{"id":9861,"date":"2019-08-13T08:30:45","date_gmt":"2019-08-13T01:30:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=9861"},"modified":"2022-02-04T13:59:13","modified_gmt":"2022-02-04T06:59:13","slug":"drama-bahasa-jawa-dan-madura-di-keluarga-besar-saya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/drama-bahasa-jawa-dan-madura-di-keluarga-besar-saya\/","title":{"rendered":"Drama Bahasa Jawa dan Madura di Keluarga Besar Saya"},"content":{"rendered":"<p><em>Psstt\u2026 Ini beneran kisah nyata lo.<\/em><br \/>\nNamaku Khoir, tinggal di Kota Probolinggo. Eitss, jangan salah sangka dengan nama tempat tinggal saya yang berawalan kata \u2018Kota\u2019. Sumpah deh, tahun lalu, sinyal Indosat aja ngadat. Sampai saya yang penggemar <em>unlimited<\/em>-nya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menanggapi-tulisan-indosat-cocok-untuk-mahasiswa-telkomsel-untuk-pekerja-saya-mahasiswa-dan-saya-pelanggan-telkomsel-garis-keras\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Indosat<\/a> harus rela mati-matian nyari sinyal\u2014goyangin hp, berjalan sana-sini, cuma buat ngirim pesan WhatsApp yang isinya \u2018Y\u2019.<\/p>\n<p>Padahal udah make <em>handphone<\/em> Android canggih men. Yah, persis seperti tinggal di pedalaman gitu. Itulah kotaku <em>terzeyenk<\/em>. Oke, itu tahun lalu, sekarang? Saya sudah ganti kartu yang lebih mendukung untuk membalas pesan WhatsApp \u2018Y\u2019 sambil duduk selonjoran.<\/p>\n<p>Jadi, kalau perkenalan waktu dulu masa aliyah mondok di Kabupaten Probolinggo\u2014<em>fyi<\/em>, Probolinggo ada kota dan kabupaten ya. Saat ditanya ustaz, \u201cKamu asalnya dari mana?\u201d lalu saya jawab, \u201cdari Probolinggo, ustaz\u201d\u2014malu nambahin kata kota. \u201cProbolinggonya mana?\u201d, \u201dKedopok, ustaz\u201d, \u201cKota ya?\u201d, \u201cIya, ustaz\u201d\u2014Kedopok adalah nama kecamatan tempat saya tinggal.<\/p>\n<p>Setelah itu, pasti temen-temen nge-<em>ciye<\/em>-in. \u201c<em>Ciyeee<\/em>, yang orang kota\u201d. Maklum, mereka kan dari desa di kabupaten semua. Saya cuma tersenyum meringis, hingga suatu saat mereka tahu \u2018Kota Probolinggo\u2019 saya itu seperti apa. <em>Hihi<\/em><\/p>\n<p>Tapi, jangan cap keseluruhan Kota Probolinggo seperti yang saya ceritakan ya. Sinyal enak kok kalau kamu pergi ke alun-alun kota. Ada <a href=\"https:\/\/tirto.id\/berharap-dari-layanan-wifi-gratis-cxxf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">WiFi gratis<\/a> juga lo, meskipun nggak bisa nyambung. Yah, anggap saja yang kurang beruntung. Mari kita <em>stop<\/em> pembahasan tentang kota\u2014kita simpulkan saja, saya tinggal di pinggiran kota.<\/p>\n<p>Kota Probolinggo terdiri dari masyarakat <em>billingual<\/em>. Bukan bahasa Inggris dan Indonesia ya. Tapi, Bahasa Jawa dan Madura. Kalau kalian ke Kota Probolinggo\u2014ngomong aja dua bahasa itu, mayoritas pasti bisa diajak berbicara. Bahkan saya sampai sekarang masih bingung, kami orang Jawa atau Madura ya?<\/p>\n<p>Kalau desa (secara sosial bukan administratif) tempat saya tinggal, bahasa utama yang dipakai adalah bahasa Madura. Tapi mereka bisa ngomong Jawa juga lo. Sedangkan di keluarga besar saya, bahasa utama yang dipakai adalah bahasa Jawa. Jadi, saya berbahasa Jawa di tengah masyarakat berbahasa Madura. Tapi, keluarga saya juga bisa ngomong Madura kok\u2014bahkan sangat lancar. Yah, nggak mungkin lingkungan nggak berpengaruh kan?<\/p>\n<p>Eh, sebetulnya kalau dipikir-pikir lagi, bahasa utama keluarga besar saya bukan Jawa sih. Lebih tepatnya Jawa dan Madura. Aturan tidak tertulis dalam hal berbahasa keluarga besar saya adalah <strong>pertama<\/strong>, jika kamu berbicara dengan yang seumuran dan sudah akrab atau yang lebih muda dari kamu, kamu bisa ngomong Madura. Tapi, kalau kamu bicara dengan orang yang lebih tua, gunakanlah bahasa Jawa.<br \/>\n<em>Btw<\/em>, Bahasa Madura dan Jawa yang kami gunakan adalah Bahasa Jawa dan Madura versi kasar. Jadi, kalau keluarga kalian yang orang Jawa ada tingkatan bahasa Jawa yaitu <em>Ngoko, Krama Madya, Krama Inggil.<\/em> Begitupun keluarga kalian yang orang Madura. Maka, di keluarga saya tingkatannya ada dua yaitu Madura dan Jawa\u2014saya bukan bermaksud merendahkan atau mengunggulkan salah satunya yhaaa. Tapi ini realita di keluarga saya, <em>zeyenk<\/em>.<\/p>\n<p>Dan interaksi yang paling lucu, jika orang yang lebih tua berbicara menggunakan bahasa Madura, maka yang lebih muda membalas dengan bahasa Jawa. Meskipun bahasa yang digunakan tingkatan bawah semua.<\/p>\n<p><em>\u2018Ir, deri dimmah?\u2019<\/em> (Md: Ir, dari mana?)<br \/>\n<em>\u2018Teko pasar, Bu.\u2019<\/em> (Jw: Dari pasar, Bu.)<br \/>\n<em>\u2018Bedeh jukok beddus ning dissah?\u2019<\/em> (Md: ada \u2018ikan\u2019 kambing di sana?)<br \/>\n<em>\u201cOnok bu, tapi larang.\u2019<\/em> (Jw: ada tapi mahal.)<\/p>\n<p>Jadi, kalau kalian melihat interaksi di keluarga saya yang menggunakan Bahasa Jawa <em>Ngoko<\/em> meskipun berbicara ke yang lebih tua, janganlah salah paham itu kasar. Itu adalah rasa <em>Krama Inggil<\/em> dalam keluarga saya. Itu semua tentang rasa <em>zeyenk<\/em>. Bahkan ke orang tua, saya menggunakan kata \u2018sampeyan\u2019 untuk mengganti kata kamu, yang menurut Jawa (kebanyakan) itu kasar\u2014dan saya baru tahu hal ini sejak kuliah di Semarang. Tapi, sudah saya tingkatkan kok dalam perkataan <em>njeh, mboten, dalem<\/em> sejak saya mondok. <em>hehe<\/em><br \/>\nKadang kalau saya mikir, kok bagus kayaknya dijadikan judul skripsi ya. Sayangnya saya bukan jurusan ilmu kebahasaan. <em>Huh\u00a0<\/em> (*)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kota Probolinggo terdiri dari masyarakat billingual. Bukan bahasa Inggris dan Indonesia ya. Tapi, Bahasa Jawa dan Madura.<\/p>\n","protected":false},"author":219,"featured_media":9921,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[763,2499,576,2501,640,2500],"class_list":["post-9861","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-jawa","tag-bahasa-madura","tag-budaya-indonesia","tag-jawa-timur","tag-kearifan-lokal","tag-probolinggo"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9861","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/219"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9861"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9861\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9921"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9861"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9861"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9861"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}