{"id":99237,"date":"2021-01-10T07:28:56","date_gmt":"2021-01-10T00:28:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=99237"},"modified":"2021-01-08T23:03:41","modified_gmt":"2021-01-08T16:03:41","slug":"kebiasaan-orang-jepang-yang-bikin-kuliah-cepat-kelar-dan-namaste","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebiasaan-orang-jepang-yang-bikin-kuliah-cepat-kelar-dan-namaste\/","title":{"rendered":"Kebiasaan Orang Jepang yang Bikin Kuliah Cepat Kelar dan Namaste"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang kita tahu, prinsip-prinsip dan kebiasaan orang Jepang sudah sangat populer dari zaman dahulu kala. Untuk saat ini, buku-buku bergenre self improvement juga banyak yang membahas tentang prinsip hidup dari Negeri Sakura tersebut untuk dikaitkan dengan pola hidup masyarakat kita. Saya paham setiap tempat tentu memiliki budaya dan prinsip tersendiri dalam menjalani hidup, namun tak ada salahnya juga menjadikan budaya atau prinsip hidup orang lain untuk memperbaiki pola hidup kita yang mungkin belum terstruktur dengan baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prinsip-prinsip dan kebiasaan orang Jepang ini menurut saya jika dimiliki oleh para mahasiswa tentu akan membantu mereka memahami arti kuliah. Untuk para mahasiswa kupu-kupu yang kehilangan makna atau para mahasiswa dengan jumlah semester banyak, tapi tak kunjung wisuda, mungkin bisa menggunakan prinsip dan kebiasaan orang Jepang ini agar dihayati. Berikut beberapa prinsip yang hendaknya dimiliki setiap mahasiswa:<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Ikigai<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ikigai sendiri merupakan prinsip dan kebiasaan orang Jepang dalam menjelaskan kesenangan dan makna hidup. Kurang lebih ikigai ini memberi kita petunjuk seperti, \u201cUntuk apa saya hidup di dunia ini?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika ikigai dimiliki oleh para mahasiswa, mereka akan paham dengan alasan mereka kuliah. Tak akan ada lagi drama mahasiswa yang mengeluh, kenapa kuliah kok tugasnya kayak sinetron di TV? Nggak ada kelarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat mereka sudah memahami makna dari \u201cuntuk apa saya kuliah?\u201d mereka tentu akan tahu tentang tugas dan tanggung jawab yang harus mereka kerjakan. Makanya sebelum memutuskan untuk kuliah, kita perlu tahu tujuannya. Kalau masih mencari sebuah tujuan atau cita-cita, paling tidak ada satu alasan kenapa kita harus kuliah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau memang belum menemukan passion-nya, kita mungkin bisa menggunakan alasan orang tua sebagai sebuah penguat. Saat tahu biaya UKT tidaklah murah, paling tidak kita bisa mikir bahwa kita harus kuliah dengan sungguh-sungguh. Sebb, orang tua bayar uang kuliah juga pakai uang yang dicari dengan keringat.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Keishan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keishan bermakna kreatif, inovatif, dan produktif. Jika prinsip ini dimiliki mahasiswa, tentu hari-hari kuliahnya bakalan bermakna bin berfaedah. Mereka yang memiliki prinsip ini tentu bakal belajar banyak hal. Tidak hanya di bangku kelas, mereka mungkin akan ikut beberapa organisasi, komunitas, ikut seminar, ikut lomba, jadi volunteer, dll.. Mereka mau belajar dari orang lain dan mau mengembangkan potensinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mahasiswa yang memiliki prinsip dan kebiasaan layaknya orang Jepang seperti ini biasanya bakal lebih luwes ketika nanti lulus. Dengan modal skill yang dimiliki, mereka bisa dengan mudah masuk ke segala aspek dan melihat peluang usahanya sendiri. Kalaupun sudah kerja, mereka bisa menambah penghasilan dengan pekerjaan sampingan.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Kaizen<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kaizen merupakan prinsip dan kebiasaan orang Jepang yang mengajari kita untuk terus melakukan perbaikan, fokus, dan tidak menunda pekerjaan. Alasan utama para mahasiswa kenapa nggak kelar-kelar kuliahnya adalah suka menunda dan tidak fokus. Tugas ditumpuk-tumpuk, skripsi terbengkalai, lalu saat tahu temannya sudah wisuda semua, akhirnya meriang. Galau dan makin down buat kuliah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Main hape nggak masalah, piknik nggak apa-apa, mau main medsos juga boleh, asal tugas dan kewajibannya sudah diselesaikan dulu. Pastikan sebagai mahasiswa, tugas utama kita itu kuliah. Jadi sebelum nyantai-nyantai, alangkah baiknya segala tugas dibayar lunas. Mulai fokus pada tujuan dan pastikan menyegerakan apa yang harus disegerakan.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Makoto<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makoto diartikan sebagai sebuah kejujuran dan ketulusan. Meski kedengarannya klise, tapi ini sangat penting dimiliki oleh para mahasiswa. Belajar untuk jujur pada diri sendiri. Kalau lagi ujian ya kerjakan sendiri sesuai kemampuan. Kalau ada tugas ya kerjakan sendiri. Apalagi kalau skripsi. Ini adalah modal utama seseorang dalam hal kejujuran. Suatu saat ketika sudah lulus kuliah, kita akan terbiasa jujur.<\/span><\/p>\n<h4><b>#5 Ganbatte<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ganbatte sendiri diartikan sebagai sebuah semangat pantang menyerah dalam mencapai impian atau tujuannya. Tanpa sebuah semangat dalam kuliah, kita hanya seperti memasuki sebuah kendaraan tanpa bensin. Kita hanya terkurung di sana dan tak bisa pergi ke mana-mana. Itulah pentingnya semangat yang bisa mendorong kita mendekat pada tujuan yang kita inginkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika hari ini masih berjuang buat mengejar dosen pembimbing demi menuntaskan skripsi, tetaplah semangat. Jika hari ini masih harus lelah bekerja demi membayar uang kuliah sendiri, jangan menyerah. Jika hari ini masih banyak coretan di skripsi kita, tetaplah berjuang. Ganbatte! Semoga lekas lulus dan menjadi wisudawan yang berfaedah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada salahnya mengimplementasikan prinsip dan kebiasaan orang Jepang dalam kehidupan perkuliahan. Siapa tahu kamu adalah seorang mahasiswa yang sedang mencari motivasi dan butuh memikirkan kembali makna hidup, saya sarankan untuk mempelajari makna-makna kebiasaan orang Jepang di atas dengan lebih mendalam.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apa-salahnya-kalau-punya-usaha-toko-sembako-di-usia-muda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Apa Salahnya kalau Punya Usaha Toko Sembako di Usia Muda? <\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/renisoengkunie\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Reni Soengkunie<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tidak ada salahnya mengimplementasikan prinsip dan kebiasaan orang Jepang dalam kehidupan perkuliahan. Siapa tahu menemukan kedamaian.<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":22827,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[10051,10050],"class_list":["post-99237","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-orang-jepang","tag-tradisi-jepang"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99237","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=99237"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99237\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22827"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=99237"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=99237"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=99237"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}