{"id":99958,"date":"2021-01-11T13:35:45","date_gmt":"2021-01-11T06:35:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=99958"},"modified":"2021-01-11T16:13:47","modified_gmt":"2021-01-11T09:13:47","slug":"panduan-menggunakan-panggilan-eneng-teteh-ceuceu-dan-nyai-kepada-perempuan-sunda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-menggunakan-panggilan-eneng-teteh-ceuceu-dan-nyai-kepada-perempuan-sunda\/","title":{"rendered":"Panduan Menggunakan Panggilan \u2018Eneng\u2019, \u2018Teteh\u2019, \u2018Ceuceu\u2019, dan \u2018Nyai\u2019 kepada Perempuan Sunda"},"content":{"rendered":"<p>Beberapa hari yang lalu, di Grup Terminator Jawa Barat, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-ridwansyah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aa Ridwan <\/a>melontarkan pertanyaan yang menurut saya, jujur saja, aneh namun cukup menarik. Ia menanyakan ini ke penghuni grup yang isinya adalah penulis-penulis Terminal Mojok asal Jabar tersebut, \u201cDi sini ada yang tahu nggak perbedaan eneng, teteh, ceuceu, dan nyai?\u201d tanya blio. \u201cAtau ada nggak yang bisa bikin ini jadi tulisan?\u201d Hening. Tak ada yang menjawab. Sepertinya tak ada juga yang mau menulis topik mengenai panggilan pada perempuan Sunda ini, pikir saya. Oleh sebab itu, saya ambil saja mumpung saya merasa bisa menuliskannya.<\/p>\n<p>Nah, dalam bahasa Sunda, terdapat cukup banyak variasi nama panggilan yang dapat kita ucapkan ketika menyebut seorang perempuan. Baik perempuan yang masih muda maupun yang sudah tua, mereka punya ragam panggilannya masing-masing yang merepresentasikan posisi mereka dalam masyarakat serta hubungan personal dengan si pemanggil tersebut. Biasanya, panggilan-panggilan terhadap perempuan Sunda itu adalah &#8220;eneng&#8221;, &#8220;teteh&#8221;, &#8220;ceuceu&#8221;, dan &#8220;nyai&#8221;.<\/p>\n<p>Secara garis besar, penggunaan panggilan-panggilan tersebut pada dasarnya berfungsi untuk menunjukkan kesantunan saja. Namun, penggunaan nama panggilan ini ternyata masih membingungkan sebagian orang, bahkan orang Sunda sekali pun kadang nggak mengetahui perbedaan dari setiap nama panggilan itu. Lewat tulisan ini, saya akan mencoba mengurai perbedaan-perbedaan antara panggilan \u201ceneng\u201d, \u201cteteh\u201d, \u201cceuceu\u201d, dan \u201cnyai\u201d kepada perempuan Sunda.<\/p>\n<h4>#1 Eneng<\/h4>\n<p>\u201cEneng\u201d atau biasa disingkat \u201cneng\u201d, dalam budaya Sunda, biasanya merujuk pada perempuan yang masih remaja. Dulu, lazimnya digunakan sebagai panggilan untuk anak gadis yang keluarganya dihormati di kampung. Panggilan neng dalam masyarakat Sunda juga sering dipakai untuk memanggil anak kesayangan dalam suatu keluarga secara umum. Selain itu, panggilan neng juga lumrah dipakai untuk memanggil adik perempuan.<\/p>\n<p>Namun, seiring perkembangan zaman, panggilan neng sudah tidak berbatasan lagi dengan unsur keluarga saja, melainkan sudah menjadi norma umum untuk memanggil perempuan Sunda, siapa pun itu. Penggunaan neng biasanya diucapkan orang-orang yang lebih tua kepada perempuan muda yang ia nggak kenal atau kenal tapi nggak terlalu akrab. Di Cicalengka, misalnya, saya sering melihat tukang angkot bertanya, \u201cBade angkat ka mana, Neng?\u201d setiap kali mereka menawarkan tarikannya kepada perempuan yang lebih muda atau terlihat lebih muda darinya.<\/p>\n<h3>#2 Teteh<\/h3>\n<p>Panggilan \u201cteteh\u201d merujuk pada perempuan yang lebih tua dari si pemanggil namun nggak tua-tua amat. Fungsi utama dari sebutan \u201cteteh\u201d atau sering juga disingkat \u201cteh\u201d adalah untuk panggilan terhadap kakak perempuan secara biologis. Contoh, saya punya kakak perempuan dan sering memanggilnya dengan sebutan teteh. Namun, sama seperti eneng, penggunaan kata teteh juga sudah bertransformasi menjadi norma kesantunan dalam bermasyarakat secara umum khususnya ketika si pemanggil adalah orang yang lebih muda dari mereka.<\/p>\n<p>Tetapi, dalam konteks tertentu, sebutan teteh juga sering dilontarkan oleh orang yang lebih tua kepada perempuan yang lebih muda. Contoh, kita sering mendengar Ibu-ibu yang mengidolakan penyanyi Rossa sering memanggilnya \u201cTeh Rossa\u201d. Hal ini disebabkan karena Rossa memiliki banyak keunggulan dan sederet penghargaan yang membuatnya dihormati oleh orang yang lebih tua.<\/p>\n<h3>#3 Ceuceu<\/h3>\n<p>Sering disingkat \u201ceceu\u201d atau \u201cceu\u201d, sama seperti teteh, digunakan ketika memanggil perempuan yang lebih tua. Hanya saja, penggunaan ceu dianggap lebih loma (kasar) daripada teteh. Hal ini membuat eceu hanya digunakan oleh orang-orang yang punya kedekatan personal saja dengan si perempuan yang lebih tua tersebut.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, di tempat umum, akan sangat jarang ditemui orang-orang menggunakan panggilan ini. Selain itu, eceu cenderung punya kesan yang kolot yang membuat banyak perempuan nggak mau dipanggil demikian, apalagi oleh orang yang nggak dikenal. Jadi, kalau kalian ketemu perempuan Sunda yang belum terlalu kalian kenal, jangan panggil mereka eceu ya karena bisa bikin mereka tersinggung.<\/p>\n<h3>#4 Nyai<\/h3>\n<p>Dalam budaya masyarakat <a href=\"https:\/\/kumparan.com\/potongan-nostalgia\/nyai-dan-gundik-masa-kolonial\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Sunda, Jawa, dan Bali,<\/a> \u201cnyai\u201d digunakan untuk memanggil perempuan muda atau adik perempuan. Perempuan yang dipanggil dengan sebutan nyai, khususnya di lingkungan masyarakat Sunda, sebetulnya sudah jarang ditemukan. Namun, menurut ibu saya, dulu, panggilan nyai lazim digunakan sebagai panggilan sayang mertua terhadap menantunya. Selain itu, Kang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/raden-muhammad-wisnu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Raden Muhammad Wisnu<\/a>, salah satu penulis Terminator Jawa Barat, menuturkan bahwa ibunya juga kerap memanggil nyai pada tetangganya yang menjual gorengan.<\/p>\n<p>Berbagai versi di atas kemungkinan menunjukkan bahwa di masa lampau, sebelum ada sebutan eneng dan teteh, orang-orang Sunda menyebut perempuan muda dengan sebutan nyai. Di sisi lain, orang-orang Belanda pada masa kolonialisme dulu menyebut nyai sebagai perempuan pemenuh hasrat kebutuhan laki-laki Eropa semata (selir). Oleh karena itu, kita harus berhati-hati juga jika memanggil perempuan masa kini dengan sebutan nyai karena sebutan ini identik dengan konotasi yang tak sedap.<\/p>\n<p>Nah, begitulah panduan-panduan untuk memahami perbedaan-perbedaan sebutan eneng, teteh, ceuceu, dan nyai. Panggilan-panggilan ini tentu bukanlah suatu pakem yang baku karena pada akhirnya, sebutan-sebutan ini lebih menitikberatkan pada nilai kesopanannya yang bisa membuat si perempuan merasa lebih terhormat, ataupun sebaliknya.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/yang-akan-terjadi-andai-levi-ackerman-tumbuh-di-lingkungan-pesantren\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Yang Akan Terjadi Andai Levi Ackerman Tumbuh di Lingkungan Pesantren <\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/raihan-rizkuloh-gantiar-putra\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Raihan Rizkuloh Gantiar Putra<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam grup Terminator Jawa Barat, ada pertanyaan perbedaan eneng, teteh, ceuceu, dan nyai bagi perempuan Sunda. Saya mencoba menjawabnya.<\/p>\n","protected":false},"author":1039,"featured_media":100379,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6512,122,10071],"class_list":["post-99958","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahasa-sunda","tag-perempuan","tag-perempuan-sunda"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99958","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1039"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=99958"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99958\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100379"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=99958"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=99958"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=99958"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}