{"id":9975,"date":"2019-08-14T12:30:56","date_gmt":"2019-08-14T05:30:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=9975"},"modified":"2022-02-04T13:29:57","modified_gmt":"2022-02-04T06:29:57","slug":"memotret-buku-lalu-menguploadnya-di-media-sosial-itu-sebenarnya-buat-apa-sih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/memotret-buku-lalu-menguploadnya-di-media-sosial-itu-sebenarnya-buat-apa-sih\/","title":{"rendered":"Memotret Buku lalu Menguploadnya di Media Sosial itu Sebenarnya Buat Apa, Sih?"},"content":{"rendered":"<p>Buku dan membaca adalah dua hal yang tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Ketika buku lahir, pastilah memerlukan <a href=\"https:\/\/tirto.id\/clickbait-jebakan-judul-berita-yang-menipu-pembaca-cF7b\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">pembaca<\/a> dan begitu juga sebaliknya. Semakin berkembangnya zaman sudah barang pasti membuat manusia-manusianya juga semakin maju, terkhusus dalam hal buku dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kal\/esai\/mewaraskan-diri-dengan-membaca\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">membaca<\/a>.<\/p>\n<p>Buku yang sejak zaman dahulu menjadi pedoman manusia ketika ingin membaca hingga saat ini syukurnya masih punya tempat untuk eksis. Walau zaman semakin canggih akibat teknologi yang semakin mutakhir. Buku fisik masih sulit digulung tikarnya dengan kesimpelan buku-buku digital. Pembaca masih memerlukan bukti fisik yang menandakan bahwa ia telah atau sedang membaca, begitulah kira-kira maksudnya.<\/p>\n<p>Seperti yang saya singgung sebelumnya bahwa dengan semakin mutakhirnya teknologi disertai dengan berbagai kemajuan yang mengiringi manusia. Benda seperti\u00a0 buku dan momen membaca saat ini, juga seolah-olah harus berkembang mengikuti era.<\/p>\n<p>Buku dan membaca pada akhirnya harus mengikuti perkembangan zaman, dan tentu juga harus terpapar virus gila eksistensi\u00a0 manusia. Saya tanya buat kalian para pembaca dan para penikmat sastra. Apakah kalian pernah melihat barang sekali di <em>timeline<\/em> media sosial baik Twitter, Facebook atau Instagram kalian ada foto buku atau foto orang yang sedang membaca buku sambil diiringi <em>caption<\/em> aduhai?<\/p>\n<p>Entah itu teman, orang lain atau mungkin kalian sendiri yang dengan sadar diri memotret aktivitas membaca atau memotret buku yang sedang dibaca. Jujur saya sering sekali melihat hal tersebut berseliweran di <em>timeline<\/em> media sosial saya. Lalu apakah hal tersebut salah? Apakah itu adalah sebuah dosa besar? Atau apakah itu merugikan negara?<\/p>\n<p>Begini, baru-baru ini saya melakukan kegiatan memotret tumpukan buku yang telah saya baca selama satu bulan. Setelah saya potret lalu saya <em>edit<\/em>, foto tersebut akhirnya saya taruh di Instastory saya dengan isi kalimat yang singkat. Sebuah foto hitam putih dengan isi tumpukan buku dan tulisan 7\/10.<\/p>\n<p>Selang lima jam kemudian, ketika saya membuka Instagram saya kembali. Cukup banyak balasan dari apa yang saya <em>posting<\/em> di Instastory tersebut. Dan ada satu balasan yang pada akhirnya membuat saya memutuskan membuat tulisan ini. Isi balasan tersebut berbunyi, \u201cbukunya difoto aja ni, nggak dibaca kan pasti.\u201d Awalnya saya menanggapi dengan biasa dan saya balas, \u201cDibaca dong.\u201d Namun balasannya bukannya santai tapi malah nyolot, begini ujarnya, \u201cHalah pamer doang kan, supaya orang kagum.\u201d Balasan tersebut hanya saya baca dan sampai kapanpun tidak akan pernah saya balas.<\/p>\n<p>Sebegitu dangkalnya pemikiran manusia-manusia kolot yang menganggap bahwa memotret buku adalah ajang untuk mengumpulkan penggemar. Jelas tidak mungkin dengan hanya bermodal memotret buku lalu tiba-tiba besoknya saya sudah memiliki <em>fanbase<\/em> yang militan.<\/p>\n<p>Gini ya bro dan mbak bro di luar sana. Biar kalian semua puas. Tujuan sebenarnya orang-orang yang suka motret buku dan motret aktivitasnya membaca buku itu awalnya cuma satu, BUAT PAMER. Sudahlah jangan banyak menyangkal, bahwa pamer adalah pikiran utama untuk berbagi informasi kemudian.<\/p>\n<p>Lalu apakah pamer tersebut salah? Ya tidaklah, silakan pamer buku-bukumu sebanyak-banyaknya. Apalagi jika bukumu ORI dan memang punyamu sendiri. Kamu punya hak untuk pamer sekaligus berbagi semangat berliterasi. Urusan kamu baca atau tidak, ya itu hakmu. Yang penting kamu telah berkontribusi menumbuhkan minat dan rasa penasaran orang lain terhadap buku-buku yang kamu pamerkan di media sosial.<\/p>\n<p>Kalau ada orang lain yang bilang begini, \u201cbuku itu dibaca bukan buat difoto.\u201d Anggap bacotan tersebut omong kosong yang diperindah. Sah-sah saja kalau kamu punya bukunya, kamu baca dan kamu foto. Terus aktivitas tersebut dosa gitu? Kan tidak. Jangan takut mendengarkan bacotan orang-orang iri yang sok-sok-an cuma mau baca doang tapi malu untuk berbagi bacaan.<\/p>\n<p>Tapi ingat, memotret aktivitas membaca dan buku yang kamu baca jangan menjadi ajang pamer buku bajakan dengan lagak yang angkuh. Lihat dulu bukumu, Ori atau palsu. Kalau palsu kamu potrat potret, itu namanya kamu pamer kebodohanmu.<\/p>\n<p>Jadi intinya motret buku itu buat apa, sih?\u00a0Jawabannya di bawah ini.<\/p>\n<p><strong>Pertama<\/strong>, Pamer. Sudah akui saja.<\/p>\n<p><strong>Kedua<\/strong>, untuk berbagi informasi soal buku yang dibaca.<\/p>\n<p><strong>Ketiga<\/strong>, mungkin ini yang jarang kalian pikirkan.\u00a0Untuk meningkatkan minat baca masyarakat dan membantu para penulis agar semakin semangat berkarya yang secara tidak langsung sudah dipromosikan secara gratis lewat foto-foto buku yang kita bagikan di semua kanal media sosial.<\/p>\n<p>Dan ingat sekali lagi, jika kalian bertemu orang iri dengki yang bilang<em> lebih baik buku itu dibaca daripada difoto<\/em>, ucapkan kalimat ini: BACOT. (*)<\/p>\n<div>\n<div><\/div>\n<div><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>.<\/em><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebegitu dangkalnya pemikiran manusia-manusia kolot yang menganggap bahwa memotret buku adalah ajang untuk mengumpulkan penggemar.<\/p>\n","protected":false},"author":34,"featured_media":10074,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12906],"tags":[90,401,102,1382,2550],"class_list":["post-9975","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-media-sosial","tag-buku","tag-kritik-sosial","tag-media-sosial","tag-minat-baca","tag-potret"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9975","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/34"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9975"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9975\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10074"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9975"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9975"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9975"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}