“Sejak gue ketemu elo, gue berubah jadi orang yang beda. Orang yang enggak benerrr.”

Itu satu dari sekian dialog film AADC yang masih saya hapal sampai sekarang.

Tentu saja saya masih ingat, lha wong saya menontonnya berkali-kali. Tapi, maaf, ketika itu saya tak bawa sempoa, jadi saya tak tahu angka tepatnya berapa. Yang saya ingat benar, di bioskop dua kali.

Kali pertama sendirian, gara-gara kena PHP perempuan yang saat itu sedang saya dekati. Kali kedua nonton keroyokan bersama kawan-kawan. Sementara kali-kali yang lain saya menontonnya hanya lewat VCD.

Tapi, jujur saja, saya tak tertarik menonton AADC2 kali ini. Saya tak punya rencana nglurug Solo, Semarang, atau Jogja hanya demi selembar tiket AADC 2 (di kota saya bioskop sudah almarhum, berubah jadi rumah karaoke, terminal angkota, dan gereja).

Kenapa?

Tak Ada Alya yang Diperankan Ladya Cheryl di AADC 2

Dulu, pada masanya demam AADC sekaligus demam Dian Sastro, saya juga ikut membayangkan Dian Sastro sebagai pacar idaman. Saya menonton semua filmnya. Menempel fotonya di dinding kamar saya. Mengikuti kabar beritanya lewat koran dan televisi. Dan saya pastinya juga tampak antusias ketika nama Dian Sastro menyelip dalam obrolan bersama kawan.

Padahal, saya akui, semua itu palsu. Hanya sandiwara. Semata hanya karena mengikuti trend, alias hanya ngumumi. Sementara jauh di dalam hati saya, menancap kuat satu nama: Alya. Ho’oh, Alya yang diperankan Ladya Cheryl.

Alya, kita tahu, adalah gadis yang paling bijak di antara teman-teman se-gengnya. Dialah yang sanggup mengendurkan syaraf-syaraf Cinta tiap Cinta muring dengan Rangga. Dia pulalah sang negosiator yang berhasil membujuk sekuriti bandara hingga Cinta berhasil mengejar Rangga.

Hingga kemudian Rangga dan Cinta dapat saling mengungkapkan perasaan, berciuman klomoh sebagai kenang-kenangan perpisahan, dan Rangga pun memberi Cinta buku catatannya yang berisi janji suci: ia bakal kembali dalam satu purnama.

Kisah yang menggantung itulah yang memungkinkan AADC 2 ada.

Coba bayangkan jika bukan karena Alya. Tentu Cinta tetap tertahan sekuriti bandara. Lalu bisa jadi seseorang lewat dan tanpa sengaja menjatuhkan sebuah buku. Dan begitu sekuriti tadi meninggalkan Cinta dan geng, diam-diam Cinta memungut buku tersebut. Terbaca di sampulnya yang hitam: “Puthut EA”, “Sebuah Kitab yang Tak Suci”.

Singkat cerita, Cinta menyukai cerita-cerita di buku tersebut. Entah dari mana, ia kemudian mendapatkan alamat email penulisnya.

BACA JUGA:  Cleaning Service Bioskop, Si Ujung Tombak Bisnis Perfilman

Mulanya, adalah sebuah surat yang biasa ditulis pembaca buku kepada penulisnya. Balasannya pun surat biasa seorang penulis kepada pembaca bukunya. Tapi kemudian, oleh kehendak Semesta, mereka rajin bertukar kabar, chatting lewat Yahoo Messenger, saling mengirim puisi, ketemuan, kencan-kencan, dan karena merasa saling cocok mereka pun jadian.

Kalau AADC ceritanya berbelok demikian, bisa jadi AADC 2 adalah rekaman video kumbakarnan, dilanjutkan bapak-bapak yang sedang bahu-membahu memasang tratag, ibu-ibu yang sibuk rewang di dapur, prosesi siraman, ijab kabul, dan resepsi pernikahan Cinta dan Puthut EA.

Apakah kalian rela jika itu terjadi?

Sedemikian besarnya jasa Alya bagi Cinta, juga film AADC, tapi ujung-ujungnya AADC 2 tanpa dia. Kurang ajar. Memang sih, konon karena Ladya Cheryl sibuk menyelesaikan pendidikan. Tapi bisa saja kan pembuatan AADC 2 diundur kelak setelah urusannya dengan sekolahan rampung? Atau bisa pula ia cuti dulu, syuting AADC 2, baru sekolah lagi.

Ini yang membuat saya sulit mengerti sekaligus sukar menerima. Hih!

Tak Ada Ladya Cheryl yang Memerankan Alya di AADC 2

Karakter Alya di AADC mau tak mau membuat saya kemudian jatuh hati pula dengan Ladya Cheryl. Demikianlah: berawal di Alya, berlanjut ke Ladya.

Hubungan kami (maksudnya hubungan penggemar dan idolanya) berlangsung bertahun-tahun, sampai kemudian saya menikah dengan istri saya. Saya sempat punya folder khusus berisi foto-foto Ladya Cheryl di komputer saya. Juga film-film dan video klip-video klip yang dibintanginya.

Bahkan pernah pula saya iseng mengarang skenario film Ada Apa dengan Alya (AADA). Atau kalau mau yang lebih norak, saya kasih judul lain: Antara Aku dan Alya (juga disingkat AADA).

Untungnya skenario film itu hanya berada di kepala saya. Kalau saya tulis, lalu bocor dan dibaca bapak saya, misalnya, tentu ceritanya akan berbeda. Mungkin sekarang di dompet saya terselip sebuah kartu sakti: kartu kuning.

Sekali pun kami sudah putus (maksudnya saya sudah tak begitu mengikuti kabar beritanya lagi), tapi kabar Ladya absen di AADC 2 masih pula membuat saya terasa hampa. Setengah linglung, separoh limbung, saya membaca satu demi satu berita tersebut.

Saya merasa berjalan dalam labirin tak berujung yang kandungan oksigennya setipis batas antara dendam dan kenangan. Sesak.

Kebenaran seringkali pahit tapi kau harus berani menghadapinya. Kalimat usang selawas gombal mukiyo itu mendadak berdengung di telinga kanan saya (earphone yang kiri mati). Pengucapnya seorang motivator tak bernama. Pelan, pelan sekali, saya pun sanggup menerimanya.

BACA JUGA:  Surat Tertutup buat Oom Krishna Murti

Saat kesadaran saya sudah benar-benar utuh, saya kemudian memberanikan diri masuk lebih jauh: ke kolom-kolom komentar. Anda pasti juga tahu, pada zaman telepon pintar ini, membaca kolom komentar membutuhkan nyali yang lebih. Penelusuran juga saya lanjutkan di kotak percarian media sosial.

Sampai kemudian saya mendapatkan kesimpulan bahwa saya tak sendirian. Ada jutaan massa penggemar Ladya Cheryl yang memeram kekecewaan.

Sayangnya kekecewaan tersebut hanya berakhir pada berdirinya tagar #SaveLadyaCheryl. Kalau ada yang lain, hanyalah ajakan membikin petisi. Lantas, apakah aksi tersebut membuahkan hasil?

Tidak! AADC 2 tetap dibikin tanpa Ladya Cheryl. Bedebah!

Ceritanya bakal berbeda andaikata Bung sekalian membentuk gerakan yang lebih nyata. Baik secara bawah tanah atau terang-terangan, silakan. Namanya bisa Liga Pemuda dan Bapak Muda Nasional untuk Ladya Cheryl (Lem Panas Ladya Cheryl), atau apa saja.

Bangun solidaritas di tiap kota. Sebarkan pamflet-pamflet propaganda. Media sosial bisa pula dipakai sebagai salah satu alat. Tapi jangan tergila-gila trending topic. Sebab trending topic tanpa kesadaran massa adalah percuma.

Lalu, ketika saatnya tiba, duduki semua bioskop se-nusantara. Tulis besar-besar tuntutan kalian di spanduk berwarna merah jambu “TURUNKAN LADYA CHERYL DI AADC 2 ATAU SEMUA GEDUNG BIOSKOP KAMI SULAP JADI PABRIK TAHU”.

Kalau tak ada bioskop di kota Anda, seperti kota saya, berbondong-bondonglah ke tempat-tempat ibadah. Untuk apa? Ya untuk berdoa. Masak tempat ibadah untuk kampanye pilkada.

Ladya Cheryl Tak Main di AADC 2

Konon Ladya Cheryl tak betul-betul absen di AADC 2. Ia bakal tampak sekilas alias menjadi cameo.

Saya yakin niat Mbak Mira Lesmana, juga Ladya Cheryl sendiri tentu saja, baik. Melintasnya Ladya Cheryl mereka anggap mampu mengobati luka para penggemarnya. Tapi, bagi saya, sekilas dan tidak adalah sama saja. Ladya Cheryl tetap tak main di AADC 2.

Ya, saya tak akan menonton AADC 2. Bahkan saya tetap bergeming sekalipun terdengar suara merdu di telepon saya, “Mas, ini Ladya. Sabtu malam besok nonton AADC 2, yuk! Berdua. Cuma kamu dan saya.”

Tentu bukan karena tak mau. Melainkan saya takut nasib saya bakal rampung di tangan istri saya.

No more articles