{"id":9958,"date":"2019-08-14T06:00:54","date_gmt":"2019-08-13T23:00:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=9958"},"modified":"2022-02-04T13:52:22","modified_gmt":"2022-02-04T06:52:22","slug":"apa-yang-salah-dengan-logat-aksen-dan-dialek","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apa-yang-salah-dengan-logat-aksen-dan-dialek\/","title":{"rendered":"Apa yang Salah Dengan Logat\u2014Aksen dan Dialek?"},"content":{"rendered":"<p>Seperti yang sudah kita ketahui bersama-sama, Indonesia memang dikenal dengan keberagamannya, seperti misalnya suku yang jumlahnya kira-kira 1.340 berdasarkan hasil sensus BPS pada tahun 2010. Wah, banyak juga yah? Iya, tentu saja ini bukan angka yang bisa disebut <em>kaleng-kaleng<\/em>. Saya sangat mengagumi keberagaman Indonesia ini, namun hal ini masih saja menjadi alasan untuk kita, warga negara Indonesia, mempermasalahkan keberagaman tersebut yang bahkan, lebih parahnya, dijadikan bahan tawa lepas.<\/p>\n<p>Bisa dibayangkan, ada ribuan perbedaan yang dimiliki oleh ribuan suku di Indonesia yang seharusnya menciptakan keunikan tersendiri. Salah satu perbedaannya adalah logat. Logat sendiri, menurut KBBI, memiliki arti dialek dan aksen, di mana dialek adalah variasi bahasa dan aksen adalah cara pelafalan seseorang. Sederhananya, setiap <a href=\"https:\/\/tirto.id\/lie-kim-hok-dan-utang-bahasa-kita-cyUK\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">variasi bahasa<\/a> (Jawa, Batak, Sunda, Ambon, dan sebagainya) memiliki \u00a0pelafalan yang khas\u2014gimana kita \u2018menggoyang\u2019 bahasa melalui suara. <em>Menggoyang? Dangdut kali ah digoyang.<\/em><\/p>\n<p>Nah, yang sering menjadi mas-alah (bukan mbak-alah) adalah seringkali kita ditertawakan hanya karena kita membawa logat alamiah kita ketika sedang berada di tempat yang jauh&#8230; jauh&#8230; jauh&#8230; dari tempat asal kita melahirkan logat itu. Biasanya, ini terjadi pada anak rantau\u2014seperti saya.<\/p>\n<p>Saya\u2014pemilik darah Batak yang memang lahir di Medan\u2014hampir beberapa kali kena \u2018tembak\u2019 karena logat saya yang\u2014menurut saya, sih\u2014sebenarnya tak terlalu Batak atau <em>Medan<\/em>. Tapi, itu kan yang terdengar di telinga saya yang juga berperan sebagai <em>encoder<\/em> dan tentu saja berbeda di telinga mereka yang mendengar pesan saya\u2014para <em>decoder. <\/em><\/p>\n<p>Tapi\u2014lagi-lagi tapi\u2014emang apa salahnya kalau saya melafalkan McD (<em>mekdi<\/em>) dengan \u2018k\u2019 yang seperti nyangkut atau <em>lemper<\/em> dengan kedua \u2018e\u2019 ditekan seperti mengucapkan <em>ember<\/em>? Oh, oh sama satu lagi, <em>kali <\/em>yang bagi kalian artinya adalah <em>sungai <\/em>namun bagi kami sebagai bentuk untuk menunjukkan sesuatu yang <em>berlebihan<\/em>, seperti \u201cDia cantik kali kayak bidadari.\u201d Bukankah <em>kali <\/em>dan <em>bidadari <\/em>memiliki rima yang lebih enak didengar ketimbang <em>banget <\/em>dan <em>bidadari<\/em>?<\/p>\n<p>Lagian, yang saya tahu mereka juga mengerti maksud saya. Ya emang terdengar aneh saja di telinga para <em>decoder<\/em>, tapi selagi pesan dapat dipahami, bukankah artinya komunikasi berhasil? Pada akhirnya, tujuan utama dua atau lebih orang berkomunikasi adalah pesan dapat dipahami, bukan?<\/p>\n<p>Hm, tapi hidup tak semudah <em>pada akhirnya<\/em>. Saya kerap kali ditertawakan karena masih mempertahankan logat\u2014apalagi aksen\u2014Batak yang mendarah daging dan sepertinya menjadi masalah bagi mereka. Kalau gitu, apa ada logat Indonesia yang general yang bisa saya pakai agar tiada tawa di antara kita?<\/p>\n<p>Saya pikir tak hanya saya, namun teman-teman saya juga yang memang juga seorang perantau merasakan nyeri yang serupa. Pernah dengar logat Ambon yang seperti mengayun-ayun? Atau Jawa yang tegas sekali? Atau mungkin logat Bali yang juga sering mengundang tawa? Atau atau atau logat Sunda yang susah melafalkan huruf &#8216;f&#8217; dan &#8216;v&#8217;? Mereka\u2014dan saya\u2014dianggap seperti sedang beratraksi ketika bersuara. Lalu, mengapa logat lokal tidak ditertawakan saja\u2014padahal bisa jadi logat tersebut sangat asing di telinga pendatang?<\/p>\n<p>Ah, saya tahu. Untuk mencapai level sempurna adalah ketika kita mau menyesuaikan diri dengan tempat di mana kita berada bukan? <em>Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung <\/em>mungkin menjadi peribahasa yang sering disalahartikan. Menggunakan logat asal bukan berarti tak menghargai adat istiadat setempat, malah bisa jadi sebagai bentuk kebanggaan akan keberagaman yang menjadi emas bangsa Indonesia. Atau bagaimana kita bisa memaksa seseorang menggunakan adat istiadat yang dibawa sejak kecil untuk menyamakan logat tempat di mana dia berdiam sekarang? Kan semua juga butuh proses.<\/p>\n<p>Giliran abang-abang kulit putih, mata biru, hidung mancung datang ke Indonesia dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/apk\/komen\/versus\/tentang-penggunaan-kata-which-is\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">aksen <em>which is <\/em><\/a>kita ikut-ikutin dan kita bangga-banggakan serta kita agung-agungkan. Lah perantau yang tak lain tak bukan adalah warga di negaramu sendiri membawa logat khas daerahnya yang juga bagian dari merah putih kita malah di-hahaha-kan. Di mana letak nasioalisme kita?<\/p>\n<p>Tak semua orang bisa seperti saya\u2014yang bisa dengan cepat menyesuaikan logat, si aksen dan dialek, dengan cepat walaupun masih saja nyangkut logat dasar. Jangan dipaksalah mereka yang tak bisa berlogat sepertimu, mungkin dia sedang belajar atau sudah berusaha keras namun sulit, jangan dipaksakan. <em>Toh<\/em>, yang penting kau bisa paham apa yang dia sedang ucapkan, bukan? Atau kalaupun tak paham, gimana kalau kita sama-sama saling memahami saja? Percayalah masa iya dia tak mau belajar menyesuaikan kebudayaan setempat atau bahasa Indonesia yang baik dan benar? Dia sedang berusaha, hanya saja jangan paksakan logatnya hilang. Itu harta berharganya. Sekali lagi, tolong jangan salahkan. Dia menyesuaikan, kaupun harus bisa menyesuaikan.\u00a0(*)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Logat sendiri, menurut KBBI, memiliki arti dialek dan aksen, di mana dialek adalah variasi bahasa dan aksen adalah cara pelafalan seseorang.<\/p>\n","protected":false},"author":220,"featured_media":10009,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2518,2519,725,640,2517],"class_list":["post-9958","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-aksen","tag-bahasa-daerah","tag-dialek","tag-kearifan-lokal","tag-logat"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9958","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/220"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9958"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9958\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10009"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9958"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9958"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9958"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}