{"id":98609,"date":"2024-01-19T15:38:08","date_gmt":"2024-01-19T08:38:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=98609"},"modified":"2024-01-20T07:12:57","modified_gmt":"2024-01-20T00:12:57","slug":"apa-bedanya-solo-surakarta-solo-baru-dan-kartasura","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apa-bedanya-solo-surakarta-solo-baru-dan-kartasura\/","title":{"rendered":"Memahami Perbedaan Solo, Surakarta, Solo Baru, dan Kartasura yang Sekilas Sama padahal Jelas-jelas Beda"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSolo dan Surakarta itu sama apa beda sih? Terus Solo Baru sama Kartasura itu juga sama?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan itu adalah pertanyaan klasik yang sering ditanyakan pendatang saat menghinggapi Kota Bengawan. Kebingungan ini tampaknya sudah terasa sedari memasuki bibir barat kota. Terdapat sebuah plang biru bertuliskan \u201cSurakarta\u201d, sedangkan di bawahnya terdapat pembatas jalan dengan tulisan \u201cTertib Berlalu Lintas, Cermin Budaya Wong Solo\u201d. Dan jawaban dari pertanyaan ini selalu sama, Solo dan Surakarta itu sama saja, seperti Jogja dan Yogyakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkatnya begitu, \u201cSolo\u201d itu sama seperti \u201cJogja\u201d yang lebih sering digunakan untuk agenda bisnis, alias nama populer atau nama branding. Sedangkan \u201cSurakarta\u201d merupakan nama resmi administratif layaknya \u201cYogyakarta\u201d. Artinya, kalian tak akan menemukan \u201cSMA Negeri Solo\u201d, melainkan \u201cSMA Negeri Surakarta\u201d. Pun untuk keperluan bisnis, seperti mall hingga hotel nama &#8220;Solo&#8221; sendiri lebih sering digunakan. Walau jawabannya sederhana, sepertinya saya butuh beberapa paragraf untuk lebih detail menjelaskan perkara ini.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apa-bedanya-solo-surakarta-solo-baru-dan-kartasura\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Jadi, Solo, Solo Baru, Surakarta, dan Kartasura itu beda?<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><strong>Geger Pecinan<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua berawal saat peristiwa \u201cGeger Pecinan\u201d yang meluluhlantakkan pusat kerajaan Mataram kala itu yang berada di Kartasura (Kasunanan Kartasura). Hancurnya keraton, membuat Pakubuwono II kala itu memerintahkan Tumenggung Honggowongso dan komandan pasukan Belanda J.A.B. van Hohendorff untuk mencari ibukota baru. Dipilihlah desa Sala atau Solo yang berada di sebelah timur Kartasura dan sebelah barat sungai Bengawan Solo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah ditetapkan sebagai ibukota baru Mataram, desa Sala yang dulunya dipimpin Ki Gede Sala itu berganti nama resmi menjadi &#8220;Surakarta Hadiningrat&#8221;. Menariknya, meski \u201cSurakarta\u201d sudah ditetapkan sebagai nama resmi, &#8220;Solo&#8221; sendiri tetap populer digunakan baik oleh pribumi maupun kolonial Belanda. Bahkan kolonial Belanda sendiri mewariskan kesalahan pelafalan \u201cKota Solo\u201d dengan pronounce \u201cSolo\u201d dalam bahasa Inggris yang populer hingga kini, yang seharusnya dibaca Solo (\u201co\u201d dibaca seperti lontong).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, pada perkembangannya kini, orang sering memaknai Solo dan Surakarta secara luas berbeda. Meski resminya sama, sebagian beranggapan bahwa Solo itu ya cuma kota saja, sedangkan Surakarta itu ya berarti Surakarta Hadiningrat dan Praja Mangkunegaran atau dulunya Daerah Istimewa Surakarta yang meliputi: Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten. Atau biasa disingkat \u201cSubosukawonosraten\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setuju atau tidak, Solo dan Surakarta itu sama saja, baik pemaknaan secara sempit yang berarti hanya wilayah administratif kota saja, atau pemaknaan secara luas menyertakan \u201cSubosukawonosraten\u201d. Cukup beralasan, dimana banyak perantau asal Solo raya atau Subosukawonosraten jika ditanya \u201cAsal mana?\u201d lebih sering menjawab \u201cSolo\u201d, jarang menyebut kabupaten asal mereka. Melainkan, hanya \u201cSolo\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pun dalam lagu karangan maestro Gesang berjudul\u00a0 \u201cBengawan Solo\u201d<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">terdapat penggalan \u201cMata airmu dari Solo, terkurung gunung seribu.\u201d Gunung seribu yang dimaksud di sini berada di Wonogiri, tapi Gesang menuliskan \u201cDari Solo\u201d, bukan dari \u201cWonogiri\u201d. Dan jika berkaca pada sejarah awal saja, kalau ingin memisahkan Solo dan Surakarta, berarti yang layak disebut Solo itu cuma desa yang berada di sebelah barat Bengawan Solo tanpa menyertakan kecamatan dan kelurahan lain.\\<\/span><\/p>\n<h2><strong>Surakarta itu&#8230;<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota Surakarta berarti Kota Solo, sedangkan Surakarta Hadiningrat berarti ya Solo raya. Tidak ada yang lebih ekslusif. Solo secara luas kadang dimaknai sebagai pernyataan identitas historis dan kultural wong Solo secara luas (Subosukawonosraten) selepas terpisah secara resmi karena Kasunanan Surakarta tidak memiliki kendali politis sepenuhnya di Solo raya, tidak Seperti Kesultanan Yogyakarta dengan Daerah Istimewa Yogyakarta-nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian pertanyaan lain yang sering muncul ketika menyelami Kota Solo, lantas hubungan Kartasura, Solo Baru dengan dua nama daerah sebelumnya itu apa? Pertanyaan yang lebih mudah dijelaskan, bahwa Kartasura itu kecamatan di Kabupaten Sukoharjo, sedangkan Solo Baru merupakan daerah bisnis yang terletak di Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keempatnya identik karena memang saling berkaitan. Di mana Kartasura itu ibukota Mataram sebelum pindah ke Solo dan menjadi daerah Kasunanan. Dan &#8220;Solo Baru&#8221; mengapa menggunakan \u201cSolo\u201d padahal berada di Sukoharjo? Selain secara geografis wilayah Kecamatan Grogol lebih dekat dengan pusat Kota Solo. Kembali lagi, nama Solo itu branding yang tidak dapat dibantah. Jelas lebih menjual ketimbang Sukoharjo Baru atau Grogol Baru, toh wilayah ini memang untuk bisnis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu lah penjelasan tentang keempat daerah tersebut. Solo dan Surakarta itu sama saja, secara resmi yang berarti hanya wilayah kota hingga pemaknaan luas tidak resmi meliputi kabupaten sekitarnya. Sedangkan Kartasura dan Solo Baru adalah wilayah di Kabupaten Sukoharjo, yang secara tidak resmi juga sering disebut &#8220;Solo&#8221; saja.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-buku-yang-harusnyadisita-karena-berbahaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">3 Buku yang Harusnya Disita karena Berbahaya<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dicky-setyawan\/\">\u00a0Dicky Setyawan<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0<i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Solo sama Surakarta itu sebenernya sama apa nggak sih? Terus, kenapa daerah Solo Baru itu ada nama Solo, padahal letaknya di Sukoharjo?<\/p>\n","protected":false},"author":783,"featured_media":243523,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[9973,2284,9974,3609],"class_list":["post-98609","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kartasura","tag-solo","tag-solo-baru","tag-surakarta"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/98609","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/783"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=98609"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/98609\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/243523"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=98609"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=98609"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=98609"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}