunis. Sementara setelah Lenin wafat, di Rusia pun sami mawon. Salah satu cara Stalin menjatuhkan lawan-lawan politiknya adalah dengan menuduh mereka gay. Dan di Kuba, era 1960-an, gay dicap “agen imperialisme Barat.”

Amerika baru bisa ramah LGBT setidaknya dari era Clinton, sementara Rusia sejak zaman Yeltsin, dan Kuba sejak putri Raul Castro terlibat dalam aktivisme pro-LGBT.

Mau di Amerika, Belanda, Palestina, sampai indonesia, pengakuan atas hak-hak hidup homo adalah hasil dari perjuangan akar rumput kaum LGBT—yang juga didukung jutaan kaum hetero selama bertahun-tahun.

Gay itu cuma bisa senang-senang, pesta-pesta, nggak bertanggungjawab dan karena itu nggak bisa menikah.

Lho, kata siapa? Bahkan ada banyak penemu, pemikir, seniman LGBT: Leonardo Da Vinci biseks, David Bowie biseks, Oscar Wilde gay, Benedict Anderson gay. Tentu ada juga yang sebrengsek Dukun AS dan Syekh Puji. Intinya, homo itu tidak lebih baik dan tidak lebih buruk dari hetero.

Nah, sebelum Anda komen, ingatlah bahwa salah seorang yang berkontribusi besar atas perkembangan sains komputer modern adalah Alan Turing—yang diadili dan dikebiri pemerintah Inggris hanya karena dia gay. Oh iya, dia nggak suka pesta-pesta.

Soal menikah, kalau Anda yakin pernikahan adalah bukti seseorang mampu mengemban tanggungjawab, ya harusnya Anda setuju dengan pernikahan sesama jenis dong. Kenapa? Ya supaya kelompok LGBT bisa merasakan penderitaan hidup berumahtangga seperti kita-kita orang hetero kapiran ini, biar nggak cuma pesta-pesta seperti yang Anda kira.

Saya sih percaya, legalisasi pernikahan sesama jenis di Indonesia bukannya mustahil. Mungkin saja, tapi entah kapan. Masalahnya, jangankan menerima, untuk membicarakan LGBT tanpa prasangka pun kita masih bingung caranya. Wong sebelahan sama teman cowok sekelas yang rada kemayu aja kita agak risih; dielus pipi sama bencong Wates yang beredar tiap jam 6 pagi di kereta Jakarta-Yogya masih kebirit-birit.

Untuk konteks Indonesia, mengakui hak kaum yang orientasi seksualnya berbeda, menurut saya, sementara ini jauh lebih mendesak ketimbang meributkan pernikahan sesama jenis. Bahkan untuk itu saja, cara kita berdebat masih irit nalar.

  • Dommy Makati

    Juragan air mata.

  • sheetaaulya

    semuanya dimulai dr orientasi dan melanjut pada prilaku…
    yang menjadi masalah ketika perilaku itu dilegalkan dan dianggap biasa demi “kemanusiaan”..

    kemanusiaan yang kebablasan saya pikir…

    • Missy

      Ga kebablasan kalo anda menganggap gay itu manusia juga. Orang-orang jaman dulu kalo ada yg kulitnya warna item dipikir bisa dijadiin budak atau malah dibunuh. Karena kulit item ga dianggep manusia. Bedanya dgn hal ini apa mba?

      • sheetaaulya

        memang manusia, bedanya mereka manusia yang tidak memanusiakan dirinya… sudah kodratnya manusia berpasang-pasangan, berkeluarga/beranak pinak…
        sekarang, apa bisa mereka beranak pinak tanpa ibu/ayah pengganti?? g bisa kan, itu namanya menyalahi kodrat…
        seharusnya, kitalah yang mengingatkan mereka agar kembali ke kodratnya, bukan justru mendukungnya sehingga mereka semakin dalam terjerumus dalam prilaku yg tdk memanusiakan dirinya sendiri…

  • debu negara

    Mas Windu sepertinya sudah lama ngga naik kereta, bencong wates di kereta Jakarta-Jogja jam 6 pagi udah nggak ada mas haha

    • Dewi Pinatih

      heheheheh saya baru mau tanya soal ni, itu mas/mbak bencong masih beredar tha? yg suka pae wig ala marylin moroe itu kan…

    • Oni Suryaman

      Yang wer-ewer-ewer-ewer…… Udah gak ada mas, pasca sterilisasi kereta api dari pengamen, pengemis dan penjual.

  • Yasmin Purba

    Setelah kemarin sempat terhenyak dan mengerenyit oleh tulisan satunya lagi yang mencemooh para pendukung pernikahan sejenis, akhirnya ada juga tulisan yang bersahabat dengan akal sehat seperti ini di Mojok.com 🙂

    • idrus wandi

      Ma’af tolong jelasin yang dimaksud tulisan yang bersahabat dengan akal sehat atas legowonya pernikahan sejenis. Aku atau nte yg gak waras? Ya Allah semoga hamba (saya)-Mu selalu di jalan yg lurus. Amin.

  • Muchsin Simatupang

    Lalu supaya gak sia-sia dan setelah pembaca dimarah2i, sebaiknya berilah kami jalan yang lurus seperti yang kau yakini, LGBT menurutmu itu opo? 🙂

  • Prawira Wardhana

    Membodohkan manusia.
    Gk logis, gk ada sumber, gk sesuai akidah.
    Saya mau tanya yg nulis LGBT kah?

    • puntodamar

      anda pemalas?

    • Saka Asa

      yang begini biasanya nganggep iluminati dikit aja yahudi, lantai catur dikit pemuja setan :v

    • sambalteri

      emangnya hanya LGBT yg boleh dukung LGBT? Cuma orang utan yg boleh ngedukung konservasi orang utan? Kurang sesendok ini kayanya…

  • vonny

    tipikal orang indonesia, kalau ada yg mendukung homo lgsg dicap homo, emg para pendukung hak hewan jg termasuk hewan ? Org Indonesia harus belajar memperluas sudut pandang dlm melihay suatu masalah, sudut pandangnya selalu AKU AKU AKU, pernah ga sik kalian membayangkan ada berada di posisi mereka. Kalau ga bisa yasudah, hidup kalian akan selalu dipenuhi prasangka dan kebencian. Belajar berempati dgn melihat dr sudut pandang yg luas.

    • Emang sekarang sudut pandang lau berapa derajat gan? Yang jadi masalah kita kan tinggal di negara, negara ada aturan, aturan harus dipatuhi, lau cuap cuap lebarin sudut pandang, makanya gw tanya sudut pandang lau berapa derajat, lintang, bujur berapa? Wk.

      • stu. ur joke is lame. pid

  • msgundam

    sewa mesin diesel ke wahyono diesel saja http://www.wahyonodiesel.com/

  • memanusiakan manusia 🙂

    • Ono

      membinatangkan manusia

  • dream theater

    Kematian warga kota Pompei terjadi seketika karena tidak mengambil pelajaran dari pengalaman mengerikan kaum-kaum terdahulu.

    • Sisca

      Emg knp dgn kematian warga Pompei? Apa yg lo tau soal itu? sini jabarin!

    • Country Cat
    • qwerty

      Miris banget, karena letusan gunung merapi di jadikan arti sebagai azab dari tuhan. Hahah iya bener sih karena tuhan yg kendaliin dunia :v

  • Ono

  • ade

    Saya gay, dan saya tidak mendukung adanya pernikahan sejenis; saya hanya melihat-lihat. Tidak ada yang namanya pernikahan seperti itu. Karena pernikahan bertujuan untuk memiliki keturunan. Kecuali kalau mau membuat orang tua kalian kena serangan jantung dan di permalukan di masyarakat. Indonesia bukan Amerika.

    • vyn kay

      Saya salut sama anda bung. Saya bukan penyuka sesama jenis. Saya jg bukan “straight people” yg ingin menikah. Pokoknya saya mendapat semacam titik cerak berkat anda yg mengaku gay dan kemudian dalam kalimat selajutnya bertuliskan “karena menikah bertujuan untuk menghasilkan keturunan”.

      • BlackOut

        saya straight dan saya mendukung adanya pernikahan sejenis di amerika sana 🙂

    • OjoDumeh

      salut! hidup kok cuma mikirin kebahagiaan diri sendiri. yg gedein anak tuh siapa? udah lupa bahwa orang tua berjuang utk membesarkan anak dan mereka juga perlu dibalas budinya? mbok ya sadar dikit, memangnya kalau udah total terjun di dunia gay lalu hepi? eling mas.. eliiiing..

    • Wkwk faggot yang jujur. Terus apa usaha anda untuk membersihkan LGBT dari Indonesia?

  • nnnfffmmm

    This is so hillarious yet right on the money

  • Feri Wahab

    Manusia itu diciptakan berpasang-pasangan. Yang namanya pasangan itu bukan batang ama batang atau lobang ama lobang. Pake ngomongin sejarah nabi Luth lagi, setan nih yang nulis…

  • smurfin

    hidup mmg ribed klo nalarnya pendek

  • wahono

    Wajib klo menolong yang ‘ sakit ‘ menuju jalan yg benar..

  • Bimo Endro Satrio

    Menarik. Saya straight dan tidak anti LGBT.. cuma kalo dielus ama bencong ya kebirit birit tetep. Hhahaha

    • JBT48

      ^
      ^
      this comment deserves more upvotes

    • Humphrey

      Why? Are you disgusted? How is that not anti-LGBT?

      • Ridho Alief

        the point is not “who did it” but “what he/she did”. if anyone-i-don’t-know-who touch my face, I’ll get mad too.

        • Bimo Endro Satrio

          Exactly 🙂

    • duniavern

      nggak anti kok lari wkkkk :v

      • Bimo Endro Satrio

        Hahaha. Coba aja situ tiba2 mukanya dielus random people. Hehe

    • Silly cvnt. Wk

    • darourie

      saya juga straight dan tidak anti LGBT. Ga lari sih kalo dielus (lha di kereta, mau lari ke mana), paling maki-maki. Tapi saya juga bakalan maki-maki orang yg ga saya kenal tapi berani ngelus pipi saya 🙂

  • fai

    Jgn2 penulisnya dosan sm yg sejenis.care bgt loe..msh banyak pasangan lain jenis…..hahahah

  • Agung Yudha

    iki cocig: mencegah peredaran AIDS dengan melarang penjualan kondom kecuali untuk pasutri: Itu sama saja dengan melarang penjualan helm supaya orang nggak kebut-kebutan.

  • Sudah sudah, kita luruskan saja. Yang setuju LGBT dan yang LGBT silahkan keluar dari Indonesia, boleh ke U.S atau Belanda (negara penjajah) atau ke Palestina sekalian, dan jangan pernah kembali lagi, karena disini tidak boleh secara konstitusi wk. Yang normal normal boleh tetap di Indonesia. Kalau kalian tidak mau diganggu kaum LGBT dan fanatisnya, ya kalian jangan merusak generasi di Indonesia. Ok mengerti semua? Ada sebab ada akibat, jangan manja kalo diusir, karena itu kemauan kalian. Jadi biar gak saling gangu pergilah kalian semua LGBT dan fanatisnya. Dismiss. Wk

    • Cahya Purusatama

      nulis sendiri dilike sendiri. weka.

      • Terima kasih masukannya. Wk

    • Dana Fahadi

      Yang setuju LGBT dan yang LGBT silahkan keluar dari Indonesia
      karena di sini tidak boleh secara konstitusi? Saya nggak pernah dengar ada pasal yang berbunyi: “Setiap warga negara Indonesia tidak diperkenankan bergabung dengan, mendukung, ataupun turut serta dengan sesama warga negara yang memiliki orientasi seksual lesbian, gay, dan biseksual, maupun warga negara yang berganti jenis kelamin. Barangsiapa yang melanggar, maka akan dikeluarkan dari NKRI untuk waktu yang tidak ditentukan.” Atau saya memang kurang kekinian? Jadi nggak pernah tahu pasal ini? Tolong dong U MAD, kasih tau saya pasal berapa, undang-undang nomor berapa tahun berapa?

      • Fikry Ainul Bachtiar

        Pancasila sila kesatu; Ketuhanan Yang Maha Esa, mukadimah UUD 1945; “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa… ” menandakan Indonesia, para founding father Indonesia mengakui bahwa negara ini didirikan atas dasar ketuhanan/agama. Dan saya kira agama apapun itu (khususnya agama yang diakui di Indonesia) tidak membenarkan perilaku menyimpang macam orientasi seks LGBT ini. Mungkin saya kurang kekinian, nggak gahool dan modern mbak jadi tak setuju dengan maraknya pelegalan hukum atas LGBT ini.

        Salam.

        • YAssssssssSSSsSSSsSSSsssSs………

        • OjoDumeh

          hehe.. mbak Dana Fahadi langsung mingkem.. ツ

        • Meilandra

          Jangan lupa juga, Mas, sila ke-5 berbunyi ‘Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia’. Itu berarti founding father Indonesia juga mengakui keadilan bagi SELURUH rakyat Indonesia tanpa memandang suku, agama, bahasa atau orientasi.

          • zmkom

            Betul memank ada sila ke 5 yg menyatakan keadilan soasial bagi seluruh rakyat indonesia, tp itu dlm urutan yg terakhir, artinya segala tindakan berpancasila adl dalam bingkai ketuhanan YME sehingga titik bernegara adl nilai2 berketuhanan

        • tuhan dan agama . selalu disatukan. kalo gini ya repot berargumentasi krn ga akan bisa mengerti karena tuhan dan agama tidak selalu berkaitan. orang bertuhan tidak selalu beragama dan org beragama tidak selalu bertuhan (terutama dalam kelakuannya).

        • Aoda Klerig Prewinsetya

          saya juga belum pernah menemukan ayat kalau perbedaan orientasi seksual itu haram.. 🙂

      • Wkwkwk u mad bro? U mad? Dah pokoknya u mad lah. Wk. Lo faggot dan lesbian tolong dengan hormat tinggalkan negara ini. Kita tidak butuh faggot dan lesbian dan koruptor. Wk. Sorry no offense gan.

    • chantiks

      strawman fallacy..

    • Humphrey

      People like you make me lose my faith in humanity. “Luruskan”? Who are you to decide on that? LULZZZZZZ.

      • Ya, let’s get us straight. First, you already lose your humanity because you support LGBT. Wk. And, in case I said “Luruskan”. U w0t m8?! U fukin w0t m9??!! U fukin goddamn w0t m10?!??!?!?!?/1/?!/!?

        Who am I?! I Am “U MAD?”
        Who am I to decide on that? “I Am Indonesian? and I go with PANCASILA.” THIS IS INDONESIAAAAAAAAAAA. *kick your arse out of my country*
        LULZZLZLZLLZLLZULZULUZUzluLUZLluLZZZZZZZZzZZZZzzZZzZz2ZzZzZZzZ2zzZZZzz2.

    • Meilandra

      Konstitusi buatan siapa? Buatan dirimu 200 tahun lagi, hah? Kalau mau bodoh, jangan terlalu bodoh. Buka buku UUD, baca pancasila, liat perpu, tap mpr, perda ( selain Aceh tentu saja), ada yang melarang homoseksualitas? Ada yang berkata bahwa ‘Warga Negara Indonesia adalah orang-orang yang heteroseksual dan tidak mendukung homoseksual dalam hal apapun’? Katanya I go with pancasila, mengerti pancasila saja tidak, hanya berteriak-teriak isi sila pertama, sila lain dilupakan.

      Dasar.

      • Saya gak teriak teriak sila pertama doang dumb ass wk. Baca lagi, di komen ini saya juga gak bawa bawa Pancasila wk. Cuma kita coba fair aja, kalo lo gak disukain dan gamau memilih yang diterima disini, maunya maksa di legalkan ya LGBT kan sesuatu yang ga diterima di sini, ya, no offense, cabut lah anda dari tanah Indonesia, silahkan anda cari tanah yang pro LGBT. Jangan rusak generasinya ngerti? ngerti gak sampe sini? WOY NGERTI GAK?! wk. Oh ya! BTW Congrats sir.

    • qwerty

      Yakin generasi indonesia bisa maju jika induknya punya pemikiran seperti anda? Terlalu parno. Negara kita terlalu sibuk dengan kepercayaan paling benar kita. Dokrin ketakutanlah, doktrin dosalah, doktrin surga dan neraka, semoga engkau dilaknat di neraka hahaha pula klo punya pemikiran sempit seperti itu.. Anda terlalu insekyur dlm beragama dan merasa paling benar.. Lalu kenapa tuhan menciptakan lgbt, klo tuhan sendiri melarangnya kan absurd dan gak relevan ?

  • Wanditya Setiawan

    Just mengingatkan, bukankah gak suka sama homo itu juga sikap? kok berat sebelah dituntut ngehargai gay tapi gay kagak ngehargai yang merasa gak nyaman dengan gay.. itu aja sih. Biar kita sama2 instrospeksi.., harus seimbang, jangan ngerasa dizalimi aja tapi kagak merasa menzalimi. Sikap baik seorang gay, buktikan dengan perilaku, bukan kepintaran berargumentasi aja. Peace :).. (pasti ndebatnya:sapa yang nuntut? sapa yang kagak ngehargai? siapa yg berperilaku buruk… ah sudahlah)….

    • chantiks

      pernah dideketin sama seorang gay?

      • YA. mereka TANPA IZIN, SURAT IZIN, SURAT PERINTAH, SK, PUTUSAN MK, SK KETUA MA, PERMEN, PERPRES, UUD, STNK, BPKB, SIM, KTP, DPR, MPR maen elus paha gw dan di tempat umum yang berbeda beda anjaaaassssssssss

        • monke

          gue juga masalah kalo ada cowok yang pegang2 gue di tempat umum. bedanya apa? mau disamaratakan semua cowok tukang grepe cewek? satu manusia bukan merepresentasikan seluruh golongan.

          • Ya grepe cewe juga gaboleh, dumb ass, kecuali kalo ada kesepakatan kan? Lah yang G? masih aja dibela. Kelainan itu dumb ass. Jangan dipelihara.

          • monke

            wow. name-calling. come back when you’re old enough to have a mature conversation, lil boy.

        • chantiks

          sebenarnya gue gak nanya elo sih, tapi karena elo yg punya pengalaman, gue mau nanya, kenapa lo biarin diri lo untuk bisa di grepe2 sama gay? kalau lo straight, lo bisa aja langsung tonjok tu gay, di grepe2 itu masuk perlakuan tidak menyenangkan,di tempat umum pula, bisa lapor ke polisii

          • Lo gak nanya gue juga LGBT itu plague ya wk, harus dibersihkan dari bumi Indonesia. Gigilo gue diem doang, ya gue gertak lah. Kalo masih juga, baru berantem wk.

          • chantiks

            nanya apa dijawab apa.. ckckck

    • amuzeirt tzm

      “Just mengingatkan, bukankah gak suka sama homo itu juga sikap? kok berat sebelah dituntut ngehargai gay tapi gay kagak ngehargai yang merasa gak nyaman dengan gay.. itu aja sih. Biar kita sama2 instrospeksi.., harus seimbang, jangan ngerasa dizalimi aja tapi kagak merasa menzalimi.”

      wqwq, ner ugha.

    • OjoDumeh

      tepat sekali! perilaku lbh penting! jgn sibuk parade cuma pake sempak kalau mau pihak lain merasa nyaman dan respek, lalu sibuk bilang gak semuanya spt itu kok.. bnyk yg pintar.. Alan Turing contohnya.. fiuh.. mbok aja eling.. jgn cuma sibuk dg hawa nafsu.. *menyedihkan..

  • msgundam

    sewa mesin diesel ke wahyono diesel saja http://www.wahyonodiesel.com/

  • chantiks

    kalau gay yang berseliweran di dunia maya sambil pamerin kelaminnya itu emang perilakunya menyimpang atau hanya sebatas orientasi seksualnya aja yang berbeda? *masih bingung

    • Nai

      Bukan hanya gay, yang straight juga banyak. Dan iya itu prilaku menyimpang. Baik itu dilakukan hetero atau homo.

  • Someone

    Yang satu adalah kaum yang percaya dengan Tuhan dan patuh dengan segala perintah-Nya. Dan yang satunya lagi adalah kaum yang percaya dengan kebebasan manusia dan tak mau terkekang dengan aturan Tuhan. Perdebatan apapun tidak akan menemui titik temu kecuali jika tiba tiga hal yakni : Golongan pertama berpindah haluan( baca :tersesat ), golongan kedua mendapat hidayah ( baca : tobat ) dan hari kiamat ( yang mungkin tidak dipercayai oleh sebagian kaum golongan kedua). Mari kita sama-sama belajar dan menggunakan segala fasilitas yang ada.

    • chantiks

      super duper straw man fallacy (–;)

    • Missy

      Belajarnya jangan dari kitab aja ya pak, belajar sejarah juga, biologi, antropologi, dll. Biar lebih ngerti yang dimaksud di kitab itu apa. Yuk mari.

  • gueh

    yang menentang LGBT dibilang tidak menghargai hak yg LGBT. Org2 yg bilang kalo yg menantang LGBT berarti tidak menghargai hak yg LGBT berarti mereka juga tidak menghargai hak orang yang menentang LGBT karena orang-orang juga memiliki hak buat menentang :v

  • Titi

    Kalo orang tua si penulis misalnya Gay atau lesbi.. harusnya si penulis ga ada di dunia ini dan ga bisa koar2 disini, terima kasih lah sama ortu anda yang bisa memberikan figur yang perfect ada ayah laki2 dan ibu seorang perempuan..

    Itu aja sih, just my opinion..

  • Tttt

    Kalo orang tua si penulis misalnya Gay atau lesbi.. harusnya si penulis ga ada di dunia ini dan ga bisa koar2 disini, terima kasih lah sama ortu anda yang bisa memberikan figur yang perfect ada ayah laki2 dan ibu seorang perempuan.. kalo misalnya ortu penulis dua2nya sejenis, berarti bukan orang tua kandung atau hanya salah satunya…

    Itu aja sih, just my opinion..

  • rara

    penelitian terbaru adalah, bahwa memang benar kalau orang2 yang homoseksual memang memiliki kelainan pada gen nya. memang bukan bawaan dari orok, tapi salah satu penyebabnya bisa terjadi karna faktor lingkungan yang menyebabkan doi melepaskan hormon2 yang memicu dia buat jadi homoseksual, misalkan didikan orang tua, pengaruh temen deketnya, trauma dll. hormon inilah membuat chromosomnya bisa berubah. gue pribadi menentang adanya legalisasi pernikahan sesama jenis, juga ga mendukung adanya LGBT. kenapa? karena kalau sampai terjadi di indonesia, generasi anak2 kita yang bakal kasian. kemungkinan mereka akan menjadi bagian dari LGBT karena pengaruh lingkungan yang membolehkan, dan alhasil tidak bisa melanjutkan keturunan keluarga masing2. oke mereka bisa adopsi anak org atau apa pun caranya supaya dpt anak di ‘pernikahan’ ini. tapi kasian anaknya nanti gan, krna pada dasarnya, lahiriyah seorang anak ingin memiliki 1 orang bapak dan 1 orang ibu. hal ini ga bisa diubah, karena tradisi ini udah berlaku dari jamannya nabi Adam dan Hawa. kasih sayang antara ibu beneran dan ‘ibu’ pasti beda, krna ‘ibu’ ini ga ada koneksi dari dgn si anak dr semenjak janin.

    dan bukan cuma LGBT ini butuh status, tapi kaum mereka juga gencar promosi. pejabat yang gay, artis2 dunia yang homo, film dan video music yang mengumbar nafsu LGBT mereka. bahaya gan kalau ditonton bocah cilik dan remaja2 yang ababil nan galau. dan bisa aja yang tadi nya mendukung tapi bukan LGBT, malah ikutan jadi LGBT gara2 termindset dipikiran org2 yang mendukung ini kalau perbuatan itu adalah sesuatu yang manusiawi 😛 who knows?
    yaa gue si ga setuju juga kalau kaum mereka ini dibantai sama kita2 (biarkan Tuhan yg memainkan hukumNya 😀 ). tapi orang2 kyk gini perlu kita rangkul gan, dirujuk psychiatrist/psikolog, pokoknya gimana caranya supaya mereka normal lagi, bukan malah mendukung ‘perbuatan’ mereka itu.
    itu aja si pendapat gue. gue harap nih yang LGBT2 ini bukan cma mikir nikmat sekarang nya aja, tapi nikmat nanti nya juga dipikirin. masih banyak kok manusia dibumi ini yg masih mau hidup normal dan gue yakin mereka juga mau keturunan2 mereka normal.

    kalau Tuhan mengiyakan adanya kaum ini, lalu mengapa kaum nabi Luth yang homo dimatikan semua dan yang tersisa hanya org2 yg beriman aja?
    1 woman+ 1 man = code of humanity 🙂

    • Nai

      Hetero ga akan bisa merubah seorang gay/lesbo/bi/transgender menjadi straight dan sebaliknya. Mereka ga akan merubah seorang straing menjadi gay atau apalah.
      Saya dikelilingi teman gay selama bertahun-tahun, tapi mereka ga merubah saya menjadi gay. Bahkan banyak diantara teman saya yang lahir dr keluarga hetero sadar bahwa mereka ga punya ketertarikan terhadap lawan jenisnya sebelum mereka mengenal dunia luar, sebelum mereka paham apa itu jatuh cinta, ketika mereka masih kecil. Jadi anda ga perlu khawatir mengenai anak anda. Karena LGBT itu bukan penyakit menular. Mungkin yang ada maksud menular itu bukan benar2 menular. Tapi membantu seseorang yg sudah lama merasa tidak tertarik terhadap lawan jenisnya berani memahami dan menerima dirinya a.k.a come out..

      Mungkin yang anda butuhkan hanya baca lebih banyak mengenai LGBT dan buka pandangan anda mengenai hal itu. Itu akan membantu anda untuk tidak menghakimi mereka yang tidak sama dengan anda. Karena belum tentu anda lebih baik dari mereka dan sebaliknya.
      Terima kasih

      Salam

      • rara

        hallo halloo, ada yg bilang kalau teman2 kita adalah cerminan kita. yaa balik lagi sih, itu anda sendiri yg ga terpengaruh. ya mungkin krna anda org yg punya prinsip. atau sedekat apa anda dan teman2 gay anda? nah gmn kalau remaja ababil yg masih cari2 jati diri? hehe. saya udh bilang, lingkungan bisa berpengaruh, mungkin didikkan keluarga pd teman anda yg membuat temen anda seperti itu? sadar atau ga sadar. karena pendidikan pertama anak adalaha keluarga. yg jelas setau saya kelainan ini bukan penyakit gen turunan, melainkan mutasi gen (epigenetika) dan pasti ada penyebabnya.

        hehe saya mah apa atuh, cuma mencoba memikirkan generasi penerus yg akan terkena dampak kalau sampai LGBT dan ‘pernikahan’nya di iyakan oleh semua pemerintah. kalau sampai iya, maka gandengan tangan mesra sesama jenis, tatapan mesra sesama jenis dan PDKT sesama jenis akan mnjadi hal yg lazim dan akan diliat oleh bocah2 cilik.

        salam damai.

        • qwerty

          Emang anda bisa melihat generasi indonesia di masa depan ? Emang ada masalah melihat lgbt pamer ? Yah terserah mereka dong, knp anda yg parno. Terutama generasi mendatang ? Generasi saat ini belum baik dgn pemikiran yg gak respek dan toleran ? Coba bandingkan dgn negara2 yg paling damai didunia contohnya australia, denmark, dll. Knp mereka bisa jadi negara yg maju dan peaceful. Sebab mereka saling bekerja sama membangun dan memajukan negara mereka. Dan menurut saya mereka jarang banget bawa2 kepercayaan untuk di perdebatkan, sebab menurut mereka membahas suatu kepercayaan adalah hal yg sensitif dan dpt memecahkan mereka dan mereka sadar akan hal tersebut makanya kepercayaan di negara maju adalah bersifat privat.

      • Aji

        menurut saya pendapat ini terlalu subjektive, soalnya cuma berdasar pengalaman anda saja
        mungkin kita punya kesamaan dalam hal “tidak terpengaruh walaupun dikelilingi teman gay”, well, lucky us! tp apa itu pasti bakal sama buat semua orang? belum tentu..
        pendapat kalo gay-isme itu tidak menular mungkin benar karen gay tidak seperti panu kadas kurap yg bakal ketauan dengn gamblang kalo kita ketularan. tepi mempengaruhi teman sekitar sehingga jadi pecinta sesama jenis (atau setidaknya jadi bisex)? itu sangat mungkin. bukti? oke..

        saya punya seorang temen gay, dia cerita kalo habis sukses “menggoda” seorang dokter, beristri dan beranak 2. mereka berhubungn badan dan sidokter (kata temen saya) lebih “terpuaskan” kalo main dengan dia jadi istrinya lebih sering dianggurin. setelah itu si dokter lebih suka main sama temen saya, atau istilahnya temen saya ini “dipelihara”.

        perlu banyak baca? well membaca bukan cma buat yg “anti LGBT”, mungkin yg LGBT dan yg PRO LGBT juga perlu banyak baca kenapa LGBT itu dilarang dan banyak orang melarang, jadi bukan cuma merasa terhakimi tanma merasa menghakimi.

        Salam..

        • Nai

          Apa pengalaman anda diatas tidak subjektive ?
          Itu memang dokternya aja yang Biseksual atau mungkin gay.
          Apa yang akan anda lakukan kalo ada gay yang menggoda anda ? Saya rasa anda akan menolak dan kabur. Kenapa ? Karena anda tidak tertarik, karena anda straight.
          Banyak kok gay yang menikah karena terpaksa, karena takut, bukan karena rasa ketertarikan, salah satunya saudara saya.
          Lingkungan berpengaruh, tapi TIDAK 100%. Gen juga berpengaruh, tapi TIDAK 100%. Semuahal bisa saja berpengaruh, tapi tidak ada yang 100%.

          Thanks

          • rara

            setelah saya baca2 komen anda, anda ga homo kan? (semoga aja ga)
            dari argumen2 anda, saya liat kalau anda sebenarnya secara tidak langsung tau kalau itu ga normal tapi masih ttp membela perbuatan itu. itu lah kenapa perbuatan LGBT itu sbenarnya merugikan. contohnya ya kyk cerita dokter diatas itu. ga usah saya jabarin, mba Nai pasti bisa liat lah ruginya dimana.
            na’udzubillah..

          • Aoda Klerig Prewinsetya

            anda bisa mendeteksi orientasi seksual. saya bakalan nyembah anda!

          • Aji

            emang benar pengalaman saya ini subjektive, seperti juga pengalaman anda, tapi setidaknya klaim anda kalo gay tidak menular bisa sedikit terbantahkan, karena berdasar pengalaman saya itu bisa berpengaruh ke orang lain. iya kan?
            saya digoda gay? otamatis saya ogah. tapi seperti yang udah dijelasin tadi, berdasarkan pengalaman anda + pengalaman saya, TIDAK SEMUA orang sama. mungkin jadi mau karena ada masalah berat, atau streess. jangankan digoda gay, orang yg kalo lagi normal pasti gak mau mati dan cenderung takut mati, tp kalo lagi stres berat malah banyak yg bunuh diri, iya kan?

            dokternya emang gay? mungkin. dokternya jadi gay krn digoda gay? bisa jadi. kita sama-sama gak tau kan? kemungkinan IYA/ENGGAK nya gay bisa menular masih 50:50 kan? untuk apa melegalkan yg otomatis meningkatkan resiko IYA nya? wong gak legal ada banyak yg digoda
            perumpamaanya gini, main HP pas nyetir itu bakal bahaya menyebabkan kecelakaan, tp ada yg bilang enggak bahaya kalo hati2. daripada bahaya KENA kecelakaan ya mending gak usah pake hp pas nyetir toh? ngapain kita melegalkan budaya “pake hp pas nyetir” kalo itu bisa meningkatkan penggunaan hp pas nyetir, yg memungkinkan lebih banyak kecelakaan?

            Salam

        • Aoda Klerig Prewinsetya

          sama kayak Hetero oneng, hetero jg buanyak bgt yg selingkuh, suka sex di luar nikah bahkn jadi pelaku kekerasan seksual…

    • Aoda Klerig Prewinsetya

      yang mikir nikmat juga siapa to mbak…
      jujur, kalau anda memegang ajaran Tuhan. anda pacaran umur brp? kira2 ada gak di Al-Qur’an itu pacaran. semua masyarakat Indonesia berdosa mbak karena pada pacaran yg ga ada di al-Qur’an.. semua org bakalan masuk neraka dong?

  • Mwoya

    Hidup ini pilihan, Mas. Kalo orang milih sesuatu yang ngga sama kayak Mas mbok ya jangan menghardik begitu gaya penulisannya. Saya straight, punya lebih dari 4 sahabat gay. Mereka tau saya ngga ikut-ikutan majang foto pelangi atau hashtag lovewins segala macem itu sebagai bentuk dukungan untuk LGBT, tapi mereka tetep bisa menghargai prinsip saya. Mungkin mas-nya butuh piknik biar lebih rileks.

    • rara

      ya itu anda sendiri. lah bocah cilik dan remaja ababil? org2 yg sekarang pnya anak cilik, harap2 cemas nih.
      #savenextgeneration #savehumanity

  • dewata anugerah

    Saya mau sedikit memberikan info mengenai pernyataan mas windu tentang
    perkawinan sesama jenis dan HIV/AIDS. Seingat saya, dosen saya pernah
    berkata bahwa orang yang paling tinggi resiko nya untuk terkena HIV/AIDS
    adalah kaum gay. Karena kaum gay kebanyakan melakukan hubungan seks
    melalu lubang anus/anal, dimana lubang anus mukosa pelindung nya hanya
    selapis dan lebih tipis, berbeda dengan vagina yang berdinding lebih
    tebal. Sehingga manusia yang melakukan anal sex mempunyai resiko lebih
    besar untuk terkena HIV/AIDS daripada yang tidak (karena penetrasinya
    lebih mudah dan mudah terjadi luka pada lubang anus). Memiliki resiko
    yang lebih besar untuk terkena HIV/AIDS bukan berarti menjadikan kaum
    gay peringat nomer 1 (terbanyak) dalam penderita HIV/AIDS. Mungkin
    karena selama ini bermain aman alias pakai kondom. Menurut penelitian
    sendiri kegagalan kondom 2-3% (bisa karena kesalahan pemakaian atau
    cacat pabrik). Protector buatan manusia memang berbeda dari buatan
    tangan Tuhan karena banyak cacat sana sini. Namun buat apa mengambil
    resiko yang membawa kerugian, karena tuhan memang menciptakan lubang
    anus bukan untuk sarana seksual yaitu untuk BAB. Jadi apakah kaum gay
    memiliki resiko tinggi terhadap HIV/AIDS? jawab saya IYA.

    • Tunggal Pawestri

      Hai mas… lain kali tak usah pakai ingatannya, karena bisa jadi sebenarnya lupa… Ini saya kasih tau datanya saja, data dari menkes lo ya… bukan dari saya. Paling banyak HIV/AIDS itu ada di pasangan hetero dan pengguna jarum suntik. Mereka yang faktor resikonya lebh besar…. http://spiritia.or.id/Stats/StatCurr.pdf

      • ocank

        jelaslah lebih banyak pada pasangan hetero, lah wong jumlah hetero lebih banyak dari homo. jika mau fair buat rasio dari banyak populasi yang sama, sekian yang aids karena hetero, sekian yang homo. nah baru kita bisa lihat mana yang banyak kena aids. tapi bisa ketebak sih hasilnya.

        • Yassss, Indonesia raya merdeka merdeka!

        • amuzeirt tzm

          setuju!
          hetero:homo-bisek=34,305:1,366

          laah, data itu justru bikin saya lebih yakin kalau peluang homo-bisek terjangkit HIV/AIDS emang lebih tinggi dibandingin sama yang hetero ._.

          • BlackOut

            amuzeirt tzm… Anda itu belajar ngitung ratio dan mengambil kesimpulan seperti ini di mana sih??? Duh… kasian sekali guru2 Anda,… susah payah ngajar produknya seperti ini…

          • amuzeirt tzm

            wqwq begini loh kak BlackOut,

            dari link Tunggal Pawestri diketahui bahwa jumlah orang heteroseksual : homo-biseksual yang kena HIV/AIDS=34.305 : 1.366

            Padahal, jumlah orang heteroseksual di Indonesia lebih dari 34x-nya orang yang homo-biseksual (dulu asumsinya begitu). Dan setelah cari literatur emang jumlah heteroseksual di Indonesia lebih dari 34x-nya yang homo-biseksual, lebih tepatnya 99x-nya.

            Dede memperkirakan, secara nasional jumlah penyuka sesama jenis mencapai sekitar 1% dari total penduduk Indonesia (Gatra, dalam Adesla, 2009). Berarti perbandingan jumlah orang heteroseksual : homo-biseksual = 99 : 1

            berarti perbandingan persenan orang yg terkena HIV/AIDS antara

            heteroseksual : homo-biseksual
            =34.305/99 : 1.366/1
            =346,51 : 1.366
            = 0,25 : 1
            =1 : 4
            Jadi, dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yg homo-biseksual berisiko 4x lebih tinggi terkena HIV/AIDS dibandingkan yang heteroseksual.

            Begituuu ._.

          • amuzeirt

            wqwq begini loh kak BlackOut,

            dari link Tunggal Pawestri diketahui bahwa jumlah orang heteroseksual : homo-biseksual yang kena HIV/AIDS=34.305 : 1.366

            Padahal, jumlah orang heteroseksual di Indonesia lebih dari 34x-nya orang yang homo-biseksual (dulu asumsinya begitu). Dan setelah cari literatur emang jumlah heteroseksual di Indonesia lebih dari 34x-nya yang homo-biseksual, lebih tepatnya 99x-nya.

            Dede memperkirakan, secara nasional jumlah penyuka sesama jenis mencapai sekitar 1% dari total penduduk Indonesia (Gatra, dalam Adesla, 2009). Berarti perbandingan jumlah orang heteroseksual : homo-biseksual = 99 : 1

            berarti perbandingan persenan orang yg terkena HIV/AIDS antara
            heteroseksual : homo-biseksual
            =34.305/99 : 1.366/1
            =343,05 : 1.366
            = 0,25 : 1
            =1 : 4

            Jadi, dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yg homo-biseksual berisiko 4x lebih tinggi terkena HIV/AIDS dibandingkan yang heteroseksual.

            Begituuu ._.

        • BlackOut

          epidemiologi lgbt itu sampai sekarang ga jelas tapi berbagai studi mengindikasikan angkanya antara 1-5% atau 5-10% Beberapa studi malah memperkirakan lebih tinggi hingga belasan persen. Tentu saja data ini bukan data indonesia karena emang datanya kagak ada. Tapi jelas mengadopsi data dari wilayah lain jauh lebih dapat diterima dibandingkan pake perasaan.

          Gampangnya, anggap saja jumlahnya sekitar 5% yg mengidentifikasikan diri sebagai non-hetero. yang hetero kasarnya bearti sekitar 95%. Memang perhitungan ini banyak kekurangannya karna datanya sangat terbatas.

          Jumlah penduduk >15 tahun di Indonesia sekitar 75% (dari 250 juta). Artinya ada 187.500.000 org dewasa. Kasarnya 95% (178.125.000) adalah hetero dan 5% (9.375.000) adalah gay.

          Maka, ada sekitar:
          34.305 : 178.125.000 = 0.019% hetero seksual adalah penyandang HIV/AIDS
          1366 : 9.375.000 = 0.015% homoseksual adalah penyandang HIV/AIDS

          Tentu saja data di atas cuma perhitungan kasar dengan mengesampingkan banyak hal dan banyak limitnya karena emang datanya kurang… tapi cukuplah untuk menggambarkan bahwa sebenarnya ga ada perbedaan yg terlalu mencolok antara penderita HIV/AIDS yg homoseksual/biseksual vs heteroseksual.

          Jadi coba deh ya tolong…. sebelum ngomong itu dicrosscheck dulu. Memerangi AIDS memang penting, tapi jangan sampai hak2 org dilanggar. Yang harus digalak kan itu kesadaran safe sex,… baik homo atau hetero… jangan dipelintir2 seolah yg homo (atau yg hetero) lebih bajingan aja.

          Kemudian untuk sodara dewata,… dosen anda itu ga salah dngn mengatakan anal sex risikonya lebih tinggi. Tapi korelasinya apa? Kalo risikonya tinggi artinya ga boleh gitu? Loh yang kawin siapa yg ribut siapa. Risiko tinggi tapi toh bisa dicegahkan? Teori risiko tinggi sih bener,… tapi faktanya, yg hetero juga buanyak tuh yg HIV/AIDS. Lain kali tolong jangan berlandaskan pada ‘kata dosen’ trus ambil kesimpulan semau jidat… di cross check dulu karna Google sudah ada, tinggal ketak ketik semua data yg anda perlukan udah keluar.

          • ocank

            sorry mas, penelitian Kinsey itu diperdebatkan.

            Kita pakai data di Indonesia aja yah mas, kejauhan data dari
            sana, ada kok datanya diberitakan di Kompas, supaya biasnya bisa dikurangi. Jumlahnya sekitar 3.000.000 orang,tapi beritanya tahun 2011. So, untuk memperkecil bias saya ajak mas pakai data penderita HIV tahun 2011.

            Spiritia bilang pada tahun 2011 :

            HIV karena Homo : 807, karena hetero : 14.775

            Jumlah penduduk tahun 2011 : 237.641.326 (BPS). Nah 75 % sebanyak = 178.230.995. Kalau
            homo 3 juta artinya hetero ada 175.230.995.

            Maka ada sekitar :

            Hetero yg HIV= 14.775 : 175.230.995 = 0.00843 %

            Homo yang HIV = 807 : 3.000.000 =0.0269 %

            Nah, gimana mencolok tidak ? 😀

            Maaf yah kalau saya kurang google, tapi ini hitungan terbaikku. Logis aja sih, resiko tinggi pasti datanya harus tinggi, kalua tidak maka bukan resiko tinggi kan yah.

            http://health.kompas.com/read/2011/03/18/11182825/

          • BlackOut

            helo mba/mas ocank. Trims atas hitung2an nya.

            Sebenarnya saya tdiak memekai data Kinsey, kebetulan saja data2 yg saya ambil itu di-ringkas dan dipublikasikan diwebsite kinsey institute (tp banyak yg non-kinsey datanya). saya cuma mengambil angka secara kasar saja dari berbagai review studi2 epidemiologi ini. Seperti Anda tahu, studi epidemiologi lgbt itu hasilnya sangat bervariasi dan tergantung sekali dgn budaya setempat.

            Sebenarnya poin saya tidak pada mana yg lebih besar mana yg lebih kecil. Itu ga penting kok. Kalau Anda melihat angka HIV/AIDS tahun 2011 dan 2014, rationya lebih kurang sama. Anda kalau sering baca data epidemiologi pasti ngeh dgn perubahan angka 2011 dan 2014 yg lebih kurang sama.

            Coba ditelisik angka tahun 2009 dan 2011 untuk LGBT, masih dr sumber kompas yg sama (sebenarnya akan lebih menarik kalau bisa akses data primernya… untuk artikel science dan kesehatan, saya cenderung tidak percaya dgn harian berita kecuali ada link nya yg memungkinkan saya cek langsung metodologi dan hasilnya… kecuali riset dilakukan litbang harian bersangkutan), dan mari anggap datanya bisa dipercaya. Dalam 2 tahun, angkanya berubah dari 800rb an ke 3 jutaan. Entah apa metode risetnya, tetapi kemungkinan bertambahnya angka adalah makin banyaknya org yg ‘coming-out’ sehingga angkanya bertambah. Saya yakin angka sekarang pasti jauh lebih tinggi lagi kalo memakai metode yg sama. Tapi sekali lagi, ini semua perkiraan karena saya tidak punya akses data primernya.

            Untuk mengetahui seberapa efek homo/hetero dgn hiv/aids juga sebenarnya cukup dgn mencari artikel2 riset di pubmed,… pasti ada (cuma ya sudahlah karna bakal jdi panjang)

            Poin saya adalah, ga penting mana yg lebih besar atau kecil karena pengendalian HIV/AIDS itu tidak semata2 soal hetero atau homo tapi juga kesadaran org2nya, akses kontrasepsi dan lain sebagainya (Tentunya ini topik panas yg perlu ruang khusus untuk diskusi). Toh kalau homo lebih berisiko hiv/aids, tidak bisa dijadikan alasan melarang homoseksual. Sama seperti KDRT yg tinggi tidak menjadikan alasan untuk pasangan hetero kawin.

            Akhirnya, terima kasih untuk diskusinya. Tidak seperti org2 lain yg suka asal nyablak, saya apresiasi pendapat mas/mba ocank.

            Salam,

      • “jelaslah lebih banyak pada pasangan hetero, lah wong jumlah hetero lebih banyak dari homo. jika mau fair buat rasio dari banyak populasi yang sama, sekian yang aids karena hetero, sekian yang homo. nah baru kita bisa lihat mana yang banyak kena aids. tapi bisa ketebak sih hasilnya.” – Ocank.

        Check-fuking-m8 Tunggal Pawestri wk.

      • OjoDumeh

        seru diskusinya.. nunggu balasan dari mbak Tunggal.. ツ

    • Meisya Jasmine

      Setuju dengan Dewata ANugerah. Saya seorang lulusan akademi kebidanan dan skrg sudah jadi bidan. Saya mengerti ilmu mengenai penularan virus HIV tsb. Mas Windu ini asal njeplak karena menuruti hawa nafsunya. Tipikal liberalis dan sekuleris sejati.

    • gay kan ada gay laki-laki dan gay perempuan. kok dibahas cuma yang laki-laki? yang gay perempuan aman dong?

      • Aoda Klerig Prewinsetya

        mbak, yg namanya Gay itu ya laki sama laki, kalo perempuan sama perempuan namanya lesbi to?

    • Aoda Klerig Prewinsetya

      sayaODHA dan saya GAY, teman2 saya yg ODHA ibu rumah tangga… ngomongin GAY kok disangkutin ke HIV AIDS, omongin tuh anak gadis yg doyan sex pas sekolah sama CA Cervix atau IMS. dan menjadi ODHA tidak buruk kok. kami ODHA malah tidak boleh menularkan ke orang lain. HUS harus pakai kondom. inget kondomnya dipasang di penis ya bukan jempol.

  • Mateu Djumhari

    “Ya memang susah sih ngomong sama generasi didikan Felix Siauw. Diajak berpikir historis dikit, langsung buka kitab suci. Ditanya imajinasi masa depan, malah ngomongin tanda-tanda kiamat.”

    kesan saya atas pernyataan ini adalah, anda cenderung melecehkan mereka yang mencari jawaban dalam kitab suci. kitab suci (agama apapun) adalah tuntunan hidup bagi penganutnya. kitab suci adalah referensi dalam bertindak, agar tidak mengada-ada. sama juga dengan anda membutuhkan referensi untuk tulisan ini agar tidak berkesan mengada-ada. bukankah begitu?

    • Eza Boyank

      bener,, terkadang begitu ya pejuang ham lgbt tapi ikut ngediskrimm juga,, bahasanya kurang kejaga. saya pernah alamin itu..

    • Rahmawati

      Saya setuju dengan anda….ketika kita tidak bisa memecahkan masalah, kembalilah pada Allah, pada kitab nya…disana dtulis jelas dan dsana ada bukti secara historis tentang kau gay dan lesbi yang akhirnya diazab…
      saya tidak straight ttg LGBT, tp tidak mendukung indonesia utk melegalkan jg…
      coba bayangkan jika ortu penulis sepasang gay atau lesbi? Pasti penulis ga bakalan ada dan sekarang koar2 mendukung pelegalan LGBT?
      *mikir….

      • Elijah

        About the Sodom Gomorah ? Seriously ? The people there wanted to RAPE the angels not to LOVE! I think there is a huge space between love and rape, correct ?

    • Humphrey

      Well, religion often hinders people from thinking critically. I have only read the bible, and everything in it has a particular context that many people seem to conveniently forget when they read their bible. We cannot apply everything written there to our lives right now, because it was not addressed to us, but to certain groups. For example, the book of Galatians. Essentially, God is not speaking to whoever is reading that book right now, it is a compilation of letters Paul the Apostle sent to Christian communities in Galatia. What I’m trying to say is, context is really important when we try and use scriptures to justify our opinions.

      • “I have only read the bible” you said. The other holy books? Never? And you just generalized all religion? (Well, “religion” often hinders people from thinking critically). Did you just read or trying to understand? and what books? So explain from what, where, when why, who and how all the living things? Ah ngehe susah bahasa Inggris gw pake bahasa Indonesia aja lah sesuai sumpah pemuda wk.

        • sama bae bang semuanya.

        • Lib Flow

          HAHAHAHAHA… kok kocak.

      • but then people taking them literary and said that the bible is for everyone.so your opinion is not valid for those religious ones. sad reality of people who labeled themselves righteous, huh.

      • Bambang Tedja

        then it’s time for you to read quran that doesnt address to a certain group, but to everyone in the world.

        • Lib Flow

          So said the muslim…

        • Etheldreda Vanity Lulu

          I read quran, bibble, and tripitaka (well i am buddhist :))
          But both in quran and bibble, i still found things address to a certain groups. I prefer hindu and buddhism. It is more universal (in my opinion). Dont take this as a offense, i’m not saying islam and christian is not good. Every religion is good, depends on how people feel about it. :))

    • Kaeiten Fitzgerald-MacKenzie

      i think you missed the first point. “generasi didikan Felix Siauw.” yang “dilecehkan” dalam hal ini bukanlah orang-orang yang “mencari jawaban dalam kitab suci”, melainkan orang-orang yang telah tersihir oleh dakwah Felix Siauw dan cenderung mengiyakan apapun yang Felix Siauw katakan

    • Elijah

      What about me then ? LOL When it comes to ‘defending the LGBT rights’ I always open my bible. I always search through every verse to show those people that God doesn’t really mind the gays. It is us that playing God.

  • Bagus Arya

    Nulis panjang lebar, ngalor ngidul tapi banyak sok tahu nya. dilihat dr segi kesehatan, sebelumnya saya mau tanya penulis lulusan kedokteran mana? HIV/AIDS sudah dijelaskan tuh sama om Dewata anugerah, penulis kalah 1-0. kalo dilihat dari segi agama sih akan banyak banget pembahasan, lbh baik penulis mendalami lagi agamanya jadi akan lebih tau kalahnya brp kosong,, sekian.

    • udah tahu belum kalo HIV/AIDS itu buatan manusia? modifikasi genetik?

      • Abdurrahman Muslim

        Sempat menduga juga sih, tapi percuma menduga-juga jika tak ada bukti yang sahih, jadinya ya wis ben.
        Anda punya sumber? Klo gak ada mending DIEM.

      • blubeetle

        Asbun much?

  • Arie

    Inilah Penjelasan Secara ilmiah dan secara spiritual kenapa HOMOSEKSUAL DI LARANG….!!!

    http://islamiwiki.blogspot.com/2013/10/bahaya-penyimpangan-seksualhomoseksual.html

  • Adityo Dwiarto

    “Masalahnya, jangankan menerima, untuk membicarakan LGBT tanpa prasangka pun kita masih bingung caranya. Wong sebelahan sama teman cowok sekelas yang rada kemayu aja kita agak risih; dielus pipi sama bencong Wates yang beredar tiap jam 6 pagi di kereta Jakarta-Yogya masih kebirit-birit.”

    >> Faaakkkk!! kalo ini tujuan penulis nge-promote LGBT, supaya masyarakat bisa legowo di elus2 pipinya sama bencong Wates, ogah dahhh! kelaut aje!! :)) :)) :))

    • OjoDumeh

      bahkan bencongpun dielus sesama bencong males kali.. ngapain juga itu bencong ngelus2 pipi di kereta? dlm rangka apa? aneh! dan penulisnya sekarang mingkem.

  • Huzen

    astaghfirullah, nih artikel penuh dengan opini, ya boleh2 saja, ini negara demokrasi, yang bikin panas ane “Ya memang susah sih ngomong sama generasi didikan Felix Siauw. Diajak berpikir historis dikit, langsung buka kitab suci”, emang agama ente apa??, petunjuk kita memang Al-Quran

  • Rinaldi

    gue setuju untuk hak2 bagi orang2 perilaku menyimpang disamakan haknya. Bisa dibicarakan, tapi TIDAK untuk menikah sesama jenis. Mengenai statement Anda tentang felix siauw “dikit2 buka kitab suci” – even saya bukan orang Hizbut Tahrir – Anda sangat tidak pantas, karena kita tahu bagi seorang muslim, ya petunjuknya Alquran. Belajar ilmu Quran (sejarah, tafsir) dan Hadist supaya paham mungkin harus hafal quran dan jenjang belajarnya hampir sama kayak dari orang belajar SD sampe Dokter profesi. Anda tidak menguasai ilmu tersebut, jadi lebih baik statementnya tidak dicantumkan dalam hal artikel satir Anda ini.

    • amuzeirt tzm

      “Mengenai statement Anda tentang felix siauw “dikit2 buka kitab suci” – even saya bukan orang Hizbut Tahrir – Anda sangat tidak pantas, karena kita tahu bagi seorang muslim, ya petunjuknya Alquran.”

      sepakat!

      gue bukan HT, bahkan suka nggak “srek” juga sama Felix Siauw tuh, tapi geregetan banget baca “Diajak berpikir historis dikit, langsung buka kitab suci. Ditanya imajinasi masa depan, malah ngomongin tanda-tanda kiamat.”

      apa salahnya refer ke kitab suci? -_____- kitab suci kan emang petunjuk, udah sewajarnya jadi rujukan.

  • Daus besar

    Dampaknya
    Pemusnahan umat manusia secara halus, wong gk ada produksi.
    Jika dilegalkan maka tambah banyak yg gk produksi.
    Aids tetap tambah banyak, emang gay puas hanya pake kondom?
    Hilangnya sosok ayah
    Musnahnya keluarga wong cuma kamu berdua.
    Lalu adopsi anak dan anaknya ikutan terpengaruh cinta sesama jenis, duh..!!!
    Hilangnya agama (ajaran agama dianggap beban) sehingga merosotnya nilai2 etika dan moral wong di ceramahi pemuka agama saja masih banyak yg berbuat keji apalagi tdk diceramahi?

    Ingat, tujuan seks bukan hanya kenikmatan tapi untuk keturunan dan melegalkan sama saja dengan menyebarkan pengaruhnya.

    • Aoda Klerig Prewinsetya

      siapa juga yang mau mempengaruhi orang lain supaya jadi gay/lesbian… semua tergantung iman masing2… LGBT ga akan ngaruh sama perkembangbiakan bro…

  • Anita Rumsyah

    Ini mah keliatan banget penulisnya homo -__-

  • Miller Andre

    Kalo salah satu dr anggota keluarga anda gay/lesbi, apa yg anda lakukan? Mengusir keluar dr indonesia? ( ongkosnya manna?) atau mencaci? Mencibir? Atau apa? Kenyataan susah diterima. Bukan salah mendidik tp udah dari sononya….
    Untuk yg komen….tolong kasih pendapat.

    • rara

      dibawa ke psykiater atau mungkin diadakan rehab khusus LGBT? 🙂
      *save next generation pak*

      • Nai

        Gak ngaruh mbak Rara. Sahabat saya ada yang dibawa ke psikiater secara rutin, dikasih banyak obat, dicermahin siang malam. Dia nangis setiap hari, jiwa dan batinnya disiksa tanpa mereka sadar. Hasilnya ? NIHIL

        • rara

          jiwa dan batin tersiksa, krn ga ada kemauan yg kuat dr mereka buat berubah. dont give up! semoga sahabat2 mba nai yg kebanyakan homo cepat kembali ke straight way 🙂 aamiin

      • Missy

        Mba, sebenernya apa yang mba takutin kalo anak mba LGBT? Mreka kan ga akan merugikan siapapun dgn orientasi seksualnya, yg bikin kasian ya bakal ketemu sama orang2 kaya mba gitu paling

        • rara

          sorry mba, saya masih normal. krn saya org yg percaya Tuhan, ya saya takut sama azab Nya. begitu mba.. 🙂

          • Missy

            Semoga kita diselamatkan Tuhan karena kita punya cinta kasih yang besar ke sesama manusia ya mba. Ke manusia yang beda sama kita terutama. Amin.

    • Meilandra

      Menerima dia apa adanya. Dia keluarga saya, dan saya ingin keluarga saya bahagia. Lagipula tidak ada ruginya kalau dia gay/lesbian. Ga punya keturunan? Memangnya tidak bisa pakai ‘donor sperma’ atau ‘ibu pengganti’? Atau takut anaknya menjadi cacat mental ke depannya? Itu tergantung pola asuh orang tuanya, Mas. Mau anak itu berada di keluarga yang orangtuanya gay, atau yang broken home sekalipun kalau kedua orang tuanya mengasuh sang anak dengan baik, kondisi mental sang anak juga akan baik, Mas.

      • rara

        tapi ttp ga akan bisa menggantikan sosok ibu atau ayah mba, lahiriyah seorang anak. meskipun yg satu transgender atau kemayu2, perhatian dari ibu beneran dan ibu jadi2an itu beda dan pst akan berdampak ke psikologis si anak.

        • Meilandra

          Anda sepertinya tahu sekali, ya soal pola hidup keluarga lgbt. Sudah pernah melihat dan merasakan? Anda tahu darimana kalau perhatian yang di dapat akan berbeda dengan perhatian dari orang tua ‘normal’? Malah kenyataannya, banyak ibu ‘asli’ yang membawa dampak psikologis buruk bagi anaknya, contohnya ibu saya.

  • Meisya Jasmine

    Postingan Windu Jusuf ini selalu nyinyirin orang dan menganggap argumennya paling benar. Ente bawa-bawa nama Ustadz Felix, apa ente udah bener? Subhanallah, semoga Allah membukakan mata hatimu. Orientasi seksual juga dapat meningkatkan kejadian HIV/AIDS. Kalau mau ilmiah sekalian paparin jurnal penelitian luar negeri.

    • Aoda Klerig Prewinsetya

      yang ada perilaku seksual beresiko yang meningkatkan HIV dan AIDS bro. hadeh…

  • Aji

    saya straight, dan bukan dalam posisi mendukung atau anti LGBT, cuma sebagai introspeksi diri aja
    buat semua temen-temen NORMAL/STRAIGHT/HETERO atau apalah namanya, yg dukung pernikahan sejenis, seandainya anda punya anak, apakah rela anak anda jadi gay, lesbian, bisex, atau bahkan transgender? apa nanti kalo kalian punya anak, trus ngomong depan muka kalian kalo dia gay dan ikut organisasi LGBT, apa kalian bakal dukung dan support?

    • Meilandra

      Mengapa tidak? Saya tidak ingin menjadi orang tua kolot yang menentang anak saya. Saya akan menerima dia bagaimanapun orientasinya, kepercayaannya, dan cara pandangnya kelak karena dia manusia, dia anak saya, dan kebahagiaan dia adalah kebahagiaan saya

      • rara

        lalu bagaimana jika suatu saat suami/istri anda membawa pasangan homonya. apakah anda akan menerima demi kebahagiaannya?

        • Meilandra

          Lho, bukannya tujuan pelegalan pernikahan sesama jenis adalah untuk mencegah hal ini terjadi?
          Semakin kaum lgbt dilarang dalam memenuhi hak asasinya untuk menikah dan lingkungan menekannya untuk menjadi hetero, hal seperti ini pasti akan semakin marak terjadi dan melukai semakin banyak hati, Mbak.

          • rara

            fokus aja mba sama pertanyaan saya diatas jangan melebar 🙂

          • monke

            jawabannya udah bener kok mbak rara. gini lho, yang terjadi sekarang kan pasangan gay nggak boleh menikah ya mbak, masyarakat nggak terima, hukum pun nggak membolehkan. akhirnya, karena berbagai alasan (keluarga, status sosial etc), akhirnya mereka menikah dengan lawan jenisnya. tapi ya namanya gay ya gay, banyak yang akhirnya nggak bahagia dan cari pacar lagi yang sesama gay.
            jadinya gimana? udahnya nyiksa diri sendiri, boongin orang yang dinikahin, terus selingkuh pula.
            kalo dari awal ya udahlah biarin aja mereka yang gay itu, nggak perlu lagi kan bohongin dan sakitin hati cowok/cewek yang dijadiin tameng supaya dia kelihatan straight.
            or do you really believe you can cure gayness by marrying the opposite sex? na~a, ain’t gonna happen.

          • Meilandra

            Yaa pasti sedihlah, Mbak, saya sedih karena:

            1. Dia ga bisa jujur ke masyarakat, keluarga, dan ke saya sebagai istri. padahal kalau tahu dia gay pun saya tidak mungkin memaksakan kehendak saya untuk menikah dengannya.

            2. Dia melukai dirinya selama menjalin rumah tangga dengan saya.

            Lantas jika dia mengaku kalau selama ini dia gay apa yang saya akan melakukan? Tentu saja saya akan menceraikannya dan memintanya untuk menjalin hidup yang bahagia dengan pasangannya. Saya sebagai mantan istri juga akan menjalin hubungan yang baik dengan dirinya

      • Aji

        waahh saya salut sama mbak/mas meilandra, saya cuma bisa mengamini
        seperti yg saya bilang diatas. saya tidak mendukung krn saya tidak ingin anak saya nanti seperti itu, setidaknya dengn menolak saya mengurangi kemungkinanya. dan semua orang punya haknya untk bersikap. kalo anda tidak masalah seandainya anak anda gay, atau bahkan pengan punya? ya saya cuma bisa big applause aja, berarti anda memang berhak untuk mendukung

        cheers~

    • Nai

      Mas/Mbak Aji, tidak ada yang bisa memastikan seorang anak akan menjadi straight/gay/lesbian/bi/transgender, sekalipun dia tidak berada di lingkungan LGBT dan dari keluarga yang mementang LGBT, dan juga seorang anak yang dibesarkan oleh pasangan sesama jenis dan berada di lingkungan LGBT. Lingkungan memang berpengaruh, tapi tidak 100% mempengaruhin orientasi seksual anak.
      Sekalipun anak anda gay, apa anda akan menendangnya dari hidup anda atau bahkan membunuhnya ?

      • Aji

        dear mbak/mas nai

        walaahh.. saya pasti bakal bingung, kesel, nangis, marah, malu, pusing, stress. makanya itu saya gak mau anak saya begitu. makanya itu saya gak mendukung. simpel kan? bukankah lebih baik sedia payung sebelum hujan?
        anda sendiri gmn kalo punya anak gay? bangga? disupport diomongin ke orang kalo anak anda gay? atau sebelum punya anak deh, mau gak punya anak gay?
        lingkungan itu 100% mempengaruhi mbak/mas, lingkungan disini bukan cuma orang tua, tp juga temen main, sodara, tetangga, perlakuan orang thd si anak. knp saya bilang 100%? krn udah dibuktikan kalo gen itu gak berpengaruh sama ke-gay-an seseorang. gak ada orang yg terlahir gay. seperti saran anda di komen sebelumnya, silakan perbanyak baca, banyak kok di google.

        saya belum pernah liat anak yg dibesarin sama pasangan LGBT, dan semoga jangan.
        tapi dipikir rasional aja deh, yg dari keluarga normal aja bisa jadi LGBT, apalagi yg orang tuanya LGBT? kemungkinan jadi gaynya juga meningkat
        saya kaya perumpamaan:
        yg keluarganya gak ngerokok aja anaknya bisa jadi perokok, apalagi yg orang tuanya perokok?
        yg ortunya gak pecandu narkoba aja anaknya bisa jd pecandu, apalagi yg orang tuanya pecandu?
        yg orang tuanya gak kena aids aja anaknya bisa kena aids, gmn yg orang tuanya udah kena aids duluan?
        iya kan?

    • monke

      menurut mas aji, anak itu harus diapain? kan ada dua teori ya, nature atau nurture. katakanlah gay itu genetis. dia ada di dunia karena anda. dia nggak pernah minta dilahirkan. apa salah dia kalo tau2 dia secara genetis nongolnya sebagai gay?
      kalo misalnya nurture, apakah anda akan menyalahkan dia karena katakanlah dia salah asuhan? itu juga tanggung jawab anda bukan sebagai orang tua?
      terus terang mungkin saya juga berat kalo itu kejadian ke saya. bukan apa2, saya cuma kasian itu anak bakal lebih susah hidupnya karena masih banyak orang bigot di dunia yang akan menilai dia cuma dari preferensi seksualnya, bukan dari dia sebagai pribadi.

      • rara

        genetis maksudnya apa nih mba monke? keturunan?
        itu udah ga berlaku lagi. yg anget2 nya, karena mutasi gen. kelebihan hormon laki2 atau perempuan dan dipacu oleh lingkungan sehingga jadilah terangsang utk melakukan perbuatan homo.
        see? mba Monke aja keberatan kalau anaknya homo.

        • monke

          oh really? bagaimana dengan anak yang nggak ada exposure dengan homoseksualitas dan end up being gay? tidak mungkin? sahabat saya udah tau dari usia muda dia punya ketertarikan dengan sesama jenis. keluarganya luar biasa normal, educated parents. sebelum came out sempet pacaran beberapa kali dengan perempuan. ujung2nya ya jujur sama diri sendiri kalau dia gay dan sekarang lebih bahagia.
          iya, saya jujur berat, tapi bukan karena saya menganggap itu salah. setiap orang tua ingin anaknya hidup lebih mudah dan bahagia. selama masih banyak orang yang pikirannya cupet, hidup dia sebagai gay akan berlipat2 kali lebih berat dibanding ikut mainstream. tapi ya kalo anak saya gay, saya nggak akan nambah masalah dia lah dengan maksa2 dia jadi straight. sekali lagi, dia nggak minta dilahirkan di dunia. tanggung jawab saya sebagai orang tua untuk mendukung dia hidup bahagia. you have a little bit of problem in understanding other people’s statement.

      • Aji

        nah dalam hal ini saya juga sama seeprti anda mba/mas monke, bakal berat bgt. malu, marah, stres pasti, orang normal mana yg gak stres kalo gt, iya kan mbak/mas? ditendang atau bahkan dibunuh? ya gak mungkin lah itu anak2 kita sendiri, mau gmn jg tetep anak sendiri, orang tua mana si yg pengen liat anaknya susah? nah berangkat dr situlah saya pribadi lebih cenderung menolak kalo pernikahan sesama jenis itu dilegalkan, seenggaknya meminimalisir “penularanya”. knp saya sebut penularan? krn yg legal biasanya bakal banyak yg coba. kalo lgbt legal, ada kemngkinan yg straight jg banyak yg coba, yg nantinya bisa jadi candu dan malah orientasinya bisa belok. seperti saya yg pengen nyoba narkoba/miras seandainya dua barang yg sekarang ilegal itu dilegalkan

        kalo anak yg udah terlanjur jd gay gmn? pasti sebagai orang tua bakal tetep support, tp suport anaknya, bukan lgbt-nya. suport anaknya supaya bisa tetep semangat hidup walau digunjing sana-sini, bukan suport dia buat melanjutkan ke nikah sesama jenis gay itu gak salah, yg salah itu kalo dia melanjutkanya ke hubungan badan/nikah sesama jenis. salah menurut siapa? kalo menurut agama yg saya anut (dan mungkin semua agama) itu salah, secara nilai sosial itu jg salah, dan secara kesehatanpun itu tidak baik. kalo merasa susah hidup gara2 cemoohan orang lain, kan si anak bisa pindah tinggal tempat lain, asalkan bertindak selayaknya gendernya saya rasa bakal tentram aja. yah walopun susah banget kayanya, tp asal ada niat dr si anak. dan yg jd korban bigot jg bukan hanya si anak, tp orang tua dan keluarganya jg kena kan? yah mungkin bisa buat pertimbangan jg buat anak2 yg skrng udah terlanjur lgbt, gmn seandainya dia nikah sesama jenis, gmn pandangan orang sama keluarganya

        kalo saya si begitu, kalo mbak/mas monke gmn?

        • monke

          really? setau saya malah semakin dilarang, semakin banyak yang pengen coba. contohnya aja adam dan hawa kan, udah tau dilarang makan si buah itu, makin kepengen. saya pribadi biar legal nggak mau tuh coba narkoba, karena saya udah sering liat orang pake narkoba bisa mati.
          mas aji, di sini kita bedanya. saya merasa berat iya, tapi malu? marah? mau marah sama siapa? itu anak ada di dunia karena saya, karena Tuhan. mau marah sama Tuhan yang udah ciptain dia? mau malu sama siapa? masyarakat? masyarakat nggak kasi saya makan. i never care what people think about me. saya percaya selama kita berusaha hidup jadi orang baik dan nggak merugikan orang lain, you have nothing to be ashamed of.
          bukan malu mas, tapi kasihan. selama masih banyak bigot, hidup dia bakal susah. but try to change him to become straight? never! terus terang saya lebih percaya teori nature, gays were born that way and nothing can change that. seperti juga saya lahir straight dan nggak akan bisa berubah jadi gay. buat apa saya nyiksa dia? kebayang kalo anak saya berbakat musik tapi saya paksa dia sekolah ekonomi untuk jadi bankir. bisa aja dia jadi kaya, tapi akan senang kah hidupnya? you really have to stop caring too much what people think about you and start thinking more about your happiness.

          • Aji

            really? setau saya si gunanya dilarang ya biar gak dilakuin, soal semakin dilarang semakin semakin ingin itu perspektif pribadi. kalo nggak, gunanya hukum buat apa?

            oke kita ambil contoh adam-hawa, yg ngelanggar aturan walopun udah dilarang makan buah. jawabanya bakal balik lagi, kalo dilarang aja masih nekat dimakan, gmn kalo dibolehin? seenggaknya dg dilarang si adam masih sedikit bimbang mau ambil itu buah apa nggak. analogi tadi baru dicontohkan 1 adam-hawa, gmn kalo ada 10 adam hawa? yg otomatis punya pemikiran dan persepsi berbeda2. setidaknya dengan dilarang, dari 10 pasang td masih ada kemungkinan salah satu, dua atau tiga dari mereka yg tidak jadi ambil. gmn kalo gak dilarang? ya udah pasti semuanya ngambil toh?

            “i never care what people think about me” really?? saya disini mencoba realistis aja, saya hidup di masyarakat, sejujurnya saya jg sering bilang quote itu ke diri saya sendiri. but deep deep deeeeep down in my heart i still thinking about what people say. untuk jangka waktu tertentu itu gak masalah, tp kalo terus2an dalam jangka waktu lama? itu bakal bikin stres. dan bahkan anda juga mengamininya : “selama masih ada bigot, hidup si anak bakal tetep susah”. dan sperti yg udah saya bilang, yg punya hidup bukan cuma si lgbt, orang tuanya juga

            nah dari semua pendapat, mungkin ini yg paling beda dari kita, saya si lebih percaya kalo gay-isme itu nurture. tidak ada orang yg terlahir gay. gay itu 100% dipengaruhi sama lingkungan, cara didik, pengalaman emosional dll, dan gak ada kaitanya dengan gen. seeprti saya percaya bahwa tidak ada anak yg terlahir psikopat, gak ada anak yg terlahir pecandu narkoba. sama seperti anda yg mungkin berangkat dari sebuah penelitian tentang gay-gene, saya juga berpendapat berdasarkan penelitian yg membantah adanya gay-gene. selain itu berdasar agama saya (maaf sekali lagi subjektifitas agama krn itu jg panutan bagi saya), “manusia diciptakan berpasang-pasangan wanita dan laki-laki”. jadi dari 2 sumber itu sudah meyakinkan saya bahwa gay itu nurture dan gak ada hubunganya sama gen. berusaha ngerubah jadi straight? ofcourse i will! dalam agama saya (maaf sekali lagi) niat mencuri tidak akan berdosa kalo gak jadi mencuri. gay tidak salah kalo dia tidak berhubungan badan/menikah dg sesama jenis. kasian? iya si, sama kaya pengobatan orang kecanduan juga kasihan, tp demi sembuh knp gak? soal dosa atau gak emang urusan tuhan. tp setidaknya berdasar panduan dr kitab, kita sebagai orang tua bisa mencegah untuk melakukan dosa. yah walopun dia tersiksa didunia, mungkin dg tidak melakukan hal yg dilrang agama dia bisa bahagia di akherat. setidaknya sebagai orang tua saya bakal berusaha, krn seperti yg anda bilang, anak adalah tanggung jawab kita. tanggung jawab kita untuk mengarahkan ke hal yg baik menurut keyakinan, bukan malah mendukung melakukan hal yg salah

            “kebayang kalo anak saya berbakat musik tapi saya paksa dia sekolah ekonomi untuk jadi bankir. bisa aja dia jadi kaya, tapi akan senang kah hidupnya?”

            bisa jadi gak senang, tp ada sudah pasti gak senang? atau mungkin dia cuma tidak sadar kalo dia senang dengan kehidupan bangkirnya krn dia masih kepikiran musik. contoh simpelnya gini :
            anak saya suka es, lagi ujan aja minta es mulu. saya ngelarang dan maksa dia buat minum teh anget. apa dia senang? tentu nggak kan? disaat itu dia pasti nangis dan rewel. tp apa dia bakal lebih senang kalo seandainya saya kasih es dan dia sakit? nggak juga toh? walopun dia gak bakal sadar kalo dia lebih seneng kalo gak sakit, krn dia masih ngerasa kalo esnya bakal bikin dia lebih seneng

            menurut mas/mbak sendiri, pelegalan lgbt lebih banyak manfaatnya apa buruknya si? bukan hanya buat si lgbt ya, tp juga orang2 disekelilingnya

            salam..

          • monke

            Mas aji, saya mungkin nggak tau alasan semua gay di dunia kenapa jadi gay, tapi saya mau kasi contoh dari orang yang saya kenal aja deh. sahabat saya yang gay lahir dari keluarga baik2, orang tua dan keluarganya normal, sangat berkecukupan baik harta, pendidikan maupun kasih sayang. pointnya he was raised in a good family, hung around good kids, went to best schools in indonesia. dari saya kenal dia (SMA lalu kuliah) dia pacaran sama beberapa perempuan sampai akhirnya came out setelah lulus, jadi nggak berarti dia nggak berusaha juga. dia bilang sebenernya dari SMP udah sadar lebih tertarik sama cowok, tapi ya anak sekecil itu nggak bisa apa2. jadi nurture/didikan sebelah mana yang bikin dia gay?
            tau nggak angka bunuh diri anak yang gay lebih tinggi exactly karena pandangan orang2 seperti mas aji. karena keluarga dan masyarakat bikin dia merasa dia freak, nggak belong, dibully. kemaren saya baru lihat posting Humans of New York. ada anak umur 13 tahun dengan eskpresi hopeless yang bilang i’m gay and i’m scared that people won’t like me. a kid that young shouldn’t feel that way, that the world will hate him for what he is.

            kalau saya disuruh memilih saya lebih mikirin pandangan masyarakat atau kebahagiaan anak saya, jelas saya lebih milih kebahagiaan anak saya. sekali lagi, anak saya nggak pernah minta ada di dunia, saya yang bertanggung jawab atas dia, bukan masyarakat. kalo itu dianggap aib, so be it. it’s their problem, not mine or his/her. selama dia hidup sebagai orang baik dan nggak mengganggu siapa2, nggak perlu malu. koruptor aja suka nggak tau malu, padahal jelas2 merugikan orang lain.
            saya nggak merasa dirugikan dengan pelegalan LGBT. kenapa harus rugi? mau suka atau nggak suka, mereka memang ada. pelegalan hak mereka nggak akan mengganggu hak saya, karena saya percaya gayness itu nggak menular. jadi akan tetap cukup ada hetero di luar sana. buat saya, dengan begitu nggak akan lagi gay harus kawin dengan lawan jenis karena tekanan keluarga/lingkungan sosial dan jadinya malah merugikan pihak satunya. imagine how screwed up a family can be if one of the parents is not happy with the situation?
            ruginya buat masyarakat emangnya apa mas aji?

          • Aji

            hahah i start to think that this discussion has no ends

            sekali lagi, itu pengalaman subjektif anda, seperti saya jg punya pengalaman subjektif saya sendiri tentang temen gay saya yg dapet dokter beristri. mungkin dokternya emang gay drdl, bisa jadi. bisa jadi enggak. sekali lagi, masih 50:50 kemungkinanya

            “orang-orang seperti saya”

            heheh jujur saya gak ngerti knp disebut “orang-orang seperti saya”. saya bahkan punya temen gay dan saya gak pernah ngebully. tp okelah kita gunain istilah itu
            kalopun lgbt dilegalkan, saya kira “orang-orang seperti saya” gak begitu aja bakal memaklumi pernikahan sejenis. atau malah mungkin keadaanya bakal lebih chaos, bukanya malah lebih kasian?

            “kalau saya disuruh memilih saya lebih mikirin pandangan masyarakat atau kebahagiaan anak saya, jelas saya lebih milih kebahagiaan anak saya”

            yg anda gak sadari mungkin, masyarakat itu sendiri salah satu faktor kebahagiaan. dan sekali lagi anda mengamini : “ada anak umur 13 tahun dengan eskpresi hopeless yang bilang i’m gay and i’m scared that people won’t like me”. kalo sebagian besar masyarakat gak suka/gak setuju, mau pergi kemanapun gay bakal tetep dibilang gay toh? kecuali orang gak tau, yg artinya dia gak menunjukan ke-gay-anya itu ke masyarakat. mungkin pendapat tentang “kalo mau nikah sejenis ya ke tempat yg nikah sejenis diperbolehin” itu ada benernya juga. bukan bermaksud buat ngusir, tp untuk kenyamanan bersama, buat si gay dan buat “orang-orang seperti saya”

            kalo soal koruptor, mereka emang gak punya malu, tp apa krn gak malu trus jadi korupsi itu benar? tetep salah. itulah gunanya hukum, yg salah tetep salah walopun yg ngelakuin berjamaah

            saya si masih berpendapat bahwa gay itu nurture, which mean diperngaruhi lingkunganm yg berarti bisa mempengaruhi orang lain.
            kalo bicara massive scale, tentu “pemusnahan manusia”.alay? banget. tp ada benernya jg. anda tau alasan dr pendapat ini
            yg kedua dr segi kesehatan. salah satu komen di artikel ini udah ngejelasin, bahwa dinding anus lebih tipis dr dinding vagina dan bla bla bla… intinya resiko kena aids lebih gede krn gay berhubungn badan lewat anus. tp kan yg hetero jg ngelakuin? hubungan lewat anus gak sehat bukan cuma buat gay, buat hetero jg. trus knp yg hetero boleh yg gay enggak? sama-sama gak boleh, itu orangnya aja yg ngeyel padahal gak sehat. knp pernikahan gay dilarang? krn gay berhubungan badan ya pasti lewatnya itu, jd resikonya lebih gede
            yg ketiga dr segi agama, kalo diagama saya, nikah sejenis itu dosa. yg berarti kerugian bagi si lgbt. dan masyarakat yg membiarkan jg dosa, jd rugi jg buat masyarakat. artinya rugi berjamaah. aturan agama emng kadang gak rasional, entah krn gak scientis atau krn sains kita yg gak nyampe buat ngejelasin. intinya saya percaya semua agama (atau setidaknya agama saya) melarang pernikahan sejenis bukan krn tidak menghargai hak lgbt, tp untuk alasan yg lebih besar.

            yg perlu ditekankan disini adalah, saya tidak membenci atau mengucilkan lgbt, cuma tidak setuju saja pernikahan sejenis dilegalkan di negara ini. kalo di amerika/belanda mah terserah mereka aja yg punya negara, saya gak punya hak. tp kalo di negara ini saya punya hak untuk ikut dalam pengambilan keputusan sbg warga negara, pun sama dengan hak para lgbt yg berhak mengusahakan haknya. sama juga dg hak mereka yg anda sebut “orang-orang seperti saya” dengan pendapatnya

            knp saya menolak? krn saya masih berkeyakinan kalo gayisme itu nurture bukan gen.
            walopun ada pendapat tentang gay-gene, dengan peneitianya, dengan pembenaran dan perspektif subjektifnya. tp juga ada teori pembambatahan soal gay-gene, pun dengan pembenaranya masing2 juga. intinya lagi, kemungkinanya masih 50:50, gak ada yg bisa membuktikan 100% kalo gay itu krn gen, atau krn lingkungan. selama belum ada yg membuktikan kalo gay itu gen dan tidak bisa mempengaruhi lingkungan, saya sendiri si lebih “sedia payung sebelum hujan”. knp harus melegalkan sesuatu yg beresiko?

            sekali lg, niat nyolong itu gak salah, yg salah itu kalo niatnya direalisasikan
            gay itu gak salah, yg salah itu kalo dia nikah/berhubungan badan sesama jenis

            Cheers~

          • monke

            hahaha ya susah, kalo berangkatnya dari kepercayaan gay itu nurture dan bisa ‘menular’, mungkin pendapat anda soal pemusnahan manusia bisa diterima. saya sih berangkat dari yang saya lihat sendiri dari orang yang saya kenal. nggak ada teman saya yang gay yang punya trauma atau didikan apapun sampai dia memutuskan jadi gay. dan dari pengakuan banyak gay di dunia yang nggak punya ‘alasan’ apapun untuk jadi gay, other than they were born that way. kalopun ada gay yang gemar meng-convert straight jadi gay, ya sekali lagi, hetero juga banyak yang brengsek. satu oknum nggak mewakili seluruh golongan kan? tanya diri sendiri aja, kalo ada gay yang berusaha meng-convert mas aji, bisa nggak? saya sih bisa jawab, kalo ada lesbian yang berani curi2 cium saya, bakal saya tabok. and i know martial art, the result won’t be pretty. tindakan sama yang akan saya lakukan kalau ada cowok yang melakukan hal yang sama tanpa seijin saya.

            ini yang dulu pernah saya obrolin dengan ibu saya. if they have a choice, would one really choose to be gay? resiko dikucilkan, dianggap aneh, di beberapa negara dipenjara bahkan dibunuh. they have a much harder life compared to us mainstream heterosexuals, why would they voluntarily live that kind of life kalo bukan karena ya memang nggak ada pilihan lain. this is not an illness, there’s no cure.

            and let’s not talk about HIV. sekarang penyebaran terbesarnya di kalangan ibu2 rumah tangga yang suaminya gemar jajan di luaran nggak pake pengaman. saya nggak pengen berpanjang2 soal ini tapi gay juga nggak melulu anal sex. kalo patokannya dari situ, lesbian nggak apa2 dong?

            terus gimana? mau terus-terusan nganggep mereka golongan hantu? empati dikit mas, bayangkan ada di posisi mereka. bayangkan jadi minoritas yang nggak diakui di masyarakat, gak bisa punya hak mendasar yang sama dengan manusia lain. sudah berkali2 dibuktikan terapi untuk meluruskan gay itu nggak ada hasilnya. apa yang anak 13 tahun itu butuhkan bukan terapi, tapi acceptance.

    • Elijah

      Eventhough my child is gay, I’ll be fine with it. Karena yg dia butuhkam adalah support dari orang tua. Klo kita menolak mereka memaksa mereka untuk jadi hetero menurut saya itu ga adil. Because believe me, coming out to parents is harder than coming out to other society.

  • Adrian Prayoga

    Terlepas dari pro-kontra masalah LGBT, saya lebih tertarik tentang sikap pemerintah soal ini. Kenapa ? Karena, meskipun Indonesia ikut serta dalam statement menentang LGBT bersama 57 negara anggota PBB yang dideklarasikan pada tahun 2008, Indonesia tidak memiliki hukum yang mengatur secara detail tentang LGBT. Jadi, yang ada di Indonesia hanyalah pernikahan sesama jenis yang tidak diakui dan larangan propaganda LGBT yang diatur dalam UU Anti Pornografi dan Pornoaksi.

    Karena hal tersebut, hubungan seks sesama jenis bisa bebas dilakukan tanpa sanksi dari pemerintah. Bahkan, propaganda tentang LGBT masih bisa kita lihat di internet. Organisasi semacam Arus Pelangi pun masih bisa menikmati kebebasan berpendapat, baik melalui kampanye di internet ataupun unjuk rasa.

    Karena itu, saya berharap pemerintah bisa tegas dalam menyikapi masalah ini agar masyarakat tidak terus menerus larut dalam perdebatan yang sudah jelas tidak berujung ini.

    Tapi, menurut saya, persoalan LGBT bukanlah persoalan yang “seksi” di mata pemerintah. Biarkanlah waktu yang menjawab…

    • Aoda Klerig Prewinsetya

      itu karena Indonesia negara yang menerima keberagaman.

  • idrus wandi

    Penulis mungkin tau bahwa agama Islam di dunia terbagi menjadi 73 golongan, mungkin sebagian muslim di Perancis menganut paham yg berbeda atau hanya mendukung hak2nya sebagai warga negara tapi, tidak untuk menghalalkan pernikahan sejenis. Karena manusia di ciptakan oleh Allah SWT sesuai dengan kodratnya. Dubur bukanlah alat sexual, hanyalah tempat BAB.

  • Diego Batara Mahameru

    “Dielus pipi sama bencong Wates” Best Quote

  • monke

    terlepas dari agama, dosa atau apalah itu, mau kekeuh pake kacamata kuda, LGBT itu ada. dan mereka manusia juga, bukan monster atau predator. buat yang bilang mereka tukang godain yang straight, ya hetero juga banyak kan oom2 yang kelakuannya blangsak tukang godain abege walaupun udah punya istri. mau disamaratakan semua pria beristri tukang selingkuh? lagian situ geer amat takut digodain gay. yakin banget ganteng ya? mereka juga gak segitu desperatenya kali :p
    saya masih nggak ngerti lho yang takut populasi manusia akan punah cuma karena mengakui kaum LGBT. kaum LGBT ada nggak berarti akan memakan porsi yang straight. kecuali emang meyakini LGBT kayak virus yang nyebar terus bikin zombie apocalyspe gitu. it doesn’t work that way. orang nggak akan tiba2 jadi gay cuma karna berada di sekitar gay, kalau dia bukan gay yang selama ini pura2 straight. kalaupun kayaknya sekarang gay makin banyak, itu bukan karna ketularan, itu karna masyarakat lebih terbuka jadi lebih banyak yang berani come out. they’re always there, whether you like it or not. dan straight ya akan terus ada dan bisa terus beranak pinak sebanyak mereka mau. kita tidak akan PUNAH cuma karena mengakui LGBT.
    buat yang menganggap itu cuma terpengaruh dan bisa disuruh tobat atau counseling, saya balikin aja deh. situ bisa gak switch jadi gay, sehari aja? mau trauma masa kecil kek, abis disakitin pacar kek, kalo dasarnya cowo yang suka sama cewe, mau gitu ciuman sama cowo? i know i can’t.

    • rara

      “kaum LGBT ada nggak berarti akan memakan porsi yang straight” apa jaminannya om? coba deh, ketika seseorang bercerita pengalamannya ttg hubungan LGBT. agan2 denger ceritanya, otomatis otak bakal membayangkan. ya kalau ga punya temeng, bisalah tuh terpengaruh. kalau gasalah ini ada istilahnya nya deh. mempengaruhi seseorang dari cerita :p
      pengakuan itu jadi pintu awalnya, liat aja nanti. pemandangan zinah homo didepan umum akan menjadi lazim (toh zina lawan jenis aja udh jd lazim skrg). ya saya sih prihatin.
      wanita + pria itu udah hukum alam gan. lu bayangin aja kalau bulan ga mau muncul, matahari terus. dunia ancur gan. ya untungnya matahari dan bulan tunduk sama Tuhan.. manusia? udh dasarnya makhluk pembangkang 😛 tapi krna itulah Tuhan memberikan kita akal supaya bisa mikir.

      • monke

        um. saya perempuan. dan enggak tuh. saya punya banyak temen yang gay (laki2 dan perempuan), dan boro2 ngebayangin, dengerin pun saya nggak pengen. bukan urusan saya, seperti juga urusan pribadi saya bukan urusan mereka. tapi ya regardless mereka mau cerita apapun sama saya, saya sebagai perempuan yang suka sama laki2 ya nggak akan juga jadi mau pacaran sama perempuan. tidak berarti saya punya hak untuk menilai mana yang salah mana yang benar. ini cuma masalah preferensi kok. mereka nggak ganggu hidup saya juga. why so paranoid about other people’s life?
        kalau gay menyebar dari hubungan sosial, mungkin lingkungan pekerjaan saya bakal gay semua, karena memang lebih terbuka jadi yang gay juga nggak sok ngumpet2. tapi ternyata nggak kan? yang gay ya gay aja, yang straight ya straight aja.
        masalah mereka akan lebih terlihat di muka umum, selama mereka two consenting adults, bodo amat. urusan mereka. saya lebih terganggu liat oom2 yang macarin anak abege.

        • rara

          masalahnya mba, yang hidup didunia ini bukan mba aja T.T
          hehe. lingkungan pekerjaan yg blm gay, belum aja mba belum. ya mudah2an sih jangan, krna indonesia blm mengakui dan melegalkan LGBT ini (semoga Tuhan masih sayang sm negeri ini). mencegah lebih baik daripada mengobati toh heuheu

          • monke

            masalah mbak rara, semua yang mbak rara omongin itu ASUMSI. itu semua buruk sangka. semua KATANYA. sudah pernah membuktikan sendiri berada di lingkungan LGBT? saya sudah, dan nggak ada yang pernah ganggu saya.
            but i don’t blame you, saya dulu juga nggak ngerti apa2 dan mungkin sempat sedikit berburuk sangka, sampai salah satu sahabat saya came out. kami semua syok. saya sempet mikir mending saya nggak tau aja. but you know what? setelah itu ternyata nggak ada yang berubah. dia ya masih sahabat saya, masih orang yang sama yang kebetulan orientasinya berbeda. saya masih sering hang out di rumahnya, sering nongkrong di kamarnya malah. kadang ada pacarnya, dan ya biasa aja. malah saya ngerasa lebih aman karena nggak mungkin terjadi apa2 (temen saya cowok). habis itu sering jalan sama temen2nya juga, dan seru2 aja. malah cenderung lebih terbuka, nggak sexist. and they definitely don’t have a mission to ‘convert’ straight people.
            see, paranoid itu berawal dari ketidaktahuan. nggak apa2 merasa LGBT itu tidak sesuai dengan kepercayaan mbak, tapi nggak usah nuduh yang nggak2. dan itu bukan penyakit ya, educate yourself. nggak usah merasa terancam, noone is out there to get you.

          • rara

            sungkem mba. saya ga ngerti lagi sama yang liat pemandangan ini dibilang ‘normal’. homo itu penyakit kok, penyakit mental, dan ada penjelasannya di ilmu psikolog/psykiater dan pakar genetist. (cari aja sendiri di google). dan saya kan cuma menyampaikan pendapat saya. terlepas dari tuduhan atau ngga, namanya juga pendapat 🙂 why ar u so sure that none is out there to get me? have u seen 2 girls kissing so deeply in front of you? if you see this as normal condition, then u have to be asked if u ar actually normal or not.

          • monke

            jadi kalo ada pasangan heteroseksual making out di depan kamu, kamu nggak apa2? buat saya itu juga masalah sih, i don’t appreciate public display of affection yang berlebihan. kegiatan privat sebaiknya dilakukan di tempat privat. temen2 saya yang pasangan gay nggak pernah macem2 di depan saya, sama aja kayak temen2 saya yang straight.
            masalahnya kamu itu masih menganggap mereka itu predator. gini deh, mentang2 saya straight, ya kan nggak semua cowok yang lewat di depan saya bakal saya amprok. sama aja, mentang2 lesbian terus emangnya semua cewek bakal mereka sosot? namanya manusia kan punya mata, punya selera. geer amat bakal ada lesbian yang suka sama saya, atau situ. kalopun ada tinggal tolak toh? sama aja kayak kalo dideketin cowok yang kita nggak suka. emang dia bakal ngapain?
            iya, saya juga punya beberapa temen yang lesbian, walaupun mungkin nggak ada yang sedeket sahabat saya yang gay. and no, i don’t feel weird being friends with them karena mereka baik. ngapain saya musuhin orang yang baik? emang mereka punya salah apa sama saya?
            dan berhubung mbak rara pandai pakai google, coba dicari lagi. homoseksualitas itu sudah dihapus dari daftar penyakit kejiwaan dari tahun 70-an. 40-an tahun yang lalu. referensinya keluaran tahun berapa toh, mbak?

          • Nai

            Saya sependapat sama Mbak. Saya bahkan pernah menghadiri acara EuroPride di Marseille Prancis 2013. Di sana saya tinggal selama seminggu bersama seorang pasangan gay muslim prancis bernama, salah satu dr mereka bernama Ludovic-Mohamed Zahed, dia seorang yg terkenal, anda bisa liat di google atau youtube. Agama beliau sangat kuat, bahkan lebih kuat dari orang islam yang saya kenal.

            Di sana juga ada seorang wanita prancis, dia mualaf dari 9 atau 10 tahun yang lalu. Namanya Judith, dia sangat cantik memakai kerudung. Agamanya pun kuat. Seperti yang sudah saya bilang, Ludovic seorang gay, Judith pun seorang lesbian dan mereka beragama islam.

            Saya yang bukan lesbian pun penasaran dengan hal itu. Saya tidak homophob, ada beberapa sahabat saya di Indonesia yang gay dan lesbian dan mereka pun Islam. Salah satu sahabat gay saya bilang ke saya kalo dia ga mau islam lagi, dan dia menjelaskan alasannya. Dia bilang kalo banyak orang di luar sana khususnya yang homophob bilang kalo seorang LGBT gak akan masuk surga walaupun selama hidupnya ga pernah berbuat dosa melainkan menjadi gay. Pernyataan orang-orang itu ternyata membuat trauma, dan itu buruk!

            Pernyataan sahabat saya pun akhirnya saya ceritakan ke Ludovic dan Judith. Mereka bilang ke saya bahwa “tidak seorangpun berhak “melarang” seseorang beragama apalagi sampai berkata kalau dia tidak akan masuk surga. Apakah orang-orang itu yakin kalau mereka akan masuk surga karena mereka bukan gay ?”

            “kamu ga bisa menyamakan -dilarang minum minuman beralkohol- atau -dilarang makan pork-dengan -dilarang memiliki perasaan dan mencintai seseorang, baik itu sesama jenis atau tidak-..”

            “Mereka tidak bisa menerima adanya LGBT karena mereka tidak mengerti. Mereka hanya mendengar ‘katanya orang’ tanpa mencari tahu lebih dalam atau hanya membaca ayat-ayat dan hanya memahami sepeggal dari ayat tersebut tanpa menelusuri lebih dalam konteks atau maknya sebenarnya”

            Ada pula satu teman saya di Prancis yang lahir dari keluarga homophob tingkat dewa yg tinggal di pedesaan yang mungkin hampir tidak ada gay di sana tapi ternyata dia tumbuh sebagai gay. Orang tua nya membawa dia ke psikiater dari ketika masih berusia 8 tahun secara rutin, dan memang ternyata tidak bisa diubah orientasi seksual dia. Sama halnya kaya hetero mau diubah jadi homoseksual, ya tidak akan bisa..

            Saat di sana saya juga dikeliling “kaum” LGBT dari berbagai negara. Mereka bercerita semua hal yang saya tanyakan. Menurut penilaian saya mereka jauh lebih dewasa, open-minded, dan sopan dari pada kebanyakan dari mereka yang straight dan selalu mencaci maki, menjatuhkan, menuduh, dan mengharamkan mereka.

            Intinya mereka sama seperti kita yang merasa normal. Sama-sama wanita/pria, hidup, bekerja, beragama, memiliki mimpi, ingin bahagia dan tentunya memiliki perasaan. Jadi sudahlah jangan lagi kalian ngurusin hidup mereka, terutama kalian yang gak pernah merasakan ada disekeliling mereka. Berhenti mengatur dengan siapa mereka harus jatuh cinta. Wong kalian dilarang orang tua pacaran sama pacar kalian yang seagama dan beda jenis kelamin aja pasti gamau, marah dan sedih kan. Jadi tolonglah hargai mereka. Pandang mereka sebagai manusia, hilangkan label LGBT yang buruk di pikiran kalian. Hiduplah dengan damai dan saling menghargai.

            Salam-

            PS: Kalau ada yang bisa bahasa Prancis, bisa liat link ini https://www.youtube.com/watch?v=y8ueI0HALoA

          • monke

            thanks for sharing, Nai. must be a very interesting experience 🙂 ya gitu sih, menurut saya pikiran2 buruk itu kebanyakan dari ketidaktahuan. sesuatu yang asing memang bisa menakutkan, sayangnya masih banyak yang kekeuh terjebak di ketakutannya itu dan menolak cari tau. makanya meluaskan pergaulan, traveling, berguna buat membuka mata. relax, people. get to know them a bit, they don’t bite :p

          • rara

            galak banget mba nya 😛 santai aja atuh..
            susah sih emang ngajak diskusi kalo ga open minded. pikiraan cuma terbatas pada kaum GLBT aja. padahal masih banyak aspek yg harus dipikirin kalau sampai dilegalkan diindonesia dan masyarakat yg ga peduli. “terserah lu homo atau. yg penting gue aman, yg penting mereka ga ganggu* how selfish this people :v

            anyway kuatnya iman seseorang ga bisa diukur oleh org lain. cuma dia dan Tuhannya yg tau. di qur’an jelas2 klo orang kaum Luth itu di azab, dan org yg beriman aja yg selamat dari azab. bahkan istri nabi Luth yg ga tega ninggalin kaumnya ttp kena azab. so, org yg beriman pasti paham betul aturan ini dan patuh.. jadi jgn dulu kaitkan hal ini dengan agama islam deh, dari aspek kesehatan, sosial dan humanity aja udah bobrok. apalagi menurut pandangan islam? jelas2 merusak keseimbangan yg Allah ciptakan. heuheu

            buat ngelurusin nih, mba monke jgn berburuk sangka sama saya. saya ga banget kali liatnya hetero making out didepan mata. cuman berhubung saya tinggal di eropa yg orang kissing itu jadi hal yg lumrah, ya saya ceritakan pengalaman saya yg out of the blue pasangan lesbi kissing depan saya. dan itu bener2 pemandangan yg ga normal sama sekali.

            nih buat nambah referensi, siapa tau bisa berubah pikiran :v

            https://www.facebook.com/BrianKolfage/videos/948080755254042/?pnref=story

          • monke

            mbak rara, kita lagi ngebahas apa sih? masalah LGBT kan? ya normal dong pembahasan nggak melebar ke hal2 lain. kalo ngomongin selfish, siapa yang lebih selfish? siapa yang selama ini hak2nya lebih ditekan? saya percaya banget, selama kita masih jadi mayoritas, nggak usah ribut merasa golongan minoritas selfish ketika memperjuangkan haknya. they’re being persecuted and discrimated every single day of their lives, dan sekarang kita yang menuduh mereka selfish? mereka punya hak hidup normal seperti orang lain, who are we to deny them of that?
            saya nggak berburuk sangka sama mbak rara. saya cuma balikin, semua hal yang mbak rara bilang negatif yang bisa dilakukan kaum LGBT (PDA misalnya), itu bisa dilakukan semua orang dan sama aja menyebalkannya. imagine being in their shoes, mungkin mereka juga nggak suka sama pemandangan pasangan hetero ciuman di depan mereka, but so what? nggak ada yang maksa nonton kan? just look the other way. it’s not being selfish, it’s respecting other people’s right.
            iya saya udah liat video itu beberapa hari yang lalu. no, i don’t buy it. sayangnya pernikahan itu bukan hanya seputar prokreasi, tapi banyak hak2 legal yang tidak bisa didapat kalau berada di luar hubungan pernikahan. misalnya kalau yang satu sakit parah, pasangan gay-nya nggak bisa jadi next of kin. sadly video itu bikin pernikahan begitu impersonal, kayak semua dihitung untung rugi. apa kabar pasangan yang infertile? atau kakek nenek yang sudah lewat usia subur? pasangan gay nggak menutup kemungkinan punya anak, teknologi udah canggih. but the bottom point is, enabling them to have their right nggak akan mengganggu hak orang lain juga untuk menikah kan? nggak ada yang berubah, pasangan hetero masih bisa menikah dan beranak pinak. kenapa harus merasa rugi bisa ada orang yang akhirnya bisa mendapatkan basic rightnya?
            lagian santai aja mbak, kemungkinan gay right dilegalkan di indonesia itu masih jauuuuuhhhh

          • rara

            hehe capek lah saya ngetiknya mbak. mba sudah dibutakan oleh perbuatan2 yg ga normal. saya diatas udh bilang, yang akan kena dampaknya nanti adalah next generation. ya kita2 sih ga akan ngerasain. kalau saya mau egois, saya juga ga akan peduli sama perilaku kyk gini. toh mereka ga ganggu saya.
            who knows? dari diskusi kecil2 kyk gini bisa berdampak pada opini org yg baca loh mba. jd lebih baik mencegah daripada mengobati toh? hehee

          • monke

            hahaha sebelah mana sih dibutakannya? saya bergaul sama semua orang, mbak, bukan yang LBGT aja. yang homophobic juga banyak. kebetulan saya juga lagi nggak tinggal di indonesia, jadi punya kesempatan lebih untuk kenal berbagai macem orang dengan berbagai macem rupa. hidup jadi minoritas. saya merasa beruntung karena itu bikin saya lebih bisa empati sama orang. kadang waktu keenakan jadi mayoritas, kita nggak sadar sense of entitlement kita gede banget. mentang2 lebih banyak we want everyone to live by our rules, minta dimengertiii melulu, nggak sadar udah menginjak2 hak minoritas.
            what i see, and what you fail to see, is them as human beings. bukan untuk dimusuhin, bukan untuk dimaki2, bukan untuk dipuja2 juga, tapi ya dihargai aja sebagai manusia. i refuse to live in paranoia for something that i don’t know will happen or not. i much prefer to live positively and love my fellow human beings. i feel that i’ll be happier that way.

          • rara

            :v diskusi nya nyebar kemana2..
            1 man + 1 woman = code of humanity. straight pride 🙂

          • Semoga anak cucu sodara-sodara mbak rara selalu dijalan yang lurus dan gak ada yang homo ya mbak… kasian nanti mereka

          • rara

            aamiin 🙂
            semoga juga mba/mas..

          • Jadi penasaran, kalo anak mbak ada yang jadi LGBTQIA, mbak mau nyalahin siapa? Amerika ya? lol

          • Kaeiten Fitzgerald-MacKenzie

            the sarcasm is strong in this one.

          • Sava

            straight pride?! or simply haters?!

          • kadang waktu keenakan jadi mayoritas, kita nggak sadar sense of entitlement kita gede banget. mentang2 lebih banyak we want everyone to live by our rules, minta dimengertiii melulu, nggak sadar udah menginjak2 hak minoritas.

            ini intinya 🙂

            salam

          • Bambang Tedja

            hak minoritas yang mana toh?? apanya yg menginjak2?? lu tinggal dimana? di kampung lu ada masalah apa?? klo minoritas ga resek, kondisi bakal aman kok.

          • Sava

            suka sekali sama pendapat jeng monke,, kenapa sih musti ketakutan dengan sesuatu yang sebetulnya tidak menakutkan? apa salahnya dengan kaum gay dsb? salah dilihat dari sudut pandang agama? sampai kapanpun banyak hal diluar sana yang akan salah jika semua dilihat dari perspektif agama! yang penting lo idup ga bikin orang lain sakit hati,,ga bikin susah orang ga berbuat jahat udah selesai masalah? lalu kemudian ada banyak orang yang menghubungkan kemudian dengan dosa bla bla bla endeswey endeskoy,, kalo dosa bener2 dihitung semua diantara kita bakalan masuk neraka..(kalo neraka itu ada?) semua kemudian berpikir bahwa jika agama memandang itu salah maka itu salah,,titik! masalahnya apakah ada orang yang berani mempertanyakan agama itu sendiri? tentu saja tidak ada! mereka akan selalu berpikir bahwa agama itu patokan yang paling bener! hal yang bertentangan dengan agama? ya itu salah! termasuk kaum LGBT! jangan salah,,saya orang beragama namun saya punya sudut pandang sendiri. dan salah satu sudut pandang saya mengatakan bahwa kaum LGBT adalah sama dengan siapapun mereka yang menganggap diri mereka normal! mereka kaum yang ga perlu ditakuti,, in fact banyak diantara mereka adalah orang yang berprilaku lebih baik daripada teman normal saya yang lain!
            nah buat mba rara,,, semoga ya,,semoga lho ini,,, gada sodara mba atau bahkan kelak jika mba beranak pinak,,, ataupun sudah,,semoga tidak ada diantara mereka yang kemudian ternyata gay ,,, kaum yang menurut mba “pantas” untuk di “cegah” atau mungkin berdoalah agara tak satupun sodara mba terjangkit apa yang mba sebut sebagai “penyakit mental”. sebagai seorang yang merasa normal,,mungkin lebih mudah bagi mba rara menganggap orang lain yang yang tidak normal menurut anda itu adalah orang yang sakit! panjatkan doa dalam-dalam semoga kelak anda tidak harus bergelut dan menghadapi orang “sakit” tersebut di keluarga anda! semoga juga anda tidak menyakiti orang lain dengan pandangan anda. karena menyakiti orang lain menurut ataupun tidak menurut agama itu adalah dosa! dan apa beda dosa A dan dosa B? apa beda dosa orang yang memandang orang lain buruk dan atau merupakan ancaman dengan dosa seorang gay? (itupun jika menjadi gay adalah dosa.. tapi menurut agama itu dosa ding ya mba?!!) kesian banget ni dunia isinya semua pendosa… ckckck cari planet lain aja! yang jelas menurut saya pribadi,, yang amanya kaum LGBT atau apapun itu,,mereka seharusnya sama dimata orang lain,,,tidak ada beda,, dan tidak pantas di lakhnat-lakhnat kan sataupun di azab-azabkan,,, orang jahat dan pembenci lah yang seharusnya mendapatkan peringatan.

          • zmkom

            Ikut lewat, kl pikiranmu kamu rasa lebih benar dari tuntunan agamamu, maka lepaskan lah agamu, pertuhankan saja akal pikiran itu, karena aturan agama adl untuk dijalankan secara penuh, bukan hanya sebagai perlambang. Dan bl dr sudut LGBT adl Haram, mk itu adl haram, titik. Dan tdk ada tawar menawar utk itu. Bl km mau menawar aturan tuhanmu, mk km benar benar yg tidak berpikir.

          • Istiana

            bener bgt

          • robby

            islam yang anda maksud adalah islam liberal, yang pemikirannya menurut penafsiran atas kehendak pribadi yg sesuai dengan kecocokan pribadi dengan menjungjung tinggi “katanya” hak asasi manusia. Tapi Islam yg murni tidak, kalau anda muslim, mari merujuk kepada alquran, al quran itu pembeda. disana sudah diterangkan mana yg benar dan mana yg salah, mana yg normal sesuai fitrah sbg manusia atau tidak. Kalau segala hal didasarkan atas hak asasi manusia, dunia ini akan kacau. Karena semua akan semau “gue”, gimana “gue”, intinya bebas sebebas bebasnya. Manusia diciptakan untuk tidak menjadi apatis, melainkan sbg pemberi nasehat utk sesama manusia, karena kita hidup tidak hanya di dunia saja, dan manusia diciptakan untuk tunduk patuh kpd Allah SWT, bukan tunduk patuh kepada nafsunya. Naudzubillah.

          • sabar mbak. selama argumen mengenai LGBT masi versus agama, ya ga akan ada jalan keluarnya.

          • Gausah bawa bawa agama, kita demokrasi aja. Voting, yang kalah cabut bawa tuh penyakit kalian out dari Indonesia wk. No offense.

          • kaum pesakitan

          • mangge saeji

            Asal semua tahu, bahwa apapun itu namanya, penyakit itu tdk menular apabila anak2 sdh baliq. Yg gay ttp gay, ya yg straight ttp straight. Terkecuali bs dr kecil sdh diajarkan dgn hal2 yg berhubungan kaum itu, bisa jdi. Itupun prosentasex dibawa 50%

          • Ade R

            Hai agan-agan, honestly I’m gay. Tapi kalau mau berkomentar mengenai legalized same sex marriage khususnya untuk di Indonesia, hmmm I think you guys (straight people) enggak perlu setakut itu, karena kemungkinan kecil sekali pasti. Klise sih istilah “kita hidup salam budaya ketimuran”
            Walaupun saya gay, tapi kepikiran buat nikah pun enggak loh. Hahaha, saat masih naive banget pas muda iya khayalan-khalayan menikah dnegan romantisnya antara cowok dengan cowok emg jadi makanan sehari-hari. Tapiiii, makin kesini dengan bertambahnya umur, kayaknya enggak deh. Lagian asal kalian straight people tau aja ya, gay gay (dalam hal ini cowok ya) di Indonesia, terlebih Jakarta itu mostly enggak seidealis gay gay luar negeri sana. Ada yang emang faktor dia bisex mungkin, ada yang coba-coba (ini fakta dan saya pernah liat sendiri bukti-buktinya), ada yang based on family issues, atau bahkaaaan kebutuhan materi (such as what we called KUCING)

            Saya termasuk gay yang udah coming out ya, dari keluarga tau, temen tau, lingkungan bermain tau. Tapi pointnya yang selalu saya terapin adalah, being a gay is just like normal people, tetap aja dinilai sikap dan sifatnya. Regardless our sex orientation, we all are human being, correct?? Kalau bahas agama okelah I admit Tuhan Yang Maha Kuasa tidak memperkenankan hal ini. Akan tetapi melayani Tuhan bukan hanya cukup menjadi straight, banyak perbuatan lain kan. Normal people membunuh atau berzina dibandingkan gay yang berusaha enggak sembarangan sana sini. Which one is better?
            Hehehe, ini sih sudut pandang saya aja kok.
            Kalau mau diskusi atau bertanya apapun itu saya tidak berkeberatan sama sekali.

            Best regards,
            AR

          • Etheldreda Vanity Lulu

            Kenapa LGBT ga boleh dilegalkan si Indonesia? Karena masalah agama? Tuhan?
            Saya bosan denger kata Tuhan buat jd alasan. Aneh! Kalau iya cuma karena agama bilangnya A, Tuhan bilangnya A. Apa lebihnya manusia? Punya akal pikir buat baca, hafalin, lalu ikutin kata Tuhan? Nothing special if so.
            Boleh dicari level2 moral kholberg. Di level tertinggi itu, lbh dari sekedar mengikuti kitab.. mereka punya sense yg lbh dr agama.
            Lalu, emg knp kalo lingkungan pekerjaan ada yg gay? Salah? Jalo salah itu sama aja diskriminasi. Jadi anak Tuhan itu diajarkan buat diskriminasi? Enggak pastinya.
            Kebayakan org indo ga tau apa2 soal LGBT. Taunya Tuhan sama agama menentang.. lalu bawa2 kiamat. Paling gaje. I’m serious.
            Kalau ada yg jadi homo karena nonton bokep gay, padahal awalnya dia nonton bokep hetero.. kasih tau saya.

      • Etheldreda Vanity Lulu

        Buka buku psikologi dlu mas. Ditambah wawasanya. Biar argumennya pintar :))
        Jaminannya, coba mas mau ga sama lgbt? Enggak kan?
        Krn yg hetero akan ttp hetero. Yg lbgt ya bakal ttp lgbt. Kalo emg dr sononya ga ada minat seks sama sesama jenis, ya mau dikasih filem porno kyk gtu jg gak ngaruh mas… coba boleh di baca jurnal2 psikologi yg penelitian kuali, gmn yg gay sadar sama orientasi seksnya. Mereka pas ada kejadian misalnya kebetulan lbh lawan jenisnya lgsg telanjang dada lalu sempet touching dikit, eh mrk ternyata ke aroused, barulah mereka sadar kayaknya ada yg beda dari biasanya. Padahal mrk ga nonton bokep gay dlu, ga ada tuh yg kyk mas spekulasikan :)) open minded mas.. biar argumennya bagus.

    • Ricky Fajar Sidabutar

      bener juga sih ini argumen
      najong sih disuruh cium cowo hahahah

  • M Andre Juliansyah

    Moral udah ilang gan

  • M Andre Juliansyah

    Coba dong lebih di bahas lagi tentang larangan LGBT dari sisi agama mana pun

  • farabi

    Ayam jantan aja nyarinya betina. Ente lagi pake menang2in gay. Bawa2 jaman nabi luth pula. Klo kagak ngarti alkitab, kagak usah ngemeng kearah sana dah. Cuma bikin ente terlihat kecil pandanganya.

  • eksistensialisme

    sayang, argumen di atas tidak didukung data statistik. kalo muslim yg ngedukung LGBT ya pasti ada lah, tp seberapa banyak? apa jumlah itu bisa merepresentasi pendapat kaum muslim?. ada LGBT yg tidak suka pesta2, tp seberapa banyak? apa jumlah itu bisa merepresentasi perilaku kaum LGBT, khususnya di indonesia? dan ada beberapa contoh lain di atas yg secara statistik juga tidak teruji validitas argumennya.

    aku gak bilang yg banyak itu yg benar, tapi kalo cuma nyontohin satu-dua kasus, terus itu dianggap representatif, itu yg salah.

    artikel ini ingin menolak stereotip, tapi penolakan itu hanya menjadi sekedar pembelaan saja yg kadar kebenarannya tidak signifikan krn tidak didukung dg fakta statistik. penolakan itu bisa dianggap lebih dipercaya jika misalnya, “siapa bilang LGBT suka pesta? menurut survei yg reliable, 8 dari 10 LGBT tidak suka pesta2.” itu baru bisa dipercaya. kalo cm argumen tok, semua orang berargumen membela kepentingannya. yg penting, tunjukkan fakta statistik yg bisa mewakili. sayang, fakta2 di artikel tidak mewakili (outlier/pencilan).

    mnrut pak quraish shihab, orang LGBT sebaiknya berusaha berobat dulu, tapi kl memang udah ga bisa diobati, yah usahakan operasi ganti kelamin. kl urusan dia nanti masuk surga/neraka, itu hak prerogatif Tuhan. pertanyaan saya, semisal LGBT itu memang tidak ada salahnya, lalu mereka berbuat baik & masuk surga. di surga, LGBT tetep LGBT atau otomatis ganti kelamin? atau bagi yg gak mau ganti kelamin, apa tetep boleh bercinta dg yg sejenis? atau, kalau di dunia dia sebenarnya LGBT tapi tahan diri krn katanya dilarang agama, kalo dia masuk surga, apakah dia jadi LGBT?

    pertanyaan selanjutnya, kalo orang menerima LGBT, kenapa orang yg menerima LGBT itu tidak menerima poligami/poliandri? kan itu sama2 penghormatan thd HAM juga? kalo melanggar HAM, yg ditolak itu kan pelanggaran HAMnya, bukan LGBT/poligami nya..

    • Meilandra

      Poligami atau poliandri dapat dijalankan dengan persetujuan kedua belah pihak agar tercipta keadilan dalam rumah tangga, seperti contohnya salah satu guru saya waktu di SMA, Beliau melakukan poligami dan disetujui oleh istri pertamanya, keharmonisan mereka bertiga pun terjaga, bahkan ketika istri kedua dari guru saya meninggal, istri pertama Beliau meneruskan berjualan di salah satu tempat di kantin SMA saya dahulu (istri kedua guru saya kebetulan berjualan nasi uduk di kantin). Masalahnya adalah, para pelaku poligami (kita mengambil hal yang paling lumrah di negara kita ini) cenderung melakukannya demi melampiaskan napsunya, jika sang istri tidak setuju, pasti bawa agama. Syaa pribadi tidak mempermasalahkan poligami atau poliandri, namun kenyataannya, kebanyakan poligami atau poliandri hanya berjalan sebagai pelampiasan napsu dan menyakiti pasangan.

    • gatel ingin nimbrung ‘pertanyaan selanjutnya’ . yakin org yg menerima LGBT ga nerima poligami/poliandri? beneran yakin? pernah denger poliamori gak? dan lagi kalau saya gak setuju poligami/poliandri apa saya langsung koar2 larang ini larang itu? sederhananya saya hanya tidak akan melakukan poligami/poliandri/bahkan mungkin poliamori. tapi ada yang nerima LGBT juga mendukung poligami/poliandri bahkan poliamori. selesai. jadi jangan di generalisasi bung.

      Lalu mengenai surga dan LGBT. urusan tuhan lah itu. pertanyaan anda hanya bisa dijawab oleh tuhan, boleh duluan kesana tinjau lokasi, kabar-kabar aja bgmana kabar disana. pertanyaan anda mengenai surga tapi pemikiran anda masih hanya sebatas ragawi.

    • dan, bercinta disurga? oh plis.

    • monke

      nggak ada hubungannya sih LGBT sama operasi kelamin. nggak semua gay mau jadi transeksual, makanya ada T itu di belakang. banyak temen saya yang gay yang nyaman2 aja jadi cowok atau cewek, cuma ya orientasi seksualnya dengan sesama jenis. dan selama ini kayaknya nggak ada yang bilang poligami/poliandri melanggar HAM. itu kan berpulang sama individunya, mau menjalani apa nggak. setau saya juga gak ada larangan pemerintah. kenapa jadi dihubung2kan?

    • eksistensialisme

      thanks all komen2nya heehe…

    • Kaeiten Fitzgerald-MacKenzie

      beberapa stereotip tentang kaum hetero:
      -homophobia, transphobia, bi/panphobia
      -demen gonta-ganti pacar
      -suka hura-hura
      -kalau deket sama lawan jenis itu pasti lagi PDKT dan mustahil cuma “temenan”
      tolong statistik survei yang membuktikan bahwa stereotip itu tidak benar.

  • Dinsss

    ya argumen dalam artikel ini menurut saya juga (maaf) sia-sia. setiap orang punya pandangan masing-masing. ada yang setuju sama same sex marriage, ada yang tidak. yang setuju punya alasan masing-masing, yang tidak setuju juga punya. tapi ketika orang-orang yang tidak setuju dengan isu LGBT langsung diserang, dicaci, dikatai pemikiran jaman batu, terdoktrin oleh agama, bigot, dan lain sebagainya, ya saya jadi pengen ketawa aja. oh gini toh, minta equality tapi gak bisa menghargai perbedaan. ironis.
    anw saya paham kalau LGBT ada di sekitar kita semua, cuma krn uu pernikahan sejenis baru aja disahkan di amerika, isu ini jadi hot di indonesia. saya fine-fine aja dengan orang gay, tp saya gak mendukung LGBT. for some people like me, we just oppose the behavior, but we don’t hate the subject.

  • XiodyZ

    gw punya saran… buat yang berpikiran luas seluas langit dan bumi.. besok kita buat legalitas bagi penyandang penyakit Kleptomania… kita kasih hak untuk mereka… wokwokwokwok penyakit kok di biarin bukan di sembuhin…

  • Ina

    For me God is perfect…God is never wrong!…He only creates man and woman!….

    • False! God create animal, and plant, and bacteria, and parasite, and rock, and water, and sand, and carnivore, and herbivore, and omnivore, and good people, and bad people, and wk. Terusin sendiri tapi God create NO LGBT. Wk

      • Ina

        U MAD…Maksudnya He only creates man and woman adalahTuhan hanya menciptakan laki2 dan perempuan..artinya tidak menciptakan lesbi atau gay….belajar bhs Inggris lagi yg benar ya nak!!!!!….

        • You tulis “HE ONLY CREATE MAN AND WOMAN.”

          1. You tau darimana dia “HE”?
          2. Tapi kan tuhan ciptakan banyak hal. Wk. Dumb ass.
          JFK m8 (Just Fukin Kidding). Lel.

  • tutur prihatin , sepertinya penulis miskin ilmu , seperti nya tidak punya pegangan hidup

  • kruwel

    Ssseeetdaahhh…. paragraf awal aja udah ngaco… semakin kebawah makin ngaco… haha

  • Yudha Kusuma Putra

    apa penulis pernah berfikir, kenapa ada siang dan malam? ada panas dan dingin? ada gelap dan terang? ada adam dan hawa? ada yin dan yang?

    itu semua ada untuk keseimbangan alam.

  • dahayu kaede

    Kadang2 aktivus pendukung LGBT lebih galak dari yg menolaknya deh…. Buka kitab suci nggak selalu anak buah felix jg keleeusss…

  • Mas Danar

    pemikiran yang sangat KEBLINGER..hahaha

  • lala

    Dulu zina dianggap aib, skrg dianggap wajar, klo dibiarin lgbt pun ikutan minta dianggap wajar, trus pedofil dan inses juga gk mau kalah, klo sdh begitu rusak tatanane urip,
    Pernah gk lgbt dan aktivis lgbt mikirin semua itu?
    Jgn cuma ngerasa pemikirannya luas klo argumennya slm ini cm bisa berkutat soal isu ham.
    Isu Ham slama ini cm jd alat politik mamarika buat ngobok2 bangsa lain

  • Sarassammu Cake

    Wah… Ini pembahasan klo sudut pandang agama sudah jelas hukumnya… Tapi jika dibahas dengan sudut pribadi masing-masing manusia ya pastilah beda-beda tanggapannya. Ada yang pro ada pula yg ngk pro. Mau dikatakan “tergantung individu masing-masing” sy yakin nantinya ada yang bilang “ah… Ni orang nalarnya sampai gitu doang”. Dilanjutin, biar sampe 7 turunan sy yakin 100% ngk bakalan dapat kesepakatan mutlak. Padahal tiap pertanyaan atau diskusi kan musti ada jawaban yg di sepakati. Nah, kalo bisa berasumsi sekali lagi, ini diskusi sebenarnya panjang lebar tak jelas endingnya, sama saja berdebat duluan ayam atau telur. Mendiskusikan masalah mestinya “di dalam ruang yg sama”…

  • Hadi Suryadi

    Logika berfikir yg sangat brillian….larangan agama dianggap gak berlaku lagi hanya karena ada beberapa orang muslim di Perancis yg mendukung LGBT?? agama Islam itu landasannya syariat yang tertuang dalam kitab suci Al-Quran….hukumnya jelas, kalo dilarang berarti ga boleh. Jangan bikin pemahaman sendiri kecuali situ tuhan….anyway saya Straight dan saya tidak setuju kalau LGBT dilegalkan di Indonesia!

  • Aisyah Turido

    Mas yuk baca kitab suci? Anda kapirankan coba baca kitab suci jgn cuma andelin otak dengkul,

  • Agung

    Nice try gay supporter

  • cheanizer

    Hmm. kak, menyebut gay adalah genetis ko kayaknya nggak pantes ya.

    Orang cacat genetis?, itu benar.
    Orang keterbelakangan mental, genetis?, itu juga benar.

    Tapi gay,(atau lesbian) itu kelainan mental. hal yang di sana tidak timbul sebelum anak itu lahir. kita ngak bisa vonis bayi 2 tahun laki laki seneng pake baju perempuan itu gay. tidak. lingkungan mereka yang secara tidak langsung mempengaruhi pola pikir mereka.

    Dan gay itu bisa di balikan (bukan di sembuhkan karena bukan penyakit). hanya saja. beberapa kasus klient (orang yang diterapi) serius pengen balik tapi masih menikmati apa yang ada pada dirinya saat ini. Jadi karena kelainan mental. yang proses membalikanya bisa lama sekali. terapi itu gagal dan kembali menjadi gay.

    Dan sekali lagi, itu pilihan.

    Yang jelas, penyebutan penyakit genetis sepertinya kurang tepat, Penyakit genetis ko menular. Menyebut penyakit saja sudah kurang tepat.

  • Zaky

    Gay Marriage, mau legal mau ilegal toh tetep ngentot, mau legal mau ilegal toh tetep gabisa bikin anak.. buat apasih?

  • Bambang Tedja

    Mosok ya sebelahan sama bencong ga boleh risih? Mosok ya semua orang hrs mendukung LGBT? Justru kaum gay jgn ikut2 gaya hidup hetero. Jgn menikah. Byk diantara kami yg hancur, kdrt, dll. Cari cara sendiri sono. Jgn menikah. Menikah itu berbahaya. Kami sdh membuktikannya. Sulit. Kami hrs mengajari anak2 tradisi keluarga, sex yg aman dan sehat. Masak penis dimasukkan dubur. Dubur kan tempatnya kotoran?Yuck.. …Ga usah gitu2 amatlah jelek2in pernikahan hetero. Kenyataannya banyak pasangan homo yg psycho, contoh: ryan, yg sampe bunuh 40 org..klo org hetero paling bunuh 1 klo cemburu. Ga usah merasa paling benar..

  • Bambang Tedja

    irit nalar? la wong masing2 pihak ngotot dia yg paling benar.. klo memang pernikahannya hetero banyak bermasalah, kenapa kaum homo ngotot pengen nikah juga. udah aja sana kumpul kebo aja..kan ga ada tanggung jawab..kaum gay dkk ini kan orientasi seksual, biasanya ya soal esek-esek, nothing more.. klo pun nikah hanya soal seks doang kan? bayangin aja penis dimasukin dubur, yuck..apa namanya ini klo bukan penyakit? kadang akademisi justru keluar dari common sense..

  • giok

    Di kabupaten batang 90persen berhijab wkwk ya iyalah sampel nya di indonesia , kalo sampelnya di amerika juga 100 persen ga berhijab , sampelnya di afrika ya 98 persen orang hitam

  • marbot masjid

    Komen dikit, gw straight bukan anak buah felix siauww, ngerti agama walopun gak banyak.. Jelas gw gak dukung LGBT, dari norma hidup melenceng, agama juga larang, dari komen sblmnya jg gw setuju ini sbg kelainan mental yg sbenarnya bisa diperbaiki (dengan usaha yg kuat).. “kutipan hiv/aids tidak ada hubungannya dgn orientasi seksual dan moral” waa iki perlu diperjelas.. Ya jelas ada, orientasi seksual ujung2nya bs keperilaku seksual juga kaan?! Kasarnya nih, ngapain LGBT memperjuangkan utk nikah sesama jenis, klo nanti (stlh nikah) cuma ngobrol2 mencurahkan kasihsayang secara verbal doang,, gw haqul yaqin gak mungkin,, pasti lah ada kegiatan fisiknya.. Seks per anal misalnya, yg jelas2 dari sisi medis dilarang krn disitu bisa merusak sistem pencernaan (termasuk anusnya).. Anus tu rawan luka coy, krn mmg bukan tempat harfiahnya utk coitus.. Manalaaaagi ada ambeiyennya, makin2 lah itu resiko penularan hiv/aids terjadii.. Hehe

  • Junaedi Ghazali

    Pada dikerjain windu ini mah

  • Salim Al Fatih

    Bagaimana jika anak bapak menjadi salah satu dari mereka yang terkena LGBT? Apa bapak rela?

    LGBT sesungguhnya merupakan salah satu kasus yang terjadi karena kehidupan masyarakat yang Liberal. Masyarakat yang merasa bebas melakukan apapun selama tidak mengganggu privasi manusia lain. Akhirnya campur-baur pergaulan antara lawan jenis hingga tanpa batas, menghasilkanlah LGBT ini.

    Kehidupan mereka yang bebas seolah tidak sadar, bahwa kehidupan mereka sesungguhnya harus diatur oleh pemilik dan pencipta mereka sendiri.

    Ever you think about it?

  • Aoda Klerig Prewinsetya

    Sebenarnya di Indonesia hanya menjelek2kan LGBT, yg diposting selalu berita buruk tentang LGBT entah Ryan atau siapalah… mungkin intinya Penulis mengajak masyarakat untuk menerima keberagaman orientasi seksual. sedang utk eksual, kalian tahu tradisi Mairil di pesantren atau bahkan perilaku seksual di penjara? jangan dikira mereka baik2 saja lho… kalian berfikir jijk ketika berhubungan seks dengan sesama, begitu juga lesbian dan gay yang jijik ketika harus membayangkan hubungan lawan jenis. belum ada penelitian yang pasti LGBT berasal dr pergaulan bebas, faktor broken home atau genetic. yang jelas di Indonesia ada LGBT dan diminta utk saling menghargai, jadi gak bakalan ada issu waria suka ganggu suami org, lha katanya jijik kok malah keliatan suaminya mau shg doyan waria/gay. kalau mau pakai dasar agama, agama mana yg menyarankan seks di luar nikah, lihat putri/pelajar putri yang gak sedikit dah sex dl sblm nikah, kira2 dosa nda? mbok tolong. hargai keberagaman orientasi seksual orang lain.

  • Aoda Klerig Prewinsetya

    Betul..!!!! setuju banget, ngapain mikirin hidup matinya orang laen… kaya die aje yang nyiptain idup..

  • fariz

    jadi menurut antum argumentasi macam apa yang tidak sia-sia seputar lesbi gay dan kawan2nya?

    fariz gobel biografi habibie negara terkaya di dunia

  • I’mfemmeh Dahtobat

    Saya lesbi, namun saya tidak suka dengan argumentasimu yg keluar dari pikiranmu. Saya capek jadi lesbi, Its not normal. bercinta pake alat bantu, tidak menghasilkan anak antara pasangan (pake sperma co lain? Sekalian aja minta sama adek kandung atau ayah kandung). Ini harus kita lawan bukan untuk dibanggakan. manusia pertama aja nabi Adam dan Hawa aja lawan jenis, coba kalau mereka gay atau lesbian pada wkt itu, apakah bakal ada keturunannya seperti kita?

  • hensan

    agama dan science beda deh, harusmya ga isa disamakan apalagi dibandingkan. beberapa hal dalam science ga isa dijelaskan kitab yg usianya ribuan tahun itu. science bekerja berdasarkan bukti, maka selalu berkembang, agama yah pokoknya menurut buku itu bener ya itu yg bener. kadang sampe memaksakan science seolah sesuai sama agama.

    beda percaya dgn melihat dan percaya tanpa melihat.

  • noname

    Dulu, kaum sodom dan gomorah yang “menghantui” pengikut Nabi Luth. Sekarang yang katanya pengikut Nabi Luth yang “menghantui” yang katanya pengikut kaum sodom gomorah. Hhhmmm…. Jaman nya udah terbalik yah.. 🙂

  • Sophia Lestari

    emang susah debat sama kaum homo. dengan larangan dan ancaman azab Tuhannya aja ga takut apalagi pada manusia.

    • Sophia Lestari

      …yang cuma bisa mengingatkan dan menasehati. atau mendebat. whatever.

  • Panggah Muhammad Ridwan

    Yang namanya manusia itu sudah diciptakan berpasangan pasangan, laki laki ya dengan perempuan, bukan sesama jenis. Itu semua agar tercipta rasa saling menyayangi dan mencintai, serta bisa menghasilkan keturunan. Dunia mau kiamat, back to jahiliyah. LGBT Itu sangat menjijikan. Persis seperti jaman Nabi Luth. Dunia akan hancur dan kacau balau tanpa ada aturan dari Agama Islam.

  • msgundam
  • Fauzy Edugawa

    Nggak biasanya Komennya biasanya ada CASPLOCK :v

  • Sendi Maulana Agusti

    tapi gue bingung bos gak kebayang kalo seisi dunia ini guy….. hahahahaha

  • blubeetle

    Racun beginian disebarin.

  • Ku_Dio

    Semua org ngomongin HAM
    Oke boleh aja ada HAM, tapi ada batasannya toh. Memang manusia jaman sekarang pengennya bebaaass, agama pun banyak diutak atik biar sesuai keinginan. Comot satu ayat tambah sedikit argumen jadilah menghalalkan yang haram.
    Astagfirullah. ..
    Memang ini pertanda kiamat sudah dekat. Ingat, hal ini udah diramalkan oleh Rasulullah SAW,bahwa kaum yang seperti nabi Luth akan ada kembali, bahwa kiamat akan datang setelah tidak ada lagi bayi yang lahir-efek kb,lgbt,kemandulan-, bahwa orang beriman akan tiada-kecuali yang mengaku beriman, menyebarnya fitnah dunia dan dajjal-melalui media dan opini kaum liberalis-,
    Mbak dan Mas yang tidak mendukung lgbt-Alhamdulillah masih ada-,
    Perlu kita renungkan betapa bagaimana pun kita berkoar-koar, semua ini sudah ditentukan, biarlah kita menyebarkan antipati pada para keturunan agar hal ini dapat sedikit tertunda oleh Allah SWT,
    Bagi yang mendukung, jelas sekali mereka -jauh dalam lubuk hati-sadar bahwa mereka mengingkari ketentuan Allah, mereka lebih cinta pada pikiran mereka sendiri daripada Allah, setiap agama yang benar pastilah menentang lgbt, secara gitu, kalo lgbt dihalalkan-menurut mereka-dalam entah Quran atau Bibel, kenapa pas nabi Adam AS sendirian, Allah menciptakan Hawa? Kenapa tidak menciptakan Sally aja sebagai pendampingnya?
    Kenapa anak Adam, dipasangkan dengan yang berbeda jenis kelamin? Kenapa? Kalian bilang untuk menghasilkan keturunan? Kun fayakun, kalau Allah berkehendak dapat saja pas penciptaan awal manusia Adam diciptakan bisa hamil, namun kenapa harus ada Hawa? Karena memang Allah berkehendak begitu, memang manusia diciptakan berpasangan kecuali Maryam atas izin-Nya.
    Lantas kenapa ada yang katanya dari lahir sudah lgbt? Apa benar?
    Ini semua faktor psikologis kok. Cari aja di Google daripada repot bongkar perpus,
    Biasanya para lgbt ini karena trauma seks, kurang kasih sayang org tua, bergaul dengan para lgbt, dibesarkan dan dididik dengan cara yang salah,
    Saya dulu lesbi, -Alhamdulillah sekarang tersadarkan- itupun saya mengaku jujur dari dlm hati karena org tua saya yang broken dan pernah mengalami penyimpangan seks, akui sajalah, lgbt itu terjadi akibat faktor psikologis, nggak ada bayi yang lahir dan tumbuh jadi seorang balita gay kecuali dia pernah punya faktor” traumatis yang mempengaruhi psikologis nya.
    Intinya, bohong kalau ada yang bilang kelangsungan keturunan manusia nggak akan musnah kalau adanya legalisasi lgbt,
    Lgbt itu, sekali dilegalkan akan menyebar luas, ditayangkan di televisi, dilihat anak” video mereka, membuat mereka terstimulasi untuk mencari tahu dan membenarkan, menanamkan dalam pikiran mereka bahwa itu boleh kemudian tanpa disadari mereka juga mebjadi salah satu dari kaum lgbt itu-saya juga dulu dari hal yang berbau video lgbt jadi lesbi soalnya-,
    Pada dasarnya manusia itu makhluk yang selalu ingin tahu, alasan kenapa nabi Adam diusir dari surga-, jadi sekali ada sesuatu yang baru-ex.legalisasi lgbt- pasti mereka ingin mencobanya, kecuali yang imannya kuat, ya
    Huft, segitu saja dulu pendapat saya, kalau ada yang mau komentar saya acuhkan saja, saya hidup untuk Allah dan karena Allah bukan untuk mendengar pendapat anda.
    Jazak Allah 🙂

  • Etheldreda Vanity Lulu

    Saya bukan org yg sangat religius.. tapi iya saya sangat nyaman dengan agama saya. Tapi saya bukan tipe yg hafal isi kitab dsb. Yg sama mengerti adalah konsepnya (saya buddhis). Awalnya saya kira agama saya juga menentang homoseks, tp karena saya lbh memilih berpegang kepada moral dan kemanusiaan, saya ttp mendukung homoseks. Baru2 ini saya tahu kalau ternyata agama saya tdk menentang. Syukurlah. Hehe
    Pertanyaan: kalau kalian pria yg sukanya sama wanita.. bisa ga kalian berubah orientasi seksual kalian jadi yg homoseks?
    Sama dgn mrk. Ga bs dirubah..
    Lalu kalian blg mrk berdosa lah balalala… lalu apa solusi yg kalian berikan? Kan mrk emg orientasi seksualnya begitu. Bukannya itu jadinya kalian (pihak yg mencela lgbt) seperti mengdiskriminasi dan menjadikan mrk bulan2an agresi kalian ya? Lalu.. kalau begitu.. apa baiknya kalian sebagai umat beragama? Buka kitab/alquran/dsb? Hanya segitu.. kalau begitu mah kalian masih belum ada apa2nya. Agama itu bukan pelajaran, bukan dihafal.. tp diinternalisasi kedalam hidup kita. Hiduplah dgn menyebarkan cinta kasih.
    Menurut saya, agama itu harus sejalan dengan moral. Makanya pas saya kira agama saya bentrok sama moral, saya lbh milih moral. Knp? Karena agama itu bermoral.. konsepnya sejalan dgn moral… yg penting itu konsepnya. Peraturan dll itu kembali lg ke kepercayaan msg2. Tp kalau lg bentrok, lbh pikirkan dulu baik2.

  • Abdullah Ibn Abi Quhafah

    Mana ada anjing jantan kawin sama anjing jantan… hahahah

  • Meutia Arianti

    Now I’m not talking about religion/s, terutama artikel Anda yang cenderung rasis, sarakstik, dan penuh penghinaan tentang beberapa subjek, but…
    LGBT people atau orang-orang yang mendukung menurut saya adalah sosok-sosok orang yang absurd, tidak dapat menggunakan otak dengan baik, and even suka nge-rekayasa.
    Kenapa??
    Sebelum 1970-an psikologi menjelaskan bahwa LGBT merupakan penyakit kelainan mental, and then 1974-an penyakit kelainan seksual, lebih spesifik lagi dari sebelumnya. Selanjutnya 1975 semua segel, cap, selotip, atau apalah itu yang digunakan buat ngejelasin kalau LGBT people itu sick, dihapuskan! I think it’s crazy!!
    Teman saya yang entah bi atau lesbian ngomong kalau ilmu psikologi bukan eksakta dan gak punya batas. Kalau sebelumnya itu dibilang sebagai penyakit kelainan mental ‘menurut psikologi’, terus dihapus, itu wajar. Karena katanya, menurut psikologi batas antara hitam dan putih itu abu-abu.
    But why?? Menurut saya warna abu-abu itu pun hanyalah sebuah ‘ke-mbleyeran mripat’, fatamorgana, atau bahkan delusion, untuk menutupi garis asli yang tegas di antara warna hitam dan putih itu, entah sengaja maupun tidak sengaja.
    Lihat kan sekarang, menurut fakta tentang penghapusan selotip itu, mereka mengada-ngada. Anda merekayasa! Mereka merekayasa sesuatu yang sebenarnya nggak seperti itu untuk menenangkan diri mereka sendiri. Okelah, kalau kalian bilang, Anda bilang, mereka punya rights! HAM! Tapi fakta gak bisa bohong kalau mereka itu sebenarnya emang udah sakit, gak mau disalahin, dan pada akhirnya… Merekayasa!
    Of course, sebagai manusia saya gak punya hak untuk menyalahkan pilihan individu-individu lain. Tapi judge, komentar, dan kritik sarkastik serta penghinaan boleh datang dari siapapun. I’m homophobic, serius, bukan karena jijik (yang teramat sangat jijik), tapi kejijikan saya adalah karena mereka kayak tong kosong ngerti gak? Buat apa ada akal, otak, segala jiwa, kalau mereka malah memilih sesuatu yang salah padahal ngerti yang benar, dan memanipulasi akal, otak mereka sendiri kayak idiot?
    Please deh…
    *Just an opinion

  • Novian Abadi

    Penulisnya dari Jogja atau pernah hidup di Jogja. Oh ya mungkin juga sudah lupa kalau bencong Wates sudah gak ngamen di kereta karena masuk peron aja sudah gak bisa.

  • TheKnightofThePonyOrder

    Pffft, argumentasi bodoh semua itu… Tetapi tetap saja argumentasi Anda kurang kuat.

No more articles