MOJOK.COSeekor beo yang mengicaukan sejumlah kalimat, jelas tak bisa disebut “berbicara”, yatakallam.

Ini adalah mukaddimah untuk ulasan saya berikutnya tentang sifat Tuhan yang amat penting, yaitu kalam—bicara, pembicaraan, ujaran. Pengantar ini saya kemukakan agar kita mengapresiasi betapa mulianya tindakan berbicara. Dan betapa lebih mulia lagi jika tindakan itu berasal dari wujud yang paling tinggi—Tuhan.

Kemampuan berbicara menandakan derajat wujud yang tinggi. Kemampaun ini terkait dengan sifat lain yang sudah saya bicarakan dalam tulisan seri sebelumnya, yaitu kemampuan untuk mengetahui dan menerima pengetahuan.

Seekor beo yang mengicaukan sejumlah kalimat, jelas tak bisa disebut “berbicara”, yatakallam. Dia tetap kita sebut: berkicau. Parrot chirps, not speaks!

Para ahli tata bahasa Arab, al-nuhah, mendefinisikan “kalam” sebagai ujaran bermakna yang diutarakan dengan disertai niat, kesengajaan (bi-l-wadl‘i). Dengan kata lain, seseorang tak bisa disebut “berbicara” jika ia tak sedang sadar dan memiliki kehendak, niat, untuk berbicara. Ujaran pada akhirnya harus bersifat “intentional,” diniatkan sebagai pesan untuk pihak lain. Niat adalah aspek pembentuk ujaran yang amat penting.

Niat hanya dimiliki oleh makhluk berkesadaran (sentient being; hayawanun nathiqun), makhluk yang berkehendak (muridun). Kehendak inilah yang mendasari tindakan bicara.

Tindakan berbicara, karena itu, hanya muncul dari makhluk yang memiliki martabat wujud yang tinggi. Makhluk-makhluk yang berada di tangga rendah dalam “maratib al-wujud” tentu tak bisa memproduksi pembicaraan. Binatang, tumbuhan, mineral, mereka tidak berbicara. Mereka mungkin hanya mengeluarkan suara (dalam pengertian “sound,” bukan “voice”).

Ini menandakan: kegiatan bicara yang di permukaan tampak sederhana, hanya berupa sederetan sistem bunyi (fonetik) dan urut-urutan kata (sintaks) yang mengikuti aturan tertentu (grammar), bukanlah kegiatan yang sederhana. Dia merupakan hasil dari proses mental yang amat canggih, dan merupakan manifestasi dari martabat wujud yang tinggi.

Baca juga:  Tentang Kedermawanan Tuhan Menurut Al-Ghazali

Seekor kucing bisa memproduksi bunyi yang mirip dengan ujaran yang diucapkan manusia. Tetapi sungguh amat jauh perbedaan antara bunyi yang dikeluarkan oleh kucing dan manusia. Ujaran pendek “aku” yang diucapkan manusia, secara kualitatif berbeda dari bunyi “meow” yang dikeluarkan (di sini kita tak bisa mengatakan: diucapkan) oleh kucing.

Secara lahiriah, keduanya tampak sama: hanya satu kata. Tapi penampakan lahiriah bisa amat mengecoh. Kedua kata itu memiliki status wujudiah atau ontologis yang amat berbeda secara radikal. “Aku”-nya manusia keluar dari “kesadaran,” dari kemampuan yang disebut oleh para manathiqah, ulama ahli logika, sebagai “al-nuthqu,” kemampun menalar, mengetahui, yang kemudian bermuara pada kemampuan berbicara.

Hulu dari kegiatan berbicara pada manusia adalah iradah dan ‘ilm, sementara dalam “meow”-nya kucing, hulunya bukanlah kesadaran melainkan dorongan primitif untuk survival, bertahan agar tidak punah.

Kemampuan berbicara pun tidak tunggal. Derajat kemampuan ini, pada masing-masing orang, berbeda-beda. Merujuk kembali kepada gagasan muta’allihun (para ulama ahli ‘irfan, hikmah), tentang “al-wujud al-musyakkak” (wujud yang beragam dan bertingkat-tingkat), derajat kemampuan berbicara ini juga berhubungan dengan derajat wujud seseorang.

Semakin tinggi kualitas wujud seseorang, semakin terlihat padanya beberapa “khassiyyah” atau keistimewaan. Keistimewaan ini bisa berbagai-bagai bentuknya, salah satunya adalah kemampuan berbicara. Seseorang yang memiliki kemampuan berbicara yang baik, menandakan bahwa derajat wujudnya juga lebih tinggi.

Baca juga:  Cara Pandang Keagamaan yang “Unitive”

Derajat wujud yang tinggi biasanya akan langsung menimbulkan rasa kagum pada orang lain, serta menggerakkannya untuk “tunduk”. Orang yang memiliki derajat wujud yang tinggi biasanya akan memiliki “commanding authority”, otoritas dan kewibawaan yang menggerakkan orang lain untuk secara sukarela “sendika,” menundukan kepala.

Itulah yang disebut kharisma. Ini menjelaskan kenapa orang-orang dengan kemampuan berbicara yang sangat tampak seperti “magnet” yang menyedot perhatian.

Jika ini ditarik terus ke ujung yang terjauh, kita akan sampai kepada muara yang teramat penting: Jika kalam atau ujaran manusia bisa berujung pada hal-hal seperti ini, bagaimana dengan ujaran Tuhan?

Kualitas kalam dan ujaran Tuhan tentu jauh di atas ujaran manusia, sebab ujaran Tuhan berasal dari iradah dan ‘ilmu yang bersifat mutlak. Tuhan adalah dzat atau subtansi yang dari segi martabat wujud menempati tingkatan yang paling puncak (the summit of all beings). Karena itu ujaran yang keluar dari Tuhan juga merupakan Kalam (dengan K besar) yang paling tinggi derajatnya.

Walhasil, derajat wujud yang tinggi juga ditandai oleh kegiatan yang amat tinggi kualitasnya: pengetahuan yang menghasilkan tindakan berbicara. Kalam adalah produk dari makhluk dengan kualitas wujud yang tinggi, dan berkesadaran. Amat menakjubkan bahwa semua literatur klasik tentang nahwu atau Arabic grammar selalu dimulai dengan pembahasan tentang “kalam.”

Karena Tuhan Maha Berbicara, maka manusia yang memiliki “unsur ilahiah” di dalam dirinya itu juga berbicara. Dan hanya manusia saja yang berbicara!


Sepanjang Ramadan, MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus “Wisata Akidah Bersama al-Ghazali” yang diampu oleh Ulil Abshar Abdalla. Tayang setiap pukul 16.00 WIB.