{"id":98592,"date":"2021-01-09T06:59:45","date_gmt":"2021-01-08T23:59:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=98592"},"modified":"2021-01-08T19:38:55","modified_gmt":"2021-01-08T12:38:55","slug":"review-film-soul-film-komedi-berat-yang-begitu-begitu-saja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/review-film-soul-film-komedi-berat-yang-begitu-begitu-saja\/","title":{"rendered":"Review Film &#8216;Soul&#8217;, Film Komedi Berat yang Begitu-begitu Saja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Soul <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">adalah salah satu yang saya nantikan di 2020. Sebenarnya saya memang selalu tertarik dengan film garapan Disney. Film ini juga menjanjikan karya duet maut antara Walt Disney dan Pixar. Saya pun jadi sangat antusias kala itu. Apalagi di trailernya mereka juga mengiming-imingi saya dengan embel-embel garapan sebelumnya, yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Inside Out<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Coco<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya langsung teringat waktu nonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Coco<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Saya mbrebes mili waktu itu. Benar-benar menyentuh. Dengan harapan bahwa film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Soul<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> akan selevel dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Coco<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, maka saya antusias. Namun, ternyata jadwal tayang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Soul <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sempat ditunda. Pada akhirnya saya perlu menunggu dan agak bersabar sedikit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, paragraf selanjutnya akan penuh dengan spoiler. Bagi yang kurang nyaman, bisa nonton dulu filmnya.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Soul <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">merupakan film komedi yang menceritakan perjalanan jiwa Joe Gardner yang \u201ctersesat\u201d di The Great Before. Namun, saya kok merasa genre komedi nggak cocok dengan film ini. Malah, bisa dibilang termasuk film yang agak \u201cberat\u201d bagi saya. Alih-alih saya ketawa lepas tiap beberapa menit layaknya nonton Mr. Bean, saya malah memeras otak supaya bisa mengikuti alurnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diawali dengan kekacauan yang terjadi di kelas musiknya (yang cukup membuat saya tertawa), Joe menunjukkan bagaimana musik dapat memengaruhi jiwa orang yang mendengarnya. Joe berhasil membuat anak didiknya terinspirasi dengan permainan pianonya. Di sini Pixar telah berhasil menunjukkan kebesaran namanya lewat animasi yang wooow. Jemari Joe sangat lincah menari di atas tuts keyboard layaknya benar-benar jemari seorang pianis ternama yang sedang unjuk kebolehan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Joe, yang awalnya hanya seorang guru part time, merasa tidak bahagia dengan kabar bahwa dia akan menjadi seorang guru tetap. Hal ini karena dia memiliki impian untuk menjadi seorang musisi jazz terkenal. Bagai gayung bersambut, ia mendapat tawaran\u2014dan diterima\u2014untuk bergabung dengan band milik Dorothea Williams yang populer. Oleh karena tidak dapat menahan luapan rasa gembiranya, Joe jadi \u201cmeleng\u201d saat jalan. Setelah berkali-kali lolos dari bahaya, Joe berakhir di sebuah lubang yang berada di tengah jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ketika membuka mata, Joe mendapati dirinya berubah menjadi makhluk biru kecil yang imut. Ya, itu adalah jiwanya. Dia beserta jutaan jiwa yang lain, berada di sebuah lintasan menuju The Great Beyond, sebuah dunia untuk orang yang telah mati. Joe yang merasa bukan waktu yang tepat untuk mati\u2014hidupnya baru saja akan dimulai\u2014berusaha keras untuk kabur dan terjatuh di The Great Before.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di The Great Before, tempat pembentukan karakter bagi para calon bayi sebelum lahir di bumi, Joe bertemu dengan si Nomor 22. Nomor 22 adalah salah satu jiwa yang menolak untuk mencicipi kehidupan di bumi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan jiwa di The Great Beyond yang hampir mirip dengan manusia, menurut saya representasi jiwa calon bayi di The Great Before yang digambarkan Pixar ini imut-imut gimana gitu. Dilihat dari atas, mereka tampak seperti bola-bola kecil. Bahkan Nomor 22 kadang tampak seperti hantu Casper dengan warna biru muda kehijauan. Lalu, saya juga merasa seakan melihat ratusan kelereng berkaki nggelundung ke black hole ketika jiwa-jiwa tersebut berkumpul melingkar dan secara bergantian terjun ke bumi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah di The Great Before, kisah yang disajikan di film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Soul<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mulai terasa berat. Kisah yang menarik tawa cuma sedikit banget. Otak saya jadi lebih banyak kerja. Iya, kerja, kerja, dan kerja gitu. Petualangan jiwa Joe di &#8220;dunia baru&#8221; ini sekaligus untuk menemukan cara kembali ke bumi dengan bantuan Nomor 22 telah dimulai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di the Hall of You, Joe melihat beberapa cuplikan kisah hidupnya dan menyadari bahwa dia telah mengorbankan seluruh hidupnya demi meraih impian. Dan ketika dia melihat tubuhnya sendiri sedang terbaring lemah di sebuah ranjang di bumi, obsesinya naik kembali. Dia harus segera kembali ke bumi bagaimanapun caranya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak cara yang telah Joe coba, tetapi selalu gagal. Sampai akhirnya saat dia dan Nomor 22 tidak sengaja berhasil terlempar ke bumi, jiwa dan tubuhnya malah tertukar. Alih-alih berada dalam tubuhnya, jiwa Joe malah terperangkap di dalam tubuh seekor kucing. Jiwa Nomor 22 menempati tubuh Joe. Kisah keduanya di bumi dimulai dengan Joe, seorang lelaki yang berperilaku dan berpikir layaknya perempuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertukaran jiwa tersebut menyebabkan terbukanya hati dan pikiran Nomor 22 dan Joe sendiri. Si Nomor 22 akhirnya memiliki keinginan untuk bisa terlahir dan hidup di bumi. Joe sendiri menyadari bahwa ada beberapa hal yang harus dibenahi dalam hidupnya selama ini. Iya sih, kadang kita memang harus mengubah sudut pandang kita supaya lebih fleksibel dengan masalah yang kita hadapi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, setelah akhirnya Joe berhasil menggapai impiannya dengan bantuan Nomor 22, dia merasa \u201ckok ngene tok ya\u201d. Padahal, hari di saat ia dapat melakukan pertunjukan musik jazz dengan sukses telah ia nantikan sepanjang hidupnya. Alih-alih merasa bahagia, dia malah merasa kosong. Joe menyadari bahwa ia membayar \u201ckebahagiaan sesaat\u201d itu dengan seluruh hidupnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian, dia memutuskan untuk mencari Nomor 22 dan membantunya untuk lahir ke bumi, meskipun itu berarti dia harus merelakan jiwanya menuju The Great Before. Dan bisa ditebak, Joe diberikan kesempatan kedua untuk menikmati sisa hidupnya di bumi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang sih, banyak pesan yang bisa diambil dari film<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Soul<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Pun alunan musik jazz-nya memberi nilai plus. Meskipun saya berharap menikmati film yang lebih konyol dan menghibur, tetapi ya sudahlah. Saya nggak merasa kecewa-kecewa amat kok. Meskipun sebel juga kok bisa jiwa yang akan menuju ke The Great Beyond bisa kabur. Si Terry juga masih ngitung jiwa pakai analisis sempoa. Hahaha. Lalu, sayang banget, nggak ada bocoran kisah bagaimana bagaimana si Nomor 22 menjalani hidupnya di bumi. Hiks~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti pesan utama dalam film<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Soul<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, saya yang awalnya sangat antusias dengan film ini jadi merasa \u201ckok ngene thok ya\u201d\u2026.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: YouTube <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=V0dSFsvrVpE\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Movies Soundtrack<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/katanya-turis-indonesia-malu-maluin-apa-benar-gitu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Katanya Turis Indonesia Malu-maluin, Apa Benar Gitu?<\/a> dan tulisan Siti Nur Widayati lainnya.<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seperti pesan utama dalam film Soul, saya yang awalnya sangat antusias dengan film ini jadi merasa \u201ckok ngene thok ya?&#8221;<\/p>\n","protected":false},"author":126,"featured_media":99920,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4048,773],"class_list":["post-98592","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-disney","tag-review-film"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/98592","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/126"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=98592"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/98592\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/99920"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=98592"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=98592"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=98592"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}