{"id":99373,"date":"2021-01-13T12:05:42","date_gmt":"2021-01-13T05:05:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=99373"},"modified":"2021-01-13T12:23:36","modified_gmt":"2021-01-13T05:23:36","slug":"kebingungan-saya-dalam-menggunakan-istilah-fans-sebagai-tolok-ukur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebingungan-saya-dalam-menggunakan-istilah-fans-sebagai-tolok-ukur\/","title":{"rendered":"Kebingungan Saya dalam Menggunakan Istilah &#8216;Fans&#8217; sebagai Tolok Ukur"},"content":{"rendered":"<p>Kalau sudah bicara soal buku, aktor, musik, atau penyanyi pasti muncul kalimat, \u201cGue ngefans banget nih sama artis X!\u201d atau \u201cGue ngefans banget sama penulisnya ini!\u201d Saya jujur lumayan tergelitik kalau sudah ditanya balik, \u201cKamu ngefans sama siapa?\u201d Satu pertanyaan yang selalu hadir di kepala saya ini adalah penggunaan istilah \u201cfans\u201d. Kadang, saya merasa kecil jika dibandingkan dengan orang-orang yang ngomongnya sudah pakai istilah \u201cfans\u201d. Jadi, saya menggantinya dengan ukuran suka banget, suka, atau enggak suka. Alasannya, kalau pakai embel-embel \u201cfans\u201d itu rasanya sudah paling yoi.<\/p>\n<p>Istilah \u201cfans\u201d adalah kecintaan tingkat dewa! Dan parahnya, saya nggak pernah mencapai tingkatan itu. Justru kalau saya bilang, \u201cSaya sih ngefans sama artis X.\u201d Saya akan bingung sendiri. Kenapa? Karena saya enggak punya modal apa-apa untuk menyandang status sebagai fans.<\/p>\n<p>Dalam pandangan saya, mereka yang disebut sebagai fans, berarti pasti tahu seluk beluk tentang artis idolanya, musik idolanya, sampai seisi rumah pasti penuh dengan merchandise dari hasil berburu di konser idolanya. Saya? Jelas enggak punya sama sekali\u2014 nonton konser langsung saja belum pernah, duh. Satu-satunya hal yang saya punya sebagai koleksi sewaktu kecil ialah berbagai macam CD <em>Power<\/em> <em>Ranger<\/em>. Bahkan, saya pernah menyewakan CD itu ke teman-teman SD saya. Jadi, kalau begini saya disebut apa, dong?<\/p>\n<p>Berbicara soal merchandise, bagi saya merchandise bukanlah sebuah urgensi untuk dimiliki. Namun, ini opini saya saja, lho, nggak menyudutkan siapa pun yang telah membeli berbagai merchandise idola kesukaannya. Itu tetap sah-sah saja sebagai bentuk menghormati karya dan rasa suka. Toh, kalau sedang ada event buku dan ada penulis yang saya minati, saya akan mencari untuk minta tanda tangannya.<\/p>\n<p>Kembali ke topik utama, seperti yang saya bilang tadi, takaran yang saya pakai adalah suka banget, suka, atau nggak suka. Menurut saya, itu jadi tolok ukur paling manusiawi bagi saya yang nggak ada apa-apanya dibandingkan mereka yang sering bolak-balik nonton konser, atau yang menit mendengarkan lagu idolanya di salah satu platform musik bisa sampai ratusan ribu. Selain itu, lagu-lagu yang masuk kategori suka dan suka banget juga bisa bertukar posisi\u2014 tergantung saya sedang mau dengar lagu dari siapa. Bahkan, kalau sudah masuk banget di telinga, nggak main-main kalau dalam setahun lagu itu terus yang bakal saya putar dan nggak pernah bosan.<\/p>\n<p>Selain itu, cara saya menempatkan lagu-lagu dan musisi tersebut adalah dengan seberapa lama saya dapat mendengarkan lagunya. Setelahnya, saya tanyakan ke diri saya, kalau lagu ini diputar kembali, apakah saya masih ikut nyanyi-nyanyi? Jika iya, maka itu masuk kategori musisi atau lagu yang saya suka banget.<\/p>\n<p>Sementara, kategori suka diisi dengan lagu-lagu yang tentunya saya sering dengar, tapi durasinya nggak selama lagu-lagu yang masuk kategori suka banget.<\/p>\n<p>Namun, perlu ditegaskan ya, menurut saya, ukuran untuk jadi fans atau belum itu ya nggak melulu soal berapa banyak merchandise. Memang saya saja yang belum bisa kasih embel-embel \u201cfans\u201d ke diri saya terhadap musisi atau lagu yang sering saya dengar. Walaupun lagu-lagunya sudah saya putar ratusan kali, misalnya saja Sheila On 7.<\/p>\n<p>Saya kenal lagu-lagu Sheila On 7 sejak zaman SD! Iya, di samping lagu &#8216;Pok Ame-Ame&#8217;, beberapa judul lagu Sheila On 7, misalnya &#8216;Dan&#8217;, &#8216;Kita&#8217;, serta &#8216;Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki&#8217; telah saya hafal liriknya sejak masih berseragam putih merah. Namun, saya belum bisa bilang kalau saya ngefans sama Sheila On 7\u2014 ya, hadir ke konsernya saja belum, nggak punya merch juga, mau bangga di bagian mananya?<\/p>\n<p>Selain itu, saya masih merasa kecil dan belum punya ilmu atas musisi tersebut jika disandingkan dengan orang lain. Apalagi saya termasuk pribadi yang mudah bosan, gimana kalau hal itu terjadi pada selera musik dan musisi?<\/p>\n<p>Makanya, saya mungkin bisa dibilang cuma sekadar tahu dan suka. Jadi, rasanya belum pantas menyandang gelar sebagai fans. Walaupun nggak pernah sampai ke tingkatan \u201cfans\u201d, jangan meremehkan saya! Waktu nonton konser Sheila On 7 di salah satu stasiun TV swasta, saya hampir tahu semua lagu yang mereka bawakan. Jadi, saya masih pantas-pantas saja kok untuk diajak ikut lomba berpacu dalam melodi, hayuk gas!<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dear-penjual-di-warung-kopi-tolong-volume-musiknya-jangan-terlalu-keras\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Dear Penjual di Warung Kopi, Tolong Volume Musiknya Jangan Terlalu Keras<\/a>.<br \/>\n<\/b><\/p>\n<div>\n<div>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya suka Sheila on 7, saya hafal lagu-lagu mereka, tapi saya belum pernah nonton konser dan beli merch mereka. Apakah saya termasuk fans?<\/p>\n","protected":false},"author":1294,"featured_media":100680,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4460],"class_list":["post-99373","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-fans"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99373","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1294"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=99373"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99373\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100680"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=99373"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=99373"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=99373"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}