{"id":99919,"date":"2021-01-10T06:29:26","date_gmt":"2021-01-09T23:29:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=99919"},"modified":"2021-01-09T20:05:45","modified_gmt":"2021-01-09T13:05:45","slug":"6-tokoh-paling-wangun-dalam-serial-drakor-horor-sweet-home","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-tokoh-paling-wangun-dalam-serial-drakor-horor-sweet-home\/","title":{"rendered":"6 Tokoh Paling Wangun dalam Serial Drakor Horor \u2018Sweet Home\u2019"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, situs layanan streaming Netflix merilis serial horor terbarunya yang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sweet Home<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Serial adaptasi webtoon dengan judul yang sama ini diproduksi di Korea Selatan dan menggunakan bahasa Korea.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peringatan spoiler! Untuk temen-temen yang belum menyaksikan serial ini, boleh nonton dulu. Saya sarankan bagi yang masih di bawah umur atau punya phobia terhadap darah untuk nonton serial yang lain saja, ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan cerita <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sweet Home<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> secara umum dimulai ketika seorang pelajar bernama Cha Hyun-su berniat untuk bunuh diri di pada 25 Agustus. Menjelang eksekusi itu, terjadi wabah menyeramkan berupa invasi monster ke seluruh daratan Korea dan apartemen tempat Hyun-su tinggal juga nggak luput dari serangan. Monsterisasi ini terjadi ketika seseorang memiliki keinginan yang kuat dan wabah ini juga nggak ditularkan antarmanusia. Katanya sih ini kutukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja dalam hidup ini ada banyak karakter manusia. Bagi saya, para tokoh dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sweet Home<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memiliki sifat mereka masing-masing. Ada yang bakal membuat kita mengasihani hidup mereka. Ada pula yang maksa keluar dari camp demi kepentingan diri sendiri, mirip sama pelanggar protokol kesehatan, ups.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terdapat beberapa tokoh yang menurut saya masuk ke dalam jajaran karakter paling wangun se-Green Home (apartemen tempat para penyintas tinggal dan bertahan). Selama perjuangan mereka hidup dalam krisis dan terkepung oleh monster di tempat perlindungan satu-satunya, mereka menunjukkan sisi yang nggak disangka-sangka dan meninggalkan kesan mendalam.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Kim Su-yeong dan Kim Yeong-su<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Duo kakak beradik dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sweet Home<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini punya mental baja. Bayangkan saja, mereka yang belum genap sepuluh tahun sudah harus menyaksikan beragam kejadian yang mengguncang mental. Mulai dari ayah mereka yang jatuh dari lantai 12 dan dimakan monster, dilanjut dengan kamar mereka yang hampir dimasuki oleh monster kepala besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika Hyun-su datang untuk menyelamatkan, mereka masih harus berpapasan dengan monster tanpa mata yang sensitif pendengarannya dan menyaksikan Ibu Im (yang juga menyelamatkan mereka) dipukuli oleh monster protein. Belum lagi ketika mereka sudah sedikit aman di lantai 1, mereka harus melihat banyak nyawa melayang. Betapa traumanya mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di usia mereka yang masih muda, mereka nggak sekalipun merengek atau rewel. Paling pol Yeong-su minta mainan dinosaurusnya diperbaiki atau ngajak kakaknya main engklek. Su-yeong pun harus menjadi dewasa lebih cepat karena ketiadaan orang tua membuatnya menjadi satu-satunya pelindung bagi Yeong-su. Mereka bener-bener di level yang berbeda dari anak seusianya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Yoon Ji-su<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mbak cantik berambut ombre ini adalah karakter favorit saya di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sweet Home<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Dengan senjatanya berupa tongkat bisbol, ia memerangi monster yang makin hari makin menjadi di Green Home. Setiap kali berurusan dengan monster, ia cepat dalam mengambil keputusan dan nggak terjebak dalam kepanikan. Ia juga bukan tipe orang yang mau merepotkan orang lain demi kenyamanan diri sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika ia diduga mengalami radang usus, ia berani mengambil risiko untuk dibedah tanpa alat dan keahlian yang memadai oleh Eun-hyuk. Di tengah pemulihannya, ia malah kehilangan orang yang selama ini dekat dan berjuang bersamanya. Ji-su yang dari awal episode tampak sangat kuat dan tegar ternyata memiliki sisi sensitif ketika orang yang ia sayangi meninggalkannya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Lee Eun-hyuk<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lee Eun-hyuk adalah salah satu dari empat tokoh utama dalam serial Sweet Home dan saya merasa kalau dia adalah yang ter-wangun dari keempatnya. Eun-hyuk pada awal serial dikisahkan akan berangkat kerja paruh waktu, tapi yang ada ia malah terkunci di lantai satu apartemen bersama penghuni lainnya. Ia cepat tanggap, bisa menyadari situasi dengan waktu singkat, dan langsung berinisiatif buat menjadi pemimpin pergerakan untuk melawan monster.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penampilan Eun-hyuk sungguh menipu. Ia terlihat seperti mahasiswa biasa-biasa saja yang apatis sekaligus kutu buku. Tiap bicara, nadanya datar dan tanpa ekspresi. Namun, ia justru menjadi sosok paling penting dalam serial ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagian yang paling membekas dalam ingatan adalah ketika Eun-hyuk, yang merupakan mantan mahasiswa kedokteran, membedah Ji-su. Operasi dilakukan seadanya, bahkan tanpa obat bius karena kondisi Ji-su yang mendesak dan monster yang nggak tahu diri malah menghalangi tim pencari obat buat cari peralatan. Operasi untuk sementara berjalan sukses. Dan yang menjadi plot twist adalah Eun-hyuk nggak pernah mengamati jalannya operasi. Belajar dari mana dong?<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Han Du-sik<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mantan anggota militer yang tinggal di apartemen nomor 1408 ini punya kemampuan yang ciamik dalam bidang instalasi peralatan. Sebagian besar peralatan yang dipakai oleh penyintas di Green Home adalah alat-alat perkakas biasa yang ia modifikasi sedemikian rupa sehingga bisa dipakai buat melumpuhkan monster secara sementara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia juga cerdas, menurut saya karena bisa menyimpulkan alasan monster yang terus mendekat serta cara mengetahui keberadaannya. Du-sik lah yang memberi tahu Cha Hyun-su (dan kita sebagai penonton pastinya) bahwa monster datang kalau ada sumber suara dan manusia bisa mengetahui bahwa ada monster di dekatnya dengan membiarkan telepon menyala.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun kondisi fisik Du-sik memiliki keterbatasan, ia selalu sigap membantu penghuni Green Home yang dalam bahaya. Tapi, saya juga merasa iba kepada Du-sik. Ia sudah bekerja siang malam untuk memperbaiki mobil yang akan digunakan oleh tim pencari obat dan makanan. Sayangnya kerja kerasnya hancur dalam beberapa detik setelah mobil tersebut dihajar oleh monster protein. Haduh, eman-eman.<\/span><\/p>\n<h4><b>#5 Jung Jae-heon<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Guru bahasa Korea yang sangat religius ini awalnya saya kira bakal menjadi beban. Saya kira jika ada bencana, ia hanya akan berserah diri dan nggak mau berjuang. Ternyata saya salah. Pembawaannya yang kalem membuat saya skeptis. Tapi, di balik itu, ia sangat ahli mengayunkan pedang. Jae-heon adalah salah satu karakter yang paling kuat selama masa krisis di Green Home.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jae-heon punya karakter yang berbanding terbalik, tapi nggak wagu. Ia rela mengorbankan dirinya untuk melawan monster satpam bersenjata alat pemotong rumput demi menyelamatkan penghuni Green Home lainnya. Dan sekalipun religius dan selalu mengatakan bahwa semuanya kehendak Tuhan, ia dengan berani mengakui perasaannya pada Yoon Ji-su dengan menambahkan kalau rasa sukanya itu adalah kehendak dirinya sendiri. Uwuuu~<\/span><\/p>\n<h4><b>#6 Monster tanpa mata<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, tokoh yang paling wangun menurut saya adalah monster tanpa mata. Itu lho, monster yang awalnya berasal dari pegawai kantoran mabuk yang suka bergumam di dekat tangga. Ia kehilangan setengah kepalanya setelah Jae-heon menebasnya menggunakan pedang. Tapi, bukannya mati, ia tetap bertahan dengan pendengaran yang sangat sensitif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Monster ini hampir selalu membuat saya tertawa geli tiap kali ia berbicara, \u201cAn-boyeo, deullyeo (aku nggak bisa melihat, aku mendengarmu)\u201d dengan suara yang bergema dan penuh keputusasaan. Sayangnya di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sweet Home,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> monster ini kalah saing dari monster protein yang bisa langsung menghancurkannya lewat bogem mentah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah dia karakter dalam serial Netflix Original <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sweet Home<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang paling wangun menurut saya. Mereka semua memiliki sisi lain yang luar biasa yang membuat saya nggumun ketika menonton. Kalian paling suka yang mana?<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: <a href=\"https:\/\/www.netflix.com\/title\/81061734\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Netflix<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sosok-k-popers-lebih-realistis-dalam-drama-drama-ini-ketimbang-sinetron-indosiar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Sosok K-Popers Lebih Realistis dalam Drama-drama Ini Ketimbang Sinetron Indosiar <\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/noor-annisa-falachul-firdausi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><span data-sheets-value=\"{&quot;1&quot;:2,&quot;2&quot;:&quot;Noor Annisa Falachul Firdausi&quot;}\" data-sheets-userformat=\"{&quot;2&quot;:4737,&quot;3&quot;:{&quot;1&quot;:0},&quot;10&quot;:2,&quot;12&quot;:0,&quot;15&quot;:&quot;Arial&quot;}\">Noor Annisa Falachul Firdausi\u00a0<\/span><\/a>lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam drakor horor &#8216;Sweet Home&#8217;, terdapat beberapa tokoh yang menurut saya masuk ke dalam jajaran karakter paling wangun se-Green Home.<\/p>\n","protected":false},"author":1077,"featured_media":100088,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1293,773],"class_list":["post-99919","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-drama-korea","tag-review-film"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99919","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1077"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=99919"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99919\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100088"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=99919"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=99919"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=99919"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}