{"id":99372,"date":"2021-01-08T08:34:44","date_gmt":"2021-01-08T01:34:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=99372"},"modified":"2021-01-07T21:35:52","modified_gmt":"2021-01-07T14:35:52","slug":"8-komika-stand-up-comedy-indonesia-di-suci-kompas-tv-dengan-opening-paling-ikonis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/8-komika-stand-up-comedy-indonesia-di-suci-kompas-tv-dengan-opening-paling-ikonis\/","title":{"rendered":"8 Komika Stand Up Comedy Indonesia di SUCI Kompas TV dengan Opening Paling Ikonis"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelucuan adalah hal yang mutlak di ajang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI Kompas TV<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, tapi ada satu hal yang sama penting, yaitu persona. Wajar kalau Rahmet selepas gagal di audisi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI 4<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karena minim persona, menginvestasikan waktu dan nyawanya untuk kegiatan yang sebenarnya ia benci, yaitu tawuran. Bukan bermaksud membenarkan, tapi kita tau sepenting apa persona itu bagi komika stand up comedy Indonesia sampai Rahmet melakukan hal tersebut demi persona di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI 5.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Pengakuan Rahmet di YouTube Raditya Dika.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persona dimaksudkan untuk membedakan satu komika dengan komika lain, agar berciri. Kata kuncinya yaitu berciri khas. Untuk dapat berciri khas, beberapa komika stand up comedy Indonesia menggunakan salam pembuka yang berbeda. Beberapa komika stand up comedy Indonesia malah menggunakan salam pembuka layaknya servis di olahraga, bahwa servis bukan cuma perkara memulai pertandingan, tetapi merupakan serangan pertama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan beberapa komika stand up comedy Indonesia yang menggunakan salam pembuka sebagai ciri khas atau bahkan serangan pertama itu seperti berikut:<\/span><\/p>\n<h4>#1 Fico <i>SUCI 3<\/i><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan hanya revolusioner komedi absurd yang membawa absurditas ke puncak ketidakjelasannya (di tahun sebelumnya populer dengan gaya Kemal). Akan tetapi, Fico juga membawa gaya baru dalam stand up comedy, yaitu menjadikan salam sebagai titik tawa. &#8220;Assalamualaikum&#8221; dengan intonasi anehnya, sekonyong-konyong penonton akan tertawa. Jurus ini selalu berhasil memancing tawa, baik di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Kompas TV<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan di luar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<h4>#2 Dodit <i>SUCI 4<\/i><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dodit selalu mengawali pertunjukannya dengan, &#8220;Selamat malam&#8230;&#8221; lalu biasanya dilanjutkan dengan diksi-diksi baku seperti: kawula muda, masyarakat, penduduk. Diksi-diksi baku (walau tidak selalu) ini kalau kata Raditya Dika memperkuat persona Dodit sebagai mas-mas ndeso Jawa yang &#8220;memegang erat budaya Eropa&#8221;.<\/span><\/p>\n<h4>#3 Dzawin <i>SUCI 4<\/i><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada yang lebih cepat dari Usain Bolt dan bus Sumber Kencono, itu adalah tempo salam pembuka Dzawin di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI 4<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. &#8220;Ya assalamualaikum,&#8221; setelah itu dilanjut sekelebat kalimat, kurang lebih begini, &#8220;Nih gimana kabarnya semua pada sehat alhamdulillah sehat, ya?&#8221; <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cuuuweeepet puoool<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kalau kata arek Jawa Timur.<\/span><\/p>\n<h4>#4 Wira <i>SUCI 5<\/i><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan Wira di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI Kompas TV<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memang tak sepanjang kontestan di atas, bak cinta yang retak di tengah jalan. Namun, satu keberhasilan pasti komika bersajak getir dari ngrantesnya \u201ccintahhh\u201d ini. Meninggalkan sajak-sajak puitisnya, lalu terbenam di ingatan pemirsa, seperti kenangan. Owh. Tak terkecuali salamnya, berima &#8220;i&#8221; karena venue kala itu, &#8220;Selamat malam Balai Kartini&#8221;. Lalu dilanjut dengan kalimat-kalimat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">uwu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> semacam, &#8220;Dan ungkapan rasa yang masih saja kau tak berani,&#8221; dll.<\/span><\/p>\n<h4>#5 Kalis <i>SUCI 5<\/i><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalis menggunakan persona dari stereotip penampilannya yang sering dicap tampang teroris. Sebuah kalimat takbir mengawali pertunjukannya yang bagi (sebagian) masyarakat sering dikonotasikan ke stereotip itu. Pun dengan stand up-nya, sering menggunakan diksi-diksi layaknya seseorang yang berdakwah seperti, \u201cWahai, Saudaraku. Ketahuilah\u2026.\u201d<\/span><\/p>\n<h4>#6 Mr Gamayel <i>SUCI 6<\/i><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika komika lain umum menggunakan, &#8220;Selamat malam, mana suaranya?&#8221; berbeda dengan Pak Gamayel dengan persona polisi-nya yang mengawali pertunjukannya dengan, &#8220;Selamat malam, mana surat-suratnya.&#8221; Malam yang harusnya penuh tawa, malah seolah sedang ada razia. Hash, bikin deg-deg-an ae, Pak.<\/span><\/p>\n<h4>#7 Indra Jegel <i>SUCI 6<\/i><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pantun telah menjadi signature orang Melayu. Dari situlah Indra Jegel yang berdarah Melayu tak pernah lepas dari pantun. Selalu diawali dengan, &#8220;Petir bukan sembarang petir, petir menyambar rumah si\u2026.&#8221; Selalu berganti rumah yang tersambar petir, yang kalau kata Ardit sang lawan di grand final <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI 6,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> gara-gara Indra Jegel stand up, banyak rumah yang tersambar petir. Heuheu.<\/span><\/p>\n<h4>#8 Coki Anwar <i>SUCI 7<\/i><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Manusia terkuat dan tergreget serta absurd di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">SUCI Kompas TV<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Coki Anwar selalu mengawali pertunjukannya dengan, &#8220;Selamat malam orang-orang lemah&#8221; lalu dilanjut dengan pola yang sama: aktivitas biasa (orang lemah) dan dipatahkan oleh Coki (orang kuat). Seperti, &#8220;Selamat malam orang-orang lemah, yang kalau keluar rumah resletingnya ditutup. Kalau saya, no. Resletingnya saya buka, saya adain nobar.&#8221; Jilakkkk!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, itulah beberapa dari sekian banyak opening yang mampu memiliki tempat di hati pemirsa dan menjadi sebuah ciri khas. Tentu hanya sebagian kecil dari banyaknya salam-salam pembuka kontestan lain yang tidak kalah ikonis. Semisal, &#8220;salam tawa salam bahagia&#8221; dari Kamal, &#8220;malam gaes&#8221; ala Al Ghazali oleh Rin Hermana, &#8220;assalamualaikum cinta&#8221; milik Jupri, dan masih banyak lagi yang<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0tidak kalah goks-nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stand Up Comedy Indonesia, lets make laugh! Teret tet tet jeng jeng.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/7-penampilan-komika-paling-kompor-gas-di-panggung-suci-kompas-tv\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">7 Penampilan Komika Paling Kompor Gas di Panggung SUCI Kompas TV<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dicky-setyawan\/\">\u00a0Dicky Setyawan<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0<i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beberapa komika stand up comedy Indonesia di SUCI Kompas TV malah menggunakan salam pembuka layaknya servis di olahraga.<\/p>\n","protected":false},"author":783,"featured_media":99737,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[10039,10040],"class_list":["post-99372","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-komika-stand-up-comedy-indonesia","tag-suci-kompas-tv"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99372","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/783"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=99372"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99372\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/99737"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=99372"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=99372"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=99372"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}